Sepenggal Penyesalan
Penyesalan itu datang terlambat.
Selalu begitu.
Ia tidak mengetuk pintu ketika kita sedang sibuk membuat kesalahan. Ia tidak berteriak saat kita mengucapkan kata-kata yang melukai. Ia tidak menarik tangan kita ketika ego sedang berdiri paling tinggi.
Penyesalan memilih datang saat semuanya telah berlalu.
Aku memahami itu sekarang.
Sore itu, hujan turun perlahan membasahi halaman rumah yang sudah lama terasa sepi. Aku duduk di kursi tua dekat jendela, memandangi tetes-tetes air yang berlari di kaca. Entah mengapa, setiap hujan selalu membawa kenangan yang sama.
Kenangan tentang Ibu.
Sudah tiga tahun sejak beliau pergi. Tiga tahun, namun rasa kehilangan itu masih tinggal seperti tamu yang tidak pernah benar-benar pamit.
Di atas meja kecil di sampingku, masih tersimpan sebuah kotak kayu berwarna cokelat tua. Kotak itu berisi barang-barang sederhana peninggalan Ibu. Sebuah tasbih, foto keluarga yang warnanya mulai pudar, dan beberapa lembar surat yang ditulis dengan tulisan tangan beliau yang rapi.
Aku membuka kotak itu perlahan.
Tanganku berhenti pada sebuah surat yang sudah berkali-kali kubaca.
\”Untuk anakku yang paling keras kepala.\”
Aku tersenyum pahit.
Kalimat itu memang ditujukan untukku.
Sejak kecil, aku memang anak yang sulit diatur. Aku selalu merasa paling benar. Ketika dewasa, sifat itu tidak berubah. Bahkan mungkin menjadi lebih buruk.
Aku masih ingat saat pertama kali bekerja di kota besar. Aku merasa telah berhasil. Gaji yang lumayan, lingkungan pergaulan yang luas, dan kesibukan yang membuatku merasa penting.
Saat itu, telepon dari Ibu sering kali kuanggap gangguan.
\”Sudah makan, Nak?\” tanyanya hampir setiap malam.
\”Iya, Bu. Lagi sibuk.\”
\”Jangan lupa istirahat.\”
\”Iya.\”
Kadang percakapan itu bahkan tidak sampai satu menit.
Aku tidak pernah sadar bahwa yang dicari Ibu bukan jawaban.
Beliau hanya ingin mendengar suaraku.
Waktu terus berjalan.
Kesibukan demi kesibukan datang silih berganti. Aku semakin jarang pulang. Lebaran kadang kulewati dengan alasan pekerjaan. Ulang tahun beliau sering kulupakan.
Namun anehnya, Ibu tidak pernah marah.
Beliau selalu berkata, \”Tidak apa-apa. Yang penting kamu sehat.\”
Kini aku tahu.
Kalimat itu adalah bentuk cinta yang paling tulus.
Suatu hari, ketika aku sedang menghadiri rapat penting, telepon dari rumah masuk berkali-kali.
Aku mengabaikannya.
Aku berpikir, nanti saja.
Setelah rapat selesai, aku baru membuka pesan.
\”Mas, Ibu masuk rumah sakit.\”
Jantungku seperti berhenti berdetak.
Aku segera menelepon balik.
Suara adikku terdengar bergetar.
\”Ibu sudah dua hari sakit. Beliau tidak mau mengganggumu karena tahu kamu sibuk.\”
Dua hari.
Dua hari Ibu sakit, dan aku bahkan tidak mengetahuinya.
Aku pulang malam itu juga.
Sepanjang perjalanan, ada rasa bersalah yang terus menghantam dadaku.
Namun ternyata, itu baru permulaan.
Ketika aku sampai di rumah sakit, Ibu tersenyum melihatku.
Senyum yang sama seperti ketika aku masih kecil.
Senyum yang selalu membuatku merasa aman.
\”Sudah pulang, Nak?\” tanyanya pelan.
Aku mengangguk sambil menggenggam tangannya.
Untuk pertama kalinya, aku menyadari betapa kurus dan rapuh tubuh beliau.
Padahal di dalam ingatanku, Ibu selalu tampak kuat.
Beliau yang menggendongku ketika sakit.
Beliau yang bekerja tanpa mengeluh.
Beliau yang selalu mendahulukan kebutuhan anak-anaknya dibanding dirinya sendiri.
Ternyata waktu diam-diam telah mencuri kekuatan itu.
Dan aku terlalu sibuk untuk menyadarinya.
Hari-hari berikutnya kuhabiskan menemani beliau.
Aku mulai mendengarkan cerita-cerita yang dulu selalu kulewatkan.
Tentang bunga yang tumbuh di halaman.
Tentang tetangga yang baru pindah.
Tentang kenangan masa kecilku yang bahkan sudah kulupakan.
Aku mendengarkan semuanya.
Namun waktu yang tersisa ternyata tidak sebanyak yang kuharapkan.
Suatu malam, Ibu memanggilku.
\”Ada yang ingin Ibu bilang.\”
Aku mendekat.
\”Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.\”
Aku bingung.
Justru aku merasa telah terlalu keras kepada beliau.
Air mataku mulai jatuh.
\”Maafkan aku, Bu.\”
Beliau tersenyum.
\”Untuk apa?\”
Aku tidak sanggup menjawab.
Terlalu banyak hal yang ingin kumintakan maaf.
Maaf karena terlalu jarang pulang.
Maaf karena sering mengabaikan telepon.
Maaf karena tidak hadir ketika beliau membutuhkan.
Maaf karena lebih banyak memberi alasan daripada waktu.
Namun kata-kata itu tersangkut di tenggorokanku.
Ibu mengusap tanganku perlahan.
\”Seorang ibu tidak menghitung kesalahan anaknya.\”
Kalimat itu menghancurkan seluruh pertahananku.
Aku menangis seperti anak kecil.
Malam itu aku berjanji akan lebih sering bersamanya.
Aku berjanji akan memperbaiki semuanya.
Aku berjanji akan membalas semua kasih sayang yang telah beliau berikan.
Sayangnya…
Tidak semua janji mendapatkan kesempatan untuk ditepati.
Tiga hari kemudian, Ibu pergi.
Dengan tenang.
Dengan senyum kecil yang masih tersisa di wajahnya.
Dan aku kehilangan kesempatan terakhir untuk menunjukkan betapa berharganya beliau dalam hidupku.
Sejak saat itu, penyesalan menjadi teman yang sering datang tanpa diundang.
Ia hadir ketika aku melihat orang lain menggandeng tangan ibunya.
Ia hadir ketika mendengar seseorang mengeluh karena terlalu sering ditelepon orang tua.
Ia hadir setiap kali aku menemukan foto-foto lama yang belum sempat kami abadikan bersama.
Aku sering berpikir, andai waktu bisa diputar kembali.
Aku akan lebih sering pulang.
Aku akan lebih banyak mendengar.
Aku akan lebih sedikit sibuk dan lebih banyak hadir.
Namun hidup tidak menyediakan tombol kembali.
Yang tersisa hanyalah kenangan dan pelajaran.
Kini aku mulai memahami bahwa penyesalan bukan hanya tentang kesalahan yang pernah dilakukan.
Penyesalan adalah pengingat tentang hal-hal berharga yang pernah kita abaikan.
Tentang orang-orang yang selalu ada hingga suatu hari mereka tidak lagi bisa kita temui.
Tentang kesempatan yang datang sekali lalu pergi untuk selamanya.
Hujan di luar semakin deras.
Aku menutup surat itu perlahan lalu mengembalikannya ke dalam kotak kayu.
Di sudut surat, ada tulisan tangan Ibu yang sudah mulai memudar.
\”Tidak peduli sejauh apa kamu pergi, rumah selalu menunggumu.\”
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
Rumah itu memang masih ada.
Dindingnya masih berdiri.
Jendelanya masih menghadap ke halaman yang sama.
Namun orang yang selalu menungguku di dalamnya sudah tidak ada.
Dan di antara banyak hal yang pernah hilang dalam hidupku, kehilangan itulah yang menyisakan sepenggal penyesalan paling dalam.
Penyesalan yang tidak lagi bisa diperbaiki.
Hanya bisa dikenang.
Dan dipeluk dengan ikhlas, sepanjang sisa usia yang masih diberikan Tuhan.