Detak yang Kembali di Taman Kota
Matahari sore di kota ini selalu punya cara sendiri untuk meruntuhkan pertahanan ingatan. Warnanya yang jingga keemasan jatuh persis di atas bangku panjang bercat hijau yang mulai mengelupas di sudut taman. Bagi Restu, sudut ini adalah kapsul waktu. Dua puluh tahun lalu, di bangku yang sama, ia pernah menghabiskan ratusan sore bertukar mimpi, berbagi earphone kabel, dan menertawakan hal-hal paling konyol sedunia bersama seseorang.
Kini, dua puluh tahun kemudian, Restu kembali berdiri di sana. Rambutnya sudah tak lagi gondrong khas anak SMA zaman dulu; kemeja kerjanya rapi, meski sudutnya sedikit kusut setelah seharian bertemu klien. Kota ini sudah banyak berubah. Di seberang taman, gedung-gedung beton menjulang tinggi menggeser lapak-lapak es dawet yang dulu jadi langganan mereka. Namun, aroma tanah basah setelah gerimis dan derit ayunan tua di pojok kiri taman masih persis sama.
Restu menghela napas, bersiap melangkah pergi sebelum matanya menangkap siluet seseorang.
Seorang wanita sedang berdiri membelakanginya, memandangi kolam air mancur yang airnya macet berbulan-bulan lalu. Wanita itu mengenakan hijab segi empat berwarna beige yang jatuh dengan rapi dan anggun, dipadukan dengan kardigan rajut berwarna sage green longgar. Perpaduan warna yang tenang, yang entah kenapa langsung memicu sebuah alarm di kepala Restu. Postur tubuhnya, cara ia sedikit memiringkan kepala saat berpikir, dan jemarinya yang mengetuk-ngetuk tas jinjing… semuanya memanggil kembali nama yang selama dua dekade ini hanya berani ia sebut dalam diam.
”Lia?” Suara Restu nyaris tertelan suara bising klakson dari jalan raya.
Wanita itu berbalik. Waktu memang telah menambahkan garis-garis halus di sudut matanya, membingkai wajahnya dengan kedewasaan yang tenang di balik jilbabnya yang bersahaja. Tapi mata itu—mata bulat yang selalu berbinar setiap kali membahas novel favoritnya—tidak berubah sedikit pun.
Lia mengerutkan kening sesaat, sebelum sepasang matanya melebar sempurna. “Restu…?”
Dunia di sekitar mereka mendadak hening. Dua puluh tahun runtuh begitu saja dalam satu detik. Ada jeda panjang di mana mereka hanya saling menatap, membiarkan angin sore menyampaikan rasa tidak percaya yang membuncah di dada masing-masing.
”Ya ampun, Restu! Ini beneran kamu?” Lia melangkah mendekat. Tawa renyahnya pecah, memecah kecanggungan yang sempat menggantung, meski ada rona tipis yang mendadak muncul di pipinya.
”Nggak salah lagi. Ini aku,” Restu tersenyum lebar. Rasa hangat yang asing, yang sudah sangat lama tidak ia rasakan, tiba-tiba menjalar hebat di dadanya. “Dua puluh tahun, Li. Kamu… apa kabar?”
”Baik, Tu. Baik banget. Kamu sendiri gimana? Astaga, kita terakhir ketemu pas corat-coret baju kelulusan, kan?” Lia menggeleng-gelengkan kepala, tangannya secara refleks merapikan ujung hijabnya yang tertiup angin sore.
Mereka akhirnya duduk di bangku hijau yang sama. Jarak di antara mereka kini diisi oleh dua dekade kehidupan yang terpisah. Namun, ada getaran magis yang tak kasatmata; seolah ruang kosong di antara mereka di bangku itu dipenuhi oleh memori masa lalu yang mendadak hidup kembali.
Restu bercerita tentang pekerjaannya yang menuntutnya pindah-pindah kota, tentang bagaimana ia akhirnya kembali ke kota ini sebulan lalu karena rindu rumah. Sementara Lia bercerita dengan mata yang berbinar—persis seperti Lia yang dulu—tentang mimpinya yang akhirnya terwujud.
”Aku akhirnya nulis, Tu,” kata Lia sambil tersenyum, menyapukan pandangan ke arah taman. “Ingat kan dulu aku selalu bilang pengen punya buku sendiri? Buku pertamaku baru aja terbit beberapa bulan lalu. Memoar.”
Restu terpaku. Ia memandangi wajah Lia dengan tatapan yang begitu lekat, tatapan yang menyiratkan rasa kagum sekaligus kerinduan yang mendalam. “Aku selalu tahu kamu bakal jadi penulis, Li. Kamu dari dulu selalu punya cara ajaib buat menumpahkan isi kepala lewat kata-kata. Aku… bangga banget sama kamu.”
Mendengar kalimat terakhir Restu yang diucapkan dengan nada begitu tulus dan rendah, Lia menunduk sesaat. Jemarinya mempermainkan kain kardigannya, menyembunyikan debaran halus yang tiba-tiba melompat di dalam dadanya. “Ah, kamu bisa aja. Tapi perjalanannya panjang, Tu. Banyak yang hilang, banyak yang harus dilepaskan sampai akhirnya aku bisa ada di titik ini.”
Ada nada getir yang halus dalam suara Lia. Restu menangkapnya. Ia melirik jemari Lia yang bertumpu di atas pangkuannya. Di jari manis tangan kirinya, melingkar sebuah cincin emas sederhana.
Dada Restu berdenyut perih. Sebuah sengatan halus yang disebut realitas.
Tentu saja. Dua puluh tahun adalah waktu yang amat cukup bagi seseorang untuk membangun hidup baru, mengikat janji, dan menapaki takdir yang tak lagi melibatkan mimpi-mimpi masa remaja mereka berdua. Dulu, ada perasaan yang tak pernah sempat terucap di antara mereka. Sebuah rasa yang sengaja disimpan rapat-rapat karena takut merusak persahabatan, lalu akhirnya terkubur oleh jarak dan waktu. Restu tahu, ia dulu mencintai gadis ini. Dan melihatnya sekarang, rasa itu ternyata tidak pernah mati; ia hanya tertidur.
”Suami kamu… dia dukung tulisan kamu juga?” tanya Restu, berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya tetap tenang, meski ada retakan halus di sana.
Lia menatap cincinnya, lalu beralih menatap mata Restu. Ada kedamaian sekaligus ketabahan di sepasang mata bulat itu. “Dia orang pertama yang baca draf kasarku. Tapi… dia udah nggak ada, Tu. Dua tahun lalu, karena sakit.”
Restu tertegun. Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat. “Li… maaf. Aku nggak tahu.”
”Nggak apa-apa,” Lia tersenyum lembut. Ia menggerakkan tangannya, seolah ingin menyentuh lengan Restu untuk menenangkan, namun ia menahannya di udara dan menariknya kembali dengan sopan. “Kehilangan itu berat banget awalnya. Tapi dari sana aku belajar banyak tentang memeluk rasa ikhlas. Makanya, memoarku ceritanya tentang apa saja yang berhasil kupeluk setelah kehilangan itu. Termasuk mengenang masa-masa indah… seperti sore-sore kita di taman ini.”
Restu memandangi profil wajah Lia dari samping. Angin sore meniup lembut ujung hijab beige-nya, membuat siluet wajahnya tampak begitu menawan di bawah temaram senja. Lia telah tumbuh menjadi wanita yang anggun, kuat, dan luar biasa matang.
”Kamu tahu, Li…” Restu berkata lirih, membuat Lia menoleh. Restu memberanikan diri menatap dalam-dalam ke manik mata Lia, menyampaikan seluruh rasa yang tertahan selama dua puluh tahun. “Sore ini aku sadar satu hal. Ada bagian dari diriku yang ternyata tertinggal di taman ini sejak dua puluh tahun lalu. Dan baru sore ini, setelah melihat kamu lagi, bagian itu terasa utuh kembali.”
Lia terdiam. Napasnya tertahan sesaat. Kedalaman emosi dalam tatapan Restu mengunci seluruh kata-katanya. Ada debar romantis yang begitu dewasa, bukan lagi sekadar cinta monyet anak SMA, melainkan sebuah pengakuan dari dua jiwa yang menyadari bahwa waktu tidak pernah benar-benar menghapus jejak mereka. Lia tidak menghindar, ia hanya tersenyum dengan seulas senyum yang sarat akan arti—sebuah senyuman yang menyiratkan bahwa ia pun merasakan getaran yang sama.
Matahari makin merunduk, menyisakan warna semburat keunguan di langit barat.
”Kamu sendiri, Tu? Gimana keluarga?” tanya Lia kemudian, berusaha menstabilkan detak jantungnya sendiri.
Restu terkekeh pelan, suasana intens tadi mencair, berganti menjadi kehangatan yang manis. “Aku masih sendiri, Li. Terlalu sibuk ngejar karier sampai lupa kalau waktu jalan cepat banget. Kadang mikir, apa karena standarku yang terlalu tinggi ya, karena selalu membandingkan semua wanita dengan seseorang dari masa laluku?”
Lia merona hebat, tawa kecilnya menyembunyikan rasa kikuk yang bahagia. “Kamu emang dari dulu pinter ngomong, Restu. Nggak berubah.”
”Tapi kali ini aku serius, Li. Mungkin setelah sore ini, takdir mau kasih kita kesempatan buat nulis bab baru. Bukan sebagai kelanjutan yang tertunda, tapi sebagai awal yang baru,” ujar Restu, suaranya mantap dan penuh harap.
Lia melihat jam tangannya, menyadari hari sudah makin temaram, lalu berdiri dengan anggun. “Aku harus pulang duluan, Tu. Anakku pasti udah nunggu di rumah.”
Restu ikut berdiri, melangkah selangkah lebih dekat, menjaga jarak yang sopan namun terasa begitu intim. “Boleh aku minta nomor teleponmu, Li? Kali ini… aku nggak mau kehilangan jejakmu lagi. Aku mau ada di sana buat baca bab-bab kehidupan kamu selanjutnya.”
Lia menatap Restu, lalu senyum paling tulus terukir di wajahnya. Ia mengambil ponsel dari tasnya. “Tentu aja, Restu.”
Setelah bertukar nomor, Lia berjalan menjauh, melintasi jalan setapak taman. Di dekat gerbang, dengan latar belakang lampu taman yang mulai menyala satu per satu, Lia berbalik. Hijabnya berkibar lembut saat ia melambaikan tangan, memberikan senyuman manis yang mengunci janji tak tertulis di antara mereka.
Restu membalas lambaian itu dengan dada yang bergemuruh penuh kebahagiaan. Ia kembali duduk sendirian di bangku taman, memperhatikan sosok Lia yang perlahan menghilang di balik keramaian kota.
Ada rasa bittersweet yang tersisa karena menyadari garis hidup mereka telah melewati banyak badai yang berbeda. Namun, rasa manisnya jauh lebih mendominasi. Pertemuan ini bukan sekadar nostalgia gabut di sore hari; ini adalah gerbang yang terbuka, sebuah kepastian hangat bahwa di antara ribuan detik yang telah lalu, takdir masih menyisakan ruang bagi mereka untuk kembali bersama.
Restu tersenyum, menatap nama Lia di layar ponselnya, lalu mendongak menatap langit malam yang mulai berbintang. Sore ini, takdir baru saja menuliskan paragraf pertama.