Denting suara jam beradu dengan jeritan di lorong sepi.
Malam ini
terasa begitu berat,
seberat napas-napas
yang tersambung selang oksigen,
seberat detak jantung
yang terpantau di monitor EKG.
Di bangsal ini…
menyisakan pedih seorang ibu.
Di balik kata, “ia baik-baik saja,”
ada luka yang ia samarkan dalam tawa.
Ada harap dan resah
yang ia sisipkan
dalam tetesan infusan.
Bukan fisiknya yang berada di sana,
tetapi sebagian dari napasnya
ada di sana.
Ia tetap tersenyum,
di balik perona merah pipi
dan sapuan lipstick nude-nya.
Namun jeritan pedih
yang mengusik lelapnya
kembali mengingatkan—
bahwa seorang ibu
tak pernah benar-benar bisa tidur
ketika sebagian dari hidupnya
sedang berjuang untuk bernapas.
Syafakillah…
untuk mereka yang sedang berjuang,
dan untuk setiap ibu yang diam-diam
menitipkan separuh napasnya
kepada Allah.
Bayu City, 14 September 2026
Ibun_Habsyi
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi