Mungkin kamu mikir, “Ah, wajar dong, dia pasti dapat tawaran gaji dua kali lipat di perusahaan sebelah.” Atau kamu menduga dia sedang bosan saja dengan rutinitas harian. Memang, alasan itu sangat masuk akal di dunia kerja. Tapi sering kali, ada dinamika psikologis yang jauh lebih senyap namun merusak di balik mundurnya orang-orang hebat ini. Mereka menjadi korban dari apa yang dinamakan Tall Poppy Syndrome, sebuah fenomena psikologis di mana seseorang dipotong atau ditekan karena dianggap terlalu sukses atau menonjol di tempat kerja.
Saya paham betul rasanya berada di posisi itu, atau melihat adik junior saya yang baru lulus kuliah dengan semangat membara harus menghadapi kenyataan pahit ini. Rasanya tidak adil, kan? Kamu sudah berusaha memberikan kontribusi terbaik, lembur demi target tim, tapi yang didapat justru sindiran halus atau dikucilkan saat makan siang.
Poinnya sederhana.
Tidak semua orang di sekelilingmu siap menerima kecepatan berlari yang kamu miliki.
Kisah Klasik Bunga Tertinggi yang Harus Dipangkas

Asal-usul istilah ini sebenarnya berasal dari kisah Yunani kuno yang ditulis oleh Herodotus, ketika seorang raja mengirim utusan untuk bertanya bagaimana cara mempertahankan kekuasaan. Sang penerima pesan tidak menjawab lewat kata-kata, melainkan berjalan ke ladang gandum dan memotong semua tangkai gandum yang tumbuh paling tinggi hingga semuanya rata. Filosofi kuno ini kemudian diteliti secara ilmiah oleh psikolog ternama, Dr. N.T. Feather pada tahun 1989. Dalam penelitiannya, Feather menemukan bahwa ada kecenderungan kuat di masyarakat untuk merasa senang ketika melihat orang-orang sukses mengalami kejatuhan, sebuah perasaan yang dalam istilah akademis dikenal sebagai schadenfreude.
Bagi orang awam, schadenfreude ini adalah rasa lega atau bahkan kepuasan rahasia saat melihat rekan kerja yang biasanya jadi anak emas manajemen melakukan kesalahan kecil. Rasa cemburu sosial ini akhirnya memicu tindakan kolektif untuk meredupkan sinar si “bunga tertinggi” tersebut.
Konteks lokalnya di Indonesia sangat mudah kita temukan sehari-hari. Bayangkan kamu baru saja menyelesaikan proyek besar dan dipuji langsung oleh direktur utama. Pas jam makan siang, kamu bersemangat ingin gabung di warteg langganan samping kantor. Tapi begitu kamu duduk, obrolan seru rekan-rekanmu mendadak hening. Atau pas kamu membagikan kabar keberhasilan di grup WhatsApp kantor, respons yang masuk hanyalah stiker jempol formalitas, sementara di belakangmu, mereka asyik kasak-kusuk membicarakan betapa kamu dianggap “cari muka” di depan atasan. Rasanya sangat melelahkan, bukan?
Jadi, ini bukan soal kinerjamu yang buruk, melainkan bagaimana prestasimu secara tidak sengaja menyorot ketidakmampuan orang-orang di sekelilingmu.
“Kamu tidak perlu meredupkan cahayamu hanya agar orang lain tidak silau, tetapi belajarlah membagikan sinarmu agar mereka tidak merasa kegelapan.”
Mengapa Kamu Dianggap Ancaman Saat Menonjol di Tempat Kerja

Mungkin kamu bertanya-tanya, “Kenapa sih mereka nggak ikut senang saja kalau tim kita kelihatan hebat?” Jawabannya ada pada teori psikologi yang disebut Social Comparison Theory atau Teori Perbandingan Sosial, yang pertama kali dicetuskan oleh Leon Festinger pada tahun 1954. Manusia secara alami mengukur harga diri mereka dengan membandingkan diri dengan orang lain di sekitar mereka.
Ketika kamu bekerja dengan performa sangat tinggi, kamu secara tidak langsung meningkatkan standar kerja di divisi tersebut. Rekan kerjamu yang biasanya bekerja santai mendadak merasa terancam karena mereka takut atasan akan menuntut mereka untuk menyamai standarmu. Alarm pertahanan diri mereka langsung menyala. Mereka cemas manajer akan membandingkan hasil kerja mereka dengan hasil kerjamu yang dinilai jauh lebih rapi dan cepat selesai.
Ketakutan inilah yang membuat mereka mulai membatasi ruang gerakmu. Cara membatasinya bisa sangat halus, mulai dari tidak membagikan informasi penting terkait proyek baru, hingga memberikan penilaian subjektif negatif saat sesi evaluasi kinerja tahunan berlangsung.
Jadi, ini bukan soal mereka membenci pribadimu, melainkan mereka sedang mempertahankan rasa aman mereka yang terusik oleh kehadiran standarmu yang terlalu tinggi.
“Ketakutan terbesar orang lain sering kali bukanlah kehebatanmu, melainkan bayangan kegagalan mereka sendiri yang terpantul lewat kesuksesanmu.”
Strategi Cerdas Bertahan Tanpa Kehilangan Kilau

Mengetahui kenyataan ini bukan berarti kamu harus sengaja memperlambat kinerjamu atau pura-pura bodoh agar bisa diterima oleh lingkungan kerja. Itu namanya mundur sebelum bertarung. Kamu tetap bisa memberikan performa maksimal, namun dengan cara yang lebih taktis dan cerdas secara emosional agar tidak menjadi sasaran empuk pemangkasan.
Berikut adalah beberapa langkah praktis yang bisa kamu terapkan mulai besok pagi saat masuk kantor:
- Tahan keinginan untuk mendominasi setiap sesi diskusi atau rapat besar jika tidak benar-benar diperlukan. Berikan ruang terlebih dahulu bagi rekan kerja lain untuk menyampaikan gagasan mereka sebelum kamu menyempurnakannya dengan masukan yang konstruktif.
- Sebutkan dan apresiasi kontribusi rekan timmu secara spesifik di depan atasan saat kamu menerima pujian atas keberhasilan suatu proyek. Jika posisi barumu menuntut kepemimpinan yang lebih tinggi, sangat penting bagimu untuk memahami cara menjadi manajer baru tanpa kehilangan teman agar transisi kepemimpinanmu berjalan mulus tanpa resistensi dari tim.
- Catat siapa saja orang-orang berpengaruh di kantormu dan bangun hubungan baik dengan mereka di luar urusan pekerjaan formal, misalnya dengan sesekali mengobrol santai saat jam istirahat.
- Dengarkan keluh kesah rekan kerjamu dengan penuh empati tanpa langsung memberikan solusi yang terkesan menggurui. Hindari kebiasaan yang bisa membuatmu terlihat sombong, karena melakukan 5 hal ini membuatmu tidak dihargai di kantor hanya akan mempercepat kepunahan kariermu di sana.
- Baurkan diri dengan budaya lokal kantor, misalnya sesekali ikut patungan beli camilan sore, mengobrol akrab dengan satpam lobi, atau bercanda santai dengan driver ojol yang mengantar makananmu.
- Tunjukkan bahwa kesuksesan individu yang kamu raih sebenarnya adalah kemenangan bersama yang akan mengangkat reputasi seluruh tim di mata manajemen puncak.
Menavigasi karier di tengah lingkungan yang kompetitif memang menuntut kita untuk tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional. Kita harus tahu kapan harus berlari kencang memimpin barisan, dan kapan harus berjalan beriringan merangkul rekan di sebelah kita.
Jika kamu ingin berdiskusi lebih dalam mengenai dinamika dunia profesional, tips karier taktis, dan cara membangun kepemimpinan yang solid, mari kita saling terhubung lebih dekat. Kamu bisa menonton berbagai insight menarik lainnya melalui saluran YouTube saya, dan jangan ragu untuk berjejaring secara profesional dengan saya di LinkedIn.
“Kerendahan hati bukanlah tentang berpura-pura kecil, melainkan tentang membuat orang di sekelilingmu merasa dihargai saat kamu bertumbuh besar.”
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi