“GEMBIRA: Komunitas literasi yang mendorong diri berani bikin deadline buku solo sendiri.” Vela Buruuji
Saya merasa sangat luar biasa masuk GEMBIRA, padahal awalnya hanya ingin bisa menelurkan sebuah karya solo. Masyaallah, alhamdulillah malah dapat bonus lainnya seperti lingkungan yang saling memotivasi untuk terus menulis. Saya sendiri seolah terus terdorong untuk melesat di dunia literasi lewat tiga tantangan yang tidak memberatkan, sebab fleksibelnya waktu pengumpulannya.
Malah saya enggak nyangka dua di antara member yang awal-awal saya kenal adalah seorang penyintas bipolar. Waw luar biasa , mereka unik dan spesial, saya bangga bisa berteman dengan mereka. Makin berani dong bikin karya sendiri setelah saya baca naskah Koko si bocah random yang memiliki kepribadian ganda.
Mengenal banyak orang baru, meskipun tidak selalu aktif berkomunikasi karena situasi dan kondisi diri. Karena saya sudah menyusun skala prioritas, jadi ada beberapa grup yang memang saya biarkan begitu saja. Bukan tak ingin menyapa atau membuka, hanya mana yang harus saya terlebih dahulukan dan mana yang bisa ditunda. Toh kalau sudah beres, insyaallah saya pasti menyapa kembali.
Ketakutan dari dalam diri

Sejujurnya belum punya buku solo penyebabnya adalah ketakutan dari dalam diri. Saya seperti mendapat bisikan kalau buku yang dibuat enggak akan laku di pasaran. Trauma jadi penanggung jawab antologi, tapi hanya terjual sebagian akhirnya harus menambal biaya kekurangan. Namun, setelah masuk GEMBIRA saya sadar itu murni kesalahan diri yang tidak menggunakan strategi.
GEMBIRA menutup ketakutan diri dengan memunculkan keberanian bahwa karya saya terbaik dan dibutuhkan orang lain. Terlebih lagi memang isi buku solo saya membahas tentang skill yang saya kuasai yakni, menulis.
Kang Muvti sosok inspirasi
Masyaallah, saya selalu bersyukur Allah takdirkan diri mengenal Kang Muvti. Beliau sebagai penggagas GEMBIRA sekaligus sosok inspirasi yang membuat saya berkembang di dunia literasi.
Saya masih ingat Kang Muvti sering berjanji dalam forumnya bahwa dia ingin menerbitkan 100 buku selama masa hidupnya. Wah, luar biasa terinspirasi dari ucapan beliau, saya berharap dapat menerbitkan 99 buku. Kenapa 99, enggak digenapkan saja? Saya suka angka 9 dan 99 itu melambangkan asmaul husna. Terima kasih Kang Muvti sudah percaya dan bersedia mengajak diri bergabung dengan GEMBIRA, saya jadi semakin semangat berkarya sekaligus menginspirasi.
Bukan hanya setelah masuk GEMBIRA saya terinspirasi dengan Kang Muvti. Dari awal jadi tim beliau, saya sudah kagum dengan sosoknya. Kang Muvti yang bukan keturunan sunda, tapi mau disebut Akang bahkan dia masih kurang paham bahasa Sunda. Terlebih Buku Langka Indonesia salah satu badan usaha yang beliau jalankan merupakan tempat pertama saya mengembangkan profesi di dunia literasi. Terima kasih sekali lagi Kang Muvti, sudah memeles satu bintang ini untuk semakin bersinar. Insyaallah kini giliran saya berperan aktif menebar tujuan mulia Kang Muvti di dunia.
Temukan motor hidup
Setelah masuk grup GEMBIRA saya berhasil menemukan moto hidup yang mewakili diri sendiri. Saya suka literasi bukan setahun atau dua tahun, tapi puluhan tahun sejak masih sekolah dasar. Dari latar belakang tersebut, akhirnya moto hidup yang sering berubah-ubah menjadi satu suara yaitu, “Menebar manfaat di muka bumi lewat dunia literasi”.
Ya, sekarang saya mau fokus menebar manfaat di muka lewat bumi dunia literasi. Entah sebagai penulis, editor, ghostwriter, ataupun pemateri di berbagai acara literasi. Moto hidup ini sebagai jalan saya mensyiarkan agama Allah lewat kemampuan yang saya kuasai. Tak perlu sama dengan orang lain, tapi tujuannya adalah menegakkan dinnul Islam.