Pernahkah kamu mengikuti sebuah pelatihan yang materinya sangat bagus, tetapi beberapa hari kemudian semangatmu menghilang begitu saja?
Atau mungkin pernah bergabung dengan sebuah komunitas yang anggotanya banyak, programnya beragam, tetapi entah mengapa kamu merasa tidak benar-benar menjadi bagian dari komunitas tersebut?
Jika pernah, kamu tidak sendirian.
Faktanya, banyak orang saat ini memiliki akses terhadap ilmu yang sangat melimpah. Buku tersedia di mana-mana. Video pembelajaran bisa diakses kapan saja. Webinar dan pelatihan hadir hampir setiap hari.
Namun anehnya, semakin banyak sumber belajar yang tersedia, semakin banyak pula orang yang merasa belajar sendirian.
Mengapa bisa begitu? Karena ternyata manusia tidak hanya membutuhkan ilmu. Manusia juga membutuhkan ruang yang membuatnya merasa diterima.
Belajar Bukan Sekadar Menambah Pengetahuan
Ketika mendengar kata “belajar”, sebagian besar orang langsung membayangkan materi, modul, kelas, atau pelatihan.
Padahal proses belajar sesungguhnya jauh lebih luas daripada itu. Belajar bisa proses bertumbuh, proses mencoba, proses melakukan kesalahan atau bisa jadi proses menjadi lebih baik dari hari sebelumnya.
Masalahnya, proses tersebut sering kali tidak nyaman. Seseorang yang baru belajar menulis mungkin merasa tulisannya berantakan. Seseorang yang baru belajar berbicara di depan umum mungkin gugup. Seseorang yang baru belajar membuat karya mungkin takut hasilnya tidak bagus.
Di titik inilah banyak orang berhenti. Bukan karena mereka tidak mampu. Tetapi karena mereka tidak menemukan lingkungan yang membuat mereka merasa aman untuk belajar.
Banyak Orang Tidak Takut Gagal, Mereka Takut Dianggap Gagal
Ini adalah hal yang menarik. Ketika seseorang ingin menulis, sering kali hambatan terbesarnya bukan kemampuan menulis. Hambatan terbesarnya adalah ketakutan. Takut salah, takut dikritik, takut ditertawakan, takut dianggap tidak berbakat bahkan takut dibanding-bandingkan.
Akibatnya mereka memilih diam, menyimpan ide dan cerita hingga menyimpan mimpi menerbitkan buku. Bisa jadi bukan karena tidak punya kemampuan, tetapi karena tidak menemukan ruang yang membuat mereka nyaman untuk mencoba.
Padahal semua orang yang hari ini terlihat hebat pernah berada di posisi yang sama.
Mereka juga pernah membuat kesalahan. Mereka juga pernah menghasilkan karya yang belum sempurna. Mereka juga pernah merasa tidak percaya diri. Perbedaannya hanya satu, mereka berada di lingkungan yang mendukung mereka untuk terus bertumbuh.
Bertumbuh Membutuhkan Rasa Aman
Bayangkan seorang anak kecil yang sedang belajar berjalan. Coba perhatikan, setiap kali ia jatuh, orang tuanya marah. Setiap kali ia tersandung, ia ditertawakan. Setiap kali gagal berdiri, ia dikritik.
Apa yang akan terjadi? Kemungkinan besar anak itu akan takut mencoba lagi.
Hal yang sama juga terjadi pada orang dewasa. Ketika seseorang berada di lingkungan yang penuh penghakiman, ia akan cenderung menyembunyikan potensinya. Sebaliknya, ketika ia berada di lingkungan yang suportif, ia akan lebih berani mencoba hal-hal baru.
Karena itu, rasa aman bukan hanya kebutuhan emosional, rasa aman adalah kebutuhan untuk bertumbuh. Orang yang merasa aman akan lebih berani belajar merasa diterima akan lebih berani berkarya dan merasa didukung akan lebih berani melangkah.
Ilmu yang Baik Membutuhkan Lingkungan yang Baik
Banyak komunitas memiliki materi yang luar biasa, pelatihan menghadirkan narasumber hebat, menawarkan strategi dan teknik yang terbukti efektif. Namun sering kali ada satu hal yang terlupakan, yaitu suasana. Padahal suasana belajar memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan seseorang.
Bayangkan dua orang mengikuti materi yang sama. Yang pertama belajar di lingkungan yang saling mendukung. Yang kedua belajar di lingkungan yang penuh kompetisi tidak sehat. Kemungkinan besar hasil yang diperoleh akan berbeda.
Mengapa? Karena manusia belajar lebih baik ketika merasa nyaman.
Kita lebih mudah bertanya ketika tidak takut dihakimi. Kita lebih mudah mencoba ketika tidak takut salah. Kita lebih mudah berkembang ketika tidak terus-menerus dibandingkan dengan orang lain.
Menulis Membutuhkan Keberanian, Bukan Kesempurnaan
Salah satu alasan banyak orang tidak pernah menghasilkan karya adalah karena mereka menunggu sempurna, menunggu tulisan yang bagus, menunggu ide yang luar biasa bahkan menunggu kemampuan yang lebih baik.
Padahal penulis tidak lahir dari kesempurnaan. Penulis lahir dari keberanian untuk menulis meskipun belum sempurna dan keberanian seperti itu sering kali tumbuh dari lingkungan yang mendukung.
Lingkungan yang tidak berkata: “Tulisanmu jelek.”
Tetapi berkata: “Bagus, lanjutkan. Kita perbaiki bersama.”
Lingkungan yang tidak fokus mencari kesalahan. Tetapi membantu menemukan potensi. Karena setiap karya besar selalu berawal dari draft yang sederhana.
GEMBIRA: Bukan Sekadar Komunitas Menulis
Salah satu keresahan yang melahirkan GEMBIRA (Gerakan Menulis Bersama dan Berbagi Inspirasi) adalah kenyataan bahwa banyak orang membutuhkan lebih dari sekadar pelatihan menulis.
Mereka membutuhkan teman seperjalanan, dukungan, tempat untuk bertanya tanpa takut dianggap bodoh bahkan membutuhkan ruang untuk mencoba tanpa takut gagal. Karena itu GEMBIRA tidak hanya berfokus pada materi kepenulisan.
Ada semangat belajar sambil praktik. Ada budaya menghasilkan karya nyata. Ada kebiasaan berbagi inspirasi. Ada suasana yang saling mendukung satu sama lain. Sebab tujuan akhirnya bukan sekadar membuat seseorang bisa menulis. Tujuan akhirnya adalah membantu seseorang berani bertumbuh.
Rumah Bertumbuh untuk Mereka yang Ingin Berkarya
Setiap orang membutuhkan rumah, bukan hanya rumah fisik tempat tinggal. Tetapi juga rumah emosional tempat ia merasa diterima.
Tempat ia bisa menjadi dirinya sendiri, tempat ia tidak harus berpura-pura hebat, tempat ia bisa belajar tanpa takut salah, tempat ia bisa berkembang tanpa tekanan yang melemahkan.
Banyak orang bergabung dalam komunitas bukan karena mencari ilmu semata. Mereka mencari rasa memiliki, teman seperjuangan, lingkungan yang membuat mereka tetap semangat ketika motivasi mulai turun bahkan mencari rumah bertumbuh dan sering kali itulah yang membuat seseorang bertahan lebih lama dalam proses belajar.
Ketika Bertumbuh Dilakukan Bersama
Ada alasan mengapa perjalanan terasa lebih ringan ketika dilakukan bersama, bukan karena tantangannya menjadi lebih mudah. Tetapi karena ada orang-orang yang saling menguatkan.
Ketika satu orang kehilangan semangat, yang lain memberi dorongan. Ketika satu orang merasa tidak mampu, yang lain mengingatkan potensinya. Ketika satu orang berhasil menerbitkan karya, yang lain ikut terinspirasi. Inilah kekuatan komunitas yang sehat.
Bukan sekadar tempat berkumpul. Tetapi tempat saling mengangkat.
Maka…
Di era ketika informasi tersedia di mana-mana, kebutuhan terbesar manusia ternyata bukan hanya ilmu. Kita membutuhkan ruang yang membuat kita berani menggunakan ilmu tersebut. Kita membutuhkan lingkungan yang membuat kita berani mencoba. Kita membutuhkan komunitas yang membuat kita berani bertumbuh.
Karena tidak semua orang membutuhkan kritik yang lebih banyak, kadang mereka hanya membutuhkan satu kalimat sederhana: “Tidak apa-apa, mulai saja dulu.”
GEMBIRA lahir dari keyakinan bahwa setiap orang memiliki potensi untuk berkembang, berkarya, dan menginspirasi. Namun potensi itu membutuhkan tempat yang tepat untuk tumbuh.
Sebab pada akhirnya, orang tidak hanya mencari komunitas belajar. Mereka mencari rumah yang membuat mereka berani menjadi versi terbaik dari dirinya. Dan mungkin, itulah makna terdalam dari sebuah komunitas yang sesungguhnya.