Aku bagaikan bongkahan kerikil di antara intan dan berlian. Jangankan diinginkan, sekadar dilirik pun rasanya tidak. Seolah-olah keberadaanku terlalu menjijikkan untuk diterima. Namun, aku tetaplah aku, bukan sebuah najis meski terlahir dari sebuah kesalahan. Aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan.
Meskipun katanya, aku adalah pemenang dari jutaan sel sperma lain yang berguguran, kalah, dan menyerah sebelum mencapai tujuan.
Perjalanan masa kecilku tak semulus anak-anak lainnya. Di saat mereka menikmati kebebasan bermain dan tertawa, aku justru ditakdirkan menjadi jiwa yang terkekang, tertindas, dan termanipulasi. Aku bagaikan robot yang diprogram untuk mewujudkan mimpi-mimpi dua manusia dewasa yang kupanggil Ayah dan Bunda.
Yang lebih menyakitkan, segala usaha, prestasi, dan penghargaan yang kuraih ternyata tak juga mampu menghadirkan rasa bangga dalam diri mereka. Bagiku, setiap pencapaian adalah cara untuk memperoleh pelukan yang tak pernah datang. Namun bagi mereka, semua prestasi itu hanyalah alat agar keluarga besar bersedia menerima kehadiranku. Sayangnya, hasilnya tetap nihil. Aku masih dibenci, dikucilkan, bahkan dianggap sebagai anak pembawa sial.
Lagi-lagi, aku menemukan kegagalan di tengah keberhasilan. Segala perjuangan dan pengorbananku seolah sia-sia.
Predikat pemalas dan anak bodoh tetap melekat pada diriku, padahal di sekolah aku adalah juara umum sekaligus penerima beasiswa.
Apalagi yang harus kulakukan agar mereka merasa puas?
Tidakkah mereka tahu bahwa yang paling kurindukan bukanlah hadiah atau pujian, melainkan sebuah pelukan penuh kebanggaan dari mereka yang menjadi sebab kehadiranku di dunia ini?
Kalaupun mereka kecewa karena aku gagal merebut simpati keluarga besar sebagaimana yang mereka harapkan, tidakkah mereka menyadari bahwa aku pun menyimpan kekecewaan yang jauh lebih dalam? Bukan hanya kepada keluarga besar yang menolakku, tetapi juga kepada kedua orang tuaku yang kuharap menjadi tempatku berlindung.
Mungkin mereka tak pernah tahu bahwa kekecewaan itu nyaris menyeretku ke dalam lembah keputusasaan.
Sejujurnya, aku ingin sekali membenci mereka. Namun pemahaman tentang birrul walidain terlanjur tertanam kuat di benakku. Pemahaman itu tumbuh melalui mentoring demi mentoring yang kuikuti bersama kakak-kakak kelasku. Anehnya, kegiatan itu awalnya justru menjadi pelarianku. Cara agar aku bisa menjauh sejauh mungkin dari sosok yang melahirkanku, sehingga waktu kami untuk saling berhadapan semakin sedikit.
Bahkan, berkali-kali aku memilih tidak pulang ke rumah selama berhari-hari. Aku ingin mencari sebuah jawaban.
Apakah aku masih diinginkan?
Apakah masih ada yang menungguku pulang?
Apakah kepergianku akan membuat seseorang mencariku?
Namun lagi-lagi, aku harus menelan pil pahit.
Aku benar-benar merasa tak diharapkan. Seolah-olah aku hanyalah sampah yang harus dibuang bersama mimpi-mimpi yang gagal kuwujudkan.
Berjuta pertanyaan memenuhi benakku.
Tidakkah mereka sadar bahwa perlakuan itu perlahan menyeretku ke dalam dunia yang gelap?
Hingga akhirnya, di tengah pekatnya perjalanan itu, Allah menghadirkan seseorang. Sosok malaikat tanpa sayap yang datang membawa setitik cahaya. Cahaya yang perlahan mengusir gelap yang selama ini mengurung langkahku.
Namun rupanya, perjalanan menuju-Nya tak pernah benar-benar mudah.
Semakin jauh aku melangkah, semakin kencang pula angin menerpa. Angin itu mencoba memadamkan satu-satunya pelita yang kugenggam. Aku berusaha melindunginya dengan kedua tanganku.
Ternyata panasnya membakar.
Tanpa kusadari, justru akulah yang memadamkan pelita itu.
\”Ah… aku harus bagaimana?\”
Pelita itu satu-satunya cahaya yang kupunya. Dengannya aku dapat menentukan arah perjalanan yang harus kutempuh.
\”Duhai Rabb…
Benarkah Engkau ingin membiarkanku tersesat di jalan menuju-Mu?
Apakah ini pertanda bahwa aku memang ditakdirkan tak mampu menjadi hamba-Mu seutuhnya?
Apakah takdirku memang berakhir di lembah kekufuran?\”
Tidak…
Aku juga hamba-Mu.
Aku juga ciptaan-Mu.
Tolong selamatkan aku.
Berikanlah kembali setitik cahaya agar aku tidak kehilangan arah di tengah gulita yang pekat.
Ya Arhamar Rahimin…
Ya Arhamar Rahimin…
Ya Arhamar Rahimin…
Farji\’alna muslimin…
Dalam sunyi, hanya itu yang mampu kulantunkan.
Bait demi bait Istigasah ala Sundawi yang dahulu diajarkan oleh seorang sahabat dari selatan Jawa Barat kembali mengalun lirih di bibirku. Senandung itu menjadi penawar kegelisahan yang perlahan menenangkan jiwaku.
Saat itu, batinku benar-benar kalut.
Aku bahkan sempat merutuk dan, tanpa kusadari, seolah menyalahkan Dzat yang menggenggam hidupku. Padahal semua yang terjadi berawal dari kekhilafanku sendiri.
Aku terus berlari.
Tanpa tahu ke mana kaki ini akan melangkah.
Yang kutahu, aku tidak ingin kembali ke belakang.
Aku hanya ingin terus berjalan.
Hingga akhirnya…
Di kejauhan kulihat kembali sebuah cahaya.
Bukan pelita yang tadi padam.
Melainkan cahaya lain yang Allah hadirkan.
Saat itulah aku tersadar.
Ketika aku mengira kehilangan segalanya, ternyata aku hanya lupa bahwa Allah memiliki segalanya.
Termasuk jawaban atas setiap kegelisahan yang kusimpan rapat dalam dada.
Saat pelita di tanganku padam, dengan qudrah dan iradah-Nya, Dia menghadirkan rembulan untuk menemaniku melangkah.
Cahayanya memang tak seterang matahari.
Namun cukup untuk membuatku tetap melihat jalan.
Cukup untuk membuatku tidak kehilangan arah..
Dan terkadang…
Itulah cara Allah menyelamatkan seorang hamba.
Bukan selalu dengan mengembalikan cahaya yang hilang.
Melainkan dengan menghadirkan cahaya lain yang tak pernah kita duga sebelumnya.
***
Waktu terus berlalu.
Aku tetap melanjutkan perjalanan, setapak demi setapak, hingga batas napasku kelak tiba.
Tanpa kusadari, selama ini ada seseorang yang berjalan di jalur yang sama. Kami tak banyak berbicara. Hanya saling memandang dalam diam, menyampaikan bahasa tanpa suara yang entah bagaimana mampu dipahami oleh hati masing-masing.
Mungkin karena kami sama-sama pernah mengenal sepi.
Atau mungkin karena Allah memang sedang mempertemukan dua jiwa yang telah lama berkelana.
Hingga akhirnya, kami mengikat janji dalam sebuah mitsaqan ghaliza. Sebuah ikatan suci yang mengubah kami dari dua orang asing menjadi satu perjalanan yang halal.
Bersamanya, aku mulai merajut kembali mimpi-mimpi yang sempat tercerai-berai. Mimpiku dan mimpinya perlahan menyatu menjadi satu tujuan. Kami berjalan berdampingan, saling menguatkan, sambil menikmati cahaya yang Allah bentangkan di langit kehidupan kami.
Memang, cahaya itu tak selalu bersinar terang.
Kadang awan hitam datang menutupinya.
Namun saat itulah kami belajar saling menggenggam lebih erat agar tak ada yang tertinggal ataupun kehilangan arah.
Bukankah hidup memang tak pernah benar-benar bebas dari ujian?
Ketika hari-hari kami mulai dipenuhi tawa, dan kehadiran dua buah hati mungil membuat rumah terasa semakin hidup, badai itu kembali datang.
Ia yang selama ini menjadi tempatku bersandar tiba-tiba jatuh.
Tubuhnya melemah.
Semangatnya perlahan merapuh.
Sambil menggandeng dua pasang tangan mungil yang selalu memandangku dengan mata bening penuh harap, aku mencoba menopangnya agar tetap mampu berdiri. Agar kami bisa terus melanjutkan perjalanan yang belum selesai.
Namun rupanya…
Bukan hanya dirinya yang mulai rapuh.
Aku pun perlahan ikut runtuh.
Ada saat-saat ketika rasanya aku ingin berhenti.
Ingin duduk sejenak.
Ingin menyerah.
Namun perjalanan ini belum selesai.
Aku harus tetap melangkah.
Bukan karena aku perempuan yang luar biasa kuat.
Bukan pula karena aku tidak mengenal lelah.
Melainkan karena kehidupan tidak berhenti hanya karena aku ingin beristirahat.
Aku memaksa diriku untuk tetap berdiri.
Menjaga napas kekasih halalku.
Menggenggam tangan kedua buah hati kami agar tak tercerai-berai oleh badai.
Dan di saat yang sama, aku berusaha menjaga agar pelita di dalam diriku tidak kembali padam.
Aku percaya…
Tidak ada persoalan yang Allah hadirkan tanpa jalan keluar.
Tidak ada luka yang diciptakan tanpa peluang untuk disembuhkan.
Selama hati masih mampu berharap kepada-Nya.
Selama tangan ini masih mau terangkat untuk berdoa.
Selama kaki ini masih memilih melangkah.
Maka selalu ada alasan untuk percaya bahwa pertolongan-Nya sedang menuju kepada kita.
Epilog
Tahun demi tahun berlalu.
Langkahku terasa semakin ringan. Bukan karena perjalanan ini telah kehilangan ujian, melainkan karena perlahan aku belajar menyerahkan seluruhnya kepada Allah. Ketawakalan bukanlah sesuatu yang hadir dalam semalam. Ia tumbuh dari luka demi luka yang perlahan dipeluk oleh rahmat-Nya.
Di tengah perjalanan itu, Allah kembali menghadiahkan jiwa-jiwa mungil sebagai penyejuk mata kami. Kehadirannya menjadi anugerah yang tak pernah kami sangka. Gadis-gadid kecil itu memiliki wajah yang begitu mirip denganku saat masih belia.
Namun, bukan hanya itu keajaibannya.
Dengan qudrah dan iradah Allah, kehadirannya seolah membangunkan kembali semangat hidup belahan jiwaku. Binar mata yang sempat lama redup perlahan kembali menyala. Senyum yang pernah menghilang mulai menghiasi hari-harinya.
Perlahan, kami kembali menata mimpi-mimpi yang sempat berserakan.
Sementara itu, aku pun mulai belajar memulihkan diriku sendiri.
Luka-luka masa lalu ternyata tidak hilang hanya karena waktu berlalu. Sebagiannya masih tertinggal, masih sesekali berdenyut, dan masih memengaruhi langkahku hingga hari ini.
Namun kini aku tidak lagi berusaha menyangkal keberadaannya.
Aku belajar menerimanya.
Aku belajar menghargai diriku sendiri yang telah bertahan sejauh ini.
Aku tidak lagi ingin selamanya dikenal sebagai seseorang yang terluka.
Aku ingin belajar mengubah luka menjadi suka.
Mengubah air mata menjadi permata.
Menjadikan setiap kepedihan sebagai jalan untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.
Aku berharap, keluargaku kelak menjadi awal dari sebuah mata rantai yang baru. Mata rantai yang tidak lagi mewariskan luka, melainkan menghadirkan cinta, penerimaan, dan keberanian untuk saling menguatkan.
Di tengah proses itu, aku menemukan satu jalan yang perlahan membantu menyembuhkan jiwaku.
Menulis.
Awalnya, menulis hanyalah tempatku melarikan segala sesak yang tak sanggup kuucapkan. Aku menuangkan rasa ke dalam bait demi bait kalimat. Menjadikannya ruang katarsis ketika dadaku terasa terlalu penuh untuk dipikul sendiri.
Namun semakin lama, aku menyadari bahwa menulis bukan sekadar pelampiasan.
Ia adalah ruang untuk berdamai.
Ruang untuk mengenali diri.
Ruang untuk menyusun kembali kepingan-kepingan hati yang pernah berserakan.
Melalui tulisan, aku berharap setiap kisah tidak berhenti sebagai luka. Semoga ia berubah menjadi hikmah yang dapat dipetik oleh siapa pun yang membacanya. Barangkali, seseorang tak perlu jatuh ke lubang yang sama hanya karena ia telah belajar dari pengalaman orang lain.
Bagiku, menulis juga merupakan jalan dakwah.
Sebuah jalan yang tidak hanya mengajak orang lain, tetapi juga terus mengingatkan diriku sendiri.
Sebab setiap kata yang kutuliskan akan kembali menegurku terlebih dahulu sebelum sampai kepada pembacanya.
Aku belajar bahwa tulisan akan kehilangan ruhnya jika tidak diiringi usaha untuk mengamalkannya.
Dalam perjalanan pemulihan, para dokter spesialis kejiwaan dan psikolog klinis yang mendampingiku juga mengenalkanku pada berbagai bentuk terapi menulis. Mulai dari self-talk, jurnal syukur, katarsis melalui tulisan, hingga menulis refleksi sebagai cara mengenali dan mengelola emosi.
Perlahan, aku belajar membasuh luka-lukaku sendiri.
Bukan karena semuanya telah sembuh.
Melainkan karena kini aku tahu bagaimana merawatnya.
Perjalanan ini masih panjang.
Masih akan ada ujian.
Masih akan ada air mata.
Namun selama Allah masih mengizinkanku melangkah, aku ingin terus berjalan bersama keluargaku.
Membangun peradaban melalui jalan yang kami mampu.
Mengisi bagian kecil dari puzzle dunia.
Agar kelak, ketika kami dipanggil pulang kepada-Nya, semoga ada sedikit jejak kebaikan yang tertinggal.
Jejak yang mungkin tak mengubah seluruh dunia.
Namun setidaknya mampu menerangi langkah seseorang yang pernah merasa berjalan sendirian.