“Ah, membaca buku paling cuma buat nambah ilmu, kan, Kang?”
Hehehe… iya, sih. Salah satu manfaat membaca memang menambah ilmu. Tapi kalau cuma itu, rasanya kita sedang meremehkan aktivitas yang kelihatannya sederhana ini. Menariknya, membaca ternyata bukan sekadar kegiatan memindahkan huruf dari halaman buku ke dalam kepala.
Saat kita membaca, otak ikut bekerja. Bukan cuma satu bagian, tetapi banyak proses yang berjalan bersamaan. Kita membaca kata, memahami makna, mengingat informasi, menghubungkan satu kejadian dengan kejadian lainnya, bahkan kadang membayangkan wajah tokoh atau suasana yang sedang diceritakan.
Coba saja ketika membaca novel. Misalkan, ada tokoh yang sedang berjalan di tengah hujan. Kita mungkin langsung membayangkan jalan yang basah, suara air hujan, udara dingin, bahkan ekspresi wajah si tokoh. Padahal semuanya hanya tulisan.
Nah, di situlah menariknya membaca. Buku tidak bergerak. Halamannya diam. Tetapi di dalam kepala kita, bisa terjadi “keramaian” yang luar biasa.
“Lalu apa hubungannya dengan kesehatan otak, Kang Muvti?”
Nah, ini yang menarik. Salah satu alasan membaca sering dikaitkan dengan kesehatan otak adalah karena aktivitas tersebut membuat otak terus mendapatkan stimulasi. Alzheimer sendiri merupakan penyakit yang memengaruhi fungsi otak, terutama kemampuan mengingat, berpikir, dan menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari.
Seseorang yang mengalami Alzheimer dapat mengalami lupa terhadap hal-hal yang sebelumnya mudah diingat. Dalam kondisi yang semakin berat, mereka bahkan bisa mengalami kebingungan dan kesulitan mengenali orang-orang terdekat.
Tentu saja, Alzheimer bukan penyakit yang bisa dicegah atau diatasi hanya dengan membaca buku. Pengobatan dan pemeriksaan medis tetap menjadi hal penting. Namun, menjaga otak tetap aktif merupakan salah satu kebiasaan baik yang layak dipelihara.
Salah satunya? Ya, membaca.
Beberapa penelitian mengaitkan aktivitas membaca dan stimulasi kognitif dengan kesehatan otak yang lebih baik. Dalam proses membaca, otak diajak memahami bahasa, menyimpan informasi, mengingat detail, mengikuti alur, serta menghubungkan berbagai gagasan.
Dengan kata lain, otak tidak sedang duduk santai. Ia sedang bekerja.
“Wah, berarti kalau mau otak sehat harus baca buku tebal setiap hari, Kang?”
Ya enggak gitu juga konsepnya. Apalagi kamu sebagai pembaca pemula yang ingin konsisten membaca. Jangan sampai baru membaca satu halaman sudah menyerah gara-gara melihat buku setebal bantal! Hehehe.
Kalau sudah terbiasa sih enggak masalah, tapi bagi newbie tidak perlu langsung memaksakan diri membaca buku ratusan halaman. Mulailah dari sesuatu yang memang kita sukai.
Senang cerita? Baca novel. Suka sejarah? Baca buku sejarah. Senang pengembangan diri? Cari buku yang membahas kehidupan dan pengalaman manusia. Suka agama, budaya, bisnis, olahraga, atau bahkan biografi tokoh? Silakan.
Tidak harus buku yang berat. Yang penting adalah membuat otak terbiasa menerima, memahami, dan mengolah informasi. Bahkan, kalau sekarang belum terbiasa membaca, cukup mulai dari 15–30 menit sehari.
Salah satu pemantik saya akhirnya senang membaca ada dua hal. Yang pertama ketika di kampus. Ya jujur saja, saya suka baca ketika kuliah. Saat sekolah, duh males banget deh. Tapi yang ini jangan ditiru yah! Apalagi jurusan yang saya masukkin, jurusan ilmu informasi dan perpustakaan. Identik dengan buku banget kan?
Kalau enggak senang baca buku. Apa kata dunia? Hehehehe…
Hal yang kedua sebagai pemantik saya suka baca, karena saya pernah ikut sebuah bisnis di bidang network marketing. Ya, bisnis itu memaksa di kita untuk membiasakan membaca minimal 15 menit sehari. Kalau tidak, saya di tegur oleh Coach bisnis saya. Nah lho…
Mungkin menurut kamu 15 menit terlihat kecil yah? Ya, memang sih. Tapi coba bayangkan kalau dilakukan terus-menerus. Lima belas menit hari ini. Lalu besok, lusa dan lama-lama, tanpa terasa kita sudah menyelesaikan satu buku. Setelah itu buku berikutnya. Kemudian buku berikutnya lagi.
Yang awalnya hanya kebiasaan kecil, perlahan menjadi bagian dari kehidupan.
Dan ada satu hal lagi yang sering kita lupakan. Membaca tidak hanya memberi makanan untuk otak. Membaca juga bisa menjadi ruang untuk beristirahat dari hiruk-pikuk kehidupan.
Ketika kita membuka buku dan benar-benar masuk ke dalam cerita, perhatian kita sejenak berpindah dari berbagai persoalan. Notifikasi berhenti, media sosial kita tinggalkan. Drama orang lain juga kita istirahatkan.
“Wah, berarti membaca bisa jadi pelarian juga, Kang?”
Bisa. Tapi pelarian yang sehat, selama tidak digunakan untuk terus menghindari persoalan yang memang perlu diselesaikan. Ingat yah, masalah tetap perlu dihadapi dan diselesaikan, tapi dengan membaca, bisa membuat kita berpikir jernih dan mencari solusi terbaik dari tantangan-tantangan yang kita hadapi.
Membaca juga dapat membantu menciptakan suasana yang lebih tenang bagi sebagian orang. Ketika pikiran tidak terus-menerus dibombardir oleh berbagai informasi, tubuh dan pikiran bisa mendapatkan jeda.
Makanya, jangan buru-buru mengatakan bahwa membaca itu membosankan. Mungkin selama ini kita saja yang belum menemukan buku yang tepat. Sebab membaca itu seperti bertemu teman. Kalau temannya tidak cocok, lima menit saja rasanya sudah ingin pergi. Tapi kalau menemukan teman yang nyambung? Eh… bisa ngobrol berjam-jam!
Buku juga begitu. Ada buku yang baru dibaca beberapa halaman sudah membuat kita menguap. Ada pula buku yang membuat kita lupa waktu sampai tiba-tiba sadar, “Lho, kok sudah tengah malam?”
Jadi, jangan jadikan membaca sebagai perlombaan. Tidak perlu sibuk menghitung berapa buku yang sudah selesai dibaca orang lain. Yang lebih penting adalah berapa banyak waktu yang kita berikan kepada diri sendiri untuk terus belajar dan berpikir.
Sebab semakin bertambah usia, menjaga kesehatan tubuh memang penting. Kita pun tak boleh abai untuk menjaga pola makan, berolahraga, cukup tidur, dan melakukan pemeriksaan kesehatan. Tetapi jangan lupa satu bagian yang sering tidak terlihat: otak.
Otak juga perlu diajak bekerja. Perlu diajak berpikir dan perlu diberi sesuatu untuk dipelajari. Kabar baiknya, membaca adalah salah satu cara yang sederhana, murah, dan mudah dilakukan hampir siapa saja.
“Jadi, mulai kapan saya harus membaca, Kang?”
Kalau bisa hari ini. Ya hari ini, jangan nunggu nanti dan tapi. Tidak perlu menunggu punya rak buku yang bagus dulu, atau kondisi ideal yang kamu harapkan. Jangan! Tugas kamu sekarang adalah ambil saja buku yang ada di sekitarmu, buka halamannya. Baca beberapa halaman. Kalau belum kuat 30 menit, mulai 10 menit. Kalau 10 menit masih berat, mulai 5 menit saja.
Yang penting apa? Mulai. Ya, betul MULAI, bukan nunggu nanti dan tapi. Karena menjaga otak tetap “hidup” tidak selalu membutuhkan sesuatu yang rumit. Cukup dengan membuka sebuah buku, membaca satu halaman, memahami satu gagasan, lalu membiarkan pikiran kita bekerja.
Satu halaman mungkin terlihat kecil. Tetapi kebiasaan yang dilakukan bertahun-tahun bisa menghasilkan perubahan yang tidak kecil.
Jadi, mulai sekarang, jangan lihat buku hanya sebagai kumpulan kertas berisi tulisan.
Anggaplah buku sebagai salah satu teman perjalanan. Teman yang diam, tetapi mengajak kita berpikir. Teman yang tidak banyak bicara, tetapi bisa membuka dunia. Dan mungkin, tanpa kita sadari, setiap halaman yang kita baca bukan hanya sedang menambah pengetahuan, tetapi juga sedang memberi kesempatan kepada otak untuk terus aktif, belajar, dan tumbuh.
Bukankah indah? Di saat usia terus berjalan dan waktu tidak pernah bisa diputar kembali, kita masih punya pilihan sederhana untuk merawat salah satu anugerah terbesar dalam tubuh kita.
Baca buku.
Pelan-pelan saja. Satu halaman demi satu halaman.
Sebab bisa jadi, kebiasaan kecil yang hari ini kita anggap sepele, justru menjadi salah satu bentuk investasi terbaik untuk diri kita di masa depan.
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi