Tentu akan muncul pertanyaan di benakmu, apakah rasa aman itu masih relevan hari ini? Jawabannya langsung tertohok ketika kita membuka berita dan membaca tragedi yang merenggut nyawa Muhammad Hasbi Al Aqib, bocah tujuh tahun kelas dua SDN 1 Kebondalem, Pemalang. Peristiwa kelam yang diduga melibatkan perundungan oleh kakak kelasnya sendiri membuat kita sadar bahwa ada yang retak parah di ruang-ruang kelas kita.
Mungkin kamu mikir, Ah, itu kan cuma kenakalan anak-anak biasa yang dibesar-besarkan. Tapi mari kita garis bawahi, ketika candaan berujung pada hilangnya nyawa seorang anak, itu bukan lagi kenakalan remaja. Itu adalah kegagalan sistemik dari orang dewasa di sekitarnya.
Poinnya sederhana. Kita terlalu sibuk mengejar nilai rapor yang sempurna, sementara keselamatan mental dan fisik anak diabaikan begitu saja.
Mengapa Lingkungan Sekolah Bisa Menjadi Tempat Paling Menakutkan?

Banyak dari kita menganggap kekerasan di sekolah hanyalah anomali kecil. Padahal, psikolog anak sering mengingatkan bahwa budaya perundungan tumbuh subur dari sikap diam kolektif. Olweus (1993), seorang pionir dalam riset perundungan,, menemukan bahwa penindasan di lingkungan pendidikan jarang terjadi dalam ruang hampa; ia hidup karena ada penonton yang membiarkan dan guru yang memilih abai.
Yang dimaksud Olweus dengan pengabaian sistemik adalah kondisi di mana pihak sekolah menganggap enteng laporan kecil dari siswa. Laporan cubitan, ejekan fisik, atau pemalakan sering kali dicap sebagai dinamika bermain yang wajar. Padahal, di situlah bibit kekerasan yang lebih besar sedang disiram setiap hari.
Coba bayangkan realitas di sekolah-sekolah kita hari ini. Di ruang guru, obrolan saat jam istirahat lebih sering berkutat pada tumpukan administrasi kurikulum ketimbang memantau dinamika emosional di koridor kelas. Pas ambil rapor anak, yang ditanya pertama kali oleh orang tua hampir selalu peringkat kelas, bukan apakah anak kita punya teman yang merunduk atau apakah mereka merasa aman di kelas.
Dampaknya mungkin tidak langsung kelihatan. Tapi di grup WhatsApp orang tua, laporan anak yang pulang dengan lebam atau murung sering kali hanya dijawab dengan kalimat klise: Namanya juga anak-anak, nanti juga akur lagi.
Seperti kata sosiolog Erving Goffman tentang institusi total, tempat di mana pengawasan yang longgar bertemu dengan hierarki kuasa yang timpang akan selalu melahirkan penindasan yang tak terlihat.
Membongkar Akar Masalah Kekerasan di Lingkungan Pendidikan

Kabar pahitnya, akar masalah kekerasan ini bukan semata-mata karena anak-anak zaman sekarang lebih nakal. Masalah utamanya ada pada hilangnya budaya empati dan komunikasi terbuka di antara para pemangku kepentingan di sekolah.
Kita sering salah kaprah dengan mendefinisikan disiplin sebagai kepatuhan butuh pada senior. Budaya senioritas yang salah kaprah dipelihara dari tahun ke tahun. Kakak kelas merasa punya hak untuk mendominasi, sementara adik kelas dipaksa tunduk demi alasan kesopanan semu. Ini mirip seperti budaya ospek jadul yang diwariskan turun-temurun tanpa filter nalar sehat.
Bayangkan saat seorang driver ojol langgananmu cerita kalau anaknya mendadak tidak mau berangkat sekolah karena takut diejek. Respons kita sering kali menyuruh anak itu untuk sabar dan melawan sendiri. Padahal, beban psikologis itu terlalu berat dipikul oleh pundak anak berumur tujuh tahun.
Rasanya beda, kan, ketika kita melihat masalah ini dari sudut pandang korban, bukan dari kacamata orang dewasa yang sibuk mencari pembenaran bahwa sekolah sudah beroperasi sesuai SOP.
Jadi, ini bukan soal memperketat aturan seragam atau menambah satpam di gerbang, melainkan mengubah total cara kita mendengarkan jeritan anak-anak yang terbungkam.
Kasus Bullying di Sekolah

Memutus mata rantai kekerasan di sekolah membutuhkan tindakan nyata yang konsisten dari kita semua, baik sebagai orang tua, pendamping, maupun masyarakat. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan doa agar anak-anak kita selamat sampai rumah setiap sore.
Berikut adalah langkah praktis yang bisa kamu ambil mulai hari ini untuk melindungi anak-anak di sekitarmu:
- Dengarkan cerita harian anak tanpa langsung menghakimi atau menyuruh mereka untuk menjadi kuat secara berlebihan.
- Tanyakan secara spesifik siapa teman mereka hari ini dan apakah ada hal membuat mereka merasa tidak nyaman di kelas.
- Catat setiap perubahan perilaku sekecil apa pun, seperti anak yang tiba-tiba pendiam, menolak berangkat sekolah, atau kehilangan nafsu makan.
- Datangi pihak sekolah secara langsung jika ada indikasi sekecil apa pun terkait intimidasi fisik maupun verbal.
- Ajarkan batasan diri pada anak untuk berani berkata tidak dan segera melapor pada orang dewasa yang tepercaya saat mereka merasa terancam.
Kalau kamu ingin mendiskusikan lebih banyak sudut pandang seputar dinamika manusia dan dunia kerja, yuk mampir dan dapatkan insight menarik di kanal YouTube saya. Jangan lupa juga untuk terhubung secara profesional dengan saya lewat profil LinkedIn saya agar kita bisa terus bertukar pikiran.
Keselamatan seorang anak di ruang belajar bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari keberanian orang dewasa untuk tidak tinggal diam.
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi