“Kalau belum nemu ide yang keren, ngapain nulis?” Mungkin kalimat itu pernah muncul di kepala kita. Atau mungkin lebih sering lagi:
- “Nanti aja kalau udah dapat ide yang bagus.”
- “Aku masih nyari topik yang menarik.”
- “Belum ada inspirasi nih.”
Lalu kita menunggu. Besok menunggu lagi. Minggu depan pun masih menunggu. Sebulan kemudian juga belum menulis apa-apa.
Ironisnya, bukan karena kita malas. Bukan karena kita tidak ingin menulis. Kita hanya merasa belum menemukan ide yang cukup besar, merasa ide ini cukup menarik, istimewa bahkan layak untuk ditulis. Padahal di situlah banyak calon penulis terjebak.
Mitos Tentang Ide Besar
Ada sebuah keyakinan yang diam-diam dipercaya banyak orang: Tulisan yang bagus harus lahir dari ide yang luar biasa.
Karena itulah mereka terus mencari dan mencari, mencari topik yang unik, cerita yang spektakuler, pengalaman yang mengubah dunia. Mencari sesuatu yang menurut mereka layak dibagikan. Masalahnya, semakin tinggi standar ide yang dicari, semakin sedikit ide yang dianggap cukup baik. Akhirnya tidak ada yang ditulis. Sejatinya, tidak ada ide yang terasa cukup hebat.
Padahal sejarah dunia kepenulisan menunjukkan sesuatu yang berbeda. Banyak karya besar justru lahir dari hal-hal yang sangat sederhana.
Coba deh pikirkan beberapa buku atau tulisan yang pernah membekas dalam hidupmu. Apakah semuanya membahas sesuatu yang luar biasa?
Belum tentu.
Banyak tulisan yang menyentuh hati justru bercerita tentang hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tentang kehilangan, persahabatan, keluarga, kegagalan, rasa takut, dan mungkin tentang harapan. Semua itu bukan topik baru. Bahkan sudah ditulis ribuan kali.
Namun mengapa tetap menarik? Karena yang membuat tulisan hidup bukan semata-mata topiknya. Melainkan cara penulis menyampaikannya!
Jadi gini, bisa jadi dua orang menulis tentang hujan. Satu tulisan terasa biasa. Yang lain terasa sangat mengena. Kok bisa? Karena bukan hujannya berbeda. Tetapi karena cara melihat dan menceritakannya berbeda.
Kita Meremehkan Bahan Tulisan yang Ada di Sekitar
Salah satu alasan banyak orang merasa kehabisan ide adalah karena mereka mengabaikan sumber ide terbesar yang mereka miliki yaitu, kehidupan mereka sendiri.
Padahal setiap hari sebenarnya penuh dengan bahan tulisan seperti percakapan dengan teman, pelajaran dari pekerjaan, pengalaman gagal, perjalanan pulang, rasa kehilangan, momen bahagia dan kecewa, kesalahan kecil, dan mungkin pertemuan yang tidak terlupakan. Ya, semua itu adalah bahan tulisan.
Masalahnya, karena terlalu dekat dengan kehidupan kita sendiri, kita menganggap semuanya biasa dan dengan pede nya kita berkata:
- “Ah, ini mah nggak penting.”
- “Ah, ini mah semua orang juga ngalamin.”
- “Ah, ini terlalu sederhana.”
Padahal sesuatu yang biasa bagi kita bisa sangat bermakna bagi orang lain. Ya, banyak orang membayangkan penulis duduk menunggu inspirasi. Lalu tiba-tiba ide muncul, kemudian mereka mulai menulis.
Kenyataannya sering kali justru sebaliknya. Penulis yang produktif biasanya tidak menunggu ide. Mereka menulis terlebih dahulu dan dari proses menulis itulah ide berkembang. Mereka memahami satu hal penting: Ide tidak selalu muncul sebelum menulis.
Sering kali ide muncul saat menulis. Paragraf pertama memunculkan paragraf kedua. Paragraf kedua memunculkan cerita baru. Cerita baru memunculkan sudut pandang baru. Dan seterusnya. Karena itu banyak penulis berpengalaman memiliki kebiasaan sederhana : Menulis dulu. Berpikir belakangan.
Mengapa Menunggu Ide Besar Berbahaya?
Karena tanpa sadar, kebiasaan itu membuat kita berhenti berlatih. Bayangkan seorang pelari yang berkata: “Saya akan mulai berlari kalau sudah menemukan lomba yang sempurna.”
Kemungkinan besar ia tidak akan pernah berlari. Karena fokusnya bukan pada latihan. Fokusnya pada kondisi ideal.
Hal yang sama terjadi dalam menulis. Ketika kita terlalu fokus mencari ide besar, kita kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan menulis. Padahal kemampuan itu tumbuh melalui praktik. Bukan melalui penantian.
Menariknya, ide berkembang setelah ditulis. Ah serius? Mungkin ini adalah sesuatu yang sering mengejutkan penulis pemula. Mereka mengira ide harus matang dulu sebelum ditulis. Padahal kenyataannya, ide justru menjadi matang karena ditulis.
Bayangkan sebuah benih. Kita tidak menunggu pohonnya tumbuh dulu baru menanam benih kan?
Caranya, kita menanam benih terlebih dahulu. Lalu merawatnya dan melihatnya berkembang. Ide juga begitu. Tulisan pertama mungkin masih sederhana. Masih mentah, belum sempurna. Tetapi setelah ditulis, ia mulai tumbuh. Mulai berkembang dan bisa jadi mulai menemukan bentuk terbaiknya.
Cara Sederhana Mengatasi Kebiasaan Menunggu
Kalau hari ini kamu merasa selalu menunggu ide besar, coba lakukan tiga hal sederhana:
- Tulis Satu Hal Kecil Hari Ini
Tidak perlu luar biasa. Cukup sesuatu yang kamu alami hari ini. Satu pengalaman, pelajaran, percakapan atau satu perasaan.
- Ambil dari Kehidupan Sendiri
Jangan mencari terlalu jauh. Lihat apa yang sedang terjadi dalam hidupmu. Biasanya di situlah ide terbaik bersembunyi.
- Jangan Menilai Terlalu Cepat
Kesalahan terbesar adalah menghakimi ide sebelum ditulis. Biarkan ide keluar dulu. Nilainya nanti saja. Editnya juga nanti. Perbaiki nanti dong! Untuk sekarang, tulis saja.
Lalu pertanyaan nya mengapa menulis dari hal sederhana butuh keberanian? Karena kita sering meremehkan pengalaman sendiri. Kita lebih mudah kagum pada cerita orang lain dibandingkan cerita kita sendiri.
Kita berpikir hidup kita terlalu biasa. Terlalu sederhana dan tidak menarik. Padahal banyak tulisan yang paling menyentuh justru lahir dari pengalaman yang jujur. Bukan yang paling spektakuler, yang paling dramatis. Tetapi yang paling manusiawi.
Bertumbuh Bersama di GEMBIRA
Menulis dari hal sederhana memang tidak selalu mudah. Apalagi jika dilakukan sendirian. Sering kali kita langsung meragukan tulisan sendiri. Langsung menganggapnya tidak menarik. Langsung merasa tidak layak dibagikan. Karena itulah banyak orang membutuhkan lingkungan yang mendukung proses bertumbuh.
Di GEMBIRA (Gerakan Menulis Bersama dan Berbagi Inspirasi), anggota tidak didorong untuk menunggu ide sempurna. Sebaliknya, mereka dilatih untuk mulai dari apa yang ada. Mulai menulis, berkarya dan mulai membangun kebiasaan. Karena karya besar tidak lahir dari penantian. Karya besar lahir dari keberanian untuk memulai.
Tunggu apa Lagi?
Jika hari ini kamu masih menunggu ide besar sebelum menulis, mungkin saatnya berhenti sejenak dan bertanya: “Bagaimana kalau ide yang aku tunggu sebenarnya tidak akan pernah datang?”
Karena sering kali ide besar bukan sesuatu yang ditemukan. Ide besar adalah sesuatu yang tumbuh dari ide kecil yang diberi kesempatan untuk berkembang.
Jadi jangan tunggu inspirasi sempurna. Jangan tunggu topik luar biasa. Jangan tunggu momen yang tepat. Mulailah dari cerita sederhana, dari pengalaman hari ini atau dari apa yang ada. Karena pada akhirnya, penulis yang berkembang bukanlah mereka yang memiliki ide paling keren.
Penulis yang berkembang adalah mereka yang berani menulis sebelum semuanya terasa sempurna. Dan siapa tahu, tulisan sederhana yang kamu mulai hari ini justru menjadi karya yang paling berdampak di kemudian hari. ✍️📚✨
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi