Pernah nggak kamu membaca ulang tulisan sendiri lalu merasa ada yang aneh?
Padahal isinya sudah benar, pesannya jelas, strukturnya juga sudah rapi. Tapi entah kenapa terasa seperti ditulis oleh orang yang berbeda-beda. Di paragraf awal terdengar formal. Di tengah tiba-tiba santai. Di akhir malah seperti sedang pidato di acara resmi. Akhirnya tulisan terasa janggal. Tidak salah sih, tetapi juga tidak nyaman dibaca.
Kalau pernah mengalami hal ini, tenang saja. Hampir semua penulis pemula pernah melewati fase yang sama. Karena ketika mulai belajar menulis, kita memang sedang mencari gaya.
Ya, mungkin kita sedang mencoba berbagai cara. Mencoba berbagai nada. Mencoba berbagai karakter dan itu wajar. Masalahnya muncul ketika proses mencari gaya berubah menjadi kebiasaan yang tidak disadari.
Tulisan Punya Suara, Sama Seperti Manusia
Coba bayangkan kamu sedang berbicara dengan seseorang. Awalnya dia sangat formal.
“Selamat pagi, Bapak. Semoga Anda dalam keadaan sehat dan bahagia.”
Lalu lima menit kemudian berubah menjadi: “Eh bro, gimana kabarnya?”
Tidak lama setelah itu dia kembali berkata: “Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa…”
Aneh, bukan?
Kita akan bingung sebenarnya sedang berbicara dengan siapa. Apakah dia sedang bercanda? Sedang presentasi? Atau sedang pidato? Hal yang sama juga terjadi dalam tulisan.
Tulisan memiliki suara dan suara itu membantu pembaca mengenali siapa kita. Jika suara itu berubah-ubah tanpa alasan yang jelas, pembaca akan kehilangan pegangan.
Kesalahan yang Sering Tidak Disadari
Salah satu bentuk inkonsistensi yang paling sering muncul adalah penggunaan kata ganti.
Misalnya:
Di awal tulisan: “Saya percaya bahwa menulis adalah keterampilan penting.”
Di tengah: “Aku mulai belajar menulis sejak kuliah.”
Lalu di akhir: “Kalau gue boleh jujur…”
Mungkin terlihat sepele. Tetapi bagi pembaca, perubahan ini terasa. Karena setiap kata ganti membawa nuansa yang berbeda.
“Saya” terasa formal dan profesional.
“Aku” terasa personal dan hangat.
“Gue” terasa akrab dan santai.
Tidak ada yang salah dengan salah satunya. Yang menjadi masalah adalah ketika semuanya muncul dalam satu tulisan tanpa tujuan yang jelas.
Pembaca Mencari Konsistensi
Ketika seseorang membaca tulisan kita, sebenarnya mereka sedang membangun hubungan. Mereka mulai mengenali cara kita berpikir. Cara kita bercerita. Cara kita menyampaikan pesan. Semakin konsisten gaya kita, semakin mudah mereka merasa akrab.
Sebaliknya, jika gaya tulisan terus berubah, pembaca harus terus menyesuaikan diri. Akibatnya mereka sulit terhubung dan ketika koneksi itu tidak terbentuk, tulisan kehilangan sebagian kekuatannya.
Pertanyaan nya mengapa banyak penulis mengalama ini?
Karena mereka masih mencoba menjadi semua orang. Hari ini menulis seperti penulis motivasi, besok menulis seperti jurnalis. Lusa menulis seperti copywriter. Minggu depan menulis seperti penyair.
Padahal pembaca tidak sedang mencari tiruan dari orang lain. Mereka ingin mengenal kita, mendengar suara kita, ingin membaca tulisan yang terasa autentik. Sayangnya banyak penulis terlalu sibuk terdengar hebat sampai lupa terdengar sebagai dirinya sendiri.
Gaya Tulisan Tidak Ditemukan, Tetapi Dibangun
Ada pertanyaan yang sering muncul: “Gimana caranya menemukan gaya menulis?”
Jawabannya mungkin tidak seindah yang dibayangkan. Gaya menulis tidak ditemukan dalam semalam. Gaya menulis pun perlu dibangun dari ratusan tulisan, puluhan revisi bahkan dari proses mencoba dan memperbaiki.
Semakin sering menulis, semakin kita mengenali cara alami kita berbicara dan biasanya gaya terbaik justru muncul ketika kita berhenti berpura-pura.
Dan menariknya penulis hebat punya suara yang jelas!
Enggak percaya? Coba pikirkan penulis favoritmu. Kemungkinan besar kamu bisa mengenali tulisannya bahkan tanpa melihat namanya. Mengapa? Karena mereka memiliki karakter yang kuat. Ya, mereka punya cara khas dalam menyampaikan ide.
Bukan berarti mereka selalu menggunakan kata-kata yang rumit. Justru sering kali sebaliknya. Mereka konsisten. Dan konsistensi itulah yang membuat mereka mudah dikenali.
Tentukan Siapa yang Sedang Kamu Ajak Bicara
Salah satu cara paling mudah menjaga konsistensi adalah menentukan pembaca sejak awal. Karena gaya tulisan yang cocok untuk mahasiswa tentu berbeda dengan gaya tulisan untuk eksekutif perusahaan. Tulisan untuk komunitas parenting berbeda dengan tulisan untuk anak muda. Tulisan untuk artikel akademik berbeda dengan tulisan untuk media sosial.
Sebelum menulis, tanyakan: “Saya sedang berbicara kepada siapa?”
Jawaban atas pertanyaan itu akan membantu menentukan nada tulisan. Dan ketika nadanya sudah jelas, menjaga konsistensi menjadi jauh lebih mudah.
Ada satu jebakan lain yang sering membuat gaya tulisan menjadi kacau. Yaitu keinginan untuk terlihat pintar.
Awalnya menulis dengan bahasa sederhana. Lalu tiba-tiba memasukkan istilah rumit agar terlihat lebih intelektual. Kemudian kembali menggunakan bahasa santai. Akibatnya tulisan terasa campur aduk.
Padahal pembaca tidak mencari penulis yang paling pintar. Pembaca mencari penulis yang paling mudah dipahami. Karena komunikasi yang baik bukan tentang membuat orang kagum. Tetapi tentang membuat orang mengerti.
Cara Sederhana Melatih Konsistensi
Jika ingin gaya tulisan lebih kuat, coba lakukan beberapa hal berikut:
- Pilih Kata Ganti yang Konsisten
Tentukan sejak awal. Apakah menggunakan : Saya, Aku, Kami, Kita atau Gue. Pilih yang paling sesuai dengan target pembaca dan pertahankan sampai akhir.
- Tentukan Nada Tulisan
Apakah ingin terasa: Formal, Semi formal, Santai, Inspiratif atau Edukatif. Tidak harus kaku, tetapi tetap memiliki arah yang jelas.
- Baca Ulang Sebagai Pembaca
Saat revisi, jangan membaca sebagai penulis. Tapi baca sebagai orang yang baru pertama kali melihat tulisan itu. Bagian yang terasa janggal biasanya akan lebih mudah terlihat.
- Menulis Lebih Sering
Suara tulisan berkembang melalui latihan. Semakin banyak menulis, semakin mudah mengenali gaya yang paling alami untuk diri sendiri.
Lalu pertanyaannya mengapa kita sulit melihat kesalahan sendiri?
Karena kita terlalu dekat dengan tulisan kita. Kita tahu maksud setiap kalimat, tahu apa yang ingin disampaikan. Akibatnya banyak inkonsistensi yang luput dari perhatian.
Apa yang terasa normal bagi penulis sering kali terasa aneh bagi pembaca. Inilah alasan mengapa masukan dari orang lain sangat penting. Karena mata kedua sering menemukan hal-hal yang tidak kita sadari.
Bertumbuh Bersama di GEMBIRA
Salah satu keuntungan belajar dalam komunitas adalah kita tidak harus berkembang sendirian. Kadang kita merasa tulisan sudah baik-baik saja. Tetapi setelah mendapatkan masukan, baru sadar ada bagian yang membingungkan.
Ada bagian yang tidak konsisten, ada bagian yang membuat suara tulisan terasa hilang. Di GEMBIRA (Gerakan Menulis Bersama dan Berbagi Inspirasi), proses belajar tidak berhenti setelah tulisan selesai dibuat.
Tulisan dibaca. Didiskusikan. Diberi masukan. Dan diperbaiki bersama. Karena tujuan akhirnya bukan hanya menghasilkan tulisan. Tetapi membantu setiap penulis menemukan suaranya sendiri.
Jadi…
Tulisan yang kuat bukan selalu tulisan yang paling puitis. Bukan juga tulisan yang paling panjang. Tulisan yang kuat adalah tulisan yang memiliki identitas. Tulisan yang ketika dibaca terasa utuh dari awal sampai akhir. Tulisan yang membuat pembaca merasa sedang berbicara dengan orang yang sama, bukan tiga orang berbeda dalam satu artikel.
Karena pada akhirnya, pembaca tidak hanya mengingat apa yang kita tulis. Mereka juga mengingat bagaimana cara kita menyampaikannya.
Jadi jika hari ini tulisanmu terasa seperti “bukan kamu”, mungkin bukan karena kemampuan menulismu kurang. Mungkin kamu hanya perlu lebih konsisten menemukan dan menjaga suaramu sendiri.
Sebab di dunia yang penuh dengan tulisan serupa, suara yang autentik adalah salah satu hal paling berharga yang bisa dimiliki seorang penulis. ✍️📚✨
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi