Pernah nggak sih kamu merasa sudah menulis panjang lebar, menuangkan banyak pikiran, menambahkan berbagai penjelasan, bahkan berusaha terlihat “berisi”, tetapi setelah dibaca ulang hasilnya justru terasa… hambar?
Lebih parah lagi, orang yang membacanya hanya memberikan respons singkat: “Oh ya…” Atau bahkan tidak memberikan respons sama sekali. Padahal kamu sudah menghabiskan waktu berjam-jam untuk menulis.
Kalau pernah mengalami hal seperti itu, tenang saja. Kamu tidak sendirian. Hampir semua penulis pernah melewati fase ini. Termasuk mereka yang hari ini terlihat mahir menulis. Karena salah satu kesalahan paling umum yang sering dilakukan penulis pemula adalah mengira bahwa tulisan yang panjang otomatis menjadi tulisan yang bagus.
Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.
Mitos: Semakin Panjang, Semakin Berkualitas
Entah sejak kapan banyak orang percaya bahwa tulisan yang baik harus panjang. Akibatnya, ketika menulis mereka berusaha menambahkan sebanyak mungkin kata.
Kalimat diperpanjang, penjelasan diulang dan informasi yang sebenarnya sederhana dibuat menjadi rumit.
Tujuannya sih baik, ingin terlihat pintar dan tulisannya terasa berbobot. Intinya mereka ingin pembaca menganggap mereka serius. Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Pembaca lelah. Pesan menjadi kabur. Inti tulisan tenggelam di antara begitu banyak kata yang sebenarnya tidak diperlukan. Padahal pembaca tidak mencari tulisan yang panjang. Pembaca mencari tulisan yang jelas.
Ketika Kata-Kata Justru Menghalangi Pesan
Mari kita lihat contoh sederhana. “Aku masuk ke dalam rumah dan melihat dengan mata kepala sendiri…”
Sekilas kalimat ini terdengar normal. Tetapi coba perhatikan baik-baik.
Masuk ke dalam rumah? Kalau masuk, tentu ke dalam.
Melihat dengan mata kepala sendiri? Memangnya melihat pakai apa lagi?
Tanpa sadar kita sering menambahkan kata-kata yang sebenarnya tidak memberikan informasi baru. Akibatnya tulisan menjadi penuh, tetapi tidak bertambah kuat. Inilah yang disebut kalimat tidak efektif.
Masalahnya bukan pada ide, masalahnya ada pada cara menyampaikan ide tersebut.
Menulis Bukan Soal Banyak Kata
Salah satu pelajaran penting dalam dunia kepenulisan adalah ini : Tulisan yang kuat bukan tulisan yang paling panjang. Tulisan yang kuat adalah tulisan yang paling jelas.
Bayangkan seseorang sedang memberikan petunjuk jalan. Mana yang lebih membantu?
“Dari sini Anda berjalan lurus ke depan ke arah yang ada di depan, lalu nanti akan melihat sebuah bangunan yang bentuknya seperti bangunan…”
Atau: “Jalan lurus 200 meter, lalu belok kiri.”
Informasinya sama. Tetapi yang kedua jauh lebih mudah dipahami.
Mengapa? Karena tidak ada kata yang mengganggu pesan.
Begitu pula dalam menulis. Semakin banyak kata yang tidak perlu, semakin sulit pembaca menemukan inti tulisan.
Penulis Hebat Justru Gemar Menghapus
Banyak orang berpikir menulis adalah proses menambahkan kata. Padahal penulis yang berpengalaman memahami bahwa menulis juga merupakan proses menghapus. Bahkan sering kali bagian terpenting dalam menulis bukan saat membuat draft pertama.
Tetapi saat melakukan revisi. Saat itulah penulis mulai bertanya:
- Kata mana yang tidak perlu?
- Kalimat mana yang bertele-tele?
- Paragraf mana yang bisa dipersingkat?
- Bagian mana yang tidak menambah nilai?
Menulis yang baik sering kali bukan soal apa yang kita tambahkan. Tetapi apa yang berani kita hilangkan. Karena setiap kata yang tidak penting hanya akan menghalangi pembaca memahami pesan utama.
Mengapa Tulisan Ringkas Terasa Lebih Kuat?
Pernah membaca kutipan yang sangat pendek tetapi langsung mengena? Atau membaca satu paragraf yang membuatmu berhenti sejenak dan berpikir?
Itu terjadi karena penulisnya memilih kata dengan sangat hati-hati. Mereka tidak menggunakan sepuluh kata jika lima kata sudah cukup. Mereka tidak menggunakan lima kalimat jika satu kalimat sudah mampu menyampaikan pesan yang sama.
Akibatnya, setiap kata memiliki fungsi, setiap kalimat memiliki tujuan, setiap paragraf memiliki arah dan pembaca bisa langsung menangkap inti pesannya.
Tulisan yang Efektif Menghormati Pembaca
Ada satu hal yang sering dilupakan penulis pemula. Tulisan bukan hanya tentang penulis. Tulisan juga tentang pembaca. Ketika seseorang meluangkan waktu untuk membaca tulisan kita, sebenarnya ia sedang memberikan sesuatu yang sangat berharga: perhatian. Karena itu tugas penulis adalah menghargai perhatian tersebut.
Jadi kita semakin paham ketika menulis yah? Jangan membuat pembaca bekerja terlalu keras untuk memahami maksud kita, jangan memaksa pembaca melewati kalimat yang berputar-putar dan jangan membuat pembaca tersesat di dalam paragraf yang tidak memiliki arah.
Semakin jelas tulisan kita, semakin mudah pembaca mengikuti alurnya. Dan semakin besar kemungkinan pesan kita sampai.
Cara Melatih Tulisan yang Lebih Efektif
Kabar baiknya, kemampuan ini bisa dilatih.
Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa mulai dilakukan:
- Hapus Kata yang Tidak Menambah Makna
Setelah selesai menulis, baca ulang dan tanyakan: “Kalau kata ini dihapus, apakah maknanya berubah?”
Jika tidak berubah, mungkin kata itu memang tidak diperlukan.
- Satu Kalimat, Satu Ide
Kesalahan yang sering terjadi adalah memasukkan terlalu banyak ide dalam satu kalimat. Akibatnya pembaca kehilangan fokus.
Buat kalimat sederhana, sampaikan satu ide. Lalu lanjutkan ke ide berikutnya.
- Baca Keras-Keras
Ini trik yang sering digunakan banyak penulis. Saat dibaca dalam hati, kalimat yang buruk sering lolos. Tetapi ketika dibaca keras-keras, bagian yang janggal akan langsung terasa.
Jika kamu ngos-ngosan membacanya, kemungkinan besar pembaca juga akan kesulitan.
- Berani Memotong
Kadang kalimat yang paling kita sukai justru harus dihapus. Bukan karena buruk. Tetapi karena tidak mendukung tujuan tulisan. Dan itu tidak apa-apa. Karena tujuan utama menulis bukan mempertahankan semua kata. Tujuan utama menulis adalah menyampaikan pesan.
Kesalahan yang Sulit Dilihat Sendiri
Sayangnya ada satu tantangan besar dalam proses belajar menulis. Yaitu: kita terlalu dekat dengan tulisan kita sendiri. Karena kita yang menulisnya, kita sudah tahu maksudnya. Akibatnya kita sering tidak sadar bahwa ada bagian yang membingungkan.
Ada bagian yang berulang atau mungkin ada bagian yang tidak efektif. Inilah alasan mengapa banyak penulis berkembang lebih cepat ketika mendapatkan masukan dari orang lain. Karena mata kedua sering melihat hal-hal yang tidak kita sadari.
Mengapa Banyak Penulis Stuck?
Banyak orang rajin menulis. Tetapi kualitas tulisannya tidak banyak berubah.
Mengapa? Karena mereka hanya menulis. Mereka tidak mendapatkan umpan balik dan tidak mengetahui kesalahannya. Di samping itu, mereka tidak memiliki tempat untuk belajar bersama. Akibatnya mereka mengulang kesalahan yang sama selama bertahun-tahun.
Padahal menulis bukan hanya soal latihan. Menulis juga soal perbaikan dan perbaikan membutuhkan masukan.
Bertumbuh Bersama di GEMBIRA
Inilah salah satu alasan mengapa banyak penulis membutuhkan komunitas. Bukan sekadar tempat berbagi tulisan. Tetapi tempat untuk belajar. Tempat mendapatkan umpan balik. Tempat berkembang bersama.
Di GEMBIRA (Gerakan Menulis Bersama dan Berbagi Inspirasi), proses menulis tidak berhenti setelah tulisan selesai dibuat.
Ada ruang untuk belajar, ruang untuk mendapatkan masukan, ruang untuk melihat kelemahan yang mungkin tidak kita sadari. Karena sering kali yang membuat seseorang berkembang bukan hanya karena ia rajin menulis. Tetapi karena ia mau belajar memperbaiki tulisannya.
Kesimpulannya…
Jika hari ini kamu merasa tulisanmu panjang tetapi belum terasa kuat, jangan buru-buru menyalahkan idemu. Bisa jadi idenya sudah bagus. Yang perlu diperbaiki hanyalah cara menyampaikannya.
Ingat, pembaca tidak terkesan oleh banyaknya kata. Pembaca terkesan oleh kejelasan pesan. Karena itu, jangan hanya bertanya: “Apa lagi yang harus saya tambahkan?”
Coba sesekali bertanya: “Apa yang bisa saya hapus?”
Sebab sering kali kekuatan sebuah tulisan bukan terletak pada banyaknya kata yang ditulis. Tetapi pada keberanian penulis untuk menyisakan hanya kata-kata yang benar-benar penting.
Dan kalau kamu ingin tulisanmu naik level, jangan hanya menulis sendirian. Mulailah belajar bersama. Karena penulis yang bertumbuh bukanlah mereka yang paling banyak menulis, melainkan mereka yang terus belajar memperbaiki tulisannya. ✍️📚✨
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi