Aku meraih ponsel, memeriksa waktu, lalu mencoba mengingat kapan terakhir kali aku tertidur.
Aku berada di kamar anak perempuanku, bukan di kamar bersama suamiku. Mengapa aku berada di sini? Apa yang kulakukan semalam?
Aku bertanya kepada anak remajaku yang masih terjaga.
“Semalam Dede nyariin Umi,” katanya. “Akhirnya Umi tidur di samping dede”
Dari ceritanya, aku mencoba menyusun kembali kejadian malam sebelumnya. Seharusnya aku mengetahui apa yang kulakukan beberapa jam sebelumnya. Namun, pagi itu aku justru harus mengandalkan cerita anakku untuk memahami malamku sendiri.
Ada bagian-bagian waktu yang terasa samar. Terkadang aku melupakan percakapan, pekerjaan yang belum selesai, atau hal-hal sederhana yang seharusnya mudah kuingat. Aku tidak selalu tahu kapan ingatanku mulai kehilangan urutan.
Di ruang tengah, gelas masih tertinggal di atas meja. Mainan belum sempat dibereskan diatas play mate putih yang penuh bekas cakaran kucing, buku-buku pelajaran belum kembali ke tempatnya, dan pensil warna berserakan memenuhi sebagian lantai.
Aku menghela napas, lalu mencoba merapikan segala kekacauan di ruangan itu.
Setelahnya aku berwudu, menggelar sajadah, dan menunaikan salat malam. Seusai salat, aku mencoba berdoa. Ada begitu banyak hal yang ingin kusampaikan, tetapi lidahku terasa kelu dan hatiku kesulitan menyusun kata.
“Ya Allah, tolong aku.”
Hanya itu yang sanggup kuucapkan.
Tolong aku menata pikiraku, hatiku yang belakangan terasa semakin sulit kupahami.
Atau mungkin aku hanya ingin ditolong tanpa harus menjelaskan bagian mana dari diriku yang sedang terluka.
Matahari mulai memancarkan sinarnya malu-malu. Aku membangunkan anak-anak, menyiapkan materi pelajaran, lalu bergegas pergi ke sekolah. Di hadapan murid-muridku, aku kembali menjadi seorang guru yang tersenyum, menjelaskan pelajaran, dan berusaha membuat kelas menjadi tempat yang aman.
Aku ingin murid-muridku tahu bahwa mereka berharga, dengan segala potensi yang ada dalam dirinya diantara berbagai latar belakang kehidupan keluarga tidak selalu mudah.
Aku ingin menjadi tempat berteduh bagi mereka.
Namun, terkadang aku bertanya-tanya: bagaimana dengan diriku? Aku yang selalu berusaha menjadi tempat berteduh bagi orang lain, kemana aku harus menepi ketika sendiri badai menerpa hidupku?
Secuplik Cerita Temaram
Di tengah keramaian kelas yang riuh saat menunggu bel masuk berbunyi, ingatanku melayang pada kejadian beberapa pekan yang lalu. Aku mencoba mengumpulkan potongan-potongan ingatan dan mencoba merangkainya.
Dalam ingatanku suamiku membangunkanku dengan suara lembut.
“Ayo, Mi. Sudah Subuh.”
Mataku terasa berat, kepalaku sakit, dan tubuhku seperti tidak memiliki tenaga untuk bangkit. Aku mencoba duduk, tetapi kembali merebahkan diri. Setelah berusaha bangun dan berwudu, aku menunaikan salat dua rakaat dalam keadaan yang belum sepenuhnya kupahami. Selesai salat, suamiku membawakan makanan dan menyuapiku.
Aku bertanya hari apa saat itu.
“Senin,” jawabnya.
Aku mencoba mengingat hari-hari sebelumnya.
Ada sesuatu yang terjadi. Sebuah triger memberikan pukulan telak membuatku terjebak dalam keadaan yang membuatku begitu frustasi. Di tengah pergulatan itu, aku mengonsumsi beberapa jenis obat dalam jumlah yang jauh melebihi aturan yang seharusnya.
Aku terbangun dengan tubuh berat dan ingatan yang tidak utuh. Lebih dari 40 jam berlalu tanpa bisa kujelaskan dengan baik. Aku harus menyusun kembali kejadian melalui cerita suamiku dan potongan ingatan yang masih tersisa.
Rasanya sangat aneh ketika tubuh sudah terjaga, tetapi pikiran belum mampu memahami bagaimana diri sampai pada keadaan itu.
Satu penyesalan melintas dalam kepalaku. Bukan menyesal tentang kenekatan yang aku lakukan, tapi aku malah mengumpat dalam hatiku
“Ah, sial. Ternyata aku masih hidup”
Aku mengakui bahwa kejadian itu begitu sering berulang. Aku juga tidak ingin berbohong tentang kebingungan yang kurasakan apakah aku harus bersyukur atau merasa kecewa saat menyadari bahwa aku masih saja terbangun dan mendapatkan kesempatan untuk tetap hidup.
Aku tidak tahu bagaimana membedakan semua yang kulakukan didasari keinginan untuk lari dari rasa sakit yang kualami, atau murni keinginan untuk membuat hidupku berhenti. Yang ku tahu, keduanya terasa begitu bias dan membingungkan.
Akupun teringat, setelah kesadanku perlahan untuh, aku membersihkan diri, merapikan kerudung, lalu kembali pergi mengajar. Saat diperjalanan aku melihat pantulan sesosok perempuan yang menatapku dari balik pantulan jendela kelas Ia tampak seperti seseorang yang hendak menjalani hari seperti biasa. Hanya dirinya sendiri yang mengetahui betapa berat rasanya bahkan untuk sekedar berdiri dengan tegak
Sesampainya di kelas, aku menyampaikan sebuah wejangan kepada murid-muridku bahwa saat mereka menemui suatu kegagalan, jangan sampai hal tersebut membuat mereka kehilangan harga diri. Setiap ksalahan bisa diperbaiki, dan kegagalan tidak menghilangkan nilai seseorang.
Sungguh, mengapa aku begitu mudah mengatakan hal itu kepada orang lain, tetapi begitu sulit menerapkannya pada diriku sendiri? Apa aku seseorang yang munafik?
Sepulang sekolahnya, gadis kecilku menghampiri sambil membawa mainan masak-masakannya.
“Umi, nih cobain.”
Aku berpura-pura menyuapkan makanan itu ke mulut.
“Enak sekali. Dedek pintar, ya.”
Ia tersenyum puas lalu kembali bermain.
Aku menyayanginya. Aku menyayangi seluruh anakku dan ingin menyaksikan mereka tumbuh hingga mereka dewasa. Namun, apa aku memiliki kesempatan yang sering aku coba hilangkan sendiri itu?
Aku ingin berhenti mengadili diriku sepanjang waktu, menjadi hakim bahkan algojo kejam dan tanpa belas kasihan. Aku ingin mengizinkan diriku merasa lelah tanpa harus menuduhnya sebagai sosok lemah dan memberi hukuman yang membuat luka jiwanya semakin parah bahkan berkali-kali mencoba menghukum mati diriku sendiri dengan berbagai cara.
Di malam harinya, aku membuka jurnal harian dan menuliskan mencoba kembali menuliskan kalimat yang sama seperti biasanya.
“Ya Allah, tolong aku”.
Aku belum memahami benar kenapa aku hanya mengucap kalimat itu dalam doa malamku. Aku hanya tahu bahwa ada sesuatu di dalam diriku yang meronta agar tidak lagi diabaikan.
Topeng Kebohongan
Waktu bergulir. Dalam kesadaran yang masih selalu kuupayakan bisa hadir secara utuh, ada satu kebiasaan yang ternyata semakin sering kulakukan, padahal sebenarnya sangat kubenci: berbohong.
Bukan selalu kebohongan yang diucapkan dengan sengaja untuk menipu orang lain. Terkadang, kebohongan itu hanya berupa jawaban singkat ketika seseorang bertanya apakah aku baik-baik saja.
Aku tersenyum dan menjawab, “Baik.”
Aku tetap mengajar, menghadiri kegiatan, mengerjakan pekerjaan, mengurus rumah, dan menjalankan tanggung jawab. Orang-orang melihatku sebagai seorang ibu, guru, dan seseorang yang aktif dalam berbagai kegiatan.
Mereka tidak selalu mengetahui malam-malam ketika aku kesulitan menghadapi badai di pikiranku sendiri.
Terkadang aku sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan keadaan yang sedang kualami. Bagaimana aku harus mengatakan bahwa aku lelah ketika aku masih bisa tersenyum? Bagaimana menjelaskan bahwa ada sesuatu yang tidak beres ketika aku masih sanggup melakukan pekerjaan sehari-hari?
Akhirnya, aku memilih diam, hingga masa itu tiba.
Ponselku, terus berbunyi. Pesan-pesan terus berdatangan. Ada urusan pekerjaan, kegiatan komunitas, jadwal, dan berbagai hal yang membutuhkan jawaban. Aku membuka pesan, membacanya, lalu meletakkan ponsel kembali. Dering ponsel bagiku layaknya teror yang membuatku ketakutan. Aku menutup telingaku dengan bantal dan mengaktifkan mode silient saat deringnya berhenti.
Bukan karena aku tidak peduli atau mencari alasan untuk lepas dari segala tanggung jawab yang teremban dalam diriku. Aku hanya sedang merasa ketakutan dan tidak memiliki tenaga untuk menghadapi semuanya sekaligus. Aku tak punya pilihan selain mengaktifkan sistem proxy dalam aplikasi WhatsAppku, tak ada yang bisa menghubungiku, namun aku tetap bisa menuliskan segala resahku dalam WhatsApp group pribadi yang hanya berisi nomorku yang kujadikan semacam buku harian.
Di sana, aku menuliskan kalimat-kalimat yang tidak sanggup kuucapkan secara langsung. Aku menulis karena tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Aku menulis karena terkadang baru memahami perasaanku sendiri setelah membaca kembali kata-kata yang kutuliskan. Aku menulis sebagai sebuah pesan yang mungkin bisa dibaca sebagai wasiat dan pesan-pesan bagi orang-orang yang kucintai jikalau aku berhasil membawa diriku pulang pada keabadian, sehingga mereka tidak terlalu menghakimi keputusanku, diantara segala usahaku yang sudah semaksimal mungkin bisa bertahan.
Sebenarnya aku ingin ada seseorang yang mau mendengarkanku bercerita tanpa buru-buru membandingkan kesulitanku dengan kesulitannya atau penderitaan orang lain yang terlihat jauh lebih parah. Aku juga ingin bisa mengatakan bahwa aku lelah tanpa harus membuktikan bahwa aku sudah cukup menderita. Aku ingin menangis tanpa harus segera menjelaskan penyebabnya. Aku ingin ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana harimu?” lalu benar-benar menyediakan ruang untuk mendengarkan jawabannya. Aku juga sangat ingin membungkam mulut orang yang selalu menyuruhku bersabar dan bersyukur tanpa tau potongan kewarasan yang setiap harinya berusaha kukumpulkan
Namun, ketika berhadapan dengan orang lain, aku kembali mengenakan topengku. Aku tersenyum. Aku mengangguk. Aku menjalankan peranku.
Barangkali aku sudah terlalu lama terbiasa menjadi seseorang yang dapat diandalkan sampai tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seseorang yang membutuhkan bantuan. Padahal duniaku terkadang terasa samar. Ingatan, mimpi, dan imajinasi seperti bercampur. Ada waktu ketika aku merasa telah menjalani sesuatu, tetapi kemudian kesulitan mengingat urutannya.
Hahaha, terkadang aku sendiri bingung. Ingin sekali aku beristirahat di bangsal jiwa dan berinteraksi secara langsung dengan orang-orang yang sejatinya membutuhkan pertolongan sepertiku. Mungkin disana aku bisa menceritakannya sambil bercanda, tanpa ketakutan untuk dianggap aneh dan hanya sekedar membual dan membuat lelucon itu yang terasa tidak lucu ketika aku bercerita pada sesama orang yang pernah mengalaminya sendiri atau orang yang terbiasa menghadapi segala hal yang kami alami.
Cara Terbaik untuk Mati
Ada masa ketika satu kata memenuhi kepalaku: Mati.
Kata itu datang berulang kali, terkadang di tengah kesibukan, terkadang ketika rumah sudah sepi, dan terkadang ketika aku sedang berusaha meyakinkan diriku bahwa semuanya baik-baik saja atau kadang muncul saat aku sedang tertawa riang dan bersenda gurau bersama anak-anakku.
Aku tidak selalu mengerti mengapa kata itu muncul begitu kuat, tanpa mengenal waktu bagaikan tamu yang tak diundang.
Di sekelilingku, kehidupan terus berjalan. Ada anak-anak yang membutuhkan perhatian, pekerjaan yang harus diselesaikan, dan orang-orang yang menungguku. Ada banyak hal yang seharusnya membuatku bersyukur.
Aku mengetahui semua itu.
Namun, mengetahui bahwa hidup memiliki banyak hal baik tidak otomatis membuat seluruh penderitaan menghilang.
Aku pernah berusaha mengingat nikmat satu per satu setiap kali merasa sedih. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa aku tidak seharusnya merasa seperti ini karena masih banyak orang yang menghadapi kesulitan lebih besar. Akan tetapi, perbandingan itu tidak benar-benar menyelesaikan apa pun.
Aku bisa bersyukur sekaligus merasa lelah. Aku bisa menyayangi keluargaku sekaligus kesulitan menjalani hari. Aku bisa percaya kepada Allah sekaligus menangis karena tidak memahami apa yang sedang terjadi pada diriku.
Dua hal yang berbeda itu bisa tinggal dalam satu hati.
Sejak remaja, aku telah mengenal ajaran tentang kehidupan setelah kematian, alam barzakh, pertanggungjawaban manusia, dan bagaimana seseorang seharusnya mempersiapkan diri untuk kembali kepada Allah.
Aku ingin memperoleh husnul khatimah. Aku ingin akhir hidupku berada dalam keadaan yang diridai-Nya.
Namun, ketika kelelahan batin semakin berat, pengetahuan itu tidak selalu membuat pikiranku tenang. Terkadang, justru karena mengetahui begitu banyak hal tentang kematian, aku semakin takut memikirkan apa yang mungkin menantiku setelahnya.
Aku takut menjadi seseorang yang tak bisa menunaikan perjanjianku dengan Tuhanku. Sehingga menjadi seorang yang merugi saat menghadapi alam setelah kehidupan ini. Aku takut terhadap pertanggungjawaban yang tidak bisa ternyata kukhianati.
Namun, pada saat yang sama, ada bagian dari diriku yang ingin berhenti menjalani kehidupan yang terasa begitu berat.
Aku ingin hidup dengan baik. Aku ingin menjadi hamba yang selalu hidup dengan baik, memperbaiki kesalahan, dan menunaikan amanah yang ku emban sebagai seorang wanita pejuang. Tetapi ada malam-malam ketika aku begitu lelah sampai tidak mampu membayangkan bagaimana harus melanjutkan semuanya dan jatuh pada titik nadir sehingga aku menjadi seseorang yang ingkar?
Bagaimana jika kelelahan ini tidak kunjung reda?
Bagaimana jika aku terus mengulang keadaan yang sama: jatuh, berusaha bangkit, lalu kembali jatuh ketika berada di titik puncak yang dianggap sempurna?
Lalu apa semua perjuangan ini kan sia-sia dan tak memiliki nilai?
Apakah lebih baik segera saja ku akhiri sehingga kelelahan ini tak terus menambah poin kemaksiatan yang mungkin ku lakukan?
Aku tidak memiliki jawaban yang bisa menenangkan seluruh ketakutan itu.
Akhirnya, aku mencari jawaban dari luar diriku. Aku benar-benar mulai mencari informasi tentang cara mati yang paling mudah. Aku bertanya kepada orang-orang di sekitarku, namun tak ada yang mau menjawabnya. Mereka hanya menatapku dengan pandangan menghakimi dan membanjiriku dengan nasehat.
Tak berhenti sampai di sana, aku beralih bertahan kepada kecerdasan buatan. Agar tidak langsung disodori hot nomor-nomor darurat pencegahan bunuh diri, aku menyamarkan maksud pertanyaanku dengan alasan mempelajari ilmu forensik.
Dari sana memahami proses kematian dengan cukup mendetail, tetapi jauh di dalam diriku, pencarian itu berkaitan dengan sesuatu yang lebih dari sekedar pengetahuan.
Aku tidak selalu berani mengakui maksud sebenarnya.
Aku menyebutnya sebagai penelitian atau rasa ingin tahu. Aku bisa menyusun alasan yang terdengar masuk akal agar tidak perlu menghadapi pertanyaan yang lebih sulit.
Mengapa seseorang aktivis dakwah justru mencari informasi tentang cara mengakhiri hidupnya?
Aku begitu ingin menyembunyikan segala pemikiran absurt ini. Aku takut ini akan menjadi aib bagi keluargaku, lembaga di mana aku mengabdikan diri padanya.
Namun, sejatinya aku membutuhkan pertolongan bukan sekedar ketakutan pada stigma negatif tentang semua yang kualami. Pertolongan saat aku tergiur mengonsumsi obat rutinku jauh melebihi aturan yang seharusnya, dan berbagai cara lainnya untuk membuat hidupku berhenti terjadi, di mana ingatan dan kesadaranku tidak sepenuhnya utuh.
Aku tidak ingin menyederhanakan pengalaman itu menjadi satu kesimpulan yang seolah-olah menjelaskan seluruh kondisiku. Aku juga tidak ingin berpura-pura bahwa aku telah memahami semuanya.
Aku hanya bisa mengakui bahwa aku pernah berada pada titik yang sangat berbahaya.
Aku takut dihakimi ketika membicarakannya. Aku takut orang-orang hanya akan melihat tindakanku, lalu melupakan keadaan yang mendahuluinya. Aku takut dianggap tidak bersyukur, tidak percaya Tuhan, atau tidak memikirkan orang-orang yang menyayangiku. Namun, menyimpan semuanya sendirian juga tidak membuat diriku membaik.
Aku tidak ingin kejadian itu dianggap sepele. Aku juga tidak ingin membesar-besarkannya dan menjadikannya sesuatu yang indah atau heroik. Semua itu sejatinya adalah pengalaman yang menyakitkan, membingungkan, dan mengancam hidupku.
Aku membutuhkan pertolongan untuk memahami apa yang terjadi, bukan sekadar penilaian tentang apakah aku seharusnya melakukan hal tersebut atau tidak.
Dan lagi semua tidak kulakukan tanpa dasar. Ada suara-suara di dalam kepalaku yang meyakinkan tentang nilai diriku, mereka berteriak bising mengatakan:
“Kamu tidak berguna”
“Kamu hanya menyusahkan orang lain”
“Kamu tidak pantas mendapatkan kehidupan yang baik”
“Kamu hanya sosok gagal yang tidak memiliki tempat di dunia ini”
Aku membenci pikiran-pikiran itu. Aku tidak ingin mempercayainya. Namun, ketika semua datang berulang kali dan rasa lelah menghantam jiwaku. Kalimat-kalimat tersebut terkadang terdengar seperti kenyataan yang tidak bisa aku bantah.
Aku tahu bahwa pikiran bukan selalu fakta. Aku bisa mengajarkan hal itu kepada orang lain, tetapi ketika pikiran tersebut muncul dalam diriku sendiri, pengetahuan tidak selalu membuatnya mudah dihadapi.
Aku bisa memahami sebuah teori, tetapi tetap kesulitan menerapkannya ketika aku tak mampu berpikir jernih.
Aku bisa mengatakan kepada orang lain bahwa mereka berharga, tetapi kesulitan mempercayai kalimat yang sama ketika ditujukan kepada diriku sendiri.
Kontradiksi itu melelahkan.
Aku pernah merasa begitu takut terhadap pikiranku sendiri, terutama ketika keinginan untuk menyerah datang bersamaan dengan kelelahan yang sulit kujelaskan. Aku tidak ingin kembali berada di titik ketika diriku sendiri menjadi sesuatu yang kutakuti.
Pada suatu malam, sebelum kembali berdoa, aku menunduk dan menatap tanganku.
Di sana masih ada sisa goresan, jejak dari masa ketika aku berusaha menghadapi rasa sakit dengan caraku sendiri. Aku tidak bangga melihatnya, tetapi aku juga tidak ingin berpura-pura bahwa semua itu tak pernah terjadi.
Tatapanku tertahan cukup lama. Aku tahu semua itu adalah salah satu upaya pengalihan, agar aku tidak kembali larut dalam bisikan yang membujukku untuk menyerah dengannya aku mencoba bertahan, satu waktu demi satu waktu meski sebenarnya ini bukan hal yang wajar dan dibenarkan.
Aku ingin tahu bahwa aku membutuhkan pertolongan, bukan hukuman. Aku ingin belajar mencari bantuan sebelum kelelahan kembali membawaku ke jalan yang sama.
Berulang kali aku lantunkan sebuah doa
“Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan lebih baik bagiku, dan matikanlah aku jika kematian lebih baik bagiku”
Aku pun pernah meminta pasanganku untuk turut mendoakan kalimat itu untukku.
Bagiku, doa tersebut adalah pengakuan bahwa aku tidak sepenuhnya memiliki kuasa diriku sendiri dan bahwa aku berharap takdir terbaik dari Allah.
Aku tidak ingin memutuskan seluruh makna hidupku hanya berdasarkan apa yang kurasakan ketika sedang berada dalam keadaan paling gelap. Namun, aku juga tidak ingin berbohong bahwa ketakutan dan kelelahan itu tidak berhenti menghantuiku
Ada saat-saat ketika aku merasa pengetahuan agamaku belum benar-benar menjadi pegangan yang mampu kurasakan. Aku mengetahui ajarannya, tetapi aku belum selalu mampu menjalani hari dengan ketenangan yang kuharapkan.
Aku takut dianggap fasik. Aku takut kehilangan pegangan. Aku takut bahwa kesulitan yang kualami merupakan tanda bahwa ada sesuatu yang salah dengan diriku sebagai seorang hamba.
Namun, aku tidak ingin menjadikan penderitaan sebagai bukti bahwa aku telah kehilangan iman.
Aku ingin tetap datang kepada Allah dengan keadaan yang seharusnya. Bukan hanya ketika aku merasa lapang, tetapi juga ketika aku dalam kesempitan. Bukan hanya ketika aku mampu bersyukur dengan mudah, tetapi juga ketika aku harus berjuang untuk memahami mengapa hariku terasa begitu berat.
Aku tidak menyalahkan orang lain karena tidak memahami sesuatu yang aku sampaikan secara utuh. Namun, aku ingin mereka belajar bahwa kehidupan yang tampak baik dari luar tidak selalu menggambarkan keadaan batin seseorang.
Aku tidak ingin harus menunggu sampai sesuatu yang buruk terjadi agar orang-orang menyadari bahwa aku sedang kesulitan.
Aku ingin bisa meminta bantuan sebelum semuanya menjadi lebih buruk.
Tetapi bagaimana caranya?
Pertanyaan itu tidak mudah dijawab oleh seseorang yang sudah lama terbiasa menyembunyikan keadaan sebenarnya. Ada kalanya aku tidak memiliki kata-kata yang cukup untuk menjelaskan semuanya. Ada kalanya aku takut penjelasanku terdengar berlebihan.
Aku hanya ingin seseorang memahami bahwa aku sedang kesulitan, meskipun hidupku dari luar tampak baik-baik saja.
Aku ingin seseorang melihat bahwa aku bukan sekadar daftar tanggung jawab yang harus diselesaikan. Aku bukan hanya seorang ibu yang harus selalu kuat, bukan hanya seorang guru yang harus selalu sabar. Aku adalah manusia yang bisa kelelahan, kehilangan arah, dan membutuhkan pertolongan.
Malam itu, aku melihat obat-obatan yang menjadi bagian dari rutinitas pengobatanku. Aku ingin menjalani pengobatan dengan baik. Aku juga tahu bahwa pergulatan batinku membutuhkan perhatian yang tidak bisa kuabaikan.
Aku tidak ingin lagi dan lagi mengulangi kejadian yang pernah mengancam nyawaku.
Aku ingin berdamai dengan segala yang membuatku sampai pada titik ini dan berusaha mencari pertolongan sebelum kembali mewarisi dalam keadaan yang sama pada anak-anaku
Di luar, hujan mulai turun.
Aku duduk diam, mendengarkan suara air yang jatuh di atap rumahku. Aku teringat pada doa-doa yang pernah kupanjatkan dan pada harapan yang terkadang masih menyala meski bagai lentera kecil, juga pada keinginanku untuk memperoleh taufik dan hidayah-Nya. Aku tidak tahu kapan semuanya akan terasa lebih ringan.
Aku juga tidak ingin menjanjikan bahwa setelah malam ini, aku pasti akan menjadi lebih kuat. Untuk malam ini, aku hanya ingin kembali memohon:
Ya Allah, tolong aku.
Tentang Esok Hari
Pagi datang, dan kehidupan kembali berjalan.
Ada anak-anak yang harus disiapkan, pekerjaan yang menunggu, dan tanggung jawab yang tidak serta-merta hilang hanya karena malam sebelumnya terasa berat.
Aku masih memiliki pertanyaan. Aku masih memiliki ketakutan. Aku juga belum bisa mengatakan bahwa aku sudah sepenuhnya berdamai dengan diriku sendiri.
Namun, aku ingin belajar memandang diriku dengan sedikit kelembutan.
Aku tidak ingin lagi menganggap bahwa aku harus menjadi sempurna agar layak disayangi. Aku tidak ingin menunggu sampai benar-benar hancur untuk meminta pertolongan.
Aku ingin belajar mengenali saat diriku mulai kewalahan. Aku ingin lebih jujur tentang apa yang sedang kurasakan. Aku ingin memahami bahwa meminta bantuan bukanlah bukti kegagalan.
Malamnya, aku membaca kembali catatan-catatan lama di grup whatsApp yang selama ini kujadikan tempat bercerita.
Aku menemukan kalimat-kalimat yang membuatku terdiam. Di balik tulisan yang berantakan itu, ada seseorang yang telah berusaha meminta pertolongan jauh sebelum ia mampu mengucapkannya dengan suara lantang.
Aku tidak ingin melulu menghakimi diriku. Aku ingin mengakui bahwa ia pernah kesulitan, pernah tersesat dalam pikirannya sendiri, dan pernah tidak tahu harus pergi ke mana.
Aku tidak harus membenarkan semua tindakannya untuk bisa memahami penderitaannya.
Aku hanya ingin berhenti menganggap bahwa aku harus menanggung semuanya sendirian.
Sebelum tidur, aku memandang langit-langit kamar. Aku tidak tahu apakah esok pagi pikiranku akan lebih tenang, atau apakah pertanyaan-pertanyaan lama akan kembali datang.
Esok aku belum tahu apa yang akan terjadi.
Aku tidak ingin memaksanya untuk menjadi hari yang sempurna. Aku hanya ingin memberi diriku kesempatan untuk menjalani satu hari lagi, sambil belajar mencari pertolongan ketika membutuhkannya.
Aku belum menemukan jawaban untuk semua pertanyaanku. Aku juga belum tahu kapan perjalanan ini akan terasa lebih ringan. Namun, malam itu aku tidak ingin memaksakan sebuah kesimpulan. Aku hanya ingin memperpanjang doa dalam syahdunya malam.
“Ya Allah, tolong aku. Bukan hanya agar aku kuat menjalani hari, tetapi juga agar aku berani mengakui ketika aku lemah. Bukan hanya agar aku mampu menunaikan amanah bagi orang lain, tetapi juga agar aku belajar menjaga diriku sendiri.”
Aku memasrahkan malamku itu kepada Allah, bersama semua pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab.
Sebab, mungkin untuk memahami makna dari seluruh kehidupan diperlukan waktu seumur hidup. Namun dengannya aku berusaha, menjaga nafasku meski aku belum bisa berjanji untuk menepatinya. Setidaknya aku tidak ingin lagi menyamakan berakhirnya rasa sakit dengan berakhirnya diriku.
Dan untuk malam ini, aku membiarkan esok tanpa berusaha agar pasanganku secepatnya menulis nama untuk batu nisanku dengan tanggal yang aku tentukan sendiri di antara kemurkaan-Nya atau pemakluman karena jiwa yang terlanjur terkungkung pada sesuatu yang bahkan tak kupahami kebenarannya.
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi