Biru langit membelai mata
Ranum buah memupus lapar
Kami melompat, meniti dahan demi dahan
Canda bersahutan di antara rerimbunan
Mengirama mengurai lebatnya kesenyapan
Memompa denyut jantung belantara.
Kini, rumah kami menghitam
Jelaga mencekik napas kehidupan
Merah langit dilukis bara
Lidah api menelan sisa harapan
Melahap raga rimba dengan rakus
Pepohonan menjelma nisan-nisan arang
Nyawa-nyawa meregang tanpa nisan
Lihatlah!
Rumah kami berganti rupa
Hijau luruh, berganti abu
Nyanyian burung karam dalam kepulan kelabu
Ayah si Utun terbaring dalam tidur panjang
Paru-parunya dipenuhi asap beracun
Ia mengira kepulan itu kabut pagi
Embun yang membawa kesejukan
Namun, asap itu maut menyamar dalam kabut
Aku pergi tanpa sempat memeluknya
Tanpa sempat membasahi bibirnya yang mengering
Bahkan air mata kami pun menguap ditelan bara
Kubawa bayiku meninggalkan puing-puing nestapa
Menuju tempat asing yang tak kukenal
Dengan langkah gamang
Dengan hati yang kehilangan arah
Entah kapan kami akan kembali
Untuk melangitkan doa dan sisa amarah
bagi rimba yang telah mati
Bandung, 26 Oktober 2026
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi