Jika saya bertanya kepada kamu, apakah Indonesia masih punya masalah literasi?
Mungkin sebagian orang akan langsung menjawab, “Iya dong!”. Namun jika melihat data, jawabannya tidak sesederhana itu. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, tingkat melek huruf Indonesia telah mencapai 96,67 persen. Bahkan pada kelompok usia 15–24 tahun, angkanya hampir sempurna, yaitu mendekati 100 persen. Artinya, hampir seluruh generasi muda Indonesia sudah mampu membaca dan menulis dalam pengertian dasar.
Kalau ukuran literasi hanya sebatas kemampuan mengenali huruf, membaca kalimat, dan menulis sederhana, sebenarnya kita bisa cukup percaya diri. Secara angka, Indonesia tidak sedang menghadapi krisis buta huruf. Kita sudah melangkah jauh dibandingkan beberapa dekade yang lalu.
Namun masalah sesungguhnya ternyata bukan di sana. Masalahnya adalah banyak orang bisa membaca, tetapi belum tentu memahami apa yang dibacanya. Dan di sinilah tantangan literasi Indonesia yang sebenarnya.
Ketika Membaca Belum Menjadi Pemahaman
Pernahkah kamu membaca satu halaman buku, lalu setelah selesai ternyata tidak ingat apa isi halaman tersebut? Atau pernah membaca sebuah artikel sampai selesai, tetapi kesulitan menjelaskan kembali inti pesannya?
Jika pernah, kamu tidak sendirian. Fenomena inilah yang disebut sebagai tantangan literasi fungsional.
Literasi bukan hanya kemampuan mengeja kata demi kata. Literasi adalah kemampuan memahami, menghubungkan, menganalisis, dan menggunakan informasi untuk mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Data Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan fakta yang cukup memprihatinkan. Sekitar 75 persen siswa Indonesia usia 15 tahun masih berada di bawah Level 2 kemampuan membaca. Padahal Level 2 dianggap sebagai tingkat minimal untuk memahami ide utama dari sebuah teks dengan kompleksitas sedang.
Lebih mengkhawatirkan lagi, hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau Level 6, yaitu tingkat kemampuan membaca yang menuntut analisis mendalam, penalaran kritis, dan evaluasi informasi secara kompleks.
Artinya apa?
Artinya banyak orang mampu membaca kalimat, tetapi belum tentu mampu memahami makna yang terkandung di dalamnya. Banyak yang mampu mengucapkan kata-kata, tetapi belum tentu mampu mengolah informasi menjadi pengetahuan.
Mengapa Ini Menjadi Masalah?
Sebagian orang mungkin berpikir, “Yang penting kan bisa baca.”
Sayangnya, di era modern kemampuan membaca dasar saja tidak cukup. Hari ini kita hidup di tengah banjir informasi. Setiap hari kita membaca berita, media sosial, pesan WhatsApp, artikel, iklan, hingga berbagai informasi yang datang tanpa henti.
Jika kemampuan memahami bacaan rendah, seseorang akan lebih mudah:
- Percaya hoaks.
- Terjebak informasi menyesatkan.
- Sulit membedakan fakta dan opini.
- Sulit mengambil keputusan yang tepat.
- Kesulitan mempelajari keterampilan baru.
Dengan kata lain, rendahnya literasi fungsional bukan hanya masalah pendidikan. Ini adalah masalah kualitas sumber daya manusia. Karena di dunia yang semakin kompleks, kemampuan berpikir kritis menjadi kebutuhan utama dan kemampuan berpikir kritis tidak mungkin tumbuh tanpa kemampuan membaca yang baik.
Mengapa Literasi Indonesia Masih Tertinggal?
Tentu tidak adil jika seluruh kesalahan dibebankan kepada siswa atau masyarakat, ada banyak faktor yang memengaruhi kondisi ini.
Pertama adalah faktor anggaran. Meskipun pendidikan selalu menjadi prioritas dalam berbagai pidato dan kebijakan, realisasi investasi pendidikan kita masih menghadapi banyak tantangan. Dibandingkan rekomendasi UNESCO yang berada pada kisaran 4–6 persen dari PDB, belanja pendidikan Indonesia masih perlu terus diperkuat agar mampu menghasilkan dampak yang lebih merata.
Kedua adalah kualitas dan distribusi sumber daya manusia pendidikan. Guru merupakan ujung tombak literasi. Namun tidak semua guru memiliki akses yang sama terhadap pelatihan dan pengembangan kompetensi. Ketimpangan kualitas ini tentu berpengaruh terhadap pengalaman belajar siswa.
Ketiga adalah akses terhadap sumber belajar. Indonesia adalah negara yang luar biasa luas. Mengelola pendidikan untuk lebih dari 280 juta penduduk yang tersebar di lebih dari 17 ribu pulau bukanlah pekerjaan sederhana.
Ada daerah yang memiliki perpustakaan modern dan akses internet cepat. Namun ada pula daerah yang masih kesulitan mendapatkan buku bacaan yang memadai. Perbedaan inilah yang menciptakan kesenjangan literasi.
Kabar Baiknya: Kita Bergerak ke Arah yang Benar
Meski demikian, bukan berarti kita harus pesimis. Ada banyak tanda yang menunjukkan bahwa literasi Indonesia terus bergerak ke arah yang lebih baik.
Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) tahun 2024 mencapai angka 73,52, tertinggi sepanjang sejarah dan jumlah anggota perpustakaan telah mencapai hampir 55 juta orang, bahkan kunjungan harian ke perpustakaan juga mendekati 3 juta kunjungan per hari.
Data ini menunjukkan satu hal penting:
- Minat masyarakat terhadap literasi sebenarnya ada.
- Orang Indonesia mau belajar.
- Orang Indonesia mau membaca.
- Orang Indonesia mau berkembang.
Tinggal bagaimana energi positif tersebut terus diarahkan agar tidak berhenti pada aktivitas membaca semata.
Literasi Tidak Boleh Berhenti di Membaca
Di sinilah letak persoalan berikutnya. Selama ini banyak gerakan literasi berfokus pada membaca. Tentu itu penting. Namun membaca hanyalah satu sisi dari literasi.
Sisi lainnya adalah menulis, ketika seseorang membaca, ia menyerap pengetahuan. Ketika seseorang menulis, ia mengolah pengetahuan.
Membaca membuat kita menerima gagasan sedangkan menulis membuat kita membangun gagasan. Membaca memperluas wawasan, menariknya dengan menulis memperdalam pemahaman.
Karena itulah budaya literasi yang sehat tidak hanya melahirkan pembaca, ia juga melahirkan penulis dan tentunya melahirkan orang-orang yang berani berpikir, berani menyampaikan gagasan, dan berani berbagi pengalaman.
Mengapa Menulis Penting?
Menulis memaksa seseorang berpikir lebih dalam. Ketika menulis, kita tidak bisa sekadar memahami secara dangkal.
Kita harus menghubungkan ide, menyusun argumen, menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang mudah dipahami. Ternyata proses ini secara otomatis melatih kemampuan berpikir kritis.
Karena itu bangsa yang produktif menulis biasanya juga memiliki kualitas literasi yang lebih kuat. Mereka tidak hanya menjadi konsumen informasi, mereka menjadi pencipta pengetahuan.
Mereka tidak hanya membaca perubahan akan tetapi ikut menciptakan perubahan.
GEMBIRA: Dari Membaca Menjadi Berkarya
Keresahan inilah yang melahirkan GEMBIRA (Gerakan Menulis Bersama dan Berbagi Inspirasi). GEMBIRA hadir bukan karena Indonesia kekurangan orang yang bisa membaca. GEMBIRA hadir karena Indonesia masih membutuhkan lebih banyak orang yang berani menulis.
Artinya lebih banyak orang yang berani membagikan cerita. Lebih banyak pula orang yang berani mengubah pengalaman menjadi inspirasi.
Di GEMBIRA, siapa pun bisa belajar. Tidak harus menjadi penulis profesional, harus memiliki pengalaman luar biasa atau harus pandai merangkai kata sejak awal. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk belajar dan keberanian untuk memulai.
Karena setiap orang memiliki cerita. Setiap orang memiliki pengalaman dan setiap orang memiliki potensi untuk memberikan dampak melalui tulisan.
Kesimpulannya…
Literasi Indonesia hari ini sedang berada di persimpangan yang menarik. Kita sudah berhasil melewati tantangan besar bernama buta huruf. Namun pekerjaan berikutnya jauh lebih menantang, yaitu membangun masyarakat yang tidak hanya bisa membaca, tetapi juga mampu memahami, mengolah, dan menghasilkan gagasan.
Literasi tidak akan tumbuh hanya karena kebijakan pemerintah. Literasi tumbuh ketika masyarakat ikut bergerak.
Ketika kita membaca lebih banyak, berdiskusi lebih dalam, berani menulis dan membagikan pengalaman yang bermanfaat. Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak orang yang bisa membaca. Tetapi oleh berapa banyak orang yang mampu berpikir, berkarya, dan menginspirasi melalui apa yang mereka baca.
Maka mari mulai dari langkah sederhana. Baca satu buku. Tulis satu halaman. Bagikan satu inspirasi. Karena perubahan besar selalu dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan bersama.
Biar Indonesia tidak hanya bisa membaca, tetapi juga mampu memahami. Biar kita tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga menjadi pencipta karya. Biar kita semua GEMBIRA.
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi