Bayangkan seseorang yang selama berbulan-bulan berjuang menulis sebuah buku. Ia mencuri waktu di sela-sela kesibukan, melawan rasa malas bahkan menghadapi kebingungan saat menyusun ide.
Ia berkali-kali merevisi naskahnya. Mengumpulkan keberanian untuk menerbitkan karya pertamanya. Lalu tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Bukunya terbit. Foto buku diunggah ke media sosial. Teman-teman memberikan ucapan selamat. Beberapa orang membeli bahkan beberapa hari kemudian semuanya kembali seperti biasa.
Sunyi lalu tersimpan di rak. Tidak lagi dibicarakan, direkomendasikan, dibaca bakan tidak lagi hidup.
Jika kamu pernah menulis atau menerbitkan buku, mungkin perasaan ini tidak asing. Ada rasa bangga karena berhasil melahirkan karya. Namun di sisi lain, ada pertanyaan yang menggelitik : “Apakah perjalanan sebuah buku selesai ketika buku itu terbit?”
Jawabannya: belum. Justru sering kali perjalanan sesungguhnya baru dimulai.
Banyak Buku Lahir, Tetapi Tidak Semua Hidup
Setiap tahun ribuan buku diterbitkan. Sebagian besar ditulis dengan penuh ketulusan. Sebagian lahir dari pengalaman hidup yang berharga serta riset dan pemikiran yang mendalam. Namun faktanya, tidak semua buku menemukan pembacanya.
Ya, tidak semua buku mendapatkan ruang untuk berkembang dan memperoleh kesempatan untuk memberikan dampak yang maksimal. Bukan karena kualitasnya buruk. Sering kali karena tidak ada ekosistem yang membantu karya tersebut tetap hidup.
Akibatnya banyak penulis mengalami hal yang sama, mereka berhasil menerbitkan buku. Tetapi kesulitan membuat bukunya dikenal. Mereka berhasil melahirkan karya. Tetapi kesulitan membuat karya tersebut menjangkau lebih banyak orang.
Menulis Buku Hanya Setengah Perjalanan
Banyak orang mengira tantangan terbesar seorang penulis adalah menyelesaikan naskah. Padahal dalam banyak kasus, menyelesaikan naskah baru setengah perjalanan.
Setelah buku lahir, masih ada perjalanan berikutnya. Buku perlu dibaca, dibicarakan bahkan direkomendasikan. Ya, buku perlu diperkenalkan kepada orang-orang yang membutuhkan isi dan manfaatnya. Karena sejatinya sebuah buku bukan hanya kumpulan halaman.
Buku adalah media yang membawa gagasan dan gagasan hanya akan hidup jika bertemu dengan manusia yang membacanya.
Bayangkan sebuah buku luar biasa tersimpan di gudang dan tidak pernah dibuka. Sebagus apa pun isinya, dampaknya akan sangat terbatas. Sebaliknya, ketika sebuah buku dibaca, didiskusikan, dan dibagikan, pengaruhnya dapat meluas jauh melampaui penulisnya.
Literasi Tidak Berhenti pada Menulis
Dalam gerakan literasi, sering kali perhatian besar diberikan kepada proses menulis. Tentu itu penting. Kita membutuhkan lebih banyak penulis, lebih banyak karya, lebih banyak orang yang berani membagikan gagasannya.
Namun ada satu hal yang tidak kalah penting. Kita juga membutuhkan lebih banyak pembaca yang aktif. Kita membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia mendukung karya. Kita membutuhkan lebih banyak pihak yang membantu menyebarkan manfaat dari sebuah buku.
Karena literasi yang sehat bukan hanya melahirkan penulis. Literasi yang sehat juga melahirkan ekosistem.
Mengapa Sebuah Karya Membutuhkan Ekosistem?
Mari kita ambil contoh sederhana. Seorang petani tidak hanya membutuhkan benih yang baik. Ia juga membutuhkan tanah yang subur, membutuhkan air, sinar matahari serta membutuhkan lingkungan yang mendukung pertumbuhan tanamannya. Tanpa itu semua, benih terbaik sekalipun akan sulit berkembang.
Begitu pula dengan karya. Tulisan yang bagus tetap membutuhkan ruang untuk tumbuh. Buku yang bermanfaat tetap membutuhkan pembaca. Penulis yang produktif tetap membutuhkan dukungan. Karena karya tidak hidup sendirian. Karya hidup melalui interaksi dengan orang-orang yang menikmatinya.
Setiap Pembaca Memiliki Peran Penting
Banyak orang berpikir bahwa kontribusi dalam gerakan literasi hanya bisa dilakukan dengan menulis buku.
Padahal tidak. Membaca sebuah buku hingga selesai adalah kontribusi. Memberikan ulasan adalah kontribusi. Menceritakan isi buku kepada teman adalah kontribusi. Merekomendasikan buku yang bermanfaat adalah kontribusi. Membagikan kutipan inspiratif dari sebuah karya juga merupakan kontribusi. Kadang-kadang satu rekomendasi sederhana mampu mempertemukan sebuah buku dengan pembaca yang tepat.
Dan dari pertemuan itulah perubahan bisa terjadi. Karena sering kali orang membeli buku bukan karena iklan besar-besaran. Mereka membeli karena ada seseorang yang berkata: “Buku ini bagus. Kamu harus membacanya.”
Sahabat GEMBIRA dan Pentingnya Ekosistem Literasi
Keresahan inilah yang melahirkan gagasan tentang Sahabat GEMBIRA. Sebab gerakan literasi tidak cukup hanya menghasilkan penulis.
Jika hanya ada penulis, karya akan terus lahir tetapi belum tentu berkembang. Jika hanya ada pembaca, ide-ide baru akan semakin sedikit muncul. Karena itu diperlukan keseimbangan. Diperlukan sebuah ekosistem yang saling menguatkan.
Ekosistem yang tidak hanya melahirkan karya, tetapi juga membantu karya tersebut menemukan jalannya. Dari sinilah lahir konsep 3P:
- Penulis
Mereka adalah para pencipta karya. Mereka yang berani menuangkan pengalaman, pengetahuan, gagasan, dan inspirasi ke dalam tulisan. Mereka adalah sumber lahirnya buku-buku yang bermanfaat. Tanpa penulis, tidak ada karya yang bisa diwariskan.
- Penikmat
Mereka adalah para pembaca. Mereka yang menikmati, mempelajari, dan mengambil manfaat dari karya yang dihasilkan. Penikmat bukan sekadar konsumen. Mereka adalah alasan mengapa sebuah buku ditulis. Karena tujuan utama karya adalah memberikan manfaat kepada orang lain.
- Promotor
Inilah elemen yang sering terlupakan. Promotor adalah mereka yang membantu menghidupkan karya. Mereka membagikan informasi tentang buku, mengajak orang lain membaca, menceritakan manfaat yang diperoleh dan membantu karya menjangkau lebih banyak orang. Tanpa promotor, banyak karya bagus akan tenggelam dalam kesunyian.
Ketika Karya Menjadi Gerakan
Hal yang menarik dari sebuah ekosistem adalah kemampuannya menciptakan efek berantai.
Satu penulis melahirkan satu buku. Satu pembaca mendapatkan inspirasi dari buku tersebut. Lalu ia merekomendasikannya kepada lima orang lain.
Lima orang itu mendapatkan manfaat. Salah satunya kemudian terdorong menulis buku baru. Begitulah sebuah gerakan tumbuh. Bukan karena satu orang bekerja sendirian. Tetapi karena banyak orang saling mendukung dalam perannya masing-masing.
Inilah yang membuat literasi menjadi lebih dari sekadar aktivitas membaca dan menulis. Literasi berubah menjadi gerakan sosial yang hidup.
Buku yang Hidup Akan Melahirkan Dampak
Ada perbedaan besar antara buku yang terbit dan buku yang hidup. Buku yang terbit hanya berhasil dicetak. Buku yang hidup berhasil menyentuh kehidupan orang lain.
Buku yang hidup dibaca. Didiskusikan, diceritakan kembali, direkomendasikan dan yang paling penting, diterapkan dalam kehidupan nyata. Karena tujuan akhir sebuah karya bukan hanya untuk berada di rak buku. Tujuan akhirnya adalah memberikan manfaat.
Di sini kita Belajar…
Menulis buku adalah pencapaian yang luar biasa. Namun perjalanan sebuah karya tidak berhenti ketika buku selesai dicetak. Justru pada titik itulah sebuah karya membutuhkan ekosistem yang menguatkannya.
Ia membutuhkan pembaca yang menikmati, membutuhkan promotor yang membantu menyebarkan manfaatnya, membutuhkan komunitas yang membuatnya tetap hidup. Karena itulah GEMBIRA tidak hanya ingin melahirkan penulis.
GEMBIRA ingin membangun ekosistem literasi yang sehat melalui konsep 3P: Penulis, Penikmat, dan Promotor.
Sebab karya yang baik tidak seharusnya berhenti di rak buku. Karya yang baik layak dibaca, layak dibicarakan, direkomendasikan dan yang terpenting, layak dihidupkan agar manfaatnya terus bertumbuh dari satu orang ke orang lainnya.
Karena ketika sebuah karya hidup, inspirasi yang dibawanya akan terus berjalan, bahkan jauh setelah penulisnya selesai menuliskan kata terakhir.
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi