“Pengen nulis sih… tapi nggak punya ide.”
Kalimat ini mungkin menjadi alasan paling populer yang membuat seseorang tidak pernah mulai menulis. Lucunya, alasan ini sering muncul dari orang-orang yang sebenarnya punya banyak pengalaman, banyak cerita, dan banyak hal untuk dibagikan.
Mereka hanya tidak menyadarinya. Karena itu, sebelum kita membahas lebih jauh, ada satu hal yang perlu diluruskan : Masalahnya bukan kamu nggak punya ide. Masalahnya, kamu mencari ide di tempat yang salah.
Banyak orang membayangkan ide tulisan harus datang seperti petir. Tiba-tiba muncul, spektakuler dan mengubah dunia. Lalu langsung menjadi buku best seller. Padahal kenyataannya tidak begitu.
Sebagian besar tulisan yang menyentuh hati justru lahir dari hal-hal yang sangat sederhana. Dari pengalaman sehari-hari, percakapan biasa atau bahkan kejadian yang mungkin dianggap sepele oleh orang lain.
Ide Tidak Datang dari Langit
Ada mitos yang cukup berbahaya dalam dunia kepenulisan. Mitos bahwa penulis hebat selalu memiliki ide-ide luar biasa. Akibatnya banyak orang menunggu inspirasi, nunggu mood, nunggu ide besar bahkan nunggu momen yang tepat. Dan saat menunggu itulah mereka tidak pernah menulis apa pun.
Padahal penulis yang produktif biasanya tidak menunggu ide datang. Mereka menemukan ide dari kehidupan yang sedang dijalani.
Mereka memperhatikan hal-hal yang mungkin diabaikan orang lain, peka terhadap pengalaman dan mampu belajar menangkap pelajaran dari kejadian sehari-hari. Karena sesungguhnya ide tidak turun dari langit. Ide tumbuh dari kehidupan.
Padahal sesungguhnya : Hidup Kamu Adalah Gudang Ide
Coba pikirkan sebentar, apa yang terjadi dalam hidupmu hari ini?
Mungkin ada percakapan menarik dengan teman, ada pelajaran dari pekerjaan, ada kejadian lucu di perjalanan, ada kesalahan yang baru saja kamu lakukan, ada sesuatu yang membuatmu kesal, atau mungkin ada sesuatu yang membuatmu bersyukur?
Tahu kan kalau semua itu bisa menjadi ide tulisan?
Masalahnya, kita sering menganggapnya terlalu biasa. Kita berpikir:
- “Ah, ini mah nggak menarik.”
- “Ah, ini mah semua orang juga ngalamin.”
- “Ah, ini mah terlalu sederhana.”
Padahal justru karena sederhana, banyak orang bisa merasa terhubung. Karena sejatinya, tulisan yang baik tidak selalu lahir dari pengalaman luar biasa. Sering kali ia lahir dari pengalaman yang sangat manusiawi.
Kita Terlalu Sibuk Menunggu Ide yang “Wah”
Salah satu penyebab terbesar kebuntuan menulis adalah standar yang terlalu tinggi. Ya, kita ingin menulis sesuatu yang hebat, viral ata mengubah hidup banyak orang. Akibatnya kita menolak ide-ide kecil yang sebenarnya sangat berharga.
Padahal hampir semua buku besar dimulai dari ide sederhana. Percaya kan hampir semua artikel inspiratif berawal dari pengalaman sehari-hari dan menariknya hampir semua tulisan yang menyentuh hati lahir dari perasaan yang jujur.
Yang membuat sebuah tulisan menarik bukan selalu topiknya, akan tetapi cara penulis melihat dan menceritakan topik tersebut.
“Bagaimana kalau saya kehabisan ide?”
Jika kamu kehabisan ide, coba lihat kehidupanmu sendiri. Tanyakan beberapa pertanyaan berikut:
- Apa hal yang membuat saya tersenyum minggu ini?
- Apa kesalahan yang baru saya lakukan?
- Pelajaran apa yang saya dapatkan hari ini?
- Percakapan apa yang masih teringat sampai sekarang?
- Tantangan apa yang sedang saya hadapi?
- Pengalaman apa yang pernah mengubah hidup saya?
Percaya atau tidak, satu pertanyaan sederhana saja bisa menghasilkan puluhan ide tulisan. Karena hidup kita sebenarnya penuh dengan bahan cerita. Kita hanya belum terbiasa memperhatikannya.
Menulis Adalah Cara Menemukan Ide
Ini mungkin terdengar aneh. Banyak orang berpikir mereka harus menemukan ide dulu baru menulis. Padahal sering kali justru sebaliknya. “Menulislah dulu, maka ide akan muncul.”
Ketika kita mulai menulis satu paragraf, biasanya muncul ingatan lain. Serius, bisa seperti itu lho. Bukan hal yang tidak mungkin muncul pengalaman lain, muncul sudut pandang baru. Lalu muncul ide berikutnya.
Ide sering kali lahir di tengah proses menulis. Bukan sebelum menulis. Karena itu jangan menunggu semuanya jelas. Mulailah dari apa yang ada atau yang terpikir lebih dulu.
Sudah dibahas, banyak penulis pemula merasa harus menulis sesuatu yang ilmiah, kompleks, atau sangat mendalam. Padahal cara paling mudah memulai adalah menulis apa yang sudah kita ketahui.
Dan hal yang paling kita ketahui adalah kehidupan kita sendiri. Tidak perlu riset panjang. Tidak perlu menjadi ahli. Tidak perlu mencari referensi puluhan buku. Cukup ceritakan apa yang pernah dialami, yang pernah dirasakan, yang pernah dipelajari. Karena pengalaman adalah sumber ide yang tidak pernah habis.
Selama kita hidup, selama itu pula kita memiliki bahan tulisan.
Literasi Berawal dari Kepekaan
Banyak orang mengira literasi hanya soal membaca buku. Kenyataannya tidak, literasi juga tentang kemampuan melihat makna dari kehidupan. Orang yang memiliki kepekaan literasi akan lebih mudah menemukan pelajaran dari kejadian sehari-hari.
- Ia melihat kegagalan sebagai bahan refleksi.
- Ia melihat keberhasilan sebagai bahan pembelajaran.
- Ia melihat percakapan sederhana sebagai sumber inspirasi.
- Ia melihat pengalaman hidup sebagai bahan tulisan.
Karena itulah kemampuan menulis bukan hanya soal merangkai kata. Tetapi juga soal melatih kepekaan terhadap kehidupan.
GEMBIRA dan Kebiasaan Menemukan Ide
Salah satu hal yang sering dialami anggota komunitas menulis adalah merasa kehabisan ide. Padahal setelah mulai berdiskusi dan berbagi cerita, ternyata ide bermunculan dari mana-mana.
Mengapa? Karena ide memang dekat dengan kehidupan.
Di GEMBIRA, banyak peserta yang awalnya merasa tidak punya bahan tulisan. Namun setelah mulai menulis pengalaman sehari-hari, menuliskan pelajaran hidup, atau membagikan cerita sederhana, mereka justru menemukan bahwa hidup mereka penuh dengan ide.
Mereka hanya belum terbiasa menangkapnya. Dan kabar baiknya, kemampuan itu bisa dilatih.
Mungkin selama ini kita salah memahami proses kreatif. Kita sibuk mencari ide, sesungguhnya ide itu sudah ada di sekitar kita. Bisa dalam bentuk obrolan, pengalaman, kegagalan, perjalanan, pekerjaan, keluarga atau bahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Yang kita perlukan bukan mencari ide. Yang kita perlukan adalah belajar menangkap ide. Dan semakin sering kita menulis, semakin tajam kemampuan itu.
What next?
Jika hari ini kamu masih berkata, “Saya nggak punya ide untuk menulis,” mungkin saatnya mengubah kalimat itu. Karena kemungkinan besar masalahnya bukan dirimu tidak punya ide.
Masalahnya adalah kamu belum menyadari bahwa ide itu sudah ada di dalam hidupmu sendiri.
Jadi setelah membaca tulisan ini, tidak perlu menunggu pengalaman luar biasa. Tidak perlu menunggu menjadi ahli. Tidak perlu menunggu hidup sempurna. Mulailah dari hal sederhana, dari cerita hari ini, dari apa yang kamu rasakan sekarang. Karena setiap tulisan besar selalu dimulai dari satu kalimat pertama.
Dan sering kali, ide terbaik bukan datang dari langit. Ide terbaik datang dari kehidupan yang sedang Anda jalani hari ini.
Jadi, stop bilang “aku nggak punya ide.”
Yang ada, mungkin kamu belum mulai menulis saja. ✍️📖✨
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi