Hujan deras mengguyur jalanan kota sejak sore, menyisakan aroma tanah basah dan genangan air yang memantulkan kerlap-kerlip lampu jalanan. Di sudut sebuah kafe yang mulai sepi, Aris duduk terdiam menatap cangkir kopinya yang sudah dingin. Cold brew acakan, persis seperti kondisi Rania malam ini.
Di hadapannya, Rania masih saja mengusap matanya menggunakan tisu yang sudah lunak dan hancur. Matanya sembap, napasnya patah-patah.
”Dia berubah lagi, Ris. Katanya mau jemput jam enam, tapi sampai sekarang nomornya bahkan nggak aktif,” bisik Rania. Suaranya serak habis.
Aris menarik napas panjang. Pelan-pelan. Ada rasa hangat sekaligus nyeri yang menyusup ke dadanya. Tanpa banyak bicara, ia menggeser duduknya mendekat, menyodorkan beberapa lembar tisu baru, lalu mendengarkan.
Seperti biasa, Aris selalu menjadi tempat Rania berlari setiap kali hatinya dipatahkan oleh Bagas ,pria yang sudah mengisi hati wanita itu selama dua tahun terakhir.
”Makan dulu, ya? Dari siang belum masuk nasi, kan?” tanya Aris lembut.
Rania menggeleng pelan. “Nggak nafsu, Ris.”
”Nasi goreng seafood kesukaanmu saja. Sedikit. Biar maagmu nggak kumat.”
Menatap Aris sebentar, Rania akhirnya mengangguk pasrah. “Mumpung ada kamu, Ris. Nggak kebayang kalau aku sendirian malam ini.”
Aris hanya tersenyum tipis. Senyum formalitas. Kalimat ‘mumpung ada kamu’ itu jujur rasanya seperti ditusuk perlahan. Sudah puluhan kali kalimat senada keluar dari mulut Rania. Tiap kali cewek itu berantem dengan Bagas, ujung-ujungnya nomor Aris yang dicari. Tempat parkir darurat.
Aris mengenal Rania sejak masa orientasi kampus. Sudah tiga tahun. Ia paham betul kebiasaan Rania kalau sedang bahagia, paham juga bagaimana bentuk wajahnya kalau sedang hancurt duluan membawa obrolan manis dan perhatian yang mencolok.
Sejak saat itu, Aris mendapat peran pembantu. Kalau Rania sedang mesra-mesranya dengan Bagas, Aris memilih menghilang. Menepi di kosan, menyelesaikan tugas, atau mabar sampai subuh. Tapi begitu Bagas kumat, entah hilang kabar atau kedapatan jalan dengan cewek lain, telepon Aris bakal berdering jam berapa pun.
Setelah memastikan Rania menghabiskan beberapa sendok makanannya, Aris mengantarkan wanita itu pulang.
Mobil Aris membelah jalanan kota yang masih basah. Di dalam kabin, suasana hening mendadak terasa makin berat. Hanya ada suara pemijat kaca yang bergerak melyangei ke kiri dan ke kanan, serta hembusan AC yang dingin.
Rania menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap rintik air yang meluncur turun.
”Ris,” Rania memecah hening, suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin. “Kenapa ya Bagas nggak pernah bisa se-ngerti kamu?”
Mobil mendadak agak oleng sedikit sebelum Aris refleks meluruskan setirnya lagi. Jarinya kaku memegang kemudi.
Tepat di saat hening kembali menggantung, pemutar musik di dasbor mobil yang sejak tadi menyala pelan memutarkan lagu yang tak asing. Suara vokal yang khas dari penyanyi Chakra Khan yang berat itu terdengar samar-samar memenuhi kabin, lagu kekasih bayangan mengalun lembut seperti menyuarakan isi hati Aris
“Aku tahu engkau sebenarnya tahu… Tapi kau memilih seolah engkau tidak tahu…”
“Engkau sembunyikan rasa cintamu…
dibalik topeng persahabatan mu yang palsu…, “
Dada Aris rasanya dihantam sesuatu yang tumpul. Lirik lagu itu telak menampar kenyataan yang sedang ia jalani.
Aris melirik ke samping. Rania masih menatap keluar jendela, pura-pura fokus pada bayangan lampu jalan yang kabur kena air. Aris tahu betul, Rania mendengar lagu itu. Rania juga paham bagaimana perasaan Aris selama ini. Tapi wanita itu memilih diam, berlindung nyaman di balik status “sahabat”.
Alunan musik itu terus mengalir pelan, seolah menyindir Aris semakin dalam, yang hanya bisa gigit jari.
“Kau jadikan aku kekasih bayangan…”
” Untuk menemani mu saat kau merasa sepi… “
“Bertahun lamanya kujalani kisah…. Cinta sendiri… “
Aris menarik napas panjang, menelan bulat-bulat rasa sesak di tenggorokannya. Ia kembali menatap lurus ke jalanan yang basah.
”Bagas lagi ribet saja kali sama urusan kafenya. Besok juga ngabarin,” jawab Aris pelan. Pembohong paling ulung buat dirinya sendiri.
Ia mematikan pemutar musik itu dengan satu ketukan jari. Suasana kabin kembali sepi, hanya menyisakan suara hujan dan dua orang yang sama-sama pura-pura tidak tahu.
Dua hari kemudian, prediksi Aris tembus seratus persen. Bagas muncul di depan gedung fakultas membawa martabak manis favorit Rania plus satu buket bunga krissan putih kesukaannya.
Aris melihat pemandangan itu dari lantai dua gedung dekanat. Dari jauh, Rania langsung memeluk Bagas, tertawa lepas seolah-olah dua malam lalu ia tidak hampir pingsan di kafe gara-gara memikirkan pria itu. Pas mau berjalan ke parkiran, Rania sempat menengok ke atas, menemukan mata Aris, lalu melambaikan tangan dengan ceria.
Aris membalas lambaian tangan Rania dengan jempol. Setelah itu ia balik badan, masuk ke toilet, lalu mencuci mukanya dengan air keran yang dingin.
Rania bukan wanita polos yang tidak peka. Aris tahu Rania sadar betul bagaimana perhatiannya selama ini. Mana ada teman biasa yang rela bangun jam dua malam hanya untuk mengantarkan obat maag? Tapi Rania memilih pura-pura buta. Karena kalau ia mengakui perasaan Aris, fasilitas “tempat curhat paling aman” ini bakal hilang.
Aris menyandarkan punggungnya di tembok keramik toilet. Ia paham betul posisinya. Aris cuma ibarat kompas cadangan saat Rania kehilangan arah. Begitu Rania menemukan kembali jalannya bersama Bagas, Aris cuma jadi bayangan yang balik tersimpan di sudut gelap.
Tapi ya sudahlah. Besok-besok kalau Rania menangis lagi, Aris tahu ia bakal tetap mengangkat telepon itu.
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi