SAMUDRA MAAF YANG KEHILANGAN PANTAI

30/10/2026 14 menit baca

“Bilangin ke Bunda, Bintang butuh waktu.”

Aku mengangkat wajah dari tangkapan layar percakapan yang dikirimkan suamiku. Ada rasa getir yang tertahan. Ada satu kalimat yang ingin kukatakan, tetapi entah mengapa, aku tidak tahu harus memulainya dari mana.

Waktu untuk apa?

Waktu sampai malaikat maut datang? Atau waktu sampai azab menghadang?

Apakah untuk berubah menjadi lebih baik, seseorang memiliki toleransi atau perpanjangan waktu sehingga bisa seenaknya menunda perubahan?

Alasan takut kembali mengecewakan seolah-olah sudah menjadi sesuatu yang sangat klise.

Bukan sekali dua kali janji terucap. Lalu, sekarang, untuk berubah, apa lagi yang ia tunggu?

Sebenarnya, apa yang membuat kesiapan itu menjadi begitu berat? Apa yang menjadikan keinginan untuk berubah sebagai sebuah langkah yang memerlukan jeda?

Kalau memang ia tidak ingin terus-menerus meminta maaf karena takut kembali mengecewakan kami, mengapa ia justru mengulang kesalahan yang sama berkali-kali? Seolah-olah ia sedang memberikan hantaman yang sama pada tempat yang sama, berulang kali, ketika lukanya bahkan belum sempat mengering dan masih terasa perih.

Aku menarik napas panjang.

“Jadi, Ayah, maksudnya dia tidak mau mengakui kesalahan dan meminta maaf hanya karena takut mengecewakan kita lagi?” tanyaku kepada suamiku.

“Bukan begitu, sepertinya maksud Bintang, Bun.”

“Lalu bagaimana?”

Suamiku terdiam sejenak sebelum menjawab, “Entahlah. Mungkin karena kalian masing-masing punya ego yang tinggi, sehingga kata saling memaafkan dan mengakui kesalahan belum bisa menemukan titik temu.”

Aku menatapnya lekat-lekat.

“Jadi, Ayah menyalahkan Bunda?”

“Bukan begitu maksud Ayah.”

“Kalau tahu sesuatu itu salah, kenapa dia harus menunggu sampai siap untuk memperbaikinya? Kalau dia tahu sedang berjalan ke arah yang keliru, kenapa harus menunggu sampai nanti untuk berbalik arah?”

Suamiku menghela napas.

“Mungkin dia butuh waktu, Bun.”

Ah, lagi-lagi Ayah membelanya.

Aku menyeka air mata yang tanpa kusadari mengalir di sudut mataku.

Dulu, mungkin kalimat itu akan membuatku luluh. Aku akan memeluk anakku, mengusap kepalanya, lalu berkata, “Kalau kamu memang mau berubah, Bunda akan mencoba percaya lagi.”

Namun, kali ini aku hanya diam.

Lima tahun.

Lima tahun aku mendengar permintaan yang sama berulang kali. Permintaan maaf, lalu aku memberikan kesempatan, kemudian kembali menemukan diriku berdiri di hadapan kekecewaan yang sama.

Ketika ia berkata, “Bunda, aku bingung,” aku pun tak tahu lagi harus menjawab apa.

“Kalau kamu bingung, kamu tahu bagaimana Bunda? Bunda frustrasi. Bunda juga bingung harus bagaimana lagi menghadapi kamu.”

Percakapan itu menjadi percakapan terakhir kami sebelum akhirnya aku memblokir nomornya.

Aku membutuhkan jeda.

Jeda yang sama sekali bukan sekadar alasan. Jeda yang kuambil untuk mempertahankan kewarasanku, mempertahankan kehidupanku, dan menjaga agar aku tetap mampu menjalani hari-hari bersama anak-anakku yang lain, yang masih menjadikan aku sebagai dunianya.

Aku hanya sedang mencoba belajar. Belajar agar tidak lagi terus-menerus menggantungkan harapan pada seseorang yang berkali-kali membuatku kecewa.

—

Dua bulan berlalu. Aku dan anak sulungku, Bintang, tak lagi berbicara.

Sebenarnya, sudah lama aku membuka blokir nomornya. Pesan-pesan lama masih tersimpan. Tidak ada yang benar-benar kuhapus dari sana, tetapi tidak ada pula percakapan baru yang dimulai.

Beberapa kali aku membuka ruang percakapan dengan Bintang. Namun, jariku hanya berhenti di atas layar, menunggu sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak tahu apa.

Aku ingin bertanya apakah dia sehat. Apakah dia sedang mengalami kesulitan. Atau apakah dia merasa menyesal karena lagi-lagi telah membuatku kecewa.

Pertanyaan-pertanyaan seorang ibu yang tidak pernah benar-benar hilang, bahkan ketika hatinya sedang marah.

Namun, setiap kali hendak mengetik, kenangan tentang kekecewaan itu kembali datang. Kesalahan yang seolah-olah dilakukan berulang kali, disertai kebohongan yang seakan menganggap bundanya tidak akan pernah tahu apa-apa.

Padahal, insting seorang ibu terhadap anaknya terkadang begitu kuat. Ada hal-hal yang mungkin tidak terlihat oleh mata, tetapi terasa berbeda di hati. Kebohongan, sekuat apa pun disembunyikan, pada akhirnya bisa saja terungkap.

Aku pun kembali meletakkan ponselku.

“Ah, sudahlah. Tidak ada gunanya,” gumamku. “Kalau memang dia butuh waktu, terserah. Biarkan dia menggunakan waktunya.”

Namun, rupanya, diam pun tidak membuat semuanya menjadi lebih mudah.

Suatu sore, aku bertemu dengan seorang sahabat yang sudah lama kuanggap seperti kakakku sendiri. Kami berjanji bertemu di sebuah taman kampus di Kota Bandung.

Saat bertemu, ia bertanya, “Bagaimana kabarmu?”

“Alhamdulillah.”

“Alhamdulillah bagaimana?”

Aku tersenyum hambar.

“Alhamdulillah masih diberi hidup, meskipun hidupku berantakan. Aku merasa begitu lelah sampai terkadang ingin menyerah saja.”

Sahabatku mengernyitkan dahi. Di balik kacamata berbingkai tebalnya, matanya menatapku penuh tanya. Tangannya mencoba menggenggam tanganku yang sejak tadi meremas ujung jilbab dengan gelisah.

“Lho, memangnya ada apa?”

“Aku sudah capek,” jawabku lirih. “Lagi-lagi Bintang berbohong padaku. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana cara menghadapinya.”

Sahabatku menarik napas panjang.

“Coba jelaskan pelan-pelan duduk perkaranya dari awal supaya aku paham.”

Aku pun menceritakan kembali kejadian yang berlangsung dari awal hingga akhir. Sebenarnya, sahabatku sudah mengetahui berbagai persoalan yang terjadi antara aku dan Bintang. Namun, kali ini kekecewaanku terasa berlipat ganda. Bukan hanya karena aku kembali menemukan bukti kebohongan, melainkan juga karena ada hal-hal lain yang cukup membuatku terpukul.

Setelah mendengarkan ceritaku, ia bertanya, “Jadi, sudah dua bulan ini kamu tidak berkomunikasi dengan Bintang?”

“Iya. Aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu harus bicara apa. Dia juga tidak menghubungiku.”

Sahabatku terdiam sebentar, lalu bertanya, “Lalu, kamu merasa gengsi untuk menghubunginya terlebih dahulu?”

Aku langsung menoleh.

“Aku bukan gengsi. Tapi, ini kan kesalahannya?”

Aku menarik napas, berusaha menahan sesuatu yang kembali mengganjal di dada.

“Aku yang dikhianati. Aku yang disakiti. Aku yang dikecewakan. Lalu, kenapa harus aku yang membuka ruang bicara lebih dahulu?”

“Tapi, kamu kan ibunya.”

Aku menatapnya.

“Lalu, memangnya kenapa kalau aku seorang ibu?”

“Seorang ibu itu harus punya samudra maaf. Saat anak melakukan kesalahan, ya, dimaafkan. Kalau kamu menunggu dia datang lebih dahulu, kapan semua ini akan selesai? Apakah kamu tidak kasihan kepadanya? Tanpa ridho mu, apa yang dia lakukan bisa jadi sia-sia.”

Aku terdiam.

Membisu.

Bukan karena tidak memiliki jawaban. Sebenarnya, aku ingin berteriak bahwa dadaku masih sesak, hatiku masih sakit, dan bayangan kejadian selama lima tahun terakhir terus berkelebat dalam pikiranku. Semua itu meninggalkan luka yang begitu dalam hingga mungkin membuatku memilih menutup diri.

Namun, tidak ada satu pun kalimat yang berhasil keluar dari mulutku.

Sahabatku kembali bertanya, “Kamu tidak kangen?”

“Entahlah.”

“Kalau kangen, ya, jangan gengsi.”

Kata itu terasa seperti sesuatu yang jatuh tepat di atas luka yang belum mengering.

Gengsi.

Jadi, menurut mu semua ini hanya soal gengsi?

“Kamu pikir aku sedang mempertahankan harga diri?” tanyaku pelan.

“Bukan begitu maksudku. Kamu kan ibunya. Kamu lebih dewasa. Kadang-kadang, orang yang lebih dewasa memang harus mengalah lebih dahulu.”

Aku menunduk. Ada begitu banyak kalimat yang ingin kukeluarkan, tetapi semuanya seolah berdesakan di tenggorokan.

Akhirnya, aku berkata, “Kamu tahu apa yang paling melelahkan dari menjadi orang tua?”

Sahabatku menggeleng.

“Yang paling melelahkan adalah ketika semua orang merasa berhak memberitahumu bagaimana seharusnya menjadi seorang ibu, tetapi tidak ada yang benar-benar bertanya bagaimana rasanya menjadi aku.”

Sahabatku terdiam.

“Kamu bilang aku harus memaafkan. Kamu bilang aku harus menghubungi dia. Kamu bilang aku harus lebih dewasa.” Suaraku mulai bergetar. “Tapi, pernah tidak kamu bertanya apakah aku masih sanggup? Pernah tidak kamu bertanya apa yang terjadi padaku setiap kali aku kembali dikecewakan?”

“Aku cuma ingin hubungan kalian membaik.”

“Aku tahu. Dan mungkin memang itu yang kamu inginkan.”

Aku kembali mengusap air mata yang merembes dari sudut mataku, lalu menghela napas panjang.

“Tapi, kamu benar-benar tidak tahu apa yang aku rasakan. Kamu tidak berada di tempatku ketika semua ini terjadi. Jadi, tolong, jangan membuat seolah-olah semuanya akan selesai hanya karena aku mengirimkan satu pesan kepadanya.”

Sahabatku terdiam sejenak sebelum berkata, “Aku juga punya anak remaja. Aku juga kewalahan menghadapi mereka.”

Aku mengangguk pelan.

“Iya, aku tahu. Aku tidak ingin mengecilkan perjuanganmu. Aku tahu setiap orang tua punya tantangannya sendiri dalam menghadapi anak-anaknya. Aku juga tidak merasa masalahku jauh lebih besar daripada masalahmu.”

Aku berhenti sejenak, berusaha menyusun kata-kata.

“Tapi, bolehkah aku meminta agar kamu tidak menyepelekan permasalahanku hanya karena kamu juga punya persoalan dengan anak-anakmu? Kita sama-sama punya perjuangan, tetapi bentuknya tidak selalu sama.”

Aku menarik napas panjang.

“Aku tahu meminta maaf terlebih dahulu tidak selalu berarti kita salah. Aku tahu memulai percakapan terlebih dahulu bukan berarti harga diri kita jatuh. Aku paham semua itu.”

Aku menunduk, menatap kedua tanganku yang saling menggenggam.

“Tapi, kalau aku menghubunginya sekarang, apakah itu berarti aku sudah siap? Apakah itu berarti hatiku sudah baik-baik saja? Atau aku hanya sedang melakukan sesuatu karena semua orang menyuruhku begitu?”

Aku mengangkat wajah.

“Kenapa seolah-olah tidak ada yang mau memahami posisiku? Kenapa aku selalu menjadi orang yang disalahkan atas segala hal yang terjadi? Ketika anakku melakukan kesalahan, itu dianggap sebagai bukti ketidakbecusanku dalam mendidiknya. Ketika dia menunjukkan sikap buruk, aku yang dianggap mencontohkan hal itu kepadanya. Ketika dia berbohong, aku pula yang disalahkan karena dianggap terlalu menekannya.”

Suaraku semakin lirih.

“Seolah-olah semua yang terjadi padanya adalah kesalahanku sebagai ibu.”

Tidak ada jawaban.

Untuk pertama kalinya sore itu, sahabatku benar-benar diam.

—

Angin malam terasa menusuk tulang. Ujung jilbabku melambai tertiup angin dari jendela kamar yang kubiarkan terbuka lebar.

Rumah sudah terasa lebih tenang, tetapi kepalaku masih dipenuhi berbagai suara. Suara orang-orang yang menasihatiku, suara kenangan yang terus kembali, dan suara di dalam kepalaku sendiri yang sering kali tidak memberiku kesempatan untuk berbicara atau membela diri.

Aku mengambil sebuah buku solo yang kutulis sendiri. Kubuka beberapa halamannya, lalu kututup kembali. Tidak ada satu kalimat pun yang berhasil kubaca dengan sungguh-sungguh.

Pikiranku kembali kepada anak sulungku, Bintang.

“Kenapa kamu harus menunggu sampai nanti, Nak?” bisikku.

Tidak ada jawaban.

“Kalau kamu ingin berubah, kenapa tidak dimulai dari sekarang?”

Mataku kembali berkaca-kaca.

“Bunda tidak pernah meminta kamu menjadi sempurna. Bunda cuma ingin kamu belajar bertanggung jawab. Bunda ingin kamu mengerti bahwa setiap kesalahan punya akibat dan setiap kepercayaan yang rusak membutuhkan usaha untuk dibangun kembali.”

Kali ini, aku tidak menghapus air mataku. Kubiarkan air itu mengalir membasahi pipiku.

“Kenapa justru Bunda yang harus terus belajar menerima, sementara kamu masih punya waktu untuk meminta jeda? Jeda untuk benar-benar bisa berubah?”

Kalimat terakhir itu menggantung di udara.

Aku tahu, mungkin anakku juga sedang berjuang dengan caranya sendiri. Mungkin ada hal-hal yang belum mampu diungkapkannya. Mungkin ia benar-benar membutuhkan waktu untuk memahami dirinya sendiri.

Aku tidak ingin menutup kemungkinan itu.

Namun, memahami kemungkinan tersebut tidak serta-merta menghilangkan luka-lukaku. Aku mungkin bisa mengerti bahwa anakku sedang berproses, tetapi aku juga kecewa karena proses itu terasa begitu panjang dan melelahkan.

Aku bisa menyayangi anakku, tetapi belum sanggup berbicara dengannya.

Aku bisa mendoakannya tanpa harus berpura-pura bahwa diriku baik-baik saja.

Lalu, mengapa orang-orang selalu menganggap perasaan-perasaan itu saling bertentangan?

—

Suatu pagi, suamiku mengajakku berjalan-jalan menikmati dinginnya udara di kotaku.

Sambil menggenggam tanganku, ia bertanya, “Bun, sampai kapan mau seperti ini?”

“Tidak tahu.”

“Jangan begitu. Bagaimanapun juga, Bintang itu anak Bunda.”

Aku melepaskan genggaman tangannya, bergeser beberapa langkah, lalu memandang matanya yang berada di balik kacamata berbingkai besi.

“Iya, dia memang anakku.”

“Kalau begitu, kenapa Bunda tidak mengalah saja?”

Aku memejamkan mata.

Lagi-lagi aku yang disuruh mengalah.

Seolah-olah selama ini aku tidak pernah mengalah. Seolah-olah kesempatan yang berulang kali kuberikan bukanlah bentuk kelapangan hati seorang ibu. Seolah-olah semua upaya yang kulakukan selama bertahun-tahun tidak pernah cukup, hanya karena kali ini aku memilih memberi jeda kepada diriku sendiri.

“Aku bukan tidak mau memperbaiki hubungan kami,” kataku akhirnya. “Aku cuma belum sanggup.”

Suamiku diam.

“Aku tahu, dengan sangat jelas, bahwa aku ibunya. Tapi, apakah karena aku ibunya, aku tidak boleh terluka? Apakah karena aku ibunya, aku tidak boleh kecewa? Apakah kasih sayang berarti aku harus selalu siap menerima semua kesalahannya, kapan pun orang lain menganggap aku seharusnya siap?”

Aku mengusap wajahku.

“Kapan ada yang mau memahami bahwa aku juga ingin dimengerti? Kenapa ketika aku meminta jeda, aku justru kembali disalahkan? Kenapa ketika Bintang meminta jeda untuk berubah, orang-orang bisa memakluminya, tetapi ketika aku meminta jeda untuk memulihkan diriku sendiri, aku dianggap egois?”

Rentetan pertanyaanku membuat suamiku membisu.

Ia kembali menggenggam tanganku dan mengajakku melangkah pelan.

Hari itu, aku tidak ingin menjelaskan lebih jauh lagi. Bukan karena aku tidak punya jawaban, melainkan karena aku sudah terlalu lelah menjelaskan sesuatu yang, lagi dan lagi, membuatku menjadi objek yang dipersalahkan.

—

Malam kembali datang.

Aku mengambil ponselku dan membuka ruang percakapan antara aku dan Bintang.

Pesan terakhir masih ada di sana.

Kubaca perlahan, seolah-olah berharap menemukan sesuatu yang terlewat. Sesuatu yang mungkin bisa membuat semuanya lebih mudah dipahami.

Lalu, aku mulai mengetik.

Bagaimana kabarmu, Nak?

Aku menatap kalimat itu cukup lama.

Kemudian, kuhapus.

Bukan karena aku tidak peduli. Justru karena aku masih terlalu peduli. Aku takut percakapan yang kumulai sebelum diriku siap hanya akan membuatku kembali terluka.

Aku meletakkan ponselku.

“Bukan sekarang,” bisikku kepada diri sendiri.

Untuk pertama kalinya, aku mencoba membiarkan kalimat itu berdiri tanpa mengikutinya dengan rasa bersalah.

Bukan sekarang.

Bukan berarti tidak akan pernah.

Aku tidak tahu kapan akan siap. Aku tidak tahu bagaimana hubungan kami akan berjalan setelah ini. Aku tidak tahu berapa lama lagi perang dingin ini akan berlangsung. Aku juga tidak tahu apakah anakku sedang menunggu pesan dariku atau justru menikmati jarak yang kami miliki.

Aku tidak memiliki jawaban untuk semua itu.

Dan malam ini, aku memutuskan bahwa aku tidak perlu memaksakan diri untuk menemukannya.

Yang kutahu, di suatu tempat dalam hatiku, masih ada harapan.

Harapan bahwa suatu hari nanti anakku akan memahami bahwa perubahan tidak harus menunggu seseorang menjadi sempurna. Bahwa langkah pertama tidak harus besar. Bahwa tanggung jawab dimulai ketika seseorang berani mengakui kesalahannya dan sungguh-sungguh berusaha memperbaikinya.

Aku berharap anakku tumbuh menjadi seseorang yang tidak hanya pandai meminta maaf, tetapi juga mampu menjaga kepercayaan.

Namun, aku juga mulai memahami bahwa aku tidak bisa menjalani proses itu atas nama orang lain, meskipun orang itu adalah anakku sendiri.

Aku bisa membimbing, tetapi tidak bisa memaksakan kesadaran.

Aku bisa membuka pintu, tetapi tidak bisa berjalan menggantikan langkahnya untuk melewati segala kerikil dan rintangan yang menghadang kehidupannya.

Aku bisa menyayangi tanpa harus mengorbankan seluruh diriku demi membuktikan bahwa kasih sayangku tidak pernah berkurang.

Aku kembali teringat ucapan sahabatku tentang samudra maaf seorang ibu.

Aku tersenyum tipis.

Mungkin benar, seorang ibu memiliki samudra maaf yang luas.

Namun, tidak semua orang tahu bahwa samudra juga bisa diterjang badai. Tidak semua orang memahami bahwa air yang terlihat tenang menyimpan riak yang tidak pernah sampai ke permukaan.

Dan tidak semua orang memahami bahwa terkadang, samudra pun kadang kehilangan pantai.

Tempat untuk berhenti sejenak.

Tempat untuk menemukan kembali ketenangan.

Tempat yang tidak menuntutnya terus menerima gelombang tanpa pernah bertanya apakah ia masih sanggup.

Aku menutup jendela kamar, merapikan gorden, lalu merebahkan tubuh di atas kasur yang mulai menipis.

Besok, mungkin orang-orang masih akan mengatakan bahwa akulah yang seharusnya menghubungi anakku terlebih dahulu. Mungkin akan ada lagi yang menyebutku egois, terlalu gengsi, atau menganggapku sebagai ibu yang kekanak-kanakan.

Aku tidak tahu.

Benar-benar tidak tahu.

Namun, malam ini aku tidak ingin berdebat dengan siapa pun, termasuk dengan isi kepalaku sendiri.

Aku hanya ingin beristirahat dari keharusan menjelaskan bahwa hatiku pun memiliki batas.

Sebelum memejamkan mata, aku mengambil buku harian yang kusimpan di bawah bantal.

Di sana, kutuliskan sebuah kalimat.

Nak, Bunda masih menyayangimu. Hanya saja, kali ini Bunda belum tahu bagaimana caranya mendekat tanpa kembali terluka.

Aku memandangi tulisanku cukup lama.

Lalu, kutambahkan satu kalimat lagi.

Kalau suatu hari kita bertemu kembali di tempat yang lebih baik, semoga kita sudah sama-sama belajar. Kamu belajar bertanggung jawab atas pilihanmu, dan Bunda belajar bahwa menyayangimu bukan berarti harus mengabaikan diri Bunda sendiri.

Aku menutup buku harian itu.

Tidak ada pesan yang terkirim malam itu. Tidak ada percakapan yang dimulai.

Hanya ada aku, seorang bunda yang sedang berusaha mengizinkan dirinya mengakui hal-hal yang selama ini begitu sulit diucapkan.

Bahwa aku masih menyayangi anakku.

Bahwa aku masih berharap.

Dan bahwa untuk saat ini, aku belum sanggup memulai kembali.

Barangkali, tidak semua jarak adalah tanda hilangnya cinta.

Sebagian jarak mungkin merupakan ruang yang dibutuhkan dua hati agar bisa kembali pulih. Ruang untuk belajar memahami diri sendiri, sebelum kembali berusaha memahami satu sama lain.

Dan jika suatu hari nanti kami memilih untuk kembali mendekat, aku berharap kami tidak lagi datang dengan luka yang sama.

Aku berharap kami bisa saling menyayangi tanpa terus-menerus menjadi alasan bagi satu sama lain untuk terluka.

Sebab pada akhirnya, aku tidak ingin kami hanya menjadi dua orang yang saling mencintai, tetapi tidak tahu bagaimana caranya berhenti saling menyakiti.

Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.

Tulisan lain untuk kamu

Cerpen

Beban

Pagi bersinar lembut, malu-malu, layaknya embun yang muncul di dedaunan. Aroma tanah basah masih tercium setelah hujan mengguyur bumi tadi malam.Pagi itu, aku masih duduk di kursi santai di dalam…

Senandung Rindu
Baca selengkapnya
Cerpen

DI BALIK BAYANG BAYANG

   ​Hujan deras mengguyur jalanan kota sejak sore, menyisakan aroma tanah basah dan genangan air yang memantulkan kerlap-kerlip lampu jalanan. Di sudut sebuah kafe yang mulai sepi, Aris duduk terdiam menatap…

Mami lily
Baca selengkapnya
Cerpen

DI BAWAH LANGIT YANG SAMA

  ​Batu pijakan kickstart Vespa Sprint ’77 milik Maya kembali meloloskan hentakan kakinya. Tiga kali, Empat kali,Mesin tua itu hanya meletupkan asap tipis yang berbau bensin basi, lalu mati lagi. Maya…

Mami lily
Baca selengkapnya

Punya cerita yang ingin ditulis?

Gabung GEMBIRA, tulis bersama komunitas, dan terbitkan karyamu.

Jadi penulis

Butuh bantuan?

Hubungi Admin GEMBIRA lewat WhatsApp untuk informasi program, pendaftaran, atau kolaborasi.

Hubungi Admin via WhatsApp