Pernah nggak sih kamu membaca ulang tulisanmu sendiri lalu berpikir: “Kayaknya udah benar deh.”
Nggak ada typo, kalimatnya rapi, tanda bacanya aman, pesannya juga jelas kok. Tapi entah kenapa… Tulisan itu terasa datar. Pernah merasakannya?
Sesungguhnya, tidak ada yang salah. Tapi juga tidak ada yang membuat pembaca berhenti sejenak. Tidak ada yang membuat mereka mengangguk. Tidak ada yang membuat mereka berkata: “Wah, ini gue banget.”
Ya, tidak sedikit jumlahnya penulis pemula mengalami fase yang sama. Mereka sudah berhasil menyampaikan informasi, tetapi belum berhasil menyampaikan rasa dan sering kali penyebabnya bukan karena idenya kurang bagus. Bukan juga karena teknik menulisnya buruk. Melainkan karena satu hal yang sering diremehkan : Pilihan kata.
Tulisan Bukan Sekadar Menyampaikan Informasi
Banyak orang berpikir tujuan menulis adalah menyampaikan pesan. Tidak salah sih. Tetapi itu baru setengahnya. Karena kalau tujuan tulisan hanya menyampaikan informasi, maka buku telepon juga bisa dianggap karya yang hebat. Masalahnya, manusia tidak hanya mengingat informasi. Manusia mengingat perasaan!
Coba ingat buku yang paling berkesan dalam hidupmu. Kemungkinan besar yang kamu ingat bukan setiap kalimatnya. Yang kamu ingat adalah bagaimana buku itu membuatmu merasa tersentuh, tertampar, termotivasi bahkan terhibur. Atau mungkin merasa tidak sendirian.
Di situlah kekuatan tulisan sebenarnya. Bukan hanya membuat pembaca mengerti. Tetapi membuat pembaca merasakan.
“Aku Sangat Sedih” vs “Aku Runtuh Hari Itu”
Mari kita lihat contoh sederhana : “Aku sangat sedih.”
Tidak ada yang salah dengan kalimat itu. Pesannya jelas. Pembaca tahu bahwa tokohnya sedang sedih. Tetapi coba bandingkan dengan ini: “Aku runtuh hari itu.”
Maknanya mirip. Tetapi rasanya berbeda. Kalimat kedua memberikan gambaran yang lebih kuat. Pembaca tidak hanya mengetahui kesedihan itu, mereka bisa membayangkannya, merasakannya dan itulah yang membuat tulisan lebih hidup.
Bayangkan kamu sedang mendengarkan dua orang bercerita.
Orang pertama berkata: “Hari itu hujan deras.”
Orang kedua berkata: “Hari itu langit seperti menumpahkan seluruh kesedihannya.”
Mana yang lebih membekas?
Keduanya menggambarkan situasi yang sama. Tetapi yang kedua menghadirkan emosi, imajinasi, bahkan pengalaman. Inilah yang disebut kekuatan diksi.
Diksi adalah seni memilih kata yang paling tepat untuk menyampaikan maksud dan rasa. Bukan sekadar kata yang benar. Tetapi kata yang paling hidup.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Penulis Pemula
Saat mulai menulis, banyak orang fokus pada jumlah kata.
Mereka berpikir:
- “Tulisan harus panjang.”
- “Tulisan harus lengkap.”
- “Tulisan harus kelihatan pintar.”
Akibatnya mereka sibuk menambah kata. Padahal sering kali masalahnya bukan kekurangan kata. Masalahnya adalah kata yang dipilih kurang kuat. Ingat yah, seorang penulis yang baik tidak selalu menggunakan banyak kata. Ia menggunakan kata yang tepat. Karena satu kata yang tepat kadang lebih kuat daripada satu paragraf panjang yang berputar-putar.
Mengapa Diksi Penting?
Karena pembaca tidak membaca dengan logika saja.
Mereka membaca dengan emosi. Mereka ingin merasa terhubung dan merasakan pengalaman yang dituliskan. Selain itu, mereka ingin melihat diri mereka sendiri di dalam tulisan itu dan semua itu sangat dipengaruhi oleh pilihan kata.
Ketika diksi dipilih dengan baik dan tepat, biasanya beberapa hal ikut berubah:
- Tulisan terasa lebih hidup.
- Emosi lebih terasa.
- Pembaca lebih mudah terhubung.
- Pesan lebih mudah diingat.
- Tulisan memiliki karakter yang khas.
Inilah yang sering membedakan tulisan yang hanya dibaca dengan tulisan yang dikenang.
Kabar baiknya, kemampuan memilih kata bukan bakat bawaan. Ia bisa dilatih dan latihan itu bisa dimulai dari hal-hal sederhana.
- Perbanyak Membaca Tulisan Berkualitas
Penulis yang kaya diksi biasanya adalah pembaca yang rakus. Mereka terbiasa melihat berbagai cara penyampaian, terbiasa menemukan kata-kata baru bahkan belajar bagaimana penulis lain membangun suasana dan emosi. Semakin banyak membaca, semakin kaya “gudang kata” yang kita miliki.
- Ganti Kata Umum Menjadi Lebih Spesifik
Misalnya: “Aku senang.”
Bisa menjadi: “Aku nyaris melompat karena bahagia.”
Atau: “Senyumku tak bisa berhenti hari itu.”
Maknanya masih sama. Tetapi nuansanya lebih terasa.
- Bermain dengan Metafora Sederhana
Tidak perlu puitis berlebihan. Cukup gunakan perbandingan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Contoh: “Pikiranku penuh.”
Menjadi: “Pikiranku seperti meja kerja yang terlalu banyak tumpukan berkas.”
Pembaca lebih mudah membayangkannya.
- Simpan Kata-Kata Menarik
Saat menemukan kalimat yang menarik dari buku atau artikel, catat. Bukan untuk ditiru mentah-mentah. Tetapi untuk memperkaya referensi. Karena penulis yang baik biasanya memiliki kebiasaan mengumpulkan kata dan ungkapan yang menarik.
Diksi yang Baik Tidak Berarti Rumit
Ini penting lho. Banyak orang mengira tulisan yang kaya diksi harus menggunakan kata-kata sulit. Padahal tidak. Kata yang kuat tidak harus rumit, bahkan sering kali kata yang paling sederhana justru paling mengena.
Lihat kalimat ini: “Aku lelah.”
Sederhana. Tetapi dalam konteks yang tepat, kalimat itu bisa sangat kuat. Karena kekuatan diksi bukan pada kerumitan katanya. Melainkan pada ketepatannya.
Mengapa Tulisan yang “Kena” Sulit Dibuat Sendirian?
Karena kita terlalu dekat dengan tulisan kita sendiri. Kita tahu apa yang ingin kita sampaikan. Akibatnya kita sering tidak sadar bahwa pilihan kata kita masih datar. Masih umum dan masih kurang hidup.
Di sinilah pentingnya feedback. Kadang orang lain bisa melihat apa yang tidak kita lihat. Mereka bisa menunjukkan bagian yang kuat. Mereka bisa membantu menemukan bagian yang masih bisa dipertajam dan proses seperti ini sulit terjadi jika kita selalu menulis sendirian.
Bertumbuh Bersama di GEMBIRA
Salah satu alasan banyak penulis berkembang lebih cepat ketika bergabung dengan komunitas adalah karena mereka mendapatkan ruang untuk belajar bersama. Mereka tidak hanya menulis tapi juga mendapatkan masukan.
Mereka belajar melihat bagaimana orang lain menyusun kalimat. Tapi juga belajar memilih kata yang lebih kuat.
Ya, mereka yang sudah bergabung bersama GEMBIRA belajar membuat tulisan yang tidak hanya informatif, tetapi juga menyentuh.
Di GEMBIRA (Gerakan Menulis Bersama dan Berbagi Inspirasi), proses belajar tidak berhenti pada menyelesaikan tulisan. Tujuannya lebih jauh dari itu. Yaitu membantu tulisan memiliki rasa, makna, dan dampak. Karena tulisan yang baik bukan hanya membuat orang membaca sampai akhir.
Tulisan yang baik membuat orang mengingatnya setelah selesai membaca.
Jadi Bagaimana…
Jika selama ini kamu merasa tulisanmu sudah benar tetapi belum terasa “hidup”, jangan buru-buru menganggap dirimu tidak berbakat. Kemungkinan besar masalahnya bukan pada idemu. Bukan juga pada kemampuanmu. Mungkin kamu hanya perlu lebih terampil memilih kata.
Karena pembaca tidak selalu mengingat panjangnya tulisan. Mereka tidak selalu mengingat jumlah paragrafnya. Tetapi mereka hampir selalu mengingat bagaimana tulisan itu membuat mereka merasa dan perasaan itu sering kali lahir dari satu hal sederhana: pilihan kata yang tepat.
Jadi mulai hari ini, jangan hanya bertanya: “Apa yang mau aku tulis?”
Tetapi juga tanyakan: “Kata apa yang paling tepat untuk membuat pembaca merasakannya?”
Karena terkadang, yang membedakan tulisan biasa dengan tulisan yang membekas bukanlah banyaknya kata. Melainkan ketepatan satu kata yang dipilih dengan penuh kesadaran. ✍️📚✨
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi