Buka laptop, menatap layar kosong. Menulis satu kalimat, lalu dua kalimat. Kemudian tiga kalimat. Setelah itu mulai ragu. “Kayaknya kurang bagus.”
Hapus. Mulai lagi, tulis ulang. Baca lagi. Masih terasa kurang pas, hapus lagi. Beberapa menit kemudian, laptop ditutup dan tulisan itu kembali menjadi draft yang tidak pernah selesai.
Banyak calon penulis sebenarnya tidak kesulitan memulai. Mereka justru kesulitan menyelesaikan. Ya, mereka punya ide, cerita dan niat yang kuat untuk menerbitkan buku. Tetapi entah mengapa tulisan mereka selalu berhenti di tengah jalan.
Lalu mereka menyimpulkan:
- “Mungkin saya lagi nggak mood.”
- “Mungkin saya kurang inspirasi.”
- “Mungkin saya memang nggak berbakat nulis.”
Padahal sering kali masalahnya bukan di sana. Masalahnya ada pada cara mereka menulis.
Kita Ingin Tulisan Bagus, Itu Wajar
Tidak ada orang yang sengaja ingin menghasilkan tulisan buruk. Termasuk kamu kan?
Kita semua sama-sama setuju, ketika mulai menulis, hampir semua orang berharap hasilnya bagus, enak dibaca, menyentuh, berisi dan berkualitas. Keinginan itu sangat wajar.
Justru aneh kalau seseorang tidak peduli sama sekali terhadap kualitas tulisannya. Namun masalah muncul ketika keinginan menghasilkan tulisan bagus berubah menjadi kebutuhan untuk menghasilkan tulisan sempurna. Di titik itulah banyak orang mulai terjebak. Karena kesempurnaan sering kali datang terlalu cepat dalam proses menulis.
Banyak orang berkata: “Saya cuma ingin tulisan saya berkualitas.”
Terdengar bijak sih, akan tetapi sering kali yang terjadi sebenarnya bukan standar tinggi. Melainkan perfeksionisme yang sedang menyamar.
Ya betul sekali, perfeksionisme membuat seseorang sulit menerima proses. Ia ingin tulisan pertama langsung bagus, ingin paragraf pertama langsung mengesankan, ingin setiap kalimat langsung sempurna. Padahal menulis tidak bekerja seperti itu! Tulisan yang baik hampir selalu lahir dari proses yang berantakan terlebih dahulu.
Percaya deh, tidak ada penulis yang menghasilkan draft pertama yang sempurna. Bahkan penulis profesional pun melakukan revisi berkali-kali. Bedanya, mereka memahami satu hal penting: Tulisan harus selesai dulu sebelum diperbaiki.
Kesalahan yang Paling Sering Dilakukan Penulis Pemula
Salah satu kebiasaan yang paling sering membuat tulisan mandek adalah menulis sambil mengedit.
Baru satu paragraf. Dibaca ulang, dikoreksi, diperbaiki, ditulis ulang.
Belum selesai. Sudah direvisi. Belum jadi. Sudah dicoret. Akhirnya energi habis sebelum tulisan berkembang. Ibarat seseorang yang sedang berjalan tetapi terus berhenti setiap dua langkah untuk mengecek apakah cara jalannya sudah sempurna.
Tentu perjalanannya menjadi sangat lambat. Bahkan bisa jadi tidak pernah sampai tujuan.
Menulis dan Mengedit Adalah Dua Pekerjaan Berbeda
Banyak orang tidak menyadari bahwa menulis dan mengedit sebenarnya menggunakan cara kerja otak yang berbeda.
Ketika menulis, kita membutuhkan aliran ide, kreativitas, keberanian menuangkan pikiran tanpa terlalu banyak sensor. Sementara ketika mengedit, kita membutuhkan ketelitian, logika, dan membutuhkan kemampuan menilai mana yang perlu dipertahankan dan mana yang perlu diperbaiki. Masalahnya, banyak orang memaksa kedua proses itu berjalan bersamaan. Akibatnya otak kebingungan.
Di satu sisi ingin mengalirkan ide. Di sisi lain ingin mengoreksi setiap kata. Hasilnya? Macet.
Bayangkan Sedang Membangun Rumah
Agar lebih mudah dipahami, bayangkan kamu sedang membangun rumah.
Hari pertama memasang dua batu bata. Lalu membongkarnya lagi karena belum terlihat indah. Hari kedua memasang tiga batu bata. Lalu merobohkannya karena warnanya belum cocok. Hari ketiga memasang sebagian dinding. Kemudian menghancurkannya lagi karena desainnya belum sempurna.
Pertanyaannya, kapan rumah itu akan selesai?
Tidak akan pernah selesai kan? Kenapa? Ya jelas. Karena proses membangun selalu terganggu oleh proses memperbaiki. Padahal rumah harus berdiri dulu sebelum direnovasi.
Tulisan juga begitu. Selesaikan dulu, baru perbaiki.
Ini mungkin kalimat yang perlu diingat oleh setiap penulis pemula: Tulisan jelek yang selesai lebih berharga daripada tulisan sempurna yang tidak pernah ada.
Mengapa? Karena tulisan yang selesai masih bisa diperbaiki, disunting, dikembangkan, bahkan masih bisa dipoles.
Sedangkan tulisan yang tidak pernah selesai tidak bisa menjadi apa-apa. Ia hanya menjadi ide yang tersimpan. Menjadi draft yang terlupakan. Menjadi mimpi yang tidak pernah diwujudkan dan dunia tidak pernah membaca mimpi yang hanya tersimpan di dalam laptop.
Fokus pada Menyelesaikan, Bukan Menyempurnakan
Salah satu kebiasaan yang dimiliki banyak penulis produktif adalah mereka memisahkan antara proses menulis dan proses mengedit. Ketika menulis, mereka fokus menyelesaikan, membiarkan ide mengalir dan tidak terlalu peduli apakah kalimatnya sudah sempurna atau belum. Mereka tahu revisi bisa dilakukan nanti.
Tujuan mereka sederhana, selesai dulu. Karena tanpa draft yang selesai, tidak ada yang bisa diperbaiki.
Lalu pertanyaannya, apa yang terjadi jika menulis dan mengedit dipisahkan?
Perubahannya sering kali sangat terasa. Ide menjadi lebih lancar keluar, overthinking berkurang, proses menulis menjadi lebih ringan, tulisan selesai lebih cepat dan yang paling penting, kita mulai merasakan kemajuan.
Banyak orang kehilangan semangat menulis karena merasa tidak pernah maju. Padahal sebenarnya mereka terus-menerus kembali ke titik awal. Mereka sibuk memperbaiki paragraf pertama selama berhari-hari tanpa pernah mencapai paragraf kesepuluh.
Cara Sederhana Mencobanya
Jika kamu sering terjebak di draft pertama, cobalah beberapa aturan sederhana berikut:
- Jangan Membaca Ulang Saat Menulis
Tulis terus sampai selesai. Tahan keinginan untuk kembali ke paragraf sebelumnya. Biarkan aliran ide tetap berjalan.
- Targetkan Selesai, Bukan Bagus
Saat menulis, fokuslah pada kuantitas terlebih dahulu. Kualitas akan diperbaiki saat revisi.
- Beri Jeda Sebelum Mengedit
Setelah tulisan selesai, tinggalkan beberapa jam atau bahkan satu hari. Ketika kembali membaca, kamu akan melihat tulisan dengan perspektif yang lebih segar.
- Terima Bahwa Draft Pertama Memang Berantakan
Itu normal. Bahkan sangat normal. Draft pertama bukan untuk diterbitkan dan draft pertama hanya bertugas membantumu menuangkan ide.
Mengapa Banyak Orang Tetap Sulit Melakukannya?
Karena kebiasaan lama sangat kuat. Kita terbiasa mengoreksi diri, terbiasa takut salah dan terbiasa ingin terlihat sempurna sejak awal. Akibatnya, meskipun tahu teori ini, kita sering kembali mengulang pola yang sama.
Di sinilah pentingnya lingkungan yang mendukung. Lingkungan yang tidak hanya memberi materi. Tetapi juga membantu menjaga konsistensi.
Bertumbuh Bersama di GEMBIRA
Salah satu alasan banyak orang bergabung dengan komunitas menulis adalah karena mereka menyadari bahwa menulis sendirian tidak selalu mudah.
Saat sendirian, kita mudah menunda, mudah menyerah, mudah kembali ke kebiasaan lama bahkan terjebak di draft pertama. Karena itu di GEMBIRA (Gerakan Menulis Bersama dan Berbagi Inspirasi), fokusnya bukan hanya belajar teori menulis.
Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan berkarya. Karena di sana ada proses, tantangan, target, teman seperjalanan dan ada ruang untuk bertumbuh bersama. Karena sering kali yang dibutuhkan seorang penulis bukan tambahan motivasi.
Yang dibutuhkan adalah sistem yang membuatnya terus bergerak.
Jadi apa?
Jika hari ini kamu punya banyak draft yang belum selesai, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri. Mungkin masalahnya bukan karena dirimu tidak berbakat. Mungkin juga bukan karena kamu tidak punya ide. Bisa jadi kamu hanya terlalu cepat menghakimi tulisan sendiri.
Ya, terlalu cepat mengedit, menghapus, terlalu cepat menuntut kesempurnaan.
Mulai hari ini, coba ubah targetnya. Bukan menghasilkan tulisan yang sempurna. Tetapi menghasilkan tulisan yang selesai. Karena pada akhirnya, penulis yang berkembang bukanlah mereka yang paling rapi saat memulai. Coba perhatikan pernyataan ini!
Penulis yang berkembang adalah mereka yang paling sering menyelesaikan apa yang sudah mereka mulai.
Dan percayalah, satu tulisan sederhana yang selesai akan membawa Anda jauh lebih maju daripada seratus ide hebat yang hanya berhenti di draft pertama. ✍️📚✨
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi