Β
17 tahun yang telah berlalu bagi kami adalah waktu yang tak sebentar. Ada begitu banyak tawa yang hadir di antara segala hal yang terjadi, sehingga sangatlah tidak adil jika ada anggapan bahwa perjalanan hidup kami diisi dengan saling menyakiti.
Tapi sebaliknya, terlalu banyak air mata yang mengalir juga cukup menjadi bukti bahwa perjalanan kami tak selalu indah dan dipenuhi kemudahan.
Mungkin ada hari-hari ketika kami saling menggenggam begitu erat, dan ada kalanya kami bahkan tidak tahu bagaimana cara berbicara tanpa membuat luka yang baru pada masing-masing diri.
Kami tahu bahwa kami saling mencintai.
Begitupun aku. Aku sangat memahami bahwa cinta itu selalu bertumbuh di antara kami, tanpa bisa dipungkiri.
Tapi ada satu hal yang menjadi ganjalan: mungkin kami memiliki gaya dan bahasa cinta yang begitu berbeda. Layaknya dua bahasa yang mungkin tidak pernah benar-benar bertemu dalam sebuah komunikasi yang selalu indah secara utuh.
Aku sering kali merasa bahwa cinta berarti didengarkan sampai selesai, diperhatikan bahkan ketika aku tidak meminta, ditanya tentang sesuatu yang mungkin terlihat sepele bagi orang lain, tetapi justru terasa begitu besar dan berarti bagiku.
Sedangkan baginya, mungkin cinta memiliki bentuk yang lain: memastikan kebutuhanku terpenuhi, berusaha mencari jalan keluar atas segala permasalahan, mencukupi materi, atau mengajakku pergi ketika ia melihat dan menilai aku terlalu lelah dengan segala rutinitas yang kulakukan.
Kami sama-sama saling memberi.
Tapi terkadang, apa yang diberikan itu tidak sampai pada ruang yang sedang menunggu untuk menerimanya.
Seperti dua orang yang saling berbicara di seberang sungai.
Aku berkata,
“Dengarkan aku.”
Ia mungkin mendengar, tetapi menjawab,
“Aku sudah berusaha menjagamu.”
Sehingga aku kembali berpikir,
“Tapi aku tidak sedang meminta untuk dijaga. Aku hanya ingin dimengerti.”
Mungkin begitulah perbedaan yang terjadi di antara kami.
Dan semua itu terasa begitu nyata.
Sebenarnya, tak ada yang benar-benar berniat menjadi sebab luka bagi yang lainnya. Tak ada juga pagi yang dimulai dengan perkataan, βHari ini aku akan melukai orang yang kucintai.β
Tetapi sungguh, hal-hal kecil yang tak terselesaikan diam-diam menjadi sesuatu yang menumpuk.
Sedikit salah memahami.
Sedikit tidak menyimak.
Sedikit merasa tidak diperhatikan.
Sedikit merasa tidak dihargai.
Hingga pada suatu hari, tekanan itu menemukan jalannya sendiri.
Semua memicu sebuah gelombang.
Kadang kecil, kadang begitu besar hingga membuat kami lupa bahwa mungkin beberapa saat sebelumnya kami sedang baik-baik saja, saling tertawa, bercanda, dan bahagia.
Semua terjadi begitu saja, bagaikan sebuah gempa yang hadir akibat pergerakan lempeng yang mungkin tak disadari sebelumnya.
Dari sana muncullah sebuah gelombang yang begitu besar, hingga memaksa kami kembali duduk di tempat yang saling berseberangan, memandangi serpihan yang tersisa dari hati yang berserak.
Sambil bertanya-tanya,
mengapa sesuatu yang sejatinya kami usahakan untuk bangun bersama-sama dengan segala daya upaya yang kami miliki, tiba-tiba terasa begitu rapuh?
Dan anehnya, setiap kali semuanya terasa seperti hendak menemukan titik selesai, selalu saja ada sesuatu yang membuat kami kembali memilih untuk tetap hadir dan tidak melepaskan satu sama lain.
Mungkin karena 17 tahun itu menyimpan begitu banyak cerita yang nilainya jauh lebih berharga daripada sebuah perselisihan.
Ada tawa yang hanya kami berdua yang mengerti penyebabnya.
Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang bahkan tidak kami sadari telah menjadi bagian dari kehidupan.
Ada masa-masa sulit yang pernah kami lewati sambil saling mengusap air mata.
Ada anak-anak yang memandang dengan penuh harap.
Ada doa-doa yang masih kami tunggu untuk terkabul, agar suatu hari kami bisa kembali tersenyum bersama dan memanjatkan syukur dengan segala rasa khidmat dalam dada.
Dan kami menyadari bahwa kami adalah dua manusia yang, meski berkali-kali salah memahami satu sama lain, ternyata masih memiliki harapan untuk bisa berjalan sampai akhir.
Aku tidak ingin hanya belajar tentang bagaimana caranya bertahan.
Aku ingin kami belajar bagaimana caranya saling memahami.
Karena mungkin sebenarnya cinta bukan melulu tentang memiliki seseorang yang selalu mengerti diri kita tanpa perlu dijelaskan.
Mungkin cinta adalah saat seseorang berkata,
“Aku belum mengerti, tapi aku ingin belajar.”
Dan kamu pun menjawab,
“Aku juga belum tentu mengerti cara mencintaimu, tapi aku ingin belajar.”
Sehingga kami, yang diibaratkan sebagai dua buah lempeng yang berbeda, sesekali bertemu pada tempat yang membuat tekanan begitu berat dan kadang menghasilkan gelombang yang tak pernah kami duga, tetap memiliki tujuan yang sama.
Dan saat kami belajar bergerak tanpa terus-menerus melukai satu sama lain, kami yakin bahwa 17 tahun telah mengajarkan satu hal kepada kami:
mencintai seseorang ternyata tidak selalu berarti memahami seluruh dirinya.
Karena terkadang, mencintai berarti tetap tinggal sambil berkata,
“Tolong ajari aku bagaimana cara mencintaimu dengan cara yang bisa kau rasakan.”
Setelah segala yang telah kami lewati, aku berharap kami bisa terus belajar.
Bukan tentang bagaimana menjadi pasangan yang sempurna.
Tetapi bagaimana menjadi dua manusia yang pada akhirnya mengerti bahwa kami tak harus memiliki bahasa cinta yang sama untuk bisa berjalan beriringan menuju tujuan yang sama.
Sungguh, kami tidak tahu apakah setelah 17 tahun kami akhirnya benar-benar bisa memahami satu sama lain.
Mungkin belum.
Mungkin masih akan ada saat ketika aku kembali merasa tidak didengar, dan akan ada hari ketika ia merasa segala yang diupayakannya tak juga membuatku merasa cukup.
Mungkin kami masih akan bertemu dengan perbedaan-perbedaan yang sama, dengan cara mencintai yang belum sepenuhnya bisa kami pahami.
Bagaikan dua orang yang berbicara dengan bahasa berbeda.
Dua orang asing yang ingin berkomunikasi, tetapi tidak tahu bagaimana caranya.
Namun sungguh, aku tidak ingin buru-buru menyimpulkan bahwa perbedaan berarti harus berakhir.
Karena aku yakin bahwa kami masih di sini.
Masih saling memanggil.
Masih saling mengkhawatirkan.
Masih saling menatap dengan rasa cinta yang dalam.
Masih bisa tertawa karena hal-hal remeh dengan bahasa yang hanya kami pahami.
Masih menyimpan keinginan yang sama dan berjalan bersama sampai sejauh yang Tuhan izinkan.
Dan mungkin barangkali kami memang tidak harus mengubah bahasa cinta agar memiliki bahasa cinta yang sama.
Kami hanya perlu terus belajar menerjemahkan bahasa masing-masing, meski dengan terbata-bata.
Dan mungkin setelah 17 tahun itu, aku akhirnya bisa mengerti bahwa mencintai seseorang bukan berarti harus selalu menuntut untuk dimengerti.
Karena terkadang cinta adalah dua orang yang sama-sama belum selesai belajar, namun masih memilih duduk di sisi yang sama ketika gelombang kembali datang.
Tidak ada yang tahu berapa lama lagi perjalanan ini.
Berapa banyak lagi gelombang yang akan kami temui.
Yang kutahu hanya satu:
hari ini, kami masih menjatuhkan pilihan yang sama.
Kamu untukku.
Dan aku untukmu.
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi