Bayangkan sebuah situasi yang mungkin sangat dekat dengan kehidupan kamu. Suatu malam, setelah selesai bekerja, kamu membuka laptop. Di dalamnya tersimpan sebuah file yang sangat berharga. Judulnya terlihat menjanjikan : “Draf Buku Final Revisi 1”
Table Of Content
- Banyak Orang Punya Ilmu, Tetapi Tidak Punya Buku
- Mitos Menunggu Waktu Luang
- Menulis Buku Bukan Masalah Kemampuan
- Mengapa Banyak Buku Tidak Pernah Selesai?
- Di Sini Peran Ghostwriter Menjadi Penting
- Buku Bukan Sekadar Produk, Tetapi Aset
- Menulis Buku adalah Bentuk Literasi Tertinggi
- Jangan Biarkan Ide Besar Mati di Laptop
- Terima kasih, ya
Kamu pun membukanya. Membaca beberapa paragraf, lalu tersenyum karena ide yang tertulis di sana memang bagus. Lalu menutupnya kembali.
Besok, kamu berjanji akan melanjutkannya.
Ternyata seminggu berlalu. Sebulan berlalu. Enam bulan berlalu. Bahkan setahun kemudian, file itu masih ada di tempat yang sama. Isinya hampir tidak berubah dan judulnya masih sama.
Bahkan mungkin sekarang namanya sudah menjadi: “Draf Buku Final Revisi 1 Fix Banget Final Terbaru”. Tetapi bukunya belum juga selesai.
Jika kamu pernah mengalami hal seperti ini, tenang saja kamu tidak sendirian. Justru kondisi ini dialami oleh ribuan profesional, pebisnis, trainer, konsultan, akademisi, pemimpin komunitas, bahkan tokoh publik di berbagai bidang.
Menariknya, masalah mereka bukan karena tidak punya ide. Mereka justru kebanjiran ide.
Banyak Orang Punya Ilmu, Tetapi Tidak Punya Buku
Coba lihat di sekitar kamu! Ada pengusaha yang sudah puluhan tahun membangun bisnis. Ada guru yang sudah mendidik ribuan murid. Ada pemimpin organisasi yang memiliki pengalaman luar biasa. Ada konsultan yang setiap hari membantu menyelesaikan masalah klien. Ada pembicara yang mengisi seminar di berbagai kota.
Mereka memiliki pengetahuan yang sangat berharga bahkan memiliki pengalaman yang tidak dimiliki banyak orang. Ya, mereka memiliki cerita yang layak diwariskan. Namun ironisnya, sebagian besar dari mereka belum memiliki buku.
Bukan karena tidak mampu, atau tidak punya materi. Bukan juga karena tidak punya pengalaman. Melainkan karena satu hal sederhana : Mereka tidak memiliki waktu dan sistem untuk menulisnya.
Mitos Menunggu Waktu Luang
Salah satu mitos terbesar dalam dunia kepenulisan adalah keyakinan bahwa suatu hari nanti akan datang waktu luang yang sempurna untuk menulis.
Banyak orang berkata:
- “Nanti kalau pekerjaan sudah agak santai, saya mulai nulis.”
- “Nanti kalau proyek ini selesai, saya fokus bikin buku.”
- “Nanti kalau anak-anak sudah besar, saya mulai menulis.”
Masalahnya, waktu “nanti” itu hampir tidak pernah datang. Karena semakin seseorang berkembang, biasanya tanggung jawabnya juga semakin besar.
Pebisnis semakin sibuk, profesional semakin banyak proyek, pemimpin semakin banyak agenda dan tokoh publik semakin banyak undangan. Akibatnya, impian menulis buku terus tertunda. Bukan karena tidak penting. Tetapi karena selalu kalah oleh urusan yang dianggap lebih mendesak.
Menulis Buku Bukan Masalah Kemampuan
Banyak orang mengira bahwa hambatan utama menerbitkan buku adalah kemampuan menulis, padahal bagi sebagian besar profesional, hambatan utamanya justru bukan di sana.
Mereka mampu berbicara berjam-jam tentang bidang yang dikuasainya. Mereka mampu menjelaskan konsep yang kompleks kepada klien. Mereka mampu memberikan pelatihan dan seminar dengan sangat baik. Artinya, substansi mereka sudah ada.
Yang menjadi tantangan adalah bagaimana mengubah pengetahuan tersebut menjadi sebuah buku yang utuh, sistematis, menarik, dan mudah dipahami. Di sinilah banyak proyek buku berhenti di tengah jalan.
Ide ada. Pengalaman ada. Materi pun sudah ada. Tetapi eksekusinya tidak berjalan.
Mengapa Banyak Buku Tidak Pernah Selesai?
Ada beberapa alasan yang sering muncul. Pertama, terlalu sibuk. Kedua, tidak tahu cara menyusun struktur buku. Ketiga, kesulitan menjaga konsistensi menulis. Keempat, bingung memulai dari mana dan kelima, merasa tulisannya belum cukup bagus. Akibatnya, banyak orang akhirnya menyimpan pengetahuan luar biasa hanya di dalam kepala.
Padahal ilmu yang tidak dibagikan memiliki dampak yang jauh lebih kecil dibandingkan ilmu yang dituliskan.
Di Sini Peran Ghostwriter Menjadi Penting
Sayangnya, masih banyak orang yang salah memahami profesi ghostwriter.
Sebagian mengira ghostwriter hanyalah tukang ketik. Sebagian lagi menganggap ghostwriter hanya menuliskan apa yang didiktekan. Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks.
Ghostwriter adalah penerjemah ide, mitra berpikir, penghubung antara pengetahuan seseorang dan buku yang dapat dinikmati pembaca.
Tugas mereka bukan sekadar menulis. Mereka membantu menggali pengalaman membantu menyusun alur cerita mengorganisasi gagasan yang masih berantakan bahkan membantu mengubah wawancara, catatan, rekaman suara, dan pengalaman hidup menjadi sebuah karya yang utuh.
Dengan kata lain, ghostwriter membantu seseorang menerbitkan buku tanpa harus mengorbankan seluruh waktunya untuk belajar menjadi penulis profesional.
Menariknya, di GEMBIRA kita punya program yang sejenis. Namanya Terbitkan Buku dari Suaramu. Info lengkap ada di sini : TERBITKAN BUKU DARI SUARAMU
Buku Bukan Sekadar Produk, Tetapi Aset
Banyak orang masih melihat buku sebagai proyek sampingan. Padahal bagi seorang profesional, buku adalah aset strategis. Sebuah buku dapat:
- Meningkatkan kredibilitas.
- Memperkuat personal branding.
- Membuka peluang berbicara di berbagai forum.
- Menjadi kartu nama intelektual.
- Menjangkau ribuan orang sekaligus.
- Meninggalkan warisan pemikiran.
Bahkan sering kali dampak terbesar sebuah buku bukan berasal dari royalti penjualannya. Melainkan dari peluang yang lahir setelah buku tersebut diterbitkan.
Klien baru, kerja sama baru, undangan seminar, kepercayaan publik dan berbagai kesempatan lainnya.
Menulis Buku adalah Bentuk Literasi Tertinggi
Dalam gerakan literasi, banyak orang berhenti sebagai pembaca. Sebagian naik level menjadi penikmat buku. Namun hanya sedikit yang berani menjadi pencipta karya.
Padahal menulis buku merupakan salah satu bentuk kontribusi literasi yang paling berdampak. Melalui buku, pengalaman hidup tidak hilang. Melalui buku, ilmu dapat diwariskan. Melalui buku, gagasan dapat hidup jauh melampaui usia penulisnya.
Karena itulah banyak tokoh besar dunia tetap dikenang hingga hari ini. Bukan hanya karena apa yang mereka lakukan akan tetapi karena apa yang mereka tuliskan.
Jangan Biarkan Ide Besar Mati di Laptop
Setiap hari ada ide-ide luar biasa yang lahir. Ada pengalaman hidup yang menginspirasi, pengetahuan yang bisa membantu banyak orang, pelajaran berharga yang layak diwariskan. Namun terlalu banyak di antaranya yang tidak pernah menjadi buku.
Mereka berhenti sebagai file. Berhenti sebagai catatan. Berhenti sebagai rencana. Berhenti sebagai impian. Padahal dunia membutuhkan lebih banyak karya nyata. Bukan hanya ide yang tersimpan.
Jadi Bagaimana?
Jika kamu memiliki pengalaman yang berharga, pengetahuan yang bermanfaat, atau gagasan yang mampu membantu banyak orang, mungkin pertanyaannya bukan lagi:
“Bisakah saya menulis buku?”
Tetapi: “Apakah saya mau membiarkan ide itu terus tertunda?”
Karena kenyataannya, banyak buku hebat tidak lahir karena penulisnya memiliki waktu luang yang melimpah. Mereka lahir karena ada keputusan untuk mengeksekusi.
Dan dalam banyak kasus, ghostwriter menjadi jembatan yang menghubungkan antara pengetahuan yang tersimpan di kepala dengan karya yang akhirnya sampai ke tangan pembaca.
Sebab ide terbaik sekalipun tidak akan mengubah hidup siapa pun jika hanya tersimpan di dalam laptop.
Tetapi ketika ide itu menjadi buku, ia bisa menjangkau orang-orang yang bahkan belum pernah Anda temui. Dan mungkin, di sanalah sebuah warisan dimulai.
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi