Ruang Aman untuk Hani

17/10/2026 3 menit baca

‎Anak saya bernama Hani, usiaya nyaris 9 tahun. Saya, ibunya 35 tahun  dan sudah 10 bulan ini menjalani psiko dan farmakoterapi.

Hani, sebelum saya terapi itu adalah anak yang penurut sekali: kalau digiring ke kiri maka akan ke kiri, kalau digiring ke kanan maka akan ke kanan–tanpa protes. Ngerinya jika sedang bersama orang lain–selain saya dan ayahnya, dia akan diam seribu bahasa (kayaknya diapa-apain juga nurut aja). Buat saya ini adalah red flag. Hani yang seperti ini mengingatkan pada saya kecil. Saya yang terlalu penurut di masa kecil, berujung pada 1001 drama kehidupan di masa dewasa (salah satunya hadirnya penyakit kronis).

‎

‎Tahu gak, kenapa Hani penurut begitu? Tak lain, karena saya yang kerap kali melontarkan kekerasan verbal ketika tangki emosi saya penuh (masalahnya stres kecil aja bikin emosi meledak). Ya, tanpa disadari mental illness-lah yang mengendalikan saya selama ini.

‎

‎Anyway, mental illness itu menular. Jika kita tidak berjuang untuk sembuh, maka generasi di bawah kita akan ikut berjuang merasakan penderitaan yang sama. Itulah yang terjadi pada Hani. Saya tahu, pelan-pelan dia belajar membenci saya dan pelan-pelan dia merasakan penderitaan yang saya rasakan, karena kekerasan yang saya lakukan. Tapi meskipun kesadaran itu ada, saya gak bisa serta-merta menghentikan diri saya–emosi tetap mudah meledak dan kekerasan verbal tetap dilakukan.

‎

‎Hingga akhirnya saya tidak sanggup menahan diri lagi untuk melangkah mencari pertolongan, alasan utamanya, ya, Hani. Saya ingin dia tumbuh dengan optimal, sehat jiwa dan raganya, dan tidak mewarisi luka dan trauma yang saya miliki. Biarlah semua penderitaan berhenti di saya saja!

‎

‎Perjuangan saya tidak sia-sia, beberapa bulan setelah saya melakukan terapi, saya melihat perubahan pada diri Hani. Dia lebih bisa berekspresi. Saya agak kewalahan sih, karena Hani jadi punya banyak permintaan dan kerap kali melontarkan komentar nyeleneh serta tak ragu untuk protes. Tapi, ini membuat saya lega, dia bukan saya kecil yang menderita lagi, dia adalah versi saya kecil yang bahagia. Dan ini menegaskan bahwa perjuangan saya membuahkan hasil, jangan tanya apa progres dalam diri saya! Buaaaanyak sekali.

‎

‎Cuma mau bilang, siapapun kamu yang merasa punya “masalah” dalam diri, selesaikan itu dan obati. Jangan takut untuk mengobati lukanya. Memang hal yang paling menyakitkan dari proses penyembuhan itu adalah melihat luka dengan mata terbuka. Seringkali kita tidak sanggup dan menutup kembali lukanya lalu berpura-pura tidak memiliki luka. Namun, pilihan itu membuat kita tidak sadar bahwa lukanya semakin memburuk hingga menular pada yang lain.

‎

‎Tapi, jika kita bisa sebentar saja menahan nyeri dan ngerinya melihat luka, semua penderitaan akan berlalu. Kamu akan sampai pada titik dimana tidak peduli lagi pada apapun (tidak pada masalalu menyakitkan dan tidak juga pada masa depan yang menakutkan). Yang bisa kamu rasakan hanyalah hari ini, di tempat kamu berpijak dengan segala yang bisa kamu lihat, dengar, hirup, kecap, dan sentuh. Kamu akan tahu rasanya kepala yang senyap dan jernih itu seperti apa, hati yang tenang itu bagaimana, dan yang paling menyenangkan … Kamu akan bisa merasakan lagi cinta yang utuh pada dirimu sendiri dan orang-orang di sekitarmu.

‎

‎Selamat berjuang dan sembuh kawan. 😊

‎

Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.

Tulisan lain untuk kamu

Memoar

Cahaya yang Pernah Padam

Malam itu, aku memandangi foto-fotoku jauh lebih lama daripada biasanya. Foto-foto yang kuambil dalam sebuah seminar nasional tentang bagaimana menjadi seorang guru yang baik. Ada sesuatu yang membuatku enggan mengalihkan…

Senandung Rindu
Baca selengkapnya
Memoar

Perang di Kepalaku

Namaku Rindu. Aku memiliki banyak nama dalam kehidupanku. Di sekolah, siswa-siswaku memanggilku dengan sebutan Bu Guru. Di komunitas kepenulisan, aku dikenal sebagai admin yang memiliki tugas menjaga percakapan agar tetap…

Senandung Rindu
Baca selengkapnya
Memoar

Menggenggam Cahaya

Aku bagaikan bongkahan kerikil di antara intan dan berlian. Jangankan diinginkan, sekadar dilirik pun rasanya tidak. Seolah-olah keberadaanku terlalu menjijikkan untuk diterima. Namun, aku tetaplah aku, bukan sebuah najis meski…

Senandung Rindu
Baca selengkapnya

Punya cerita yang ingin ditulis?

Gabung GEMBIRA, tulis bersama komunitas, dan terbitkan karyamu.

Jadi penulis

Butuh bantuan?

Hubungi Admin GEMBIRA lewat WhatsApp untuk informasi program, pendaftaran, atau kolaborasi.

Hubungi Admin via WhatsApp