Ingatanku melayang pada cerita masa muda Ibu. Dalam ceritanya, ia pernah bersekolah di sekolah pendidikan keguruan. Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke sebuah institut keguruan di Kota Bandung. Sebuah perguruan tinggi yang juga menjadi salah satu tempatku belajar untuk menjadi seorang guru.
Dahulu, Ibu telah mengikuti tes dan mempersiapkan dirinya untuk meraih kesempatan itu. Namun, pada akhirnya, ada sesuatu yang membuatnya mundur.
Cinta.
Memang, semuanya terdengar begitu klise. Namun, setidaknya, begitulah yang kupahami dari cerita-cerita yang pernah kudengar.
Ayah bekerja di Jakarta, sementara Ibu seolah tidak ingin tinggal berjauhan darinya. Mungkin ada ketakutan yang tidak sanggup ia hadapi sendiri. Barangkali ia juga merasa canggung dan kesepian jika harus tinggal di lingkungan yang sebenarnya sudah cukup dikenalnya, tetapi tanpa kehadiran seseorang yang dicintainya.
Pada akhirnya, keinginannya untuk hidup bersama Ayah, mengalahkan tekad dan mimpinya. Ia memutuskan bahwa kehidupan bersama seseorang yang dicintainya lebih layak diperjuangkan daripada kesempatan meraih gelar pendidikan yang lebih tinggi.
Sebenarnya, aku tidak pernah benar-benar tahu apa yang memenuhi pikirannya saat itu. Yang kutahu, pada akhirnya Ibu memilih menikah dan melahirkanku tak lama setelahnya.
Dahulu, setiap kali mendengar ceritanya, sering muncul pertanyaan dalam hatiku. Apakah cinta memang sedemikian penting hingga seseorang rela meninggalkan sesuatu yang sebenarnya telah lama menjadi mimpinya? Apakah cinta bisa menjadi alasan untuk melepaskan kesempatan yang mungkin tidak akan datang dua kali?
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul bukan karena aku tidak memahami cinta.
Justru karena aku melihat sendiri bahwa cinta tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan. Ada kalanya cinta berakhir dalam kegetiran yang menghancurkan kehidupan seseorang. Memang, ada hari-hari ketika cinta membawa kebahagiaan.
Namun, ada pula hari-hari ketika ia menjelma menjadi kesedihan yang menjatuhkan seseorang ke lembah tanpa dasar, menghadirkan kekecewaan dan tekanan hingga perlahan-lahan merenggut sebagian ketenangan jiwanya.
Malam itu, aku seolah sedang menyaksikan sebuah film tentang kehidupan Ibu. Film yang memutar kembali cerita-cerita yang tersisa, kenangan yang mungkin masih tersimpan jauh di dalam lubuk hatiku, serta kata-kata penyesalan yang pernah kudengar, yang mungkin baru benar-benar ia rasakan ketika semuanya telah terlambat.
Benar, Ibu pernah menceritakan penyesalannya. Begitu pula denganku. Aku pun merasakan penyesalan setelah Ibu pergi untuk selama-lamanya. Aku menyesal karena dahulu tidak benar-benar memahami pilihan-pilihannya. Aku menyesal karena tidak cukup mampu menghiburnya ketika ia dirundung penyesalan dan kesedihan.
Namun, penyesalan tidak selalu mampu mengembalikan sesuatu yang telah hilang. Waktu tidak bisa diputar kembali.
Sejak saat itu, aku mulai memahami bahwa setiap manusia memiliki pilihan hidupnya masing-masing. Akan tetapi, tidak semua pilihan yang diambil mampu membawa seseorang ke tempat yang dahulu dibayangkannya.
Barangkali, dari sana, ada sebuah benang merah yang bisa kutarik: tidak semua mimpi yang ditinggalkan akan benar-benar lenyap.
Sebagian mungkin hanya berubah bentuk, berpindah tempat, atau tumbuh diam-diam di dalam diri orang lain, bahkan dalam diri orang-orang terdekatnya.
Beranjak dari kisah Ibu, aku menyadari bahwa tanpa sadar, aku justru jatuh cinta pada sesuatu yang dahulu pernah ia tinggalkan. Sesuatu yang mungkin pernah disesalinya karena tidak sempat ia perjuangkan hingga tuntas.
Masih kuingat komentar kedua orang tuaku ketika aku memilih untuk meneruskan cita-cita yang tidak terwujud dalam kehidupan Ibu: menjadi seorang guru.
Mereka sempat menentang dan tidak mendukung pilihanku. Mungkin mereka khawatir aku akan menjalani kehidupan yang sulit. Mungkin mereka tidak ingin aku mengalami kekecewaan yang sama seperti yang pernah dialami Ibu. Barangkali, mereka juga menginginkanku memiliki masa depan yang lebih menjanjikan daripada sekadar menjadi seorang guru.
Aku tidak menyalahkan mereka.
Orang tua terkadang menunjukkan kasih sayang melalui kekhawatiran, meskipun kekhawatiran itu terkadang membuat anak merasa tidak dipahami. Aku pun pernah merasakannya. Aku merasa tidak mendapatkan dukungan atas mimpi-mimpi yang kumiliki.
Gejolak darah mudaku saat itu mendidih hingga mencapai titik didih tertinggi. Aku marah dan kecewa. Namun, jauh di dalam diriku, ada sesuatu yang terus menarikku untuk memasuki dunia pendidikan.
Dengan berat hati, mereka akhirnya menyetujui pilihanku. Namun, mereka memberikan syarat bahwa jurusan yang harus kuambil adalah Pendidikan Ekonomi. Meskipun aku belajar tentang pendidikan, orang tuaku tetap berharap suatu hari nanti aku dapat bekerja di bidang yang mereka inginkan, bukan menjadi guru.
Namun, takdir berkata lain.
Saat duduk di semester ketiga perkuliahan, aku mulai memasuki kehidupanku sebagai seorang guru. Kala itu, tidak sedikit mahasiswa yang juga bekerja sebagai guru, dan hal itu bukanlah sesuatu yang asing.
Aku mulai mengajar di sebuah madrasah ibtidaiyah, lalu merambah ke dunia taman kanak-kanak hingga madrasah diniyah.
Aku menikmati setiap waktu yang kujalani. Aku senang menatap mata bening murid-muridku yang menyimpan begitu banyak harapan. Di balik kerumitan latar belakang keluarga mereka, aku ingin menjadi seseorang yang bisa mereka percaya. Setidaknya, di sekolah, aku ingin menjadi sosok ibu bagi mereka: seseorang yang menghibur, mengajari, menjadi sandaran, dan menyediakan ruang bagi mereka untuk bercerita.
Semakin lama mengajar, semakin kusadari bahwa murid-muridku datang ke kelas bukan hanya dengan membawa buku dan alat tulis. Mereka membawa kehidupan masing-masing. Ada cerita tentang keluarga, kesulitan, harapan, rasa takut, serta hal-hal yang mungkin belum mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata.
Terkadang, yang mereka butuhkan bukan sekadar penjelasan tentang suatu konsep keilmuan, melainkan pemahaman tentang kehidupan. Sesuatu yang membantu mereka tersenyum, menumbuhkan resiliensi, dan membangun ketahanan untuk menghadapi berbagai persoalan yang mungkin akan mereka temui di kemudian hari.
Aku juga mulai menyadari bahwa murid-murid tidak hanya membutuhkan telinga yang bersedia mendengarkan materi pembelajaran. Mereka juga membutuhkan ruang untuk menggunakan suara mereka sendiri: bercerita, bertanya, mengungkapkan rasa ingin tahu, dan menyampaikan hal-hal yang mungkin mengganjal di hati, tentu dalam batas-batas yang sesuai.
Rasa percaya dan aman adalah sesuatu yang mungkin semakin sulit ditemukan. Karena itu, aku ingin ruang belajar menjadi tempat ketika mereka tidak hanya memperoleh ilmu, tetapi juga merasa diterima dan dihargai.
Di antara semua itu, aku menemukan kebahagiaan yang sulit kujelaskan dengan ukuran materi.
Celoteh riang dan tawa mereka, pemahaman baru yang mereka peroleh, serta harapan yang terpancar dari mata mereka menghadirkan sebuah balasan yang tidak bisa dinilai dengan uang.
Kebahagiaan itu mungkin sering dianggap sepele, padahal nilainya begitu besar. Terkadang, ia bersembunyi di balik kalimat sederhana seorang murid, di balik senyum setelah sebuah keberhasilan kecil, atau dalam perubahan sikap seorang anak yang perlahan mulai percaya bahwa dirinya berharga.
Aku tidak tahu apakah semua itu cukup untuk menjawab pertanyaan tentang masa depanku.
Aku tahu, penghasilan seorang guru tidak selalu sebanding dengan banyaknya hal yang harus kupikirkan, beragam persiapan yang harus kulakukan, serta tuntutan yang terkadang datang silih berganti. Aku juga tahu bahwa kehidupan sebagai guru, terlebih guru honorer, tidak selalu memberikan kepastian. Mencintai pekerjaan pun tidak serta-merta membuat kebutuhan rumah tangga menjadi lebih ringan.
Namun, bagiku, ada sesuatu yang berbeda.
Ini bukan semata-mata soal banyaknya penghasilan yang diterima, melainkan juga tentang keberkahan yang nilainya terasa jauh melampaui sekadar kelimpahan materi.
Begitu pula dengan suamiku. Awal tahun 2009, aku menikah dengan seorang laki-laki yang juga berprofesi sebagai guru. Kami sama-sama mencintai dunia pendidikan dan sama-sama memiliki ketertarikan yang besar terhadap ilmu pengetahuan.
Bagi kami, mencari ilmu ibarat meminum air laut. Semakin banyak yang kami pelajari, semakin terasa bahwa masih begitu banyak hal yang belum kami ketahui. Alih-alih menghilangkan dahaga, ilmu justru membuat kami semakin haus untuk belajar.
Dari kecintaan yang sama itulah, kami memiliki mimpi dan ambisi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Namun, pada kenyataannya, kehidupan tidak selalu menyediakan jalan yang lapang.
Biaya pendidikan bukan perkara mudah. Ada kebutuhan keluarga yang harus didahulukan, ada tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan, dan ada begitu banyak pertimbangan yang perlu diselesaikan sebelum sebuah keinginan bisa diwujudkan. Terlebih lagi, anak-anak kami mulai beranjak dewasa. Kurang dari dua tahun lagi, anak sulung kami akan memasuki bangku perkuliahan.
Terkadang, aku bertanya kepada suamiku, “Apakah kita egois jika masih berharap bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sementara anak-anak kita juga akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit?” Apalagi, jika melihat status pekerjaan kami, kami masih berjuang sebagai guru honorer.
Kami tahu ada keadaan yang tidak bisa dipaksakan dan ada kenyataan yang harus dipertimbangkan dengan bijaksana. Kami berusaha melakukan yang terbaik semampu kami, meskipun terkadang terasa bahwa kami terlalu larut dalam kecintaan terhadap pendidikan hingga mengabaikan hak-hak yang semestinya kami dapatkan.
Ah, barangkali suatu hari nanti kesempatan itu akan datang. Namun, jika pun tidak di dunia ini, kami ingin meyakini bahwa kecintaan terhadap ilmu dan pengabdian untuk membagikan pengetahuan tidak akan menjadi sesuatu yang sia-sia di hadapan Tuhan.
Setidaknya, itulah keyakinan yang ingin kami jaga.
***
Suatu waktu, seseorang pernah bertanya kepadaku, apa gunanya terus mengejar pendidikan tinggi jika pada akhirnya hanya menjadi guru honorer?
Aku tidak langsung membantahnya. Mungkin bagi sebagian orang, pendidikan diukur dari jenjang karier dan materi. Namun, bagiku, belajar bukan tentang gelar yang tercantum di belakang nama. Aku ingin terus membaca, berdiskusi, dan memperluas pandangan karena aku ingin menjadi seorang guru pembelajar. Seseorang yang tidak pernah berhenti dididik oleh kehidupan.
Jika kesempatan meraih gelar itu datang, itu adalah bonus. Namun, jika pun belum, jalanku untuk terus bertumbuh tidak akan pernah berhenti. Sebab, seorang pendidik harus bersedia terus belajar dan membiarkan dirinya dididik oleh kehidupan.
***
Malam semakin larut ketika aku kembali memandangi foto itu.
Wajah Ibu masih hidup dalam ingatanku, meskipun waktu telah mengambil begitu banyak hal dari kehidupan kami.
Aku membayangkan dirinya ketika masih muda. Ia adalah seorang perempuan yang pernah belajar tentang pendidikan, yang mungkin pernah membayangkan dirinya berdiri di depan kelas, mengajar anak-anak, dan menjalani kehidupan yang berbeda dari kehidupan yang akhirnya ia pilih.
Aku tidak tahu apakah ia masih mengingat mimpinya setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan sebagai seorang istri dan ibu. Aku juga tidak tahu apakah terkadang ia bertanya-tanya tentang jalan yang tidak jadi ditempuhnya.
Aku bahkan tidak tahu apakah ia akan merasa bahagia jika melihatku sekarang.
Aku hanya bisa membayangkan.
Barangkali, Ibu akan tersenyum saat melihat anak perempuannya berdiri di depan kelas. Barangkali, ia akan kembali mengingat masa mudanya sendiri. Atau mungkin, ia akan merasa khawatir melihatku menjalani kehidupan sebagai seorang guru yang belum sepenuhnya mapan.
Namun, waktu Ibu telah habis.
Tidak ada lagi pertanyaan yang bisa kuajukan kepadanya. Ia pun tidak lagi memiliki kesempatan untuk menjawabnya secara langsung.
Aku tidak ingin terus-menerus bertanya kepada diriku sendiri apakah Ibu menyesal karena aku mewujudkan mimpi yang dahulu tertunda. Aku juga tidak tahu apakah ia akan bangga melihatku dan tersenyum dari kejauhan.
Semua itu hanya bisa menjadi bagian dari bayanganku.
Namun, kemudian aku kembali berpikir bahwa hidupku tidak harus menjadi pengganti kehidupan siapa pun.
Mimpi ini adalah mimpiku. Jalan ini adalah jalan hidup yang kupilih.
Aku adalah aku. Aku bukan Ibu.
Aku memiliki pilihan, harapan, ketakutan, dan perjalanan yang berbeda. Aku tidak harus menempuh jalan yang sama untuk membuktikan bahwa aku ingin membuatnya bangga.
Aku menjadi guru karena memang ingin menjadi guru. Aku ingin melanjutkan pendidikan karena aku adalah seseorang yang ingin terus belajar. Aku ingin mengukir prestasi, menghasilkan karya, dan mengejar mimpi-mimpi yang mungkin belum mampu kujelaskan kepada siapa pun.
Sebab hidupku belum berakhir. Aku masih memiliki kesempatan untuk bertumbuh, dan aku berhak menjalani semua itu tanpa harus merasa bersalah karena memilih jalan yang berbeda dari harapan orang lain.
Barangkali, memang ada sesuatu dari Ibu yang hidup dalam diriku. Bukan hanya wajah yang mirip atau kenangan yang diwariskan, melainkan juga kecintaan terhadap dunia pendidikan yang pernah menjadi bagian dari kehidupannya.
Namun, jika memang ada mimpi yang sedang kuteruskan, aku ingin meneruskannya dengan caraku sendiri.
Dengan keberanian untuk terus bertumbuh, meskipun usia semakin bertambah dan keadaan tidak selalu mudah. Aku ingin suatu hari nanti menuliskan kisah hidupku dengan bangga. Sebuah cerita yang kelak bisa kubagikan kepada anak-anak, cucu-cucu, dan generasi setelahku.
Tentang pahit getir yang harus kulalui, tentang senyum dan air mata, tentang jatuh dan bangun, tentang perjalanan panjang yang terkadang melelahkan, serta tentang harapan yang pernah memudar sebelum akhirnya kembali bercahaya.
Aku ingin meninggalkan sesuatu yang bisa menjadi pembelajaran bagi mereka. Bukan karena hidupku luar biasa, melainkan karena setiap kehidupan selalu memiliki cerita yang layak dipetik hikmahnya. Aku tidak tahu seberapa jauh semua keinginan itu akan membawaku. Yang kutahu, malam ini aku masih berusaha menapaki jalan kehidupan. Dalam setiap embusan napas, dalam setiap langkah yang kuambil, dan dalam segala perasaan yang terkadang bahkan belum mampu kupahami sepenuhnya, aku terus belajar menerima bahwa tidak semua pertanyaan akan menemukan jawaban.
Aku mungkin tidak akan pernah benar-benar memahami seluruh pilihan yang dibuat Ibu. Dan mungkin, suatu hari nanti, anak-anakku pun akan mempertanyakan keputusan-keputusan yang kuambil dalam hidupku.
Namun, begitulah kehidupan.
Kita memilih berdasarkan apa yang kita pahami, apa yang kita cintai, dan apa yang sanggup kita hadapi pada saat itu. Kita tidak pernah benar-benar tahu ke mana pilihan tersebut akan membawa kita. Kita hanya bisa berusaha menjalaninya sebaik mungkin, sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.
Semoga, apa pun yang telah dan sedang kita usahakan, pada akhirnya membawa kita menuju cahaya yang menjauhkan diri kita dari gulita.
Dan jika suatu hari nanti aku kembali memandangi foto itu, aku ingin mampu tersenyum, bukan hanya karena menemukan wajah Ibu dalam diriku, melainkan juga karena telah berani menjalani kehidupanku sendiri.
Barangkali, aku memang sedang meneruskan mimpi Ibuku. Namun, kali ini, aku ingin berjalan dengan langkahku sendiri.
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi