Malam itu aku menutup ruang Zoom setelah menuntaskan tugasku sebagai pemandu sebuah komunitas dalam menghafal dan tilawah Surah Al-Kahfi. Tugas rutin yang biasa kulakukan setiap Kamis malam.
Masih terekam jelas di kepalaku suara-suara mereka yang melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan begitu indah dan syahdu. Hingga pada akhirnya aku menutup pertemuan dengan salam, doa, dan ucapan, “Sampai jumpa di pertemuan pekan depan.”
Aku terdiam setelah mengucapkannya.
Pekan depan?
Apakah aku masih memiliki kesempatan untuk mengucapkan kalimat itu lagi?
Semuanya terasa aneh.
Jujur saja, masih ada seberkas sesak yang mengaliri jiwaku di balik senyum yang kutampilkan malam itu. Mungkin hari ini aku masih bisa menjadi pendamping bagi orang lain, mengantarkan mereka menyusuri ayat-ayat Al-Qur’an yang begitu mulia. Mungkin suaraku memang terdengar seperti suara seseorang yang baik-baik saja.
Padahal sebenarnya, ada gejolak yang sedang berkecamuk di dalam diri.
Gelombang besar yang datang tanpa diundang.
Aku teringat berita-berita tentang laut selatan Jawa Barat, tentang pantai-pantai yang sejak lama menyimpan kemungkinan datangnya gelombang besar. Orang-orang menyebutnya tsunami.
Aku tiba-tiba berpikir, mungkin perasaan manusia juga memiliki gelombangnya sendiri.
Kadang ia datang setelah sebuah “gempa”.
Namun kadang ia datang begitu saja, dipicu oleh sesuatu yang bahkan tidak sempat kita pahami.
Begitu pula perasaan.
Ia bisa datang ketika aku sedang mengajar, bercanda bersama anak-anak, berbicara dengan rekan-rekan komunitas, atau bahkan ketika semuanya tampak baik-baik saja.
Tiba-tiba gelombang itu datang.
Dan dalam sekejap, ia meluluhlantakkan segala sesuatu yang sebelumnya telah kubentengi dengan susah payah.
Seperti hari ini.
Awalnya hanya sebuah kalimat sederhana. Kalimat yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa.
Namun bagiku, kalimat itu menghantam tepat ke jantungku.
Menghantam benteng yang selama ini kubangun begitu kokoh.
Benteng yang ternyata, tanpa kusadari, memiliki banyak retakan.
Aku mendengarnya dengan kesadaran yang masih utuh. Tetapi tiba-tiba segala sesuatu yang selama ini kusimpan muncul bersamaan.
Kekecewaan.
Kemarahan.
Kesedihan.
Dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah benar-benar menemukan jawaban.
Apakah aku layak didengar?
Apakah aku cukup berarti bagi seseorang?
Tidak perlu bagi semua orang.
Cukup bagi seseorang yang pernah menggenggam tanganku, menyematkan sebuah cincin, lalu mengangkatku dari dasar jurang dan membawaku percaya bahwa aku masih layak memiliki kehidupan.
Lalu mengapa aku harus terus menjelaskan rasa sakit yang kurasakan?
Mengapa aku harus terus menerangkan sesuatu yang bahkan terkadang begitu sulit kubahasakan kepada diriku sendiri?
Gelombang itu semakin tinggi.
Aku marah.
Aku sedih.
Aku ingin menangis.
Sungguh, aku ingin berhenti menjadi siapa-siapa untuk sementara waktu.
Bukan sebagai guru.
Bukan sebagai ibu.
Bukan sebagai istri.
Bukan sebagai aktivis dakwah.
Aku bahkan tidak ingin menjadi seseorang yang harus terus tersenyum dan memenuhi segala hal yang mungkin orang lain perlukan dariku.
Aku hanya ingin menjadi manusia yang boleh berkata,
“Aku lelah.”
Tanpa harus segera menjelaskan kenapa.
Aku hanya ingin duduk sebentar.
Membiarkan air mata jatuh.
Membiarkan dunia berjalan tanpa harus selalu mengejarnya.
Namun hidup rupanya tidak selalu memberiku kesempatan untuk bersembunyi.
Ada tugas yang harus dilaksanakan.
Ada orang-orang yang menungguku.
Ada amanah yang tidak bisa begitu saja kutinggalkan.
Maka aku mengenakan topengku kembali.
Tersenyum.
Berbicara dengan nada ramah.
Menyelesaikan apa yang harus kuselesaikan.
Seolah-olah aku baik-baik saja.
Seolah-olah tidak ada apa-apa.
Padahal ada sebuah tsunami yang baru saja menghantam jiwaku.
Malam semakin larut.
Aku membuka jendela.
Udara masuk perlahan.
Tidak ada suara deburan ombak.
Tidak ada gempa yang membuat orang berlarian.
Tidak ada langit yang runtuh.
Tidak ada air yang menggenangi daratan.
Hanya malam yang tenang.
Namun lagi-lagi aku menyadari sesuatu.
Tsunami tidak selalu menghancurkan seluruh dunia.
Kadang ia hanya menghancurkan bagian-bagian dari diri kita yang memang sudah terlalu rapuh.
Ia merobohkan sesuatu yang selama ini kita kira harus dipertahankan.
Ia menyeret pergi kesombongan kecil yang berbisik,
“Aku sanggup sendiri.”
Ia juga mengikis keyakinan bahwa mengambil jeda berarti kita gagal.
Bahwa meminta pertolongan berarti kita lemah.
Bahwa kita harus terus berdiri bahkan ketika kaki sudah tidak mampu menopang tubuh.
Namun setelah gelombang surut, pantai tetap ada.
Mungkin berantakan.
Penuh serpihan.
Tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Tetapi pantai tetap ada.
Begitu pula diriku.
Aku pun tidak harus menjadi diriku yang kemarin.
Aku hanya perlu memastikan bahwa aku masih ada.
Bahwa malam ini aku masih bernapas.
Masih mampu mengakui,
“Aku kembali tidak baik-baik saja.”
Dan ternyata kalimat itu tidak menjadikanku lebih lemah.
Justru mungkin itulah bentuk kejujuran paling sederhana kepada diriku sendiri.
Aku memandang langit.
Gelap.
Belum ada tanda-tanda fajar.
Tetapi pagi tidak pernah gagal datang hanya karena malam terasa terlalu panjang.
Mungkin begitu pula hidupku.
Gelombang pasang akan datang lagi.
Aku tidak tahu kapan.
Aku tidak tahu setinggi apa.
Dan mungkin aku tidak akan selalu siap ketika ia datang.
Namun kini aku mulai memahami bahwa tidak semua gelombang harus kulawan dengan berdiri tegak.
Ada kalanya aku hanya perlu bertahan di tempat yang aman.
Berpegangan pada sebuah keyakinan.
Menunggu pertolongan-Nya.
Aku tidak perlu berenang melawan arus.
Tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun.
Aku hanya perlu bertahan.
Satu malam.
Satu jam.
Satu tarikan napas.
Lalu satu tarikan napas berikutnya.
Hingga suatu saat aku kembali tersenyum.
Bukan karena aku sudah baik-baik saja.
Bukan karena semua masalah telah selesai.
Bukan karena aku sudah menemukan jawaban atas seluruh pertanyaan.
Tetapi karena setelah gelombang sebesar itu datang tanpa pernah kuduga, ternyata aku masih berada di sini.
Masih bisa mendengar suara malam.
Masih bisa merasakan udara dingin menyentuh kulit.
Masih bisa menggerakkan bibir untuk menyebut nama Tuhanku, meski dengan suara yang gemetar.
Dan mungkin, untuk malam ini, itu sudah cukup.
Barangkali bertahan memang tidak selalu terlihat seperti seseorang yang berdiri gagah di atas tebing.
Kadang bertahan hanya terlihat seperti seorang perempuan yang duduk sendirian di tepi tempat tidurnya, mengusap air matanya, lalu berkata kepada dirinya sendiri,
“Aku ingin mencoba percaya lagi.”
Kalaupun bukan kepada orang lain, setidaknya kepada diriku sendiri.
Bukan karena aku yakin hidup akan selalu indah.
Bukan karena aku percaya diriku akan selalu kuat menghadapi setiap gelombang.
Tetapi karena aku percaya bahwa setiap gelombang, sebesar apa pun, pada akhirnya akan surut.
Dan ketika ia surut nanti, aku ingin masih berada di sini.
Bukan untuk membuktikan bahwa aku lebih kuat daripada siapa pun.
Bukan untuk membuat seseorang menyesal.
Bukan untuk menunjukkan bahwa aku tidak membutuhkan siapa-siapa.
Aku hanya ingin melihat apa yang akan tumbuh di tanah yang sempat dihantam gelombang.
Mungkin keberanian.
Mungkin doa-doa yang akhirnya menemukan jalannya.
Mungkin sebuah hati yang belajar menyerahkan segala sesuatu yang tidak mampu dikendalikannya.
Atau mungkin hanya seorang perempuan yang akhirnya memahami bahwa dirinya tidak harus sempurna untuk tetap berharga.
Malam ini aku belum sembuh.
Aku masih marah.
Masih kecewa.
Masih lelah.
Masih ada bagian dari diriku yang belum tahu harus berjalan ke mana.
Tetapi setidaknya malam ini aku tidak lagi memaksa diriku untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Aku hanya ingin menyerahkan apa yang tidak mampu kupikul kepada Dia yang Mahakuat.
Sebab pada akhirnya, tidak ada daya dan upaya kecuali atas pertolongan-Nya.
Di luar sana, laut mulai tenang.
Dan aku masih tetap di sini.
Bukan karena aku selalu kuat.
Bukan karena aku selalu tahu bagaimana caranya bertahan.
Tetapi karena qudrah dan iradah-Nya, karena kasih sayang-Nya, dan karena entah bagaimana, di tengah gelombang yang berkali-kali datang, Dia masih memberiku kesempatan untuk berkata:
Aku masih di sini.
Dan untuk malam ini,
itu sudah cukup.
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi