Pernahkah kamu bertemu seseorang yang selalu merasa bingung dalam berbagai situasi?
Ada uang bingung, tidak ada uang juga bingung. Ada pekerjaan mengeluh, tidak ada pekerjaan semakin gelisah. Jomblo bingung, punya pasangan pun tetap bingung. Fenomena ini bisa disebut sebagai GOLBING (Golongan Bingung), yaitu orang-orang yang cenderung membingungkan hampir segala hal dalam hidupnya.
Sekilas, kondisi ini terlihat lucu. Namun jika diamati lebih dalam, kebingungan yang terus-menerus dapat menjadi penghambat perkembangan diri. Seseorang yang tidak memahami tujuan hidupnya akan mudah terombang-ambing oleh opini orang lain, mudah iri terhadap pencapaian orang lain, bahkan sulit menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Mengapa Banyak Orang Menjadi “Golongan Bingung”?
Menariknya terdapat dua penyebab utama seseorang selalu merasa bingung.
Pertama, mereka tidak mampu mendefinisikan secara mandiri apa yang sedang mereka lakukan.
Kedua, ketika sudah memiliki definisi sendiri, mereka tidak cukup percaya diri untuk mempertahankannya sehingga akhirnya mengikuti definisi yang dibuat orang lain.
Contohnya sederhana. Ketika ditanya mengapa bekerja, sebagian besar orang akan menjawab, “Untuk mencari uang.” Namun sangat sedikit yang melanjutkan pertanyaan itu lebih jauh:
Apa sebenarnya makna uang?
Apa tujuan akhir dari uang yang dicari setiap hari?
Saat seseorang berhenti berpikir pada jawaban yang dangkal, ia akan mudah terjebak pada keyakinan bahwa tanpa uang dirinya tidak bisa melakukan apa-apa. Akibatnya, kreativitas menjadi tumpul dan kemampuan mencari solusi menjadi terbatas. Padahal, banyak hal dalam hidup yang dapat diselesaikan melalui relasi, keterampilan, kolaborasi, atau pengetahuan, bukan semata-mata uang.
Definisi Kekayaan yang Terlalu Sempit
Masalah lain yang sering membuat seseorang bingung adalah cara memandang kekayaan. Banyak orang mendefinisikan kaya hanya berdasarkan jumlah uang yang dimiliki. Padahal, kekayaan memiliki dimensi yang jauh lebih luas.
Seseorang yang memiliki banyak waktu bersama keluarga bisa disebut kaya waktu. Orang yang memiliki wawasan luas dan kemampuan berpikir kritis bisa disebut kaya ilmu. Mereka yang memiliki jaringan pertemanan yang kuat bisa disebut kaya relasi. Bahkan seseorang yang memiliki kesehatan prima juga termasuk kaya karena memiliki aset yang tidak semua orang miliki.
Sayangnya, banyak orang tidak percaya pada definisi yang mereka bangun sendiri. Ketika lingkungan mengatakan bahwa ukuran kesuksesan adalah uang, mereka pun ikut percaya. Akibatnya, muncul rasa minder, iri, dan tidak pernah merasa cukup meskipun sebenarnya mereka memiliki kelebihan di bidang lain.
Kebingungan Berasal dari Kurangnya Kesadaran Diri
Pada dasarnya, kebingungan bukanlah masalah informasi semata, melainkan masalah kesadaran diri. Banyak orang menjalani hidup seperti mengikuti arus. Mereka bekerja karena orang lain bekerja. Menikah karena orang lain menikah. Membuka usaha karena tren sedang mengarah ke sana.
Ketika ditanya alasan sebenarnya, mereka kesulitan menjawab.
Inilah yang membuat seseorang mudah kehilangan arah. Saat menghadapi masalah, mereka tidak memiliki kompas pribadi yang dapat dijadikan pegangan. Akhirnya, setiap keputusan terasa berat dan membingungkan.
Padahal, hidup yang bermakna dimulai dari kemampuan memahami alasan di balik setiap tindakan. Ketika seseorang mengetahui “mengapa” ia melakukan sesuatu, maka “bagaimana” menjalankannya akan jauh lebih mudah.
Literasi Sebagai Solusi Mengatasi Golongan Bingung
Lalu bagaimana cara keluar dari jebakan Golongan Bingung?
Salah satu jawabannya adalah literasi.
Literasi bukan sekadar kemampuan membaca huruf dan kata. Literasi adalah kemampuan memahami informasi, mengolahnya, lalu menggunakannya untuk mengambil keputusan yang lebih baik.
Melalui membaca buku, artikel, jurnal, atau karya-karya inspiratif, seseorang akan menemukan banyak perspektif baru. Ia belajar bahwa hidup tidak selalu harus dilihat dari satu sudut pandang. Ia memahami bahwa kekayaan bukan hanya soal uang, kebahagiaan bukan hanya soal pencapaian, dan kesuksesan tidak selalu berarti menjadi lebih hebat dari orang lain.
Orang yang rajin membaca biasanya memiliki kemampuan refleksi yang lebih baik. Mereka terbiasa bertanya:
- Mengapa saya melakukan ini?
- Apa tujuan hidup saya?
- Nilai apa yang ingin saya perjuangkan?
- Definisi sukses seperti apa yang saya yakini?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah fondasi penting untuk mengurangi kebingungan dalam hidup.
Menulis Membantu Menemukan Jati Diri
Selain membaca, kegiatan menulis juga menjadi sarana yang sangat efektif untuk keluar dari kebingungan.
Ketika menulis, seseorang dipaksa untuk merapikan pikirannya. Ide yang semula berantakan mulai tersusun. Emosi yang semula tidak jelas mulai menemukan bentuknya.
Banyak orang merasa hidupnya rumit bukan karena masalahnya terlalu besar, melainkan karena pikirannya terlalu penuh dan tidak pernah dituangkan.
Cobalah menulis jurnal harian. Tuliskan apa yang sedang dirasakan, apa yang sedang diperjuangkan, dan apa yang ingin dicapai. Dari kebiasaan sederhana ini, seseorang akan lebih mudah mengenali dirinya sendiri.
Menulis juga membantu membangun kepercayaan diri terhadap definisi hidup yang dimiliki. Ketika seseorang terus-menerus merefleksikan nilai dan prinsipnya melalui tulisan, ia tidak akan mudah goyah oleh penilaian orang lain.
GEMBIRA: Ruang Bertumbuh Melalui Literasi dan Karya
Di sinilah peran komunitas seperti GEMBIRA menjadi sangat penting. GEMBIRA dapat menjadi ruang belajar bersama bagi siapa saja yang ingin meningkatkan literasi, mengembangkan kemampuan menulis, serta memperluas wawasan.
Melalui kegiatan membaca, diskusi, pelatihan menulis, dan berbagi karya, anggota GEMBIRA tidak hanya mendapatkan ilmu baru, tetapi juga kesempatan untuk mengenal dirinya lebih dalam.
Ketika seseorang aktif dalam komunitas literasi, ia akan terbiasa bertukar gagasan, mendengarkan perspektif yang berbeda, dan melatih kemampuan berpikir kritis. Proses ini secara perlahan membantu seseorang membangun definisi hidup yang lebih matang dan lebih kokoh.
Dengan kata lain, GEMBIRA bukan hanya tempat belajar menulis, tetapi juga wadah untuk menemukan makna, tujuan, dan arah kehidupan melalui kekuatan literasi.
Lalu Bagaimana?
Fenomena Golongan Bingung sesungguhnya bukan masalah kurang pintar atau kurang beruntung. Akar persoalannya sering kali terletak pada ketidakmampuan mendefinisikan tujuan hidup secara mandiri dan kurangnya keberanian mempertahankan definisi tersebut.
Karena itu, solusi terbaik bukan sekadar mencari lebih banyak uang, pekerjaan, atau pengakuan dari orang lain. Solusi yang lebih mendasar adalah meningkatkan literasi, memperbanyak membaca, membiasakan menulis, serta bergabung dengan lingkungan positif seperti GEMBIRA yang mendukung proses belajar dan bertumbuh.
Sebab pada akhirnya, orang yang memahami dirinya sendiri akan lebih mudah menemukan arah. Dan ketika arah hidup sudah jelas, kebingungan yang selama ini menghantui perlahan akan berubah menjadi keyakinan untuk melangkah menuju masa depan yang lebih bermakna.
No Comment! Be the first one.