Malam yang Terlalu Lelah
Malam ini datang tanpa membawa hujan. Udara terasa begitu kering, tetapi entah mengapa hatiku justru jauh lebih basah daripada langit yang paling temaram.
Malam itu aku pulang bersama dia, kekasih halalku yang telah mendampingi hari-hariku selama tujuh belas tahun. Jalanan mulai lengang. Lampu-lampu kota memantulkan cahaya keemasan di atas aspal yang masih menyimpan sisa-sisa hangat siang tadi. Kami tidak banyak bercakap. Sesekali hanya saling melempar senyum melalui pantulan kaca spion, seolah dunia sedang memberi jeda yang begitu singkat agar kami kembali mengingat betapa indahnya saling mencintai.
Sejenak kami kembali menjadi dua sejoli yang sedang dimabuk asmara.
Aku menyandarkan kepala di bahunya sambil memeluk erat pinggangnya.
Tubuhku terasa begitu ringan, namun pada saat yang sama juga sangat lelah. Bukan lelah karena perjalanan malam itu, melainkan lelah yang telah lama menetap, seperti seorang tamu yang lupa cara berpamitan.
Sesampainya di rumah, segala sesuatu kembali berjalan sebagaimana biasanya.
Pintu dibuka.
Lampu dinyalakan.
Tas kami letakkan di sudut ruangan.
Esok pagi masih ada kelas yang harus kuhadapi. Masih ada naskah buku solo yang belum juga selesai kutulis. Masih ada seragam sekolah yang harus kusiapkan. Aku memandang anak-anakku yang ternyata telah lebih dahulu terlelap di kamar mereka masing-masing. Wajah-wajah kecil itu terlihat begitu damai, seakan dunia belum pernah mengajarkan betapa beratnya menjadi dewasa.
Aku kadang merasa hidupku tak pernah benar-benar memiliki jeda.
Barangkali memang begitulah kehidupan. Ia sering kali tidak memberi kesempatan kepada seseorang untuk sekadar berkata, “Aku lelah.” Sebab sebelum kalimat itu selesai terucap, selalu ada tugas lain yang menunggu untuk diselesaikan.
Aku mencoba memejamkan mata, tetapi tidur terasa begitu sulit diraih, padahal tubuhku telah lama meminta haknya untuk beristirahat.
Seperti biasanya, kuambil butiran-butiran obat malam yang rutin menemaniku. Kutelan satu per satu bersama segelas air, lalu kubaringkan tubuhku sambil berharap malam ini kepalaku bersedia diam barang sejenak.
Tidak sampai setengah jam, kantuk mulai datang.
Untuk pertama kalinya hari itu, aku merasa bisa melepaskan diri dari riuhnya isi kepala yang sering kali begitu sulit dibungkam. Suara-suara itu perlahan menjauh, dan kesadaranku mulai tenggelam bersama gelap.
Namun ternyata malam itu aku bukan sekadar tidur.
Aku merasa sedang melangkah memasuki sebuah lorong yang sangat panjang. Lorong yang begitu asing, tetapi anehnya terasa begitu akrab dengan keseharianku.
Tidak ada suara.
Tidak ada warna.
Hanya kesunyian yang berjalan berdampingan denganku.
Aku mencoba mengingat bagaimana aku bisa berada di sana.
Tidak ada jawaban.
Aku mencoba mengingat jalan pulang.
Tetap tidak ada jawaban.
Aku hanya terus berjalan, seolah langkah-langkah kakiku dikendalikan oleh sesuatu yang bahkan tak mampu kulihat.
Di kejauhan tampak sebuah cahaya yang redup.
Aku tidak tahu apakah itu jalan keluar yang selama ini kucari, atau justru awal dari sebuah mimpi yang akan membuatku sulit membedakan mana kenyataan dan mana ilusi.
Tidak ada pilihan.
Aku hanya bisa terus melangkah…
Tanpa pernah kusadari bahwa malam itu aku sedang memasuki sebuah perjalanan yang, ketika aku benar-benar terbangun nanti, akan meninggalkan sesak yang begitu lama menetap di dalam jiwaku.
Lorong Tanpa Ingatan
Aku terus berjalan melewati lorong itu.
Lorong yang ternyata seolah tak pernah memiliki ujung.
Aku terus melangkah tanpa mengetahui ke mana langkah-langkahku akan membawaku. Semakin jauh aku berjalan, semakin sulit bagiku membedakan jejak waktu. Entah ini pagi, siang, ataupun malam. Aku juga tak tahu apakah baru beberapa menit aku berada di sana, atau justru telah berhari-hari tanpa kusadari.
Sesekali kulihat bayangan orang-orang melintas di hadapanku. Wajah mereka terasa begitu akrab, tetapi setiap kali kucoba mengingat siapa mereka, semuanya kembali kabur, seperti embun pagi yang lenyap ketika mentari mulai menghangatkan bumi.
Aku mencoba memanggil.
Tak seorang pun menoleh.
Aku berlari.
Namun lorong itu justru terasa semakin panjang.
Hingga pada suatu titik, aku melihat seorang perempuan berdiri di tepi jalan yang begitu ramai. Kendaraan berlalu-lalang tanpa henti. Lampu-lampu kota berkelebat menjadi garis-garis cahaya yang memusingkan.
Aku ingin memanggil perempuan itu.
Aku bingung harus memanggilnya dengan nama apa.
Namun aku tahu…
Perempuan itu adalah diriku.
Suaraku tak pernah benar-benar sampai kepadanya. Ia terus berjalan dengan tatapan kosong, seolah sedang mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri tak tahu apa namanya. Ia terus melangkah tanpa mengetahui ke mana tujuan akhirnya.
Di kejauhan seseorang memanggil namaku.
Satu suara berubah menjadi dua.
Dua menjadi banyak.
Semakin lama semakin ramai.
Aku tak lagi mampu membedakan mana suara yang memanggilku pulang dan mana suara yang hanya bergema di dalam kepalaku.
Semuanya bercampur menjadi riuh yang membuat dadaku terasa begitu sesak.
Lalu…
Segalanya menjadi gelap.
Aku tak lagi mengingat apa pun.
Ketika kembali membuka mata, langit-langit putih menyambut pandanganku.
Aroma antiseptik memenuhi udara. Suara langkah kaki terdengar silih berganti dari lorong luar. Aku memejamkan mata sekali lagi, berharap semua itu hanyalah sisa mimpi.
Namun ketika kubuka kembali, ruangan itu masih tetap sama.
Beberapa orang berdiri di dekat tempat tidurku. Tatapan mereka menyimpan kelegaan yang sulit dijelaskan, seolah baru saja menemukan sesuatu yang hampir hilang.
“Alhamdulillah… akhirnya sadar juga.”
Kalimat itu terdengar lirih.
Aku menatap mereka bergantian.
“Aku… ada di mana?”
Tak seorang pun langsung menjawab. Mereka hanya saling berpandangan.
Seseorang di antara mereka tersenyum tipis, lalu bertanya dengan suara yang begitu pelan,
“Kamu tidak ingat apa pun?”
Aku menggeleng.
Benar-benar tidak ingat.
Yang kuingat hanyalah lorong panjang… dan cahaya redup di kejauhan.
Setelah itu semuanya kosong.
Seolah ada beberapa halaman dari ingatanku yang sengaja dihapus.
Aku mencoba memaksa kepalaku mengingat kembali. Namun semakin keras aku berusaha, semakin nyeri rasanya.
Akhirnya aku menyerah.
Mungkin memang ada hal-hal yang belum siap diungkapkan oleh ingatanku. Atau mungkin, Allah sedang menyembunyikan sebagian cerita sampai aku benar-benar siap menerimanya.
Beberapa saat kemudian, seseorang datang membawa sebuah map berwarna hijau yang terasa begitu akrab di mataku. Ia meletakkannya di atas meja kecil di samping tempat tidur.
“Ada beberapa berkas yang perlu kamu tandatangani sebelum pulang.”
Aku mengangguk pelan.
Entah mengapa, aku tak sanggup membuka map itu. Ada kegelisahan yang sulit kujelaskan hanya dengan memandanginya.
Akhirnya kutandatangani lembar demi lembar tanpa sempat benar-benar membacanya.
Baru setelah semuanya selesai, mereka menyerahkan salinan berkas-berkas itu kepadaku.
Aku menerimanya dengan tangan yang masih gemetar.
Tanpa kusadari, beberapa lembar kertas itulah yang sebentar lagi akan membuatku mempertanyakan kembali semua yang selama ini kuanggap sebagai kenyataan.
Berkas yang Belum Selesai
Aku masih memegang map hijau itu ketika seseorang mengantarkanku pulang.
Langkahku terasa begitu ringan, tetapi kepalaku justru semakin berat. Aku masih belum mengingat apa yang sebenarnya terjadi beberapa hari terakhir. Semua orang seolah mengetahui sebuah cerita yang justru hilang dari ingatanku sendiri.
Di luar, matahari bersinar begitu terang.
Aneh.
Cahaya yang hangat itu tetap tak mampu menghangatkan dadaku.
Mobil yang menjemputku perlahan meninggalkan rumah sakit. Aku hanya memandangi jalanan dari balik jendela. Kulihat orang-orang berlalu-lalang seperti hari-hari biasanya. Para pedagang masih sibuk menawarkan dagangannya. Anak-anak berseragam sekolah berjalan sambil bercanda tanpa beban.
Dunia tetap berjalan seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Hanya aku…
Aku yang merasa tertinggal beberapa langkah dari kehidupan.
Bagaikan sebuah lukisan yang kehilangan satu warna, atau kepingan puzzle yang hilang sehingga gambarnya tak lagi utuh.
Sesampainya di rumah, kuletakkan map hijau itu di atas meja.
Aku belum sanggup membukanya.
Entah mengapa, hanya dengan memandang warna sampulnya saja, dadaku sudah terasa sesak. Ada kegelisahan yang begitu sulit kujelaskan.
“Ah… sudahlah. Nanti saja.”
Aku mencoba mengalihkan pikiranku.
Kuseduh segelas teh hangat, lalu kubuka jendela yang menghadap halaman rumahku yang mungil. Angin berembus pelan, membawa aroma dedaunan yang baru saja tersiram embun. Semuanya tampak begitu damai.
Namun kedamaian itu tak pernah berhasil masuk ke dalam hatiku.
Kepalaku masih bising.
Mataku kembali tertuju pada map hijau itu.
Aku menarik napas panjang, lalu perlahan membuka lembar demi lembar isinya.
Halaman pertama berisi identitasku.
Halaman berikutnya berisi hasil pemeriksaan yang sebagian besar tidak kupahami.
Aku terus membalik halaman demi halaman.
Hingga akhirnya pandanganku berhenti pada beberapa kalimat yang membuatku membacanya berulang kali.
Tanganku mulai gemetar.
Aku mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin aku salah memahami tulisan itu. Mungkin pikiranku masih terlalu kacau.
Namun semakin kubaca, semakin besar rasa takut itu tumbuh di dalam diriku.
Aku menelan ludah.
Untuk pertama kalinya sejak membuka map itu, aku tidak lagi takut pada apa yang telah terjadi.
Yang kutakutkan justru adalah apa yang mungkin akan terjadi setelah ini.
Pikiranku melompat ke mana-mana.
Bagaimana jika suatu hari nanti aku benar-benar tak mampu lagi berdiri di depan kelas?
Bagaimana jika aku kehilangan kepercayaan dari orang-orang yang selama ini mempercayaiku?
Bagaimana jika segala mimpi yang kususun perlahan harus berhenti di tengah jalan?
Aku menutup map itu dengan cepat.
Dadaku terasa sesak.
Jantungku berdetak begitu keras hingga seolah ingin keluar dari dadaku.
Aku mencoba berdiri, tetapi kakiku mendadak lemas.
Tanganku bergetar.
Pandanganku mulai nanar.
Aku memandang berkeliling rumah.
Foto keluargaku.
Tas yang biasa kubawa mengajar.
Tumpukan naskah yang belum selesai kutulis.
Seragam yang telah kusiapkan untuk esok pagi.
Semuanya tampak begitu nyata.
Begitu dekat.
Namun entah mengapa, semuanya juga terasa perlahan menjauh dariku.
Aku menggeleng pelan.
Kedua telapak tanganku menutup telinga.
“Tidak…! Ini tidak boleh terjadi…”
Aku mencoba mengusir pikiran-pikiran itu.
Mungkin aku hanya terlalu lelah.
Mungkin setelah tidur semuanya akan kembali baik-baik saja.
Namun ketika pandanganku kembali jatuh pada map hijau yang tergeletak di atas meja, aku menyadari ada satu lembar kertas yang tadi terlewat dari perhatianku.
Lembar itu terselip paling belakang.
Tanpa judul.
Tanpa kop surat.
Hanya beberapa baris kalimat yang diketik begitu rapi.
Aku meraihnya perlahan.
Kubaca setiap hurufnya satu per satu.
Semakin jauh kubaca, napasku justru semakin tersengal.
Aku mengucek kedua mataku, berharap tulisan itu berubah.
Namun huruf-huruf itu tetap sama.
Aku mulai bertanya-tanya…
Apakah benar lembar itu berasal dari rumah sakit?
Atau…
Ada sesuatu yang sejak tadi tidak kusadari sedang terjadi pada diriku?
Ketika Fajar Belum Benar-Benar Datang
Aku masih memandangi lembar terakhir itu.
Huruf-hurufnya tetap sama. Tak berubah sedikit pun meski berkali-kali kupejamkan mata. Dadaku semakin sesak. Jantungku berdetak begitu cepat, seolah ingin meloncat keluar dari rongganya.
Ada sesuatu yang meronta dari dalam kepalaku. Ia memaksa ingin keluar, tetapi tak pernah menemukan jalannya.
Tiba-tiba ruangan di sekelilingku mulai berubah.
Dinding-dinding rumah yang tadi begitu kukenal perlahan memudar. Cahaya mentari yang semula masuk melalui jendela berubah semakin redup.
Aku berdiri.
Atau setidaknya aku merasa sedang berdiri.
Namun lantai yang kupijak tak lagi terasa kokoh. Setiap langkah seolah berada di atas kaca yang rapuh dan siap pecah kapan saja.
Aku mencoba melangkah menuju pintu.
Perlahan kubuka.
Rumahku telah menghilang.
Di hadapanku kembali terbentang lorong panjang tanpa ujung. Lorong yang sebelumnya sempat kutinggalkan.
Aku mundur beberapa langkah.
Detak jantungku semakin cepat.
“Tidak… bukankah aku sudah pulang?”
Bisikku lirih.
Namun lorong itu seolah memanggilku kembali.
Di kejauhan terdengar suara-suara yang begitu kukenal.
“Umi…”
Suara anak-anakku.
“Ibu Guru…”
Suara murid-muridku yang riuh meminta diajari.
Lalu…
Suara lelaki yang selama ini selalu berjalan di sisiku.
Suara kekasih halalku.
Semua suara itu datang bersamaan, saling bersahutan hingga memenuhi lorong yang sunyi.
Aku ingin berlari menuju mereka.
Namun semakin cepat aku berlari, suara-suara itu justru semakin menjauh.
Seolah aku hanya sedang mengejar gema.
Air mataku jatuh tanpa kusadari.
“Aku di sini…”
Suaraku pecah di antara lorong yang tak berujung.
“Abi… anak-anakku… kalian di mana?”
Aku berteriak sekuat tenaga hingga tenggorokanku terasa perih.
“Tolong… aku di sini….”
Namun tak ada jawaban.
Yang terdengar hanyalah gema langkah kakiku sendiri, memantul dari dinding-dinding lorong yang semakin gelap.
Aku mulai kehilangan arah.
Tanpa sadar kupeluk map hijau itu erat-erat.
Entah mengapa, hanya benda itulah yang terasa benar-benar nyata bagiku saat itu.
Lalu…
Di tengah kesunyian itu terdengar sebuah suara.
Begitu pelan.
Begitu lembut.
Berbeda dari suara-suara sebelumnya.
Ia tidak memanggil.
Tidak menghakimi.
Tidak pula memaksaku.
Ia hanya berbisik,
“Bangun….”
Aku menoleh.
Tak ada siapa-siapa.
Suara itu kembali terdengar.
Lebih jelas.
“Ayo… bangun….”
Lorong mulai retak.
Dinding-dindingnya perlahan runtuh menjadi serpihan-serpihan cahaya.
Suara itu kembali terdengar untuk ketiga kalinya.
Kini terasa begitu dekat.
Begitu hangat.
“Mi… bangun… kita salat Subuh.”
Seketika semuanya berubah menjadi terang benderang.
Masih Ada Pagi
Aku membuka mata dengan napas yang memburu.
Dadaku naik turun begitu cepat.
Keringat membasahi dahiku, meski udara Kota Kembang masih begitu dingin menjelang fajar.
Beberapa saat aku hanya terdiam.
Mencoba membedakan mana yang mimpi dan mana yang nyata.
Perlahan kesadaranku kembali utuh.
Aku masih berada di kamarku.
Di sampingku, suamiku menatapku sambil tersenyum lembut.
Dari kamar sebelah terdengar suara anak bungsuku yang mulai terbangun.
Tak lama kemudian, suara iqamah menggema dari masjid dekat rumah.
Aku mengusap wajahku.
Masih ada sisa air mata yang mengering di pipiku.
Aku menoleh ke meja kecil di samping tempat tidur.
Map hijau itu tidak ada.
Rumah sakit itu tidak ada.
Lembar terakhir yang membuatku gemetar pun tidak ada.
Yang ada hanyalah segelas air putih.
Beberapa butir obat pagi yang telah disiapkan suamiku untuk kuminum.
Dan sebuah mushaf Al-Qur’an yang masih terlipat rapi.
Aku menarik napas panjang.
“Alhamdulillah….”
Hanya itu yang mampu keluar dari bibirku.
Mimpi itu memang telah berakhir.
Namun sesaknya masih tertinggal.
Aku tidak tahu mengapa Allah memperlihatkan mimpi itu kepadaku.
Mungkin bukan untuk menakutiku.
Mungkin Dia hanya ingin mengingatkanku bahwa hidup ini terlalu berharga untuk disia-siakan.
Bahwa masih ada anak-anak yang menjadikanku dunianya.
Masih ada murid-murid yang menantikan cerita-ceritaku di depan kelas.
Masih ada seseorang yang selama tujuh belas tahun memilih berjalan bersamaku.
Dan masih begitu banyak doa yang belum selesai diaminkan.
Aku tahu…
Perjuanganku belum selesai.
Mungkin setelah hari ini masih akan ada malam ketika kepalaku kembali riuh.
Masih akan ada hari ketika langkahku terasa begitu berat.
Masih akan ada saat-saat ketika aku harus kembali meminta pertolongan.
Namun kini aku mengerti.
Meminta pertolongan bukanlah tanda bahwa aku lemah.
Ia adalah bagian dari ikhtiar agar aku tetap mampu melanjutkan setiap amanah yang telah Allah titipkan kepadaku.
Aku bangkit dari tempat tidur.
Kuminum butiran obat pagi yang telah disiapkan suamiku
Lalu aku bergegas menuju kamar mandi, bersiap menyambut panggilan-Nya.
Sebelum melangkah, aku sempat menoleh ke arah jendela yang sedikit terbuka.
Di luar sana langit masih gelap.
Fajar belum benar-benar datang.
Namun aku tahu…
Untuk menyaksikan matahari terbit, seseorang memang harus lebih dahulu melewati gelapnya malam.
Dan pagi itu, sekali lagi, aku memilih membuka mataku.
Bukan karena semuanya telah baik-baik saja.
Melainkan karena aku masih ingin terus belajar menjadi hamba yang bertahan, memperbaiki diri, dan menunaikan setiap amanah yang Allah titipkan, selangkah demi selangkah.
Karena pada akhirnya, pulang bukanlah tentang tiba di sebuah tempat. Pulang adalah tentang tetap memilih berjalan, meski langkah itu kadang begitu berat.
Tamat.