Sunyi di Ujung Senja
Langit di luar jendela mulai berganti warna. Lembayung jingga yang hangat pelan-pelan merayap masuk, melukis bayang-bayang panjang di atas lantai semen rumah sederhana ini. Di sudut ruang tamu, Aku duduk mengusap kedua tanganku yang mulai dingin. Di pangkuanku, secangkir teh hangat kubiarkan uapnya menguar tipis—tipis persis seperti riuh kehidupan yang pernah memenuhi rumah ini.
Di ujung senja seperti ini, keresahan itu selalu datang tanpa diundang.
Aku mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Rumah ini tidak luas, dindingnya berbahan bata dengan beberapa bagian cat yang mulai mengelupas. Namun, di dalam kesederhanaannya, rumah ini menyimpan jutaan jejak ingatan.
Telingaku seolah menangkap gema yang riuh dari masa lalu.Aku memejamkan mata, membiarkan ingatan memutar kembali pita kenangan belasan tahun silam.
”Mama! Lihat, Kakak merebut mainanku!”
“Mama, aku lapar!”
“Mama… Mama…”
Suara-suara mungil itu dulu saling bersahutan setiap sore. Bunyi tapak kaki telanjang anak-anak yang berlarian di atas lantai, gelak tawa polos yang memecah keheningan, serta tangis manja dan tetesan air mata kecil yang menuntut perhatian dan dekapan seorang ibu. Dahulu, rumah ini tak pernah benar-benar diam. Setiap sudutnya berdenyut oleh kehidupan. Panggilan “Mama” itu—sebuah panggilan hangat yang dulu setiap hari menggema—adalah jangkar yang mengikat seluruh jiwa dan ragaku.
Namun kini, suara-suara itu telah terbang jauh. Anak-anak kecilku kini telah tumbuh dewasa, memiliki rantau dan jalan hidup masing-masing. Mereka mengejar mimpi, membina keluarga baru, dan menyisakan sunyi yang teramat lengang di tempat mereka bermula.
Aku menghela napas panjang. Dadaku terasa sesak oleh rindu yang tak menentu.
Satu per Satu yang Pergi
Bukan hanya anak-anak yang telah melangkahkan kaki keluar dari pintu rumah ini. Takdir juga mengambil mereka yang pernah menjadi tiang penyangga hidupku.
Aku menatap dua bingkai foto hitam-putih yang tergantung rapi di dinding utama. Di sana, wajah ayah dan ibuku tersenyum tenang. Beliau berdua adalah support system pertama—tempat aku bersandar ketika badai kehidupan menghantam, tempat aku meminta petuah di setiap langkah. Namun, waktu dengan dingin memanggil mereka pulang ke haribaan Sang Pencipta.
Tak berhenti di situ. Satu per satu saudaraku kakak dan adik yang dulu saling berbagi keluh kesah, yang selalu hadir dalam suka dan duka—juga dipanggil lebih dulu. . Kehilangan demi kehilangan itu datang beruntun, meruntuhkan benteng pertahanan batinku pelan-pelan. Dulu, jika aku merasa lelah, selalu ada bahu saudara tempat aku mengadu. Kini, pilar-pilar kekuatan itu telah runtuh satu demi satu.
Di rumah sederhana inilah aku kini bertahan sendirian. Menjadi saksi bisu betapa waktu begitu tega mengikis keramaian dan menggantinya dengan sepi yang menggigit.
Merajut Kesunyian
Setiap sore, ketika senja mulai berlabuh, Aku merajut sepi sendiri. Tak lagi kudengar derap langkah kaki kecil yang menghampiriku dari balik pintu, meminta pelukan hangat usai lelah bermain. Aku tak lagi mendengar rintihan atau tetesan air mata anak-anakku yang menuntut usapan lembut seorang mama. Yang ada hanyalah bisikan angin sore yang menyusup lewat celah jendela dan detak jarum jam dinding yang terdengar terlalu nyaring.
Namun, di dalam kerinduan yang meresahkan itu, ada ketabahan luar biasa yang mengalir di urat nadi. Rumah ini, meski kini terasa sepi, adalah monumen dari seluruh cinta yangpernahi ter curahkan.Aku berdiri pelan, berjalan menuju kamar anak-anakku yang kini rapi dan kosong. Di atas meja kayu tua, masih tersimpan beberapa buku gambar yang halamannya sudah menguning.Aku mengelus permukaan meja itu dengan lembut, meraba kenangan yang tertinggal.
”Kalian sudah tumbuh dengan baik, Nak…” bisikku pelan pada udara hampa.
Ada rasa bangga yang menyelip di antara kepedihan rindu. Anak-anak kecil yang dulu menangis memanggil namanya kini telah menjadi manusia mandiri. Suara tawa dan panggilan manja mereka memang tak lagi terdengar secara langsung di ruangan ini, tetapi kehangatan itu pernah nyata dan akan selalu hidup abadi di dalam dadaku sebagai seorang ibu.
Doa di Ambang Malam
Matahari akhirnya benar-benar tenggelam di balik ufuk barat. Keheningan malam mulai mengambil alih seluruh penjuru rumah sederhana ini. Aku langkahkan kaki menuju sajadah yang terbentang di sudut kamar.
Dalam sujudku yangpanjangi, Aku tumpahkan seluruh rasa resah, rindu, dan kehilangan yang mengganjal di dadaku.Aku mendoakan ayah dan ibu yang telah tenang di alam sana, memohonkan ampunan untuk saudara-saudaraku yang telah mendahului, serta melayangkan doa paling tulus dan hangat untuk anak-anakku di mana pun mereka berada saat ini.
Saat menyapu wajahku usai berdoa, perasaan hangat perlahan mengalir menggantikan keresahan yang tadi membuncah. Rumah sederhana ini mungkin kini terasa lengang, dan mungkin harus kurajut sepi sendirian di ujung senjaku. Namun, kenangan akan suara mungil anak-anakku, kasih sayang orang tua, dan kebersamaan saudara-saudaraku adalah kekayaan abadi yang tidak akan pernah bisa direbut oleh waktu.
Rindu itu tetap ada, sangat berat dan dalam. Namun kini, rindu itu menjadi penanda yang indah: bahwa telah aku jalankan peranku dengan penuh cinta, dan akan selalu—menjadi pusat hangat dari sebuah keluarga.
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi