Bionarasi
Mesitania, yang akrab disapa Mesi, Neng, atau
Teh Mesi, lahir di Bandung pada 1 Mei
1982. Pendidikan terakhirnya ditempuh
pada Program Studi Pendidikan Sejarah
jenjang Strata I di Universitas Pendidikan
Indonesia (UPI).
Hingga saat ini, ia telah menghasilkan 15
karya antologi. Karya terbarunya adalah
Pena Penyintas Kanker, sebuah antologi
yang ditulis bersama enam penyintas lainnya
di bawah bimbingan dr. Dion Firli Bramantyo, Spesialis Onkologi dan
Radiasi. Penulis pernah aktif sebagai anggota komunitas “30 Hari Menulis”, serta
menjadi pengurus dan editor di Ikatan Penulis Sastra Indonesia (IPSI),
hingga kemudian dipercaya sebagai penasihat organisasi tersebut. Ia juga
pernah menjadi editor sekaligus penanggung jawab program Duta Literasi
di Penerbit Buku Langka Indonesia.
Saat ini, Mesitania tetap berusaha aktif menulis sembari menjalani kontrol
rutin di Divisi Glaukoma Rumah Sakit Mata Cicendo, Bandung.
Penulis dapat dihubungi melalui WhatsApp di nomor 0813-2063-4244, akun
Instagram @mesi_asmei, atau akun Facebook Mesitania. Saat ini, ia tinggal
di Garut bersama suami, ibu, dan putri semata wayangnya.
Senandung Rindu adalah nama pena dari Shanti Hermawati, S.Pd.I, C.LQ, seorang ibu, pegiat literasi, dan Mental Health Survivor yang memilih untuk terus bertahan, bertumbuh, dan berkarya.
Baginya, sebagian perjalanan hidup dapat menjadi ruang refleksi. Melalui tulisan, luka perlahan belajar diterima, rasa kehilangan menemukan makna, dan harapan kembali bertumbuh. Karena itulah, setiap karya yang lahir bukan sekadar rangkaian kata, melainkan jejak perjalanan dalam mengenal diri, mendekat kepada Allah, dan memaknai kehidupan.
Melalui karya-karyanya, Senandung Rindu mengangkat tema-tema refleksi kehidupan, kesehatan mental, keluarga, spiritualitas Islam, dan proses bertumbuh sebagai seorang manusia. Ia berharap pembaca tidak hanya menemukan sebuah cerita, tetapi juga memperoleh ruang untuk berhenti sejenak, merenung, mengambil hikmah, dan menyadari bahwa selalu ada cahaya yang dapat digenggam, bahkan di tengah perjalanan yang paling gelap sekalipun.
Ia meyakini bahwa menulis adalah salah satu bentuk ikhtiar membangun peradaban, dimulai dari memulihkan diri sendiri, menguatkan keluarga, lalu menebarkan manfaat kepada sesama. Sebab baginya, setiap tulisan yang lahir dari ketulusan bukan hanya meninggalkan jejak bagi penulisnya, tetapi juga dapat menjadi setitik cahaya bagi hati yang sedang mencari arah.
Inna adalah seorang ibu dengan amanah dua orang putri dan satu orang putra. Bersama suaminya, ia membangun bisnis Buku Langka Indonesia, sebuah penerbitan yang berfokus pada literasi dan pelestarian karya-karya berharga.
Ia juga merupakan inisiator @IRTMenulis dan menjadi Bunda Literasi RW @dispusipkabbandung serta inisiator playdate Rancaekek yang berfokus menumbuhkan minat baca anak-anak.
Selain itu, membersamai anak-anaknya yang memilih pendidikan Home Schooling serta aktif sebagai praktisi Talents Mapping dan home educator.
Sebagai seorang ChangeMaker dari Ashoka dan mahasiswi di Ibu Profesional Bandung, Inna dikenal sebagai pembelajar sejati yang selalu haus akan pertumbuhan. Ia memiliki semangat berbagi yang tinggi, berkomitmen untuk memajukan orang lain, dan menebarkan cinta, inspirasi, serta nilai-nilai kebaikan dalam berbagai aktivitas yang digagasnya.
Perempuan dengan dua anak yang sering dipanggil Mami Lily. Lahir di Gresik pada tahun 1975 bulan November. Kesibukannya selain ibu rumah tangga, dia juga pelaku usaha kreatif di sebuah rumah sakit. Curahan hatinya tertuang di beberapa buku antologi yang berjudul Sunyi, Nikah, dan Ikhlas. Mari menyambung silaturrahmi dengan berkenalan di Facebook dan Instagram @Lilik Hikmatun Ni’mah.
Halo, saya Hendiana. Teman-teman dan rekan kerja biasanya lebih akrab memanggil saya Kang Hendi.
Sebagian besar perjalanan karir saya dihabiskan di dunia HRD berbagai industri yang memiliki ritme cepat dan tuntutan tinggi, mulai dari media, teknologi informasi (IT), hingga konstruksi.
Di luar aktivitas kerja, saya menikmati dunia menulis sebagai ruang untuk berpikir, belajar, dan berbagi. Bagi saya, menulis bukan sekadar menyusun kata-kata, melainkan cara untuk mengabadikan pelajaran hidup yang mungkin bisa bermanfaat bagi orang lain.
Sebagian tulisan, refleksi, dan karya saya dapat dibaca melalui blog pribadi saya di www.hendiana.com dan web Komunitas Penulis GEMBIRA di www.literasigembira.com
Asti Ayu, sejak duduk di bangku sekolah dasar, sering bertanya-tanya, "Akan jadi apa aku kelak?" Pertanyaan itu terus menghantui hingga kini, saat usiaku telah menginjak setengah abad lebih, tetapi jawabannya masih belum sepenuhnya kutemukan.
Dalam perjalanan hidupku, berbagai hal menarik, menantang, bahkan mematahkan semangat pernah kualami. Ada saat-saat ketika aku hampir menyerah dan merasa putus asa. Namun, aku sadar bahwa aku harus mampu menyemangati diriku sendiri. Dengan tekad dan keteguhan hati, semua ujian itu berhasil kulewati, meskipun tidak mudah. Aku terus melangkah demi masa depan ketiga putriku.
Berpikir positif menjadi pegangan utama dalam hidupku. Meski terkadang jalan terasa berat, aku berusaha menjadikannya sebuah pelajaran. Aku memiliki satu harapan besar yang terus kugenggam: menjadi seorang penulis dan menghasilkan karya buku.
Aku sadar, memulai sesuatu yang baru di usia ini bukanlah hal yang mudah. Segalanya membutuhkan proses, usaha, dan waktu. Hidup ini seperti mendaki sebuah tangga; kita harus melangkah satu per satu, penuh kesabaran dan tekad, hingga akhirnya mencapai puncak. Aku tidak ingin perjalanan di usia 56 tahun ini berlalu sia-sia.
Dulu, kedua orang tuaku berharap aku menjadi seorang pegawai bank, sesuai dengan latar belakang pendidikan S1 Ekonomi Manajemen yang kuambil di kampung halamanku di ujung Pulau Jawa. Namun, aku percaya bahwa setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Takdir telah mengarahkan hidupku ke tempat yang berbeda.
Bagiku, yang terpenting adalah memberikan manfaat kepada orang lain, khususnya anak-anak dan keluargaku. Dalam setiap cobaan, aku belajar untuk selalu bersyukur. Di balik hal yang pahit, selalu ada sisi positif yang menjadikanku lebih kuat dan mandiri sebagai seorang ibu.
Kini aku percaya, tidak perlu takut menjadi tua. Sebab, "awet muda" sejatinya bukan hanya tentang usia, melainkan tentang cara kita menjaga semangat dan kebahagiaan dalam hati.
Gita Waluyo adalah perpaduan namanya dan nama sang ayah. Lewat nama ini, ia ingin menebarkan kebaikan sebanyak-banyaknya. Lahir di Bandung, 13 Agustus 1991, generasi milenial ini telah mencintai dunia literasi sejak kecil. Bagi Gita, menulis adalah upayanya untuk benar-benar hadir di dunia yang kadang tak ramah, sekaligus jalan untuk berdamai dan berkomunikasi. Sebagai jiwa pembelajar, ia akan sangat senang menerima masukan atas karya-karyanya.
Sodikin nama yang mengandung doa yang diberikan kedua orang tua. Seorang widyasiswara dan asesor di Balai Diklat Keagamaan Bandung. Membaca merupakan kegemaran utama sejak kecil. Aktivitas menulis dimulai sejak 1993 dengan menulis puisi dan diterbitkan di beberapa majalah pada sekitar tahun 1995-1996.
Sebut saja namaku Koko. Lahir di Bumi AREMA, Kota Malang di bulan April tahun 2002. Apapun kulakukan selama membuatku bahagia. Tidak sedikit orang menjulukiku "Bocah Random". Tak lain tak bukan alasannya karena saking banyak topik pembicaraanku. Ketika aku diam tak bersuara panik lah mereka seakan-akan dunia ini berhenti sejenak. Aku sudah menerbitkan 3 buku antologi dan 2 buku solo yang aku adaptasi dari kisahku dan teman-temanku. Mau lebih akrab? Yuk, mampir di Instagram dan Tiktokku @kokoinspiratorsurvivor.
Assalamu'alaikum...
Vela Buruuji merupakan nama pena dari seorang wanita bernama asli Meigita Nur Sukma yang berharap bisa menjadi satu bintang di langit Allah. Dengan nama penanya ini, perempuan sederhana penyuka warna biru dan pecinta Detective Conan berusaha menebar cahaya kepada sesama lewat jalan terus berkarya di dunia literasi khususnya kepenulisan. Penulis yang lahir di Bandung dan kini menetap di Garut telah menerbitkan beberapa buku antologi di antaranya: Inspirasi untuk Indonesia, Love Yourself, Maha Kata, Violin, Muara Kasih Ibu, 45 Journee Ecrire, Motivasi Diri di Tengah Pandemi, Move on di Bulan Ramadan, Buah Kebaikan: Aku Anak Baik, dan Welas Asih. Selain itu, penulis pun telah menerbitkan beberapa buku hasil ghostwriter.
Alhamdulillah, setelah bergabung dengan komunitas penulis GEMBIRA saya bisa menerbitkan buku solo berjudul 99++ Kiat Menulis Bahagia
Bismillah
Mom of 1 kid |Mompreneur| Certified Happy Emotional Freedom Technique(HEFT) | Certified Totok Punggung Indonesia | Owner Jajan Sehat Yuk By Anggi |Agen Of Manasik Haji Umrah (MHU) Travel| Management GEMBIRA (Gerakan Menulis Bersama dan Berbagi Inspirasi)
Kang Muvti berpengalaman 15 tahun di dunia Self-Development menjadi Motivator, Trainer dan Konsultan. (Strategic Human Development Consultant).
Untuk menunjang karirnya, beliau telah menempuh studi ilmu Komunikasi di salah satu Universitas Negeri Terbaik di Indonesia, dengan nilai yang cukup memuaskan. Di usianya yang kini semakin matang, dan dengan semangatnya untuk terus melatih dan menginspirasi dibidangnya, beliau mendirikan lembaga pelatihan yang fokus dengan ilmu pengembangan diri, Petadiri, serta penerbitan Buku Langka Indonesia serta komunitas literasi GEMBIRA (Gerakan Menulis Bersama dan Berbagi Insirasi) Dengan tujuan untuk melatih generasi muda dan profesional dapat meraih potensinya dengan menemukan bakat terpendam yang dimiliki.
Soal menulis buku, beliau telah menulis dan menerbitkan 43 buku dari target dalam hidupnya untuk menuliskan 100 buku agar menjadi ladang kebermanfaatan untuk banyak orang. Harapan yang beliau inginkan adalah semoga Allah Subhanallahu Wa Ta’ala selalu meridhoi langkah-langkahnya untuk terus menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Aamiin.
Silakan kontak saya di : Tiktok : KangMuvti ; IG @KangMuvti ; Youtube : Kang Muvti
Our site uses cookies. By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.