Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu adalah seluruh semesta bagi Bagas. Di sana, satu-satunya sumber cahaya hanyalah pendar biru dari monitor komputer dan layar ponsel yang bergantian menerangi wajah kusamnya yang berusia tiga belas tahun dengan mata kemerah-merahan. Suara rentetan tembakan dari game online berpadu bising dengan musik latar video TikTok yang terus ia gulir tanpa henti.
Kamar itu bagai labirin digital mini yang kedap dari realitas dunia luar. Baginya, detak jarum jam dinding telah digantikan oleh hitungan mundur durasi respawn karakter gim, dan udara segar berganti dengan aroma pengap tumpukan bungkus camilan. Bagas tidak lagi sekadar bermain; jiwanya telah terserap dan terjebak di dalam jalinan piksel, membuat segala hal di dunia nyata terasa hambar dan tidak sepenting pencapaian angka di dalam layar komputer.
Di Dinding depan mejanya ada figura bertuliskan: “Anakku, jika Kau tak sanggup menahan lelah karena belajar, kamu harus sanggup menahan derita karena kebodohan.” Nasihat Imam Syafi’i itu tak pernah mampir ke hatinya yang mulai kering. Di sudut lain, buku-buku pelajaran berantakan jatuh dari raknya seperti tidak betah terpenjara di kamar bising tersebut.
“Bagas, matikan dulu komputer kamu, Nak. Kita makan malam bersama, Ayah dan Ibu sudah menunggu di meja,” panggil ibunya dengan ketukan lembut di pintu.
“Ah, Ibu berisik! Sedang tanggung, bentar lagi Bu, paling lima menit lagi!” teriak Bagas tanpa menoleh, jarinya bergerak liar di atas kibor. Lima menit yang dikatakan Bagas biasanya berlalu begitu saja menjadi lima jam waktu yang tidak bisa diganggu.
Pintu perlahan terbuka, menampilkan wajah lelah ayahnya. “Bagas, hargai ibumu. Ayah sengaja pulang cepat supaya kita bisa mengobrol. Gim itu bisa di-pause, kan?”
“Nggak bisa di-pause, Ayah! Ini online! Kalau aku telat sedetik, timku kalah dan peringkatku turun! Ayah dan Ibu nggak akan pernah paham!” bentak Bagas dengan nada tinggi, matanya tetap terpaku pada layar, sementara tangannya menggenggam erat stik gim hitam pemberian ayahnya.
Ayahnya menghela napas panjang, menatap putranya dengan tatapan kecewa yang mendalam. “Baiklah, kalau itu pilihanmu. Kami berangkat sebentar untuk membeli keperluan rumah yang habis dan juga pesananmu, Bagas.”
Bagas tidak peduli. Matanya tidak pernah lepas dari layar monitor 24 inci di kamarnya. Remaja berusia 13 tahun itu sedang berada di tengah pertempuran sengit gim daring favoritnya. Karakter digitalnya bergerak lincah, berbanding terbalik dengan tubuh aslinya yang kaku dan pucat karena jarang bergerak. Sesekali ia tertawa terbahak-bahak, berteriak histeris sambil memaki-maki dengan kata-kata kasar. Sekali lagi ayahnya menghela napas, kesedihan mewarnai wajahnya yang nampak menua. Dengan gontai ia tinggalkan kamar Bagas.
Bagas tidak pernah tahu bahwa kalimat ketus itu adalah kata-kata terakhir yang ia ucapkan kepada ayah dan ibunya. Beberapa jam kemudian, dering telepon dari rumah sakit memadamkan seluruh kilau dunia mayanya, memaksa Bagas menatap kenyataan paling dingin di balik pintu kamar yang kini tak akan pernah diketuk lagi. Ayah ibunya mengalami kecelakaan di perjalanan pulang ke rumah. Pulang yang tak pernah kembali untuk bertemu. Air mata jatuh Bagas jatuh membasahi kibor. Prak! Hatinya pecah berkeping-keping.
Tiga hari setelah pemakaman yang muram, rumah yang biasanya hangat itu berubah menjadi sekotak keheningan yang mencekam. Keheningan yang tak tergantikan bisingnya suara komputer dan gawai yang terus Bagas mainkan. Sampai akhirnya, suara bantingan koper di ruang tamu memecah segalanya. Bibi Ratih, adik kandung ibunya yang terkenal disiplin, telah berdiri di sana dengan tatapan mata yang lelah namun tegas. Ia memutuskan untuk tinggal mendampingi keponakannya.
Tanpa banyak bicara, Bibi Ratih langsung melangkah ke kamar Bagas, membuka gorden abu-abu yang sudah berbulan-bulan menutup rapat sinar matahari, lalu mencabut kabel modem internet dari dinding.
“Bibi, apa-apaan sih?! Aku lagi ada event penting di gim!” protes Bagas, berdiri dengan napas memburu dan mata yang memerah akibat kurang tidur.
Bibinya berbalik, melipat tangan di dada. “Event pentingmu tidak akan bisa membayar tagihan listrik rumah ini, Bagas. Mulai hari ini, tidak ada internet sampai jam lima sore. Dan ponselmu, Bibi sita setiap malam jam sembilan.”
“Bibi gak berhak! Ini rumahku, ini HP-ku!” Bagas berteriak, mencoba merebut kembali kabel modem dari tangan bibinya. Matanya mendadak memanas saat melirik ke sudut meja belajar, tempat sebuah stik pengontrol gim milik ayahnya tergeletak berdebu.
Bagas teringat, sebulan lalu ayahnya membelikan stik itu dan memohon, “Bagas, sekali-kali main gim-nya bareng Ayah, ya? Biar Ayah paham dunia kamu.” Bagas hanya mengangguk malas tanpa pernah mewujudkannya. Kini, ayahnya telah pergi selamanya dalam kecelakaan itu, meninggalkan stik gim yang tak pernah sempat mereka mainkan bersama. Rasa bersalah itu bergolak menjadi amarah yang makin tak terkendali.
“Rumah ini milik orang tuamu yang sekarang sudah tidak ada,” potong Bibi Ratih dengan suara rendah namun penuh ketegasan.
Malam harinya, setelah Bibi Ratih tertidur, Bagas tidak bisa memejamkan mata. Kamarnya terasa seperti penjara yang mencekik tanpa koneksi internet. Rasa bosan, marah, dan kerinduan yang campur aduk membuatnya nekat. Dengan mengendap-endap, ia memasukkan beberapa helai baju ke dalam tas ransel, meraih ponselnya yang diletakkan Bibi Ratih di meja makan, dan terakhir—ia memasukkan stik gim milik ayahnya ke bagian paling dalam tas.
Ia menyelinap keluar lewat jendela kamar, menembus rintik hujan malam yang dingin. Tujuan Bagas hanya satu: warnet. Ia ingin melarikan diri dari kenyataan pahit ke dunia digital yang menurutnya lebih ramah. Namun, realitas jalanan ternyata sangat kejam. Uangnya habis dalam dua hari hanya untuk membayar sewa komputer dan membeli mi instan.
Pada hari ketiga, Bagas terusir dari warnet karena tidak punya uang lagi. Ia terlantar di selasar toko pinggir jalan dalam kondisi kelaparan, kedinginan, dan pakaian yang kotor. Kepalanya pusing, dan ia mulai menyadari betapa tidak berdayanya dia tanpa pelukan hangat orang tua atau ketegasan Bibi Ratih yang sebenarnya melindungi.
Dunia nyata ternyata tidak seramah layar gawainya. Bagas terpuruk berjalan tertatih-tatih menembus gelapnya malam. Angin malam menusuk tubuhnya yang kelaparan. Sialnya lagi, rintik hujan mendadak turun, lalu berubah menjadi badai yang deras. Bagas panik. Ia berlari mencari tempat berteduh, tetapi kakinya tersandung trotoar hingga ia terjatuh ke dalam kubangan air. Tas ranselnya terlempar, resletingnya terbuka, dan stik gim ayahnya terpelanting keluar.
Bagas merangkak panik di bawah guyuran hujan, meraba-raba aspal yang gelap demi menyelamatkan stik itu. Saat jemarinya yang gemetar berhasil menyentuh benda plastik tersebut, badannya mendadak kaku. Stik itu basah kuyup, kotor oleh lumpur jalanan. Di bawah lampu jalan yang remang-remang, Bagas mendekap stik itu erat-erat ke dadanya. Tangisnya yang sejak tiga hari lalu ia tahan di dalam kamar, akhirnya pecah bersama suara guntur.
Ia sadar, di dunia nyata ini, ia tidak bisa menekan tombol ‘Respawn’ atau ‘Restart’ untuk menghidupkan kembali ayah dan ibunya. Ayahnya tidak akan pernah datang menjemputnya dengan payung.
Di tengah keputusasaan itu, sepasang sorot lampu mobil membelah kegelapan malam, berhenti tepat di depan Bagas yang masih bersimpuh. Pintu mobil terbuka, dan Bibi Ratih berlari menerobos hujan dengan payung yang gemetar di tangannya. Tanpa sepatah kata amarah pun, wanita itu langsung memeluk tubuh Bagas yang basah kuyup, membiarkan baju indahnya kotor oleh lumpur.
Bagas masih mendekap stik gim itu erat-erat, tubuhnya gemetar hebat. Benda itu kini tidak lagi memancarkan daya pikat dunia maya, melainkan memori tentang senyum ayahnya dan suara lembut ibunya yang dulu sering ia abaikan. Stik itu menjadi simbol pengingat yang kuat: ia telah kehilangan kehidupan nyata yang berharga demi ilusi di dalam layar.
Ia membelai permukaan plastik stik itu dengan tangan yang gemetar. Dalam hatinya, penyesalan tumpah menjadi untaian kalimat yang jujur dan menyakitkan: “Kenapa aku bodoh sekali? Cuma gara-gara benda ini aku berani membentak Ayah dan Ibu. Padahal Ayah beli stik ini pakai uang kerja kerasnya supaya aku senang, tapi aku malah pakai buat menjauh dari mereka. Di gim, kalau karakterku mati, aku cuma perlu pencet tombol untuk hidup lagi. Tapi Ayah… Ibu… mereka nggak punya tombol nyawa tambahan. Mereka pergi selamanya dan aku bahkan nggak sempat minta maaf. Skor tinggi di gim kemarin sama sekali nggak bisa menolongku waktu kelaparan di jalanan. Aku kangen masakan Ibu… aku kangen diajak ngobrol Ayah…”Stik itu menjadi simbol pengingat yang kuat: ia telah kehilangan kehidupan nyata yang berharga demi ilusi di dalam layar.
“Bibi… maafin Bagas ya,” bisik Bagas, suaranya parau dan pecah oleh tangis yang tak bisa lagi ia bendung. “Ayah… Ayah dulu beli stik ini buat main bareng aku. Tapi aku selalu nolak karena asyik sama main gimku. Sekarang Ayah sudah enggak ada, Bi. Aku… aku anak durhaka.”
Bibi Ratih menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengeringkan rambut Bagas dengan handuk. Matanya berkaca-kaca. Ia meraih jemari Bagas yang kaku, lalu mendekap tangan keponakannya itu dengan lembut.
“Bagas, dengar Bibi,” kata Bibi Ratih, suaranya serak namun penuh kehangatan. “Ayah dan Ibu tidak pernah membencimu. Mereka hanya rindu melihat anak mereka tersenyum di dunia nyata. Bibi bersikap tegas bukan karena benci, Sayang. Bibi hanya takut kehilangan kamu seperti Bibi kehilangan kakak Bibi. Kita simpan stik ini baik-baik, ya? Kita jadikan ini janji kalau Bagas akan mulai hidup dengan baik di sini, bersama Bibi.”
Bagas menatap wajah Bibi Ratih yang basah oleh sisa air hujan dan air mata. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Bagas mengangguk tulus, merasakan kehangatan keluarga yang nyata meruntuhkan dinding ego digital yang selama ini mengurung jiwanya.
Enam bulan telah berlalu, dan kamar Bagas tidak lagi menjadi gua yang gelap gulita. Jendela kamarnya kini selalu terbuka lebar setiap pagi, membiarkan kehangatan sinar matahari, kicau burung, dan wangi masakan Bibi Ratih masuk memenuhi ruangan.
Di atas meja belajarnya, komputer dan gawai Bagas terbaring rapi dalam keadaan mati. Benda-benda itu kini hanya digunakannya setelah seluruh tugas sekolah dan kewajiban rumah tangganya selesai. Namun, ada satu pemandangan baru yang mencolok di sudut meja tersebut. Stik gim milik ayahnya kini diletakkan di dalam sebuah kotak kaca kecil yang bersih, berdampingan dengan foto keluarga mereka yang sedang tersenyum lebar di sebuah taman.
Benda itu bukan lagi alat atau simbol untuk melarikan diri ke dunia maya, melainkan sebuah pengingat abadi tentang cinta dan batasan waktu.
“Bagas! Tolong bantu Bibi petik cabai di belakang, Nak!” seru Bibi Ratih dari arah dapur.
Setiap kali Bagas merasa rindu yang teramat sangat pada orang tuanya, atau ketika ia tergoda untuk kembali tenggelam berjam-jam dalam layar gajetnya, ia akan menatap kotak kaca itu. Ia mengusap permukaannya, tersenyum kecil, lalu membalikkan badan menghadapi kehidupan.
“Iya, Bi! Bentar, Bagas ke belakang!” jawab Bagas lantang. Ia melirik sebentar ke figura di dinding yang selalu tidak dihiraukannya. Perlahan ia baca kalimat-kalimatnya dengan sahdu di dalam hati, ““Anakku, jika Kau tak sanggup menahan lelah karena belajar, Kamu harus sanggup menahan derita karena kebodohan.” Hati Bagas tiba-tiba basah, ada embun sejuk menghidupkan semangat di hatinya.
Ia melangkah keluar kamar dengan mantap, menutup pintunya, dan membiarkan dunia nyata menyambutnya dengan segala warna yang jujur. Bagas tahu, di alam lain, ayah dan ibunya pasti sedang tersenyum bangga melihatnya sekarang—seorang anak yang akhirnya memilih untuk benar-benar hidup.
Bandung, 29 Agustus 2026
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi