Bagian 1: Temaram Kenangan
Gerimis tipis mengguyur kaca jendela Kedai Senja, menyisakan jejak air yang perlahan meluncur turun seperti ingatan yang enggan beranjak. Di sudut ruangan, Rian menatap cangkir kopi hitamnya yang sudah kehilangan uap panas. Sudah hampir satu jam ia duduk di sana, memutar balik pita memori yang seharusnya sudah lama ia kubur rapat-rapat.
Di dalam tas kainnya, tersimpan sebuah buku catatan kecil bercover cokelat—milik Alya yang tertinggal dua tahun lalu. Buku itu penuh dengan corat-coret impian mereka, rencana-rencana sederhana yang dulu terasa begitu nyata, namun kini hanyalah puing-puing masa lalu.
Rian tahu betul, setiap kali hujan turun, bayang Alya akan kembali menyeruak tanpa permisi. Rasa asing yang terus menggerogoti dadanya bukanlah sekadar rasa sepi, melainkan kerinduan yang tak lagi memiliki rumah untuk pulang. Ia merindukan gelak tawa Alya, menyukai cara perempuan itu merapikan anak rambut di balik telinga, dan mendengarkan keluh kesahnya di penghujung hari.
Namun, semakin kuat Rian menggenggam kenangan itu, semakin jelas pula rasa sakit yang mengiris hatinya. Ia terjebak dalam lingkaran bisikan hatinya sendiri yang enggan menerima fakta bahwa semuanya telah usai.
Bagian 2: Pertemuan yang Canggung
Pintu kedai berdenting, mengalirkan hawa dingin malam bersama sosok wanita berpayung biru yang amat Rian kenali. Alya.
Langkah kaki Alya terhenti sejenak tatkala netranya bertabrakan dengan pandangan Rian. Ada jeda beberapa detik yang terasa sangat panjang. Keraguan membayang di wajah Alya sebelum akhirnya ia melangkah mendekati meja Rian, memberikan senyum tipis yang terasa begitu asing dan penuh jarak.
”Boleh aku duduk sebentar? Menunggu jalannya terang,” suara Alya terdengar tenang, namun ada batas transparan yang tegas di antara mereka.
”Tentu,” jawab Rian pelan, mencoba menutupi debar dada yang mendadak bergemuruh hebat.
Alya duduk di hadapannya. Tidak ada lagi binar hangat di matanya seperti dulu. Saat Rian mencoba mengungkit kenangan manis mereka di kedai ini beberapa tahun lalu, Alya hanya menanggapi dengan anggukan sopan dan senyum sekilas. Ia menjawab secukupnya, tanpa ada keinginan untuk memperpanjang obrolan.
Di mata Alya, Rian tak lagi melihat ruang untuk dirinya. Kehadirannya kini tak ubahnya seperti seorang kenalan lama yang tak sengaja berpapasan di jalan.
Rian menunduk, menatap jemarinya yang saling bertaut kaku. Di saat itulah, kebenaran pahit menghantam kesadarannya tanpa ampun.
”Jangan paksakan rindu”
“Bila tak lagi sama”
Rasa yang dulu membakar dadanya kini bertepuk sebelah tangan. Merindukan Alya saat ini bukan lagi tentang cinta, melainkan bentuk pemaksaan diri yang hanya akan menumpuk luka baru di atas luka lama.
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi