DI BAWAH LANGIT YANG SAMA

05/10/2026 7 menit baca

 

 

​Batu pijakan kickstart Vespa Sprint ’77 milik Maya kembali meloloskan hentakan kakinya. Tiga kali, Empat kali,Mesin tua itu hanya meletupkan asap tipis yang berbau bensin basi, lalu mati lagi. Maya menyapu keringat di dahi dengan punggung tangannya yang belepotan oli. Sarung tangan kulit tanpa jari yang dikenakannya sudah mengelupas di bagian buku-buku jari, menyingkap kulitnya yang membiru terkena panas knalpot minggu lalu.

​”Kalau karburatornya lu paksa terus, yang ada businya banjir, May.”

​Sebuah suara serak memotong deru angin sore di pelataran bengkel tua pinggir jalan raya. Maya tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu. Julian keluar dari kolong sebuah Honda CB100 rakitan, mengibaskan kain lap yang sudah menghitam. Tangan cowok itu cekatan, jarinya yang panjang dan penuh goresan kecil langsung memutar kran bensin Vespa Maya, lalu mengetuk karburatornya beberapa kali dengan gagang obeng minus.

​”Sini,” gumam Julian pendek. Dia mengambil alih posisi. Sekali hentak, mesin tua itu menderu mulus. Suara letupannya stabil, berirama seperti detak jantung yang kembali normal.

​Maya mengembuskan napas kencang, melemparkan kunci pas ke atas meja kerja kayu yang berdebu. “Gua pikir kudu didorong sampai rumah.”

​Julian terkekeh pelan,kekeh irit yang hanya menggerakkan sudut bibirnya. Dia mengambil sebotol air mineral dingin dari kotak es, membukakan tutupnya, lalu menyodorkannya pada Maya tanpa sepatah kata pun. Gerakan yang begitu alami, seolah-olah jari-jemari mereka sudah hafal ritme satu sama lain selama dua tahun terakhir.

​Di dunia yang menuntut cewek untuk duduk manis dengan gaun mekar dan wewangian vanila, Maya menemukan rumahnya di antara deru mesin, bau oli terbakar, dan debu jalanan. Dan di antara puluhan anak motor yang hanya fokus pada kecepatan, Julian adalah satu-satunya orang yang sudi berhenti saat Vespa tua Maya mogok di tengah hujan deras tiga tahun lalu.

​Sore itu, seperti sore-sore sebelumnya, mereka memacu kendaraan menyusuri jalan lingkar luar. Angin kering menampar kaca helm full-face Maya. Dari spion bundarnya yang agak sedikit longgar, Maya bisa melihat sorot lampu kuning CB100 milik Julian yang setia mengekor di belakang, menjaga jarak aman sekitar dua meter. Ada rasa hangat yang aneh menelusup di balik jaket kulit tebalnya. Rasa aman yang tak pernah ia dapatkan di tempat lain.

​Mereka berhenti di sebuah warung kopi kelontong di tepi waduk saat langit mulai membusur jingga keunguan. Bau tanah basah terserap udara malam.

​Maya melepas helmnya, mengibas rambut pendeknya yang lepek oleh keringat. Dia duduk di bangku kayu panjang, membiarkan jemarinya yang pegal merenggang. Julian datang membawa dua cangkir seng berisi kopi hitam pekat yang asapnya masih mengepul.

​”Nih. Tanpa gula, kan?” Julian mendaratkan cangkir itu di depan Maya.

​”Lu emang paling tahu cara bikin jantung gua deg-degan,” gurau Maya sambil menyeringai, mengambil cangkir hangat itu untuk memanaskan telapak tangannya yang kaku ditampar angin.

​Julian tidak langsung membalas candaan itu seperti biasanya. Dia menyandarkan punggungnya ke tiang bambu warung, menatap lurus ke arah air waduk yang tenang memantulkan sisa cahaya matahari. Jemari tangan kirinya memainkan rantai perak tipis yang melingkar di lehernya. Dari balik kerah kausnya, sebuah liontin salib kecil berbahan kayu zaitun tersingkap, memantulkan kilau redup.

​Maya terdiam. Pandangannya jatuh pada jemari Julian yang memegang liontin itu, lalu beralih ke pergelangan tangannya sendiri. Di sana, melingkar gelang tasbih kayu gaharu berwarna cokelat tua—oleh-oleh ibunya dari tanah suci tahun lalu yang tak pernah Maya lepas, bahkan saat membongkar mesin.

​Dua benda kayu. Dua lambang yang terpaut hanya seluas meja kayu di antara mereka, namun rasanya membentang sejauh langit dan bumi.

​Sunyi yang hinggap di antara mereka tiba-tiba terasa begitu tebal. Bukan sunyi nyaman seperti biasa, melainkan sunyi yang menekan dada.

​”Nyokap mulai nanya-nanya lagi, May,” bisik Julian. Suaranya hampir tertelan desir angin malam yang memoles permukaan air waduk.

​Maya mendengus pelan, pura-pura sibuk meniup permukaan kopinya yang masih panas. “Nanya soal motor lu yang jarang diservis?”

​”Soal siapa yang sering gua bonceng tiap akhir pekan,” potong Julian halus. Dia menatap Maya, mata cokelat tuanya menyimpan kelelahan yang sangat dalam. “Nyokap nanya… apakah cewek yang sering ada di foto jalan-jalan gua itu pernah ikut misa Minggu pagi.”

​Tangan Maya yang memegang cangkir seng mendadak kaku. Kehangatan kopi itu tak lagi sampai ke ujung jari-jarinya. Dia meletakkan cangkir itu kembali ke meja. Bunyi dentang seng yang beradu dengan kayu terdengar begitu nyaring di tengah hening.

​”Trus lu jawab apa?” suara Maya tertahan di tenggorokan.

​Julian menunduk. Dia mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan. “Gua cuma bilang… dia cewek paling tangguh yang pernah gua kenal. Cewek yang selalu ingat salat subuh di mushola SPBU tiap kali kita touring lintas provinsi.”

​Maya tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit yang terasa asing di bibirnya. Dia menatap langit yang kini sepenuhnya legam. “Ibu gua juga sama, Jul. Kemarin malam, pas gua baru pulang dan masih beraoma bensin, beliau nanya… ‘Mas Julian itu kalau Minggu ke gereja mana, May?'”

​Maya menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya. “Gua bilang, dia ke gereja di dekat alun-alun. Ibu cuma diam, Jul. Lurus banget natap gua, terus mengusap mukena yang lagi dia lipat tanpa ngomong sepatah kata pun sampai pagi.”

​Keheningan kembali menyergap. Tidak ada derai air mata. Tidak ada teriakan frustrasi atau drama saling menyalahkan. Mereka berdua terlalu dewasa untuk berpura-pura buta. Mereka tahu persis, cinta di antara mereka bukan cuma tentang dua isi kepala yang cocok atau dua hobi yang menyatu di atas aspal. Di belakang mereka ada dua doa ibu yang berhembus ke arah yang berseberangan. Ada dua iman yang terlalu suci untuk dikorbankan demi perasaan egois dua anak muda.

​Julian meraih kunci motornya di atas meja. Di gantungan kunci itu, ada sebuah pita kain merah kecil yang dulu dijahitkan Maya saat mereka hampir tersesat di lereng Gunung Bromo. Dia mengusap pita itu dengan ibu jarinya.

​”Tahu nggak, May?” suara Julian terdengar begitu pelan, melayang bersama asap kopinya. “Setiap kali kita riding malam-malam, gua selalu merasa jalanan ini cuma milik kita berdua. Gak ada aturan, gak ada batas.”

​”Tapi jalanan selalu punya lampu merah, Jul,” potong Maya lembut. Matanya mulai terasa panas, namun ia menahannya sekuat tenaga. “Dan kita gak bisa terus-terusan menerobos tanpa bikin orang lain kecelakaan.”

​Julian menatap Maya lama sekali. Mengamati tiap senti wajah cewek di depannya—keningnya yang agak sedikit kotor terkena jelutuh, matanya yang tajam, dan ketegaran yang kini tampak sangat rapuh. Julian mengulurkan tangannya, mengusap lembut bekas oli di pipi Maya dengan ibu jarinya. Sentuhan itu hangat, begitu riil, dan sarat akan perpisahan yang tak terucapkan.

​”Minggu depan gua mulai urus kepindahan kerja ke cabang Surabaya,” kata Julian akhirnya.

​Maya memejamkan mata sejenak, merasakan ketukan halus di dadanya yang kian sesak. Dia mengangguk pelan. “Bagus. Jalanan di sana lebih lebar. CB lu bisa berlari lebih kencang.”

​”Lu… bakal tetap naik Vespa ini?”

​”Selama karburatornya gak lepas,” sahut Maya dengan tawa kecil yang terdengar sangat dipaksakan.

​Julian tersenyum. Senyum tipis yang sama seperti pertama kali mereka bertemu di bengkel tua itu. Dia berdiri, mengenakan jaketnya, lalu memakai helmnya. Saat kaca helm itu diturunkan, Maya tidak bisa lagi melihat bayangan air mata di sudut mata cowok itu.

​Mesin CB100 menderu. Julian memutar gasnya dua kali, memberi salam perpisahan yang biasa mereka lakukan di jalanan. Maya membalasnya dengan mengangkat dua jari—lambang peace yang biasa mereka gunakan saat berselisih jalan di persimpangan.

​Lampu belakang motor Julian memerah, meliuk menembus kegelapan jalan raya, semakin menjauh, hingga akhirnya benar-benar lenyap di balik tikungan waduk.

​Maya masih duduk di sana untuk waktu yang lama. Dia meraih cangkir kopinya yang kini sudah benar-benar dingin. Dengan perlahan, dia mengusap gelang tasbih kayu di pergelangan tangannya, lalu menatap cangkir seng yang ditinggalkan Julian.

​Tidak ada yang patah dengan berisik. Hanya dua jalur roda yang pernah beriringan, kini harus berbelok menuju tujuannya masing-masing. Di atas bumi yang sama, di bawah langit yang sama, namun dengan doa yang tak lagi bisa disatukan.

Tamat

 

Gresik, 7 September 2026

 

​

Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.

Tulisan lain untuk kamu

Cerpen

Beban

Pagi bersinar lembut, malu-malu, layaknya embun yang muncul di dedaunan. Aroma tanah basah masih tercium setelah hujan mengguyur bumi tadi malam.Pagi itu, aku masih duduk di kursi santai di dalam…

Senandung Rindu
Baca selengkapnya
Cerpen

DI BALIK BAYANG BAYANG

   ​Hujan deras mengguyur jalanan kota sejak sore, menyisakan aroma tanah basah dan genangan air yang memantulkan kerlap-kerlip lampu jalanan. Di sudut sebuah kafe yang mulai sepi, Aris duduk terdiam menatap…

Mami lily
Baca selengkapnya

Punya cerita yang ingin ditulis?

Gabung GEMBIRA, tulis bersama komunitas, dan terbitkan karyamu.

Jadi penulis

Butuh bantuan?

Hubungi Admin GEMBIRA lewat WhatsApp untuk informasi program, pendaftaran, atau kolaborasi.

Hubungi Admin via WhatsApp