Ada sebuah kalimat sederhana yang sering kita dengar: hidup adalah pilihan.
Kalimat ini terdengar biasa saja, bahkan mungkin terlalu sering diucapkan hingga kehilangan maknanya. Padahal jika direnungkan lebih dalam, hampir seluruh perjalanan hidup manusia sesungguhnya merupakan hasil dari pilihan-pilihan yang pernah diambil.
Pekerjaan yang kita jalani hari ini, lingkungan pergaulan yang mengelilingi kita, kemampuan yang kita miliki, bahkan kondisi kehidupan yang sedang kita rasakan saat ini sebagian besar merupakan akumulasi dari keputusan-keputusan kecil yang dibuat bertahun-tahun sebelumnya.
Menariknya, bukan hanya tindakan yang termasuk pilihan. Tidak bertindak pun merupakan sebuah pilihan. Menunda keputusan adalah pilihan. Diam adalah pilihan. Membiarkan keadaan berjalan tanpa arah juga merupakan pilihan. Dan seperti pilihan lainnya, semuanya memiliki konsekuensi.
Pertanyaannya, sudahkah kita memilih dengan sadar arah kehidupan yang ingin kita tuju?
Masa Depan Tidak Datang Tiba-Tiba
Banyak orang berharap hidupnya berubah menjadi lebih baik. Mereka ingin sukses, ingin sehat, ingin memiliki kehidupan yang lebih nyaman, ingin menjadi pribadi yang berpengaruh, atau ingin menghasilkan karya yang bermanfaat.
Sayangnya, tidak semua orang menyadari bahwa keinginan tersebut harus diikuti oleh pilihan yang selaras.
Jika seseorang bercita-cita menjadi pengusaha kuliner tetapi menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain gim tanpa belajar atau membangun keterampilan yang mendukung impiannya, maka ada ketidaksesuaian antara tujuan dan pilihan yang diambil.
Inilah yang sering terjadi dalam kehidupan. Banyak orang menginginkan hasil tertentu, tetapi kebiasaan hariannya justru mengarah ke tujuan yang berbeda.
Mereka ingin menjadi ahli di bidang tertentu tetapi jarang membaca. Mereka ingin menjadi penulis tetapi tidak pernah menulis. Mereka ingin hidup produktif tetapi terlalu banyak menghabiskan waktu untuk aktivitas yang tidak memberi nilai tambah.
Padahal masa depan tidak dibentuk oleh harapan semata. Masa depan dibentuk oleh pilihan-pilihan yang dilakukan secara konsisten setiap hari.
Universitas Kehidupan yang Tidak Pernah Tutup
Kang Muvti sosok founder dari GEMBIRA, ternyata memiliki pengalaman menyelesaikan kuliahnya selama tujuh tahun. Namun menurutnya, pelajaran terbesar justru tidak hanya diperoleh dari ruang kelas, melainkan dari apa yang ia sebut sebagai universitas kehidupan.
Di universitas kehidupan, tidak ada ruang kuliah resmi. Tidak ada jadwal ujian yang pasti. Tidak ada dosen yang selalu mengingatkan tugas. Namun justru di sanalah banyak pelajaran berharga ditemukan.
Kemampuan beliau, berbicara di depan umum dipelajari melalui organisasi. Kemampuan komunikasi dan negosiasi diasah melalui pengalaman bisnis. Kepemimpinan dibangun melalui interaksi dengan berbagai orang dan tantangan kehidupan.
Pesan yang dapat kita ambil sangat jelas: belajar tidak berhenti setelah seseorang lulus sekolah atau kuliah.
Orang yang berhenti belajar sesungguhnya sedang berhenti bertumbuh. Sebaliknya, mereka yang menjadikan hidup sebagai ruang belajar akan terus berkembang tanpa batas usia.
Membaca Adalah Pilihan yang Mengubah Takdir
Jika hidup adalah kumpulan pilihan, maka salah satu pilihan terbaik yang dapat diambil seseorang adalah memilih untuk membaca.
Membaca sering kali terlihat sederhana. Tidak menghasilkan uang secara instan. Tidak langsung membuat seseorang terkenal. Bahkan terkadang dianggap membosankan dibandingkan hiburan digital yang tersedia saat ini. Namun sejarah menunjukkan bahwa hampir semua tokoh besar dunia memiliki satu kesamaan: mereka adalah pembaca yang serius.
Mengapa? Karena membaca memperpendek jarak menuju ilmu pengetahuan.
Melalui buku, seseorang dapat belajar dari pengalaman ratusan bahkan ribuan orang tanpa harus mengalami semuanya sendiri.
Satu buku dapat mengajarkan pelajaran yang membutuhkan puluhan tahun pengalaman.
Satu biografi dapat memberikan inspirasi yang mengubah arah kehidupan.
Satu artikel dapat membuka peluang yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Ketika seseorang memilih membaca setiap hari, sesungguhnya ia sedang memilih masa depan yang berbeda dari mereka yang tidak melakukannya.
Menulis Adalah Pilihan untuk Bertumbuh
Selain membaca, menulis juga merupakan pilihan yang memiliki dampak luar biasa.
Sayangnya, banyak orang menganggap menulis hanya untuk penulis profesional atau akademisi. Padahal menulis adalah keterampilan hidup. Menulis membantu seseorang berpikir lebih jernih. Menulis membantu seseorang memahami dirinya sendiri. Menulis membantu seseorang mengubah pengalaman menjadi pelajaran. Bahkan banyak ide besar lahir karena seseorang berani menuangkan pikirannya ke dalam tulisan.
Ketika seseorang membiasakan diri menulis, ia sedang melatih kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan sistematis. Kemampuan-kemampuan ini sangat dibutuhkan dalam dunia yang semakin kompleks.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa membaca mengisi pikiran, sedangkan menulis membantu mengolah dan memperkuatnya.
Pilihan Kecil yang Menentukan Masa Depan
Dari sini kita bisa menyimpulkan hal-hal yang sederhana yang sebenarnya sangat menentukan arah hidup seseorang, memilih sehat atau tidak menjaga kesehatan, memilih rajin atau malas, memilih lingkungan yang baik atau buruk, memilih membaca buku atau menghabiskan waktu tanpa tujuan yang jelas.
Sekilas pilihan-pilihan tersebut terlihat kecil. Namun kehidupan jarang berubah karena satu keputusan besar. Menariknya, kehidupan lebih sering berubah karena ribuan keputusan kecil yang dilakukan berulang kali.
Membaca sepuluh halaman buku hari ini mungkin tampak sepele. Menulis satu halaman setiap hari mungkin terasa tidak berarti. Namun lakukan selama setahun, maka hasilnya akan jauh berbeda dibandingkan mereka yang tidak melakukannya.
Keberhasilan bukanlah peristiwa. Ya, keberhasilan adalah akumulasi dari pilihan yang tepat.
GEMBIRA dan Pilihan Menjadi Pembelajar
Mengapa perlu bergabung dengan GEMBIRA (Gerakan Menulis Bersama dan Berbagi Inspirasi)? Salah satunya sebagai bentuk keputusan positif dalam pengembangan diri.
Ini menunjukkan bahwa lingkungan juga merupakan sebuah pilihan.
Seseorang yang berada di tengah komunitas pembelajar akan lebih termotivasi untuk membaca. Seseorang yang berada di lingkungan para penulis akan lebih terdorong untuk menghasilkan karya. Seseorang yang bergaul dengan orang-orang positif akan lebih mudah menjaga semangat bertumbuh.
Karena itu, memilih lingkungan yang tepat sering kali sama pentingnya dengan memilih tujuan hidup itu sendiri. Lingkungan yang baik membantu seseorang menjaga konsistensi dalam proses belajar dan berkarya.
So, Apa Pilihan Kamu?
Hidup hari ini adalah hasil dari pilihan kemarin. Dan kehidupan esok adalah hasil dari pilihan yang kita ambil hari ini. Pesan inilah yang menjadi inti dari artikel Apa Pilihan Hidupmu?
Jika ingin kehidupan yang lebih baik, jangan hanya berharap. Mulailah memilih dengan lebih sadar.
Pilih membaca daripada sekadar menghabiskan waktu. Pilih menulis daripada hanya menjadi penonton ide orang lain. Pilih belajar daripada merasa sudah tahu segalanya. Pilih lingkungan yang mendorong pertumbuhan daripada yang membuat kita nyaman dalam kemalasan.
Karena pada akhirnya, nasib seseorang tidak ditentukan oleh keberuntungan semata.
Nasib lebih sering ditentukan oleh pilihan-pilihan kecil yang dilakukan setiap hari, lalu perlahan membentuk masa depan yang sedang ia jalani. Jadi, setelah membaca ini, apa pilihan hidupmu?
No Comment! Be the first one.