“Pengen sih nulis buku suatu hari nanti.”
Kalimat itu mungkin pernah kamu ucapkan. Atau setidaknya pernah melintas di dalam pikiran.
Menariknya, keinginan untuk menulis ternyata dimiliki oleh jauh lebih banyak orang daripada yang kita bayangkan. Hampir setiap orang memiliki cerita. Hampir setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berharga. Hampir setiap orang memiliki gagasan yang layak dibagikan kepada dunia.
Namun mengapa hanya sedikit yang benar-benar menulis?
Jawabannya sederhana sekaligus menyedihkan: mereka bingung harus mulai dari mana.
Ada yang merasa tidak berbakat menulis. Ada yang takut tulisannya jelek. Ada yang bingung menyusun ide menjadi paragraf. Ada pula yang selalu menunggu waktu yang tepat, padahal waktu itu tidak pernah datang.
Akhirnya, keinginan menulis hanya menjadi angan-angan yang tersimpan rapi di dalam kepala.
Semua Orang Punya Cerita, Tetapi Tidak Semua Orang Berani Menuliskannya
Ketika mendengar kata “penulis”, sebagian orang langsung membayangkan sosok yang pintar merangkai kata, gemar membaca sejak kecil, atau memiliki latar belakang pendidikan bahasa dan sastra.
Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.
Banyak penulis lahir dari profesi yang sama sekali tidak berhubungan dengan dunia kepenulisan. Ada guru, pedagang, karyawan, ibu rumah tangga, mahasiswa, pengusaha, bahkan pensiunan.
Yang membedakan mereka bukanlah bakat. Walau tak dipungkiri ada sebagian kecil orang yang memang berbakat dalam menulis. Tapi, hal yang paling membedakan mereka adalah keberanian untuk memulai. Sayangnya, langkah pertama inilah yang sering terasa paling berat.
Banyak orang terjebak pada pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu.
- “Bagaimana kalau tulisan saya jelek?”
- “Bagaimana kalau tidak ada yang mau membaca?”
- “Bagaimana kalau saya salah menulis?”
- “Bagaimana kalau ide saya tidak menarik?”
Akibatnya, mereka lebih banyak berpikir daripada menulis.
Padahal tidak ada satu pun penulis hebat yang lahir dengan karya sempurna pada tulisan pertamanya.
Menulis Itu Keterampilan
Analogi yang pas tentang kemampuan menulis seperti naik sepeda. Seseorang tidak akan bisa naik sepeda atau tidak tenggelam hanya dengan membaca teori. Ia harus mencoba, jatuh, belajar menjaga keseimbangan, lalu mencoba lagi.
Menulis juga demikian. Semakin sering dilakukan, semakin baik hasilnya. Masalahnya, banyak orang ingin langsung menghasilkan tulisan yang bagus tanpa melewati proses belajar.
Mereka ingin menulis seperti penulis profesional pada percobaan pertama. Tentu saja itu tidak realistis. Bahkan penulis yang hari ini menerbitkan puluhan buku pun pernah bingung menyusun paragraf pertamanya.
Keresahan yang Dialami Banyak Calon Penulis
Dalam berbagai pelatihan literasi dan kepenulisan, ada pola yang hampir selalu muncul. Pesertanya bukan tidak punya ide. Justru ide mereka melimpah.
Ada yang ingin menulis pengalaman hidup, menulis kisah perjuangan usaha, ada yang ingin berbagi ilmu, meninggalkan warisan pemikiran untuk anak-cucunya atau ada pula yang ingin menulis sekadar sebagai terapi diri. Namun setelah ditanya lebih lanjut, hambatannya hampir sama.
Mereka tidak tahu bagaimana memulai, bingung menentukan tema, kesulitan menyusun kerangka tulisan atau bahkan tidak memiliki teman belajar dan yang paling sering terjadi, mereka kehilangan semangat karena tidak ada yang mendampingi.
Akibatnya, file tulisan hanya berisi satu judul, atau lebih tragis lagi, hanya berisi halaman kosong.
Mengapa Banyak Orang Gagal Menjadi Penulis?
Bukan karena tidak mampu, tidak punya waktu, tidak punya ide. Tetapi karena belajar menulis sendirian sering kali terasa melelahkan. Bayangkan seseorang yang baru belajar berenang.
Lalu ia diminta langsung berenang di tengah laut tanpa pelatih dan tanpa teman. Kemungkinan besar ia akan menyerah sebelum berkembang.
Hal yang sama terjadi dalam dunia menulis. Banyak orang membutuhkan lingkungan yang mendukung.
Mereka membutuhkan komunitas yang tidak menghakimi.
Mereka membutuhkan tempat bertanya ketika bingung.
Mereka membutuhkan teman seperjalanan yang sama-sama sedang belajar.
Karena itulah keberadaan komunitas literasi menjadi sangat penting.
GEMBIRA Hadir dari Keresahan Itu
Salah satu keresahan terbesar yang melahirkan GEMBIRA (Gerakan Menulis Bersama dan Berbagi Inspirasi) adalah kenyataan bahwa begitu banyak orang ingin menulis, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Ada yang memiliki pengalaman hidup luar biasa tetapi tidak pernah menuliskannya, ada yang memiliki ilmu yang bermanfaat tetapi tidak pernah membagikannya dalam bentuk karya, ada yang memiliki mimpi menerbitkan buku tetapi tidak pernah bergerak karena merasa belum siap. Padahal sering kali yang dibutuhkan bukanlah teori yang rumit.
Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memulai dan sistem yang membantu seseorang tetap berjalan. Karena itulah GEMBIRA dirancang bukan sekadar mengajarkan teori menulis. Yang lebih penting adalah membantu anggota benar-benar menghasilkan karya.
Belajar Sambil Praktik, Bukan Hanya Mendengarkan
Salah satu alasan banyak orang gagal belajar menulis adalah terlalu banyak mengonsumsi teori. Mereka mengikuti seminar, menonton video, membaca tips kepenulisan. Namun mereka jarang benar-benar menulis. Akibatnya, ilmu terus bertambah tetapi naskah tidak pernah bertambah.
GEMBIRA berusaha memecahkan masalah ini melalui pendekatan belajar sambil praktik.
Peserta tidak hanya mendapatkan materi, mereka diajak langsung menulis, didorong menghasilkan tulisan demi tulisan dan berlatih menuangkan ide menjadi karya nyata. Karena menulis hanya bisa dikuasai dengan cara menulis.
Tantangan Menulis yang Membantu Konsisten
Masalah berikutnya dalam dunia kepenulisan adalah konsistensi.
Ya betul. Banyak orang semangat di awal. Namun seminggu kemudian mulai sibuk. Sebulan kemudian lupa. Tiga bulan kemudian kembali berkata, “Nanti kalau ada waktu saya mulai menulis lagi.”
Karena itu GEMBIRA menghadirkan berbagai tantangan menulis yang membantu anggota menjaga ritme berkarya. Ya, tantangan bukan sekadar soal menyelesaikan tugas. Tantangan membantu seseorang membangun kebiasaan dan kebiasaan adalah fondasi lahirnya karya besar.
Dari Tulisan Menjadi Buku
Banyak orang menganggap menerbitkan buku adalah sesuatu yang rumit dan hanya bisa dilakukan oleh penulis terkenal. Padahal sebuah buku sesungguhnya hanyalah kumpulan tulisan yang disusun secara sistematis.
Karena itu GEMBIRA menghadirkan program antologi dan buku mini sebagai jembatan bagi para penulis pemula. Mereka tidak harus langsung menulis buku setebal ratusan halaman. Mereka bisa memulai dari satu tulisan, kemudian bertambah menjadi beberapa tulisan. Lalu berkembang menjadi sebuah karya yang dapat dibaca banyak orang.
Pendekatan ini membuat proses menulis terasa lebih ringan dan lebih mungkin untuk dilakukan.
Setiap Orang Berhak Menjadi Penulis
Sering kali seseorang merasa dirinya tidak layak menjadi penulis. Padahal dunia tidak hanya membutuhkan tulisan dari profesor, akademisi, atau tokoh terkenal. Dunia juga membutuhkan cerita dari guru, ibu rumah tangga, pelaku UMKM, mahasiswa, relawan, dan siapa pun yang memiliki pengalaman hidup berharga.
Karena setiap orang memiliki perspektif yang unik. Setiap orang memiliki pelajaran hidup yang mungkin dapat menginspirasi orang lain dan setiap orang berhak meninggalkan jejak pemikiran melalui tulisan.
Terus Bagaimana?
Keinginan menulis sebenarnya bukan masalah terbesar. Masalah terbesar adalah berhenti sebelum memulai.
Banyak orang menyimpan ide bertahun-tahun. Menyimpan mimpi menerbitkan buku bertahun-tahun. Menyimpan pengalaman hidup yang berharga bertahun-tahun. Padahal bisa jadi ada banyak orang yang membutuhkan cerita dan pelajaran yang mereka miliki.
GEMBIRA lahir dari keyakinan sederhana bahwa setiap orang bisa menulis jika diberikan pendampingan, lingkungan yang mendukung, dan kesempatan untuk terus berlatih. Karena menulis bukan tentang menjadi sempurna sejak awal.
Menulis adalah tentang berani memulai dan sering kali, satu paragraf yang ditulis hari ini adalah langkah pertama menuju buku yang selama ini hanya menjadi impian.
No Comment! Be the first one.