Ketika mendengar kata literasi, apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran kamu?
Sebagian besar orang mungkin akan menjawab: membaca buku. Jawaban itu tidak salah. Membaca memang merupakan bagian penting dari literasi. Bahkan bisa dibilang membaca adalah pintu masuk menuju dunia pengetahuan yang lebih luas.
Namun ada satu pertanyaan yang jarang kita renungkan : Apakah literasi cukup berhenti pada membaca?
Jika seseorang membaca puluhan buku setiap tahun, tetapi tidak pernah membagikan gagasannya, tidak pernah menulis, tidak pernah menghasilkan karya, apakah potensi literasinya sudah berkembang secara maksimal?
Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu keresahan besar dalam dunia literasi di Indonesia.
Kita sering berbicara tentang pentingnya membaca. Kita sering mengkampanyekan budaya baca. Kita sering mengajak masyarakat untuk mencintai buku. Tetapi di sisi lain, kita masih menghadapi tantangan yang tidak kalah penting: bagaimana mengubah budaya membaca menjadi budaya berkarya.
Membaca Adalah Awal, Bukan Tujuan Akhir
Bayangkan seseorang yang setiap bulan membaca dua atau tiga buku. Tentunya wawasannya bertambah, pengetahuannya berkembang dan cara berpikirnya menjadi lebih luas. Tentu itu hal yang sangat baik.
Namun bayangkan jika semua pengetahuan tersebut hanya berhenti di dalam kepalanya. Tidak pernah dituliskan, tidak pernah dibagikan dan mungkin tidak pernah diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.
Bukankah sayang?
Ibarat seseorang yang terus mengisi tangki air tetapi tidak pernah mengalirkannya ke mana-mana. Lama-kelamaan tangki itu penuh, tetapi manfaatnya tidak banyak dirasakan oleh lingkungan sekitar.
Begitu pula dengan literasi.
Membaca memberikan asupan bagi pikiran. Namun menulis dan berkarya adalah cara menyalurkan apa yang telah dipelajari agar memberikan dampak yang lebih luas. Karena itu, membaca sesungguhnya bukan garis akhir. Membaca adalah titik awal.
Mengapa Banyak Orang Berhenti di Membaca?
Faktanya, tidak sedikit orang yang senang membaca tetapi enggan menulis. Mereka menikmati buku, senang mengikuti diskusi, suka menyimak berbagai materi pembelajaran. Namun ketika diminta menulis, mereka langsung berkata:
- “Saya tidak bisa menulis.”
- “Saya belum cukup pintar.”
- “Saya takut salah.”
- “Saya tidak tahu harus mulai dari mana.”
Padahal kemampuan menulis tidak muncul secara otomatis. Sama seperti membaca yang harus dipelajari sejak kecil, menulis juga membutuhkan latihan yang berulang.
Masalahnya, banyak orang menjadikan tulisan yang sempurna sebagai syarat untuk mulai menulis. Akibatnya mereka tidak pernah benar-benar memulai. Mereka terus menjadi konsumen pengetahuan tanpa pernah menjadi produsen gagasan.
Bangsa yang Maju Tidak Hanya Gemar Membaca
Sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang rajin membaca. Peradaban besar dibangun oleh mereka yang menulis, mendokumentasikan pemikiran, menyusun gagasan, melakukan penelitian, dan menghasilkan karya yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bayangkan jika para ilmuwan hanya membaca tanpa pernah menulis hasil penelitiannya?
Bayangkan jika para tokoh bangsa hanya belajar tanpa pernah menuangkan gagasannya?
Bayangkan jika para ulama, filsuf, dan pemikir besar dunia hanya menyimpan ilmunya di dalam kepala?
Mungkin banyak pengetahuan berharga yang hilang begitu saja.
Kita mengenal banyak tokoh besar hari ini bukan hanya karena mereka berilmu, tetapi karena mereka meninggalkan karya. Karya membuat pengetahuan bertahan melampaui usia seseorang. Karya membuat gagasan tetap hidup meskipun penulisnya telah tiada.
Menulis Adalah Bentuk Literasi yang Lebih Aktif
Membaca membuat seseorang menerima informasi sedangkan menulis membuat seseorang mengolah informasi. Perbedaannya sangat besar.
Saat membaca, kita belajar memahami gagasan orang lain sedangkan saat menulis, kita belajar membangun gagasan kita sendiri.
Ketika seseorang mulai menulis, ia dipaksa untuk berpikir lebih dalam. Bahkan harus menyusun argumen, menghubungkan berbagai informasi serta mencari makna dari apa yang telah dipelajarinya. Karena itulah menulis sesungguhnya merupakan bentuk literasi yang lebih aktif.
Menulis tidak hanya menunjukkan bahwa seseorang telah membaca. Menulis menunjukkan bahwa seseorang telah berpikir.
Ya, Indonesia memiliki jutaan orang yang memiliki pengalaman hidup, pengetahuan, dan gagasan yang berharga.
Guru memiliki pengalaman mengajar. Pelaku usaha memiliki pengalaman membangun bisnis. Ibu rumah tangga memiliki pengalaman mendidik keluarga. Mahasiswa memiliki pengalaman belajar. Aktivis memiliki pengalaman menggerakkan masyarakat. Sayangnya, banyak pengalaman berharga itu tidak pernah didokumentasikan.
Padahal pengalaman yang tidak ditulis sering kali hilang bersama waktu. Sebaliknya, pengalaman yang dituliskan dapat menjadi sumber pembelajaran bagi banyak orang.
Karena itulah Indonesia tidak hanya membutuhkan masyarakat yang gemar membaca. Indonesia juga membutuhkan lebih banyak penulis. Lebih banyak pembuat karya dan lebih banyak orang yang berani membagikan pemikiran dan pengalamannya.
Dari Konsumen Menjadi Kontributor
Salah satu perubahan pola pikir yang perlu dibangun dalam gerakan literasi adalah perubahan dari sekadar konsumen menjadi kontributor.
Konsumen menikmati karya orang lain, kontributor ikut menciptakan karya dan konsumen mengambil manfaat dari ilmu.
Kontributor menyebarkan manfaat ilmu, konsumen memperoleh inspirasi dan Kontributor menjadi sumber inspirasi.
Tentu tidak ada yang salah menjadi pembaca. Namun akan jauh lebih baik jika seorang pembaca perlahan bertumbuh menjadi penulis. Karena setiap pembaca yang mulai menulis akan memperkaya ekosistem literasi. Ia tidak hanya menerima manfaat, tetapi juga memberikan manfaat.
GEMBIRA dan Misi Menumbuhkan Budaya Berkarya
Keresahan inilah yang menjadi salah satu alasan lahirnya GEMBIRA (Gerakan Menulis Bersama dan Berbagi Inspirasi).
GEMBIRA tidak hanya ingin mengajak masyarakat membaca lebih banyak. Kami juga ingin mendorong masyarakat untuk menghasilkan karya.
Sebab literasi yang berkualitas tidak berhenti pada kemampuan memahami informasi. Literasi yang berkualitas melahirkan kreativitas, produktivitas, dan kontribusi nyata.
Ketika seseorang mulai menulis, ia tidak hanya sedang membuat tulisan. Ia sedang melatih kemampuan berpikir, mengembangkan keberanian menyampaikan gagasan bahkan menciptakan warisan pengetahuan yang dapat memberi manfaat bagi orang lain.
Karena itu berbagai program menulis, antologi, tantangan menulis, hingga buku mini yang dihadirkan GEMBIRA bukan sekadar aktivitas komunitas. Semua itu merupakan bagian dari upaya membangun budaya berkarya. Budaya yang membuat masyarakat tidak hanya membaca, tetapi juga menciptakan.
Setiap manusia pada akhirnya akan meninggalkan dunia ini. Jabatan akan berganti, harta akan berpindah tangan dan bisa jadi popularitas akan memudar. Namun karya memiliki cara yang unik untuk bertahan.
Sebuah tulisan dapat terus dibaca bertahun-tahun setelah penulisnya tiada. Sebuah buku dapat terus menginspirasi generasi berikutnya. Sebuah gagasan dapat terus hidup melalui orang-orang yang menerapkannya. Karena itu berkarya bukan hanya tentang menulis. Berkarya adalah tentang meninggalkan jejak. Jejak pemikiran, pengalaman dan inspirasi.
Kita Jadi Belajar…
Membaca adalah fondasi penting dalam dunia literasi. Namun literasi yang berhenti pada membaca akan kehilangan sebagian besar potensinya. Kita membutuhkan lebih banyak orang yang tidak hanya menikmati buku, tetapi juga menulis buku.
Tidak hanya membaca gagasan, tetapi juga menciptakan gagasan. Tidak hanya mengonsumsi inspirasi, tetapi juga menjadi sumber inspirasi. Karena bangsa yang maju bukan hanya bangsa yang gemar membaca.
Bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu mengubah pengetahuan menjadi karya, mengubah pengalaman menjadi pembelajaran, dan mengubah literasi menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat.
Dan mungkin, langkah pertama menuju perubahan itu sesederhana ini: Setelah selesai membaca, mulailah menulis. Sebab dari situlah sebuah karya lahir, dan dari sebuah karya, perubahan sering kali dimulai.