Pernah nggak kamu membaca ulang tulisan sendiri dan merasa:“Kayaknya udah lengkap deh.”
Penjelasannya banyak, contohnya ada, kalimatnya pun sudah panjang. Bahkan mungkin kamu merasa sudah menjelaskan semuanya dengan sangat detail. Tapi ketika orang lain membaca, responsnya malah biasa saja. Tidak ada yang benar-benar membekas dan terasa kuat. Tidak ada yang membuat pembaca berhenti sejenak lalu berpikir.
Akhirnya muncul pertanyaan: “Padahal aku sudah menjelaskan panjang lebar. Kok pesannya tetap nggak sampai ya?”
Kalau pernah mengalami hal itu, bisa jadi masalahnya bukan karena tulisanmu kurang banyak. Justru sebaliknya. Bisa jadi tulisanmu terlalu penuh dan salah satu penyebabnya adalah kebiasaan mengulang kata atau informasi secara berlebihan.
Jadi gini, banyak penulis pemula memiliki niat yang baik. Mereka ingin pembaca benar-benar paham. Mereka takut ada informasi yang terlewat dan khawatir pesannya kurang jelas. Akhirnya mereka menjelaskan satu hal berkali-kali. Mengulang kata atau informasi yang sama. Bahkan mengulang makna yang sebenarnya sudah dipahami pembaca.
Tujuannya untuk memperjelas. Namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Tulisan menjadi berat. Pesan menjadi tenggelam dan pembaca mulai kehilangan fokus.
Kesalahan yang Sering Tidak Disadari
Mari lihat contoh sederhana : “Aku pulang ke rumahku, lalu membuka pintu rumahku dan masuk ke dalam rumahku.”
Tidak ada yang salah secara tata bahasa. Tetapi coba baca perlahan. Apakah terasa nyaman? Atau terasa seperti ada sesuatu yang berlebihan?
Masalahnya bukan pada kata “rumahku”. Masalahnya adalah kata itu muncul terus-menerus tanpa alasan yang kuat.
Padahal pembaca sudah memahami konteksnya sejak awal. Mereka tahu yang dimaksud tetap rumah yang sama. Tidak perlu diingatkan tiga kali dalam satu kalimat.
Tapi sebelum lanjut, ada satu hal yang perlu dipahami. Mengulang kata bukan selalu kesalahan. Dalam dunia menulis, repetisi kadang digunakan sebagai teknik untuk memberi penekanan.
Misalnya: “Kita butuh keberanian. Keberanian untuk mencoba. Keberanian untuk gagal. Keberanian untuk bangkit kembali.”
Pengulangan di sini punya tujuan. Ia memperkuat pesan, menciptakan ritme atau membangun emosi. Yang menjadi masalah adalah repetisi yang tidak disengaja atau repetisi yang muncul karena kita tidak sadar sedang mengulang hal yang sama.
Otak Pembaca Suka Efisiensi
Ada alasan mengapa pengulangan berlebihan membuat tulisan terasa melelahkan. Jawabannya karena otak manusia memang dirancang untuk bekerja secara efisien.
Ketika membaca, otak terus mencari informasi baru. Ketika menemukan kata atau informasi yang sama berulang kali tanpa nilai tambah, otak mulai merasa tidak mendapatkan manfaat baru. Akibatnya perhatian menurun, fokus berkurang, minat membaca ikut turun dan sebelum pesan utama sampai, pembaca sudah kehilangan energi terlebih dahulu.
Mari kembali ke contoh tadi.
Daripada menulis: “Aku pulang ke rumahku, lalu membuka pintu rumahku dan masuk ke dalam rumahku.”
Kita bisa menulis: “Aku pulang, membuka pintu, lalu masuk.”
Maknanya tetap sama. Informasinya tidak hilang. Tetapi terasa jauh lebih ringan. Bahkan dari kalimat ini kita lebih cepat memahami dan lebih nyaman dibaca kan?
Inilah yang sering dilupakan banyak penulis. Tulisan yang kuat tidak selalu membutuhkan lebih banyak kata. Kadang justru membutuhkan lebih sedikit.
Mengapa Kita Sering Mengulang?
Karena saat menulis, kita terlalu dekat dengan ide yang sedang disampaikan. Kita ingin memastikan pembaca mengerti. Kita ingin memastikan tidak ada yang salah paham. Akhirnya kita terus menjelaskan hal yang sebenarnya sudah jelas. Tanpa sadar kita memperlakukan pembaca seperti orang yang belum memahami apa pun.
Padahal pembaca jauh lebih cerdas daripada yang kita kira. Mereka mampu menangkap konteks, mampu menghubungkan informasi dan sebenarnya tidak perlu diberi tahu hal yang sama berulang kali.
Coba perhatikan artikel, buku, atau tulisan dari penulis yang berpengalaman. Salah satu cirinya adalah efisien. Mereka tidak mengulang kata tanpa alasan, tidak menumpuk penjelasan yang tidak perlu dan mereka hanya menyisakan hal-hal yang benar-benar penting.
Akibatnya tulisan terasa:
- Lebih ringan.
- Lebih mengalir.
- Lebih mudah dipahami.
- Lebih profesional.
- Lebih nyaman dibaca sampai akhir.
Karena pembaca tidak dipaksa berjalan memutar untuk mencapai satu pesan sederhana.
Cara Mengenali Repetisi dalam Tulisan
Kabar buruknya, repetisi sering sulit terlihat saat kita menulis. Kabar baiknya, ada beberapa cara sederhana untuk menemukannya.
- Cari Kata yang Terlalu Sering Muncul
Setelah selesai menulis, coba perhatikan kata-kata yang berulang dalam satu paragraf. Jika terasa terlalu sering muncul, mungkin ada yang bisa dipangkas.
- Baca Keras-Keras
Saat dibaca dalam hati, banyak pengulangan terasa normal. Tetapi ketika dibaca keras-keras, bagian yang berulang biasanya langsung terasa mengganggu.
- Percayai Pembaca
Tidak semua hal harus dijelaskan. Kadang pembaca sudah memahami konteks tanpa perlu diberi penjelasan tambahan.
- Tanya Diri Sendiri
“Kalau kalimat ini dihapus, apakah maknanya berubah?”
Jika tidak berubah, mungkin memang tidak perlu dipertahankan.
Menulis Adalah Seni Menyaring
Banyak orang berpikir menulis adalah proses menambahkan. Menambahkan ide, kata atau penjelasan. Padahal setelah beberapa waktu, penulis yang lebih berpengalaman menyadari sesuatu.
Menulis juga adalah seni mengurangi, memilih atau menyaring. Karena tidak semua yang ada di kepala harus masuk ke dalam tulisan. Dan tidak semua yang masuk ke dalam tulisan harus bertahan sampai versi akhir. Kadang bagian yang membuat tulisan menjadi kuat justru adalah bagian yang berani kita hapus.
Lalu, mengapa kita kesusahan melihat kesalahan sendiri? Karena kita sudah terlalu akrab dengan tulisan itu. Kita tahu maksudnya , tahu konteksnya dan tentunya kita tahu alasan setiap kalimat ditulis. Akibatnya banyak pengulangan yang tidak terlihat.
Apa yang terasa normal bagi penulis sering kali terasa melelahkan bagi pembaca. Inilah mengapa masukan dari orang lain sangat berharga. Karena mata kedua sering menemukan hal-hal yang luput dari perhatian kita.
Salah satu keuntungan belajar menulis dalam komunitas adalah kita tidak harus memperbaiki semuanya sendirian. Di GEMBIRA (Gerakan Menulis Bersama dan Berbagi Inspirasi), tulisan tidak hanya selesai ditulis lalu dibiarkan begitu saja.
Tulisan dibaca, diberi masukan, didiskusikan dan dibantu untuk menjadi lebih tajam, lebih ringkas dan lebih kuat. Karena sering kali yang membuat tulisan berkembang bukan hanya kemampuan menulis.
Tetapi kemampuan melihat apa yang perlu dihilangkan.
Jadi gini…
Jika hari ini tulisanmu terasa ramai tetapi tidak jelas, jangan buru-buru menambah kata. Jangan buru-buru menambah penjelasan.
Coba lakukan hal yang sebaliknya. Lihat kembali, saring kembali bahkan buang yang tidak perlu. Karena pembaca tidak selalu membutuhkan lebih banyak kata. Mereka membutuhkan lebih banyak kejelasan dan kejelasan tidak lahir dari pengulangan tanpa akhir. Kejelasan lahir ketika kita berani menyisakan hanya hal-hal yang benar-benar penting.
Jadi mulai hari ini, jangan hanya belajar menulis. Belajarlah juga menghapus. Karena sering kali tulisan yang kuat bukan tulisan yang paling banyak isinya. Melainkan tulisan yang paling jernih pesannya. ✍️📚✨
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi