Sebagian besar tugas-tugasku kulakukan dengan menggunakan ponsel, sebuah benda kecil yang bisa kubawa ke ruang kelas, bahkan bisa kugunakan untuk bekerja sambil berbaring, melalui aplikasi WhatsApp, grup, aplikasi Office yang tersedia di HP, dan beberapa aplikasi lainnya yang menunjang pekerjaanku.
Dulu, aku menganggap semua itu sebagai kesempatan agar aku bisa berdaya guna bagi orang lain. Aku mungkin tidak bisa melakukan banyak hal karena keterbatasan yang ada di dalam diriku, tetapi aku memiliki sebuah harapan. Di antara segala keterbatasan itu, aku berharap bisa meninggalkan jejak yang indah, yang manfaatnya bisa dirasakan oleh orang lain, sehingga bisa dicatat sebagai amal jariyah untukku di antara noda dan dosa yang ada pada diriku.
“Ayo, Rindu. Kamu berguna, kok. Kamu bisa, kok, untuk terus bermanfaat,” kata diriku sendiri suatu malam sambil menatap layar HP.
“Rindu, mungkin banyak orang yang menganggapmu tidak memiliki kemampuan dan menilaimu sebagai sosok yang tidak berguna. Tapi, setidaknya mungkin ada satu hal yang bisa kamu gali, berupa potensi dari dirimu.”
Aku tersenyum kecil.
Setelah itu, aku membuka percakapan komunitas kepenulisan tempat aku bertugas sebagai admin. Aku membaca beberapa pesan para anggota, lalu mulai mengetik sapaan dengan ramah untuk menghidupkan ruang grup tersebut dengan meriah. Kadang-kadang, aku hanya meninggalkan sebuah pesan renungan dan penyemangat untuk para penulis di dalamnya.
Namun, belakangan ini, ternyata ada sesuatu yang berubah. Hal sederhana yang biasa kulakukan itu terasa begitu sulit untuk kukerjakan. Aku membuka grup, menatap layar, membaca pesan yang sama berulang kali, tetapi aku tidak mampu menuliskan apa pun.
“Ayo, tinggal sabar saja. Enggak susah, kan?”
Jemariku bergerak sedikit, lalu berhenti.
“Kenapa berhenti? Kan tinggal tulis satu kalimat.”
Aku mencoba lagi, tetapi selang beberapa detik, aku langsung menghapusnya kembali.
“Tidak bisa. Tidak semudah itu. Sudah, hentikan! Enggak perlu berisik!”
Aku memegangi kepalaku yang terasa bergaung oleh suara-suara di dalamnya.
“Ya Allah, kenapa semua harus terjadi padaku?”
Aku meletakkan ponselku di samping bantal.
“Ya sudah, enggak perlu berisik. Besok saja, deh. Besok aku coba lagi.”
“Janji, ya? Kamu tuh harus profesional. Jangan banyak alasan!”
***
Hari berlalu. Keesokan harinya, rasanya tetap sama. Aku merasa lelah, takut, dan merasa tidak mampu menyapa siapa pun. Aku merasa bahwa sapaanku paling-paling tidak akan dijawab. Sapaanku mungkin hanya akan menjadi satu hal yang tidak penting.
Lebih baik aku menunggu sampai waktunya tiba, meskipun entah kapan, ketika aku benar-benar tidak lagi percaya bahwa aku mampu melakukannya dengan baik.
Lubang Dalam yang Menjerat
Waktu bergulir. Aku menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang berubah. Aku tidak selalu bisa menjelaskan perubahan itu dengan kalimat yang utuh, tetapi aku tahu bahwa tenagaku seolah-olah meninggalkan tubuhku, di tengah segala tuntutan tugas dan perjalanan hidup yang memaksaku untuk tetap berjalan.
Pekerjaanku di sekolah tetap ada. Aku harus pergi ke sana untuk melaksanakan tugasku sebagai seorang guru, yang bukan hanya sekadar mentransfer ilmu, tetapi juga menjadi rumah teduh yang aman bagi murid-muridku.
Komunitas kepenulisan masih menantikan sapaan dari adminnya. Laporan kegiatan komunitas penghafal Al-Qur’an juga menunggu hasil pencatatan dan pengolahan data dariku.
Aku mencoba agar semuanya tetap bisa berjalan, di antara sebuah kenyataan pahit bahwa aku semakin sulit mengikuti irama dan alur yang harus kulalui.
Suatu pagi, aku memandangi ponselku. Matahari sudah mulai memancarkan sinarnya dengan malu-malu. Aku tertegun dan terdiam.
Apakah aku sudah melaksanakan salat Subuh?
Aku tahu bahwa tadi aku terbangun sebelum fajar. Aku salat tahajud, tetapi aku tidak tahu apakah aku sudah salat Subuh atau belum. Mukena masih kupakai, tetapi aku benar-benar tidak ingat kejadian maupun hal-hal yang kulakukan setelahnya. Aku pun tidak ingat salat malam yang kulakukan itu berapa rakaat dan doa-doa apa saja yang kupanjatkan.
Aku berupaya menepisnya, tetapi ada sebuah pertanyaan yang menjadi misteri.
Kenapa aku jadi seperti ini sekarang?
Aku tidak menemukan jawabannya.
Aku malah melontarkan pertanyaan lain kepada diriku sendiri. Semalam, sebelum tidur, apakah aku sudah menyuapi toddler-ku? Apakah aku menyambut suamiku ketika datang dan mengajaknya makan bersama?
Aku berusaha mengingat kejadian-kejadian itu. Namun, pikiranku terasa seperti lemari yang penuh barang tanpa label. Aku tahu jawabannya mungkin ada di sana, tetapi aku tidak tahu harus membuka laci yang mana.
Lagi dan lagi, aku merutuki diriku sendiri sambil memukul-mukul kepalaku.
“Aku ini kenapa, sih? Kenapa begitu sulit hanya untuk sekadar mengingat hal yang belum lama terjadi?”
Aku menarik napas panjang.
Aku bersiap untuk pergi ke sekolah, tetapi tiba-tiba jantungku berdetak dengan keras. Aku merasa cemas, kehilangan energi, kebingungan, dan ketakutan. Aku tidak mau keluar dari rumah. Bahkan, aku tidak mau beranjak dari tempat tidurku.
Aku merasa bahwa jika aku pergi keluar, akan ada orang jahat yang memandangku dengan tatapan sinis dan menertawakanku. Atau mungkin para orang tua murid akan menudingku sebagai guru yang tidak layak untuk membimbing dan mendidik siswa-siswaku.
Aku menarik napas panjang.
“Ah, kamu cuma malas saja. Jangan banyak alasan!”
Namun, suara lain dalam diriku menyahut.
“Kalau cuma malas, kenapa hal ini terasa begitu berat? Bukankah menjadi guru itu bukan sekadar mimpimu, tetapi juga sesuatu yang sangat kamu cintai?”
Aku ingin berteriak di antara dua suara yang bertengkar di dalam kepalaku. Yang satu menuduh bahwa semua ini hanyalah alasan akibat ketidakbecusanku. Yang satu lagi berusaha merasionalisasi bahwa aku benar-benar kesulitan melakukan hal-hal yang seharusnya bisa kulakukan.
Dan aku terjebak di antara keduanya. Aku tidak tahu mana suara yang harus kupercaya.
Aku memotong pembicaraan kedua suara yang sedang berdebat itu.
“Cukup! Aku tahu aku harus profesional!” kataku akhirnya.
Namun, suara lain kembali menyahut.
“Tapi kamu kan sedang sakit. Kamu lemas. Untuk berdiri saja tubuhmu sempoyongan.”
“Tapi, tapi ada tugas yang harus diselesaikan, kan?”
“Kalau cuma lemas, bisa minta diantar suami ke sekolah.”
“Baik! Cukup! Aku berangkat ke sekolah. Enggak usah berisik lagi!” jawabku kepada diriku sendiri sambil menutup telingaku.
Apa pun yang mereka katakan, akulah yang berperan mengambil keputusan untuk hidupku. Aku tak ingin terus-menerus dikuasai oleh suara-suara itu, walaupun terkadang aku merasa bingung menentukan mana yang harus kupercaya.
Aku ingin menjadi seperti orang-orang yang bisa menjalani hari tanpa harus meladeni perang yang ada di dalam kepalanya sendiri.
Admin Group yang Menghilang
Di komunitas kepenulisan, tugasku sebenarnya sederhana: menyapa anggota secara rutin, menjaga interaksi, membuat komunitas tetap terasa hidup, dan terus membakar semangat para penulis yang ada di dalamnya.
Tak ada rapat tatap muka yang harus aku jalani. Tak ada perjalanan yang harus ditempuh. Semua hanya kulakukan melalui ponselku. Namun, justru karena semua dapat dilakukan melalui HP, aku sering merasa tidak memiliki alasan yang cukup untuk gagal.
Ah, kan cuma menyapa, kataku pada diriku sendiri.
Orang lain bisa melakukannya sambil mengerjakan hal lain. Kenapa kamu enggak?
Suara dalam kepalaku kembali berbicara.
Aku membuka WhatsApp grup kepenulisan tersebut. Ada nama-nama yang kukenal, ada pesan yang terlewat, dan ada percakapan yang terus bergerak tanpa diriku.
Tidak terasa, sudah lebih dari satu bulan aku tidak menyapa mereka sebagaimana seharusnya.
Kalau aku muncul sekarang, aku harus bilang apa?
Aku ingin mencoba mengetik, Teman-teman, apa kabar? Namun, aku kembali membaca kalimat itu. Satu suara kembali memanggil di kepalaku.
“Itu kan sederhana. Ayo, kirim. Tinggal kirim, kan?”
Aku tidak melakukannya. Jempolku tak kuasa menekan tombol kirim.
“Kalau ada yang bertanya kenapa aku baru muncul sekarang, aku harus bilang apa?”
Aku bahkan ingin menghapus kalimat itu. Sebuah suara memaki dan mendera batinku.
“Bagaimana kalau mereka menganggapku sebagai sosok yang tidak bertanggung jawab, yang hanya merasionalisasi dan menjadikan keadaanku sebagai alasan? Aku harus bagaimana?”
Akhirnya, aku menutup aplikasi. Beberapa saat kemudian, suara-suara itu kembali datang.
Satu suara yang lain menyapaku.
“Rindu, kamu sedang apa? Kenapa kamu kayak gini terus? Sampai kapan kamu mau seperti ini?”
Kali ini mereka tidak berperang. Mereka datang satu per satu.
Aku menatap layar dengan lelah, lalu bergumam, “Aku tidak tahu.”
Bagi orang lain, mungkin kehadiranku hanya berarti sebagai admin yang lupa menjalankan tugas. Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa aku tidak menyapa. Atau mungkin, barangkali, ada pula orang yang tidak terlalu memedulikannya.
Aku benar-benar tidak tahu.
Namun, di kepalaku, setiap kemungkinan tumbuh menjadi sebuah kecemasan yang menyiksaku.
Ah, apakah aku mengecewakan mereka? Apakah mereka menganggapku tidak profesional? Apakah aku masih pantas menjadi bagian dari komunitas ini?
Aku mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kembali bergaung di kepalaku.
“Hai, Rindu. Kamu masih ingin ada di sana, kan? Lalu, kenapa kamu terus menghilang?”
“Karena dia tidak sanggup.”
Satu suara lain membelaku.
“Apakah kamu tidak mengerti?”
Suara satunya menyangkal.
“Tidak sanggup atau tidak mau? Alasan lagi, alasan lagi.”
Aku hanya terdiam.
Lagi-lagi mereka bertengkar, padahal tadi mereka datang satu per satu.
Aku ingin sekali menjawab dengan tegas bahwa aku masih ingin menyapa, menulis, terlibat dalam percakapan, dan tetap menjalankan amanah yang teremban. Namun, semuanya terasa seperti kesia-siaan jika keinginan itu tidak diikuti dengan tindakan, meskipun hal itu terjadi karena kemampuanku yang tiba-tiba menghilang.
Lalu, bagaimana aku harus menjelaskan bahwa sebuah pesan yang hanya terdiri dari beberapa kata terasa seperti beban yang begitu berat untuk kukirimkan? Bagaimana aku menjelaskan bahwa sebuah dering telepon yang harus kuangkat bisa membuatku begitu ketakutan, sampai-sampai aku menganggapnya sebagai teror yang mengerikan?
Aku menghela napas dan kembali berbisik.
“Ya Allah, aku cuma ingin bisa melakukan hal-hal yang bisa kulakukan sebaik mungkin selama napas ini masih ada dalam diriku.”
Untuk sesaat, aku berharap ada seseorang yang dapat mendengar kalimat itu tanpa menganggapnya sebagai sebuah rasionalisasi semata.
Drama Kesalahpahaman Pengiriman Laporan
Di sebuah komunitas penghafal Al-Qur’an, persoalannya berbeda.
Lagi-lagi, aku merasa dianggap sebagai pengacau yang tidak melaksanakan tugasnya, tidak cakap dalam bekerja, dan menghambat kinerja orang lain.
Ternyata, tanpa kusadari, ada data yang perlu segera dimasukkan. Ada laporan yang harus disusun menjadi sebuah berkas, ditata, lalu dimasukkan ke Google Drive. Ada pula kegiatan rapat internal tim yang harus dijadwalkan.
Aku tahu pekerjaan-pekerjaan itu membutuhkan ketelitian. Aku juga tahu bahwa tugas yang tertunda bisa memengaruhi pekerjaan orang lain.
Maka, setiap kali membuka dokumen melalui HP, aku berusaha mengumpulkan konsentrasi agar bisa melaksanakan pekerjaan-pekerjaanku dengan sebaik mungkin, tanpa kesalahan sedikit pun.
Aku memeriksa data ini. Sudah dilakukan, lalu aku memeriksa kembali.
Sebentar, tapi yang ini sudah benar belum, ya?
Aku kembali memeriksanya. Setiap baris, setiap catatan, lalu kembali pada laporan yang dituliskan dalam buku besar.
Ya Allah, mudah-mudahan jangan sampai salah.
Aku berpindah aplikasi dan membaca pesan lainnya, pesan koordinasi, lalu kembali lagi ke dokumen.
Beberapa saat kemudian, aku kebingungan.
Tadi aku mau ngapain, ya?
Aku memandangi layar ponselku, seolah-olah benda kecil itu dapat menjelaskan ke mana perginya konsentrasiku. Aku baru saja mengerjakan sesuatu, lalu aku lupa apa yang harus kulakukan. Aku baru saja mengerjakannya. Masa aku lupa lagi? Apa lagi yang harus aku kerjakan?
Aku mencoba memaksa diri untuk berkonsentrasi.
Ayo, Rindu. Fokus dikit lagi. Ingat-ingat lagi. Kamu tadi mau ngapain?
Namun, semakin aku memaksa diri, semakin lelah rasanya.
Kalau aku berhenti sekarang, mungkin pekerjaanku tidak selesai. Kalau aku lanjutkan, bahkan aku mungkin tidak bisa berpikir dengan jernih. Lalu, aku harus bagaimana?
Aku tidak menemukan jawaban yang memuaskan.
Pada saat-saat seperti itu, aku hanya terdiam dan memejamkan mata. Aku tahu, terlalu keras mengingat-ingat sesuatu yang tidak bisa kuingat justru membuat kepalaku begitu sakit.
Sudah lebih dari seminggu aku rutin meminum obat penghilang rasa sakit untuk meredakan sakit kepala yang kualami ketika berusaha mengingat sesuatu yang sulit kuingat atau saat kepalaku terasa terlalu bising.
Ditambah lagi, anak-anakku yang terus saja membuat ulah, membuatku terkadang bingung harus bagaimana. Hingga akhirnya, beberapa hari kemudian, aku teringat.
“Oh, ya. Aku harus memasukkan laporanku ke sebuah Google Drive”
Namun, muncul pemberitahuan bahwa kegiatan yang harus kubuat laporannya itu dijadwalkan ulang. Akhirnya, aku memutuskan, Ya sudah, nanti buat laporannya setelah kegiatan tersebut berlangsung. Jadi, aku bisa mengerjakannya sekaligus.
Sebenarnya, semua itu bukan berarti aku sama sekali belum mengerjakan laporannya. Aku sudah membuat laporan tersebut dan mengirimkannya ke grup WhatsApp. Hanya saja, aku memang belum memindahkannya ke Google Drive, tempat laporan itu seharusnya disimpan.
Komunikasi dalam Bahasa yang Berbeda
Aku masih merenung, mencoba memahami dan menyadari bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan dengan baik dan setiap amanah harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Aku tidak keberatan jika ada orang yang menanyakan perkembangan tugas yang telah diamanahkan kepadaku. Aku juga tidak berharap orang lain harus mengerjakan apa yang menjadi tugasku. Aku memahami bahwa mungkin aku dianggap mengabaikan pekerjaan yang terbengkalai tanpa kabar. Namun, ada satu hal yang mungkin membuatku cukup terluka: ketika sebuah pertanyaan datang dengan kalimat yang menurutku begitu menyudutkan.
Sebuah pertanyaan yang memukulku dengan telak, tanpa aba-aba sebelumnya, tanpa pengingat atau reminder mengenai batas waktu pengumpulan tugas yang harus kuselesaikan. Padahal, dengan mengetahui batas waktu tersebut, aku bisa mengatur diri, berusaha bangun, dan bersikap profesional dengan seluruh kemampuan yang kumiliki untuk menyelesaikan segala tugas yang teremban padaku.
Ah, apakah aku berlebihan kalau berharap bahwa mungkin segalanya akan berbeda jika sejak awal ia berkata kepadaku, “Kak, laporan ini diupayakan bisa selesai minggu depan, ya. Kalau ada kendala, bisa kabari kami.”
Atau mungkin sebuah pengingat sederhana yang menyebutkan, “Kak, bagaimana laporannya? Deadline-nya beberapa waktu lagi, ya.”
Bagiku, pengingat semacam itu bisa menjadi sebuah penanda. Sebuah timeline yang membantuku melihat pekerjaan yang harus kulakukan, mengatur waktu, dan berusaha mengumpulkan energi untuk menyelesaikannya sebelum semuanya melewati batas waktu hingga akhirnya menghambat pekerjaan tim yang lain.
Namun, ketika waktu sudah berlalu begitu lama dan datang pertanyaan dengan nada yang terasa sinis, menuntut, dan menyalahkan, aku merasa begitu sedih, begitu tak berharga, seolah-olah aku hanya menjadi sosok yang pantas disalahkan.
“Sudah sebulan nih, kenapa belum selesai?”
Pertanyaan itu membuatku kembali berhadapan dengan diriku sendiri.
“Hei, kamu ini kan tahu itu sudah lama. Kalau tahu, kenapa enggak diselesaikan?”
“Tapi aku kan masih mencoba menunggu sampai semuanya beres. Rapat yang terakhir juga kan belum dilakukan.”
“Ah, harusnya kamu bertanya.”
“Aku kan sudah bertanya tentang kapan rapat terakhir dilakukan. Aku baru akan menggabungkannya setelah itu. Lagi pula, aku sudah mengerjakannya dan mengirimkannya di grup WhatsApp. Jadi, aku benar-benar bukan orang yang lalai, kan?”
“Ya, terserah kamu, deh. Apa pun itu, kamu merasa enggak enak, kan, ketika orang itu berbicara seperti itu? Kalau kamu merasa dirimu benar, kamu enggak perlu merasa bersalah seberat itu.”
Aku menghela napas dan kembali berusaha menguasai diriku.
Aku berbisik dalam hati:
Aku tidak benar-benar ingin lari dari tanggung jawab. Aku juga ingin menyelesaikannya. Hanya saja, aku menunggu waktu yang tepat, dan mungkin waktu tersebut dianggap tidak tepat bagi orang lain.
Aku mencoba mengetik sebuah pesan kepada seseorang yang telah berbicara dengan cara yang membuatku merasa kurang nyaman. Aku mengetik pesan WhatsApp, tetapi pada akhirnya menghapusnya kembali karena bingung bagaimana menyampaikan semuanya tanpa merasa sedang mengemis perhatian.
Padahal, apa yang ingin kusampaikan mungkin bukanlah sebuah pemakluman atas kelalaian dalam menjalankan tanggung jawab yang telah diamanahkan kepadaku.
Aku hanya berharap komunikasi bisa menjadi jalan untuk menyelesaikan masalah, bukan sekadar tempat untuk mengumumkan keterlambatan atau menyudutkan seseorang yang mungkin sebenarnya masih kebingungan tentang apa yang harus dilakukannya.
Aku merenung. Akhirnya, aku memberanikan diri menulis sebuah pesan kepada kepala divisi tempatku berada. Aku meminta maaf atas segala sesuatu yang mungkin dianggap sebagai kelalaian atau keteledoran. Aku mencoba menjelaskan kondisi kesehatanku secara umum dan meminta agar aku senantiasa diingatkan jika memang terlewat dalam mengerjakan tugas. Namun, aku juga mengatakan bahwa jika hal ini menjadi pertimbangan lain dan kondisiku tidak bisa diterima dalam komunitas tersebut, semua keputusan kuserahkan kepadanya.
Aku tidak tahu bagaimana ia akan menanggapi pesanku. Aku hanya mencoba menyampaikan apa yang selama ini kusimpan, dengan harapan bahwa setidaknya aku tidak terus-menerus bertarung sendirian dengan berbagai kemungkinan di dalam kepalaku.
Satu Nada yang Terus Membekas
Hampir satu tahun berlalu sejak aku bergabung dengan komunitas ini, sebuah komunitas Islam yang berusaha menjalankan berbagai kegiatan dakwah.
Aku berusaha sebaik mungkin untuk bekerja secara individual maupun dalam tim. Aku juga mencoba memahami kebiasaan, aturan, dan berbagai hal yang berlaku di komunitasku. Namun, ternyata aku menemukan beberapa orang yang perkataannya sering terdengar cukup ketus di telingaku. Aku tidak tahu apakah itu hanya ilusiku. Namun, bukan hanya sekali atau dua kali aku mendengar dan menerima ucapan mereka.
Aku tidak tahu pasti bagaimana karakter mereka sebenarnya. Aku masih membutuhkan waktu untuk mengenal mereka dengan baik secara personal.
Namun, seolah-olah tanpa tameng, aku sering membawa percakapan-percakapan itu jauh ke dalam lubuk hati dan pikiranku. Bahkan, setelah ponsel kuletakkan, hatiku masih bertanya-tanya.
Apakah mereka membenciku? Apa mereka tidak menyukaiku? Apakah mereka berpikir bahwa aku seseorang yang berbeda? Apakah mereka menganggapku orang yang tidak bisa diandalkan?
Aku mencoba menjawab semua pertanyaan itu. Namun, aku tidak menemukan jawabannya.
Tidak ada bukti yang benar-benar kutemukan. Aku pun tidak tahu. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu atau menyimpulkan sikap seperti apa yang seharusnya kuambil.
Pikiranku masih saja berputar dan belum mau berhenti.
Bagaimana kalau mereka benar-benar membenciku, tidak menyukaiku, menganggapku tidak becus, dan memikirkan berbagai hal negatif tentang diriku?
Namun, jika semua itu hanya perasaanku, hanya ilusiku, bukankah aku berdosa karena berprasangka buruk?
Bukankah prasangka buruk itu bisa membuat kiprahku dalam salah satu komunitas dakwah kehilangan nilainya?
Aku begitu bingung. Aku masih meragukan banyak hal.
Kalau mereka tahu kondisi kesehatanku yang sebenarnya, tentang berbagai pikiran paranoid, delusi, dan kelemahan yang ada pada diriku, apakah mereka akan tetap menerimaku untuk bersama-sama berjuang di jalan dakwah? Atau mereka akan membuangku dan menganggapku tidak layak menerima amanah-amanah yang selama ini memang sering membuatku kesulitan?
Aku tidak bisa membayangkan betapa menyesalnya mereka jika mengetahui kondisiku setelah memberiku amanah yang begitu berat.
Aku memandangi ponselku yang mulai meredup.
Apa memang aku tidak pantas berada di komunitas-komunitas itu? Bukan hanya komunitas dakwah, tetapi juga komunitas lainnya. Atau mungkin, bagaimana dengan pekerjaanku dan hidupku sendiri? Apakah aku masih layak hidup di tengah segala kelemahan dan kekurangan yang begitu nyata dalam diriku?
Pertanyaan itu kembali mengendap di dalam kepala.
Aku tidak menemukan jawaban yang pasti. Aku hanya tahu bahwa aku masih ingin menjadi bagian dari komunitas-komunitas itu, masih ingin berkontribusi, dan masih ingin menjalankan amanah dengan sebaik mungkin.
Namun, aku juga takut.
Takut bahwa suatu hari nanti orang-orang akan melihat diriku bukan sebagai seseorang yang sedang berjuang, melainkan sebagai seseorang yang tidak mampu menjalankan tanggung jawabnya. Aku tidak tahu apakah ketakutan itu benar-benar mencerminkan kenyataan atau hanya tumbuh dari pikiranku sendiri.Semua ketidakpastian itulah yang sering kali membuatku semakin lelah.
Pengajar yang Masih Harus Banyak Belajar
Di sekolah, aku masih tetap menjadi seorang guru.
Ada materi yang harus kusampaikan kepada murid-muridku dengan penjelasan yang bisa mereka pahami. Ada berkas-berkas yang harus diselesaikan. Aku mencoba menjalankan semua tugas itu dengan baik.
Aku pun harus senantiasa meningkatkan kemampuan diri agar bisa menjadi guru yang visioner, tidak ketinggalan zaman, mampu mempermudah siswa dalam belajar, dan menyediakan media pembelajaran yang menarik sehingga mereka tidak bosan menerima pelajaranku.
Aku terbiasa menyiapkan materi melalui HP dengan bantuan kecerdasan buatan, membuat kuis-kuis interaktif, dan mencari video-video animasi yang bisa memudahkan mereka memahami materi.
Setidaknya, itulah yang kuharapkan.
Aku ingin murid-muridku belajar dengan lebih mudah. Aku ingin mereka mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan. Aku ingin menjadi guru yang terus belajar dan berkembang, meskipun aku sendiri masih harus berjuang menghadapi banyak hal di dalam diriku.
Namun, ketika membuka grup komunitas kepenulisan dan teringat bahwa sampai saat ini aku masih belum menjalankan tugasku sebagai admin, aku kembali merasa bersalah.
Aku belum menyapa dan membuka interaksi di grup tersebut.
Grup itu masih berjalan, tetapi tanpa kehadiranku secara utuh. Aku hanya menjadi silent leader yang bahkan tidak memberikan komentar apa pun.
Aku juga membuka Instagram, sebuah komunitas tempat aku menjadi salah satu konten kreatornya. Sudah lebih dari satu bulan sejak unggahan terakhirku di sana.
Aku bingung. Bukan karena kehabisan ide atau kehilangan gagasan begitu saja, melainkan karena merasa sedang begitu berantakan untuk membuat satu unggahan yang mungkin bisa menjadi solusi atau motivasi bagi orang lain.
Aku memang masih membuat unggahan di media sosial pribadiku, media sosial yang mungkin tidak banyak diketahui orang sebagai milikku. Di sana, aku masih membuat tulisan tentang kegalauan, kesedihan, dan kegundahan. Semuanya menjadi ruang katarsis, tempat menampung tarian imajinasi yang berkelebat di dalam kepalaku.
Dari sana, aku merasa semuanya seperti pintu-pintu yang terkunci secara bersamaan.
Aku begitu tak berdaya dan tidak memiliki tenaga untuk membuka kuncinya. Aku hanya mampu membuka pintu dalam peranku sebagai seorang guru.
Meski saat menjalankan peran itu aku harus memakai topeng agar orang-orang tidak menyadari betapa kusut dan berantakannya diriku, aku tetap berusaha menjalankan tugasku.
Saat pulang mengajar, aku selalu merasa begitu kelelahan. Bahkan, mungkin aku kehilangan kesadaran ketika senja mulai menjelang.
Saat akhir pekan, aku biasanya beristirahat panjang. Aku mencoba tidur lama, seolah-olah sedang berhibernasi, dan membiarkan sebagian kesadaranku menghilang.
Anak-anakku pernah berkata, “Umi, kenapa begini? Kami lebih suka melihat Umi marah-marah daripada harus seperti ini.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya tahu bahwa aku sedang begitu lelah, bahkan untuk melakukan hal-hal yang biasanya bisa kulakukan.
Akhir pekan bagiku sebenarnya bukan selalu waktu libur. Terkadang ada kegiatan komunitas yang harus kuhadiri secara langsung.
Beberapa kali aku berusaha menghadirinya. Namun, ada masa-masa ketika aku merasa tidak kuat melangkah, sehingga lebih sering mencari alasan dan akhirnya dimaklumi untuk tidak mengikutinya.
Kadang-kadang aku berpikir, Sampai kapan aku terus berada di dalam lembah ini?
Aku berusaha keluar dengan berbagai cara, meskipun aku menyadari bahwa dasar lembah ini bukanlah tempat yang selalu kutempati.
Aku pernah berada di titik puncak, ketika merasa begitu mampu melakukan banyak hal. Namun, aku juga tahu bahwa titik puncak itu tidak selalu abadi. Pasti ada lembah yang menanti.
Hanya saja, aku tidak menyangka bahwa dasar lembah yang harus kutempati saat ini akan terasa begitu gelap dan mengerikan. Aku tidak menyangka bahwa aku akan begitu lama terperangkap dan begitu sulit keluar darinya.
Aku ingin bangkit. Aku ingin kembali melakukan banyak hal seperti sebelumnya.
Namun, keinginan saja ternyata tidak selalu cukup untuk membuatku mampu melangkah. Dan semakin lama aku berada di sana, semakin sering aku bertanya-tanya apakah aku akan bisa menemukan jalan keluar.
Perang di Kepalaku
Malam ini aku kembali membuka ponselku.
Aku membaca catatan-catatan tugas yang ada di sana. Ada beberapa pekerjaan yang masih belum bisa kuselesaikan.
“Hai, kamu. Kamu sadar, ya, kalau kamu itu enggak berguna?”
Kalimat itu muncul begitu saja.
Aku terdiam, mencoba mencari jawaban.
Tiba-tiba, suara lain menyela.
“Benarkah tidak ada satu pun yang pernah kamu lakukan dengan baik? Coba kamu ingat-ingat lagi.”
“Aku tidak langsung menjawab. Aku berusaha mengingat-ingatnya, tetapi kepalaku begitu sakit.”
“Aku mungkin memang tidak pernah becus melakukan segala hal.”
Satu suara kembali menyela.
“Tidak begitu. Kamu ini bisanya cuma menyalahkan. Kamu ingat enggak saat dia pernah mengajar anak-anak dengan begitu penuh kesabaran? Bahkan saat menghadapi anak-anak yang begitu nakal, mereka masih menyeganinya dan menganggapnya sebagai guru yang dihormati. Dia juga pernah membantu orang lain saat orang itu berada di titik nadir. Dia selalu berusaha menjalankan segala amanah, meskipun dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya berhenti.”
“Tapi sekarang tidak bisa, kan? Sekarang dia tetap menjadi orang yang tidak berguna.”
Suara itu kembali menyangkal.
Hei, kamu bisa enggak berpikir bahwa ketika seseorang sedang berada dalam kesulitan dan tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar, bukan berarti semua kebaikannya akan hilang?
Aku merunduk, tidak ingin berkata apa pun.
Aku juga tidak ingin menjawab apa pun. Aku hanya tahu bahwa segala kelelahan ini membuat semuanya terasa berbeda. Aku tahu aku masih ingin melakukan banyak hal yang berguna bagi orang lain. Namun, sungguh, kali ini aku benar-benar tidak memiliki tenaga seperti sebelumnya.
Aku tidak tahu sampai kapan aku akan terjebak dalam kondisi ini.
Berbagai upaya sudah kulakukan agar bisa bangkit, tetapi aku masih berada dalam keadaan yang sama. Aku juga tidak ingin menjadikan segala kondisiku sebagai sebuah alasan. Aku hanya takut dinilai buruk, takut mengecewakan, takut dianggap tidak mampu, dan takut kehilangan tempat yang selama ini membuatku merasa berguna bagi orang lain.
Di antara semua ketakutan itu, ada satu hal yang paling sulit kuucapkan: aku takut ketika aku tidak mampu memberikan apa-apa dan tidak ada lagi alasan bagi orang lain untuk menerimaku.
Kalau aku tidak berguna bagi siapa pun, apakah itu berarti aku tidak pernah pantas untuk hidup?
Kata-kata itu membuatku terdiam lama.
Aku tidak bisa menemukan jawaban yang dapat menyelesaikan segala pergulatan ini. Namun, aku tetap meminta tubuhku untuk bekerja, bahkan ketika aku hampir tidak memiliki tenaga.
Aku tetap meminta pikiranku untuk fokus saat konsentrasiku terpecah karena bisingnya kepala. Aku meminta diriku untuk tetap ramah, produktif, dan dapat diandalkan, bahkan ketika untuk mengingat hal-hal dasar yang baru saja kulakukan saja aku mengalami kesulitan. Bukan itu saja, qku adalah orang pertama yang menghukum diriku sendiri dengan berbagai cara dan kata-kata yang jauh lebih menyakitkan daripada rasa sakit ketika gagal mencapai hal-hal yang kutargetkan.
Satu suara kembali menuntutku.
“Kalau orang lain bisa, kenapa kamu tidak bisa?”
Aku tidak ingin menjadikan kemungkinan bahwa aku sedang tidak baik-baik saja sebagai alasan untuk membenarkan segala sesuatu. Namun, aku juga tidak ingin menjadikan kondisi itu sebagai alasan untuk terus menganggap diriku gagal dan tidak berguna.
Aku tidak ingin memungkiri bahwa aku memang sedang tidak baik-baik saja.
Hal itu terdengar begitu sederhana, tetapi sulit sekali bagiku untuk mengucapkannya.
Ada sebuah lintasan pikiran yang muncul.
Mungkinkah aku perlu bantuan profesional yang lebih intensif?
Namun, aku buru-buru menepis pikiran itu.
Ah, bagaimana kalau para orang tua siswa di sekolahku tahu tentang keadaanku? Bagaimana kalau rekan kerjaku menjadi antipati terhadapku karena aku berbeda? Bagaimana kalau orang-orang di komunitasku mengetahui segala kelemahanku?
Aku ingin menyembunyikan keadaanku sampai semuanya kembali normal. Namun, aku tidak pernah tahu kapan hari itu akan tiba.
Tapi, kalau aku terus menyembunyikan semuanya, lalu siapa yang akan tahu bahwa aku membutuhkan pertolongan yang lebih serius?
Pertanyaan itu membuatku terdiam dalam keheningan.
Aku mulai merangkai sebuah kesadaran: mungkin aku tidak harus menceritakan semuanya kepada semua orang. Aku tetap berhak menjaga privasiku. Namun, aku juga mulai memahami bahwa menjaga privasi tidak harus berarti menanggung seluruh kesulitan seorang diri.
Mungkin aku bisa berbicara kepada tenaga profesional dengan lebih terbuka tanpa harus menyembunyikan hal-hal penting mengenai kondisiku. Mungkin aku bisa meminta bantuan orang-orang yang benar-benar bisa dipercaya untuk mendampingiku ketika berada dalam masa krisis, meskipun aku belum tahu apakah orang itu benar-benar ada.
Mungkin aku juga bisa mendiskusikan pilihan-pilihan perawatan dan pengaturan pekerjaan tanpa harus lebih dahulu memastikan bahwa semua orang akan memahami keadaanku. Dan mungkin aku tidak perlu menyelesaikan semua persoalan yang menumpuk di dalam kepalaku saat itu juga.
Untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa semuanya sedikit lebih ringan. Aku harus mulai belajar menjadi lebih toleran terhadap diriku sendiri, seperti halnya aku berusaha bersikap toleran kepada siswa dan anak-anakku.
Aku menatap ponselku kembali.
Aku masih ingin menulis. Aku juga masih ingin menjadi bagian dari komunitas-komunitas yang menginginkanku berada di dalamnya. Aku bisa membuat anak tangga satu per satu agar tidak terus-menerus terjebak di dasar lembah yang mengerikan ini. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa keluar darinya. Aku juga tidak harus langsung mencapai puncak lagi. Namun setidaknya, aku ingin belajar agar tidak terus merasa sesak karena udara yang begitu tipis ketika berada di dalam lembah itu.
Aku mulai menyadari bahwa perang dalam kepalaku belum selesai. Perjuangan dalam hidupku masih harus kulanjutkan. Besok, mungkin aku masih harus menjawab pesan-pesan yang belum terjawab, menghidupkan kembali media sosial komunitas yang selama ini terabaikan, merapikan dokumen, dan menyelesaikan tugas-tugas sebaik mungkin. Namun, aku ingin belajar membedakan tanggung jawab dan hukuman terhadap diri sendiri. Aku ingin memahami bahwa ada pekerjaan yang mungkin perlu diperbaiki tanpa harus membuat diriku mengakui di hadapan khalayak umum bahwa aku adalah sosok yang tidak becus.
Aku juga ingin berani mengakui bahwa aku memang seseorang yang membutuhkan pertolongan, tanpa harus kehilangan harga diri ketika orang lain mengetahuinya. Dan aku ingin percaya bahwa ketika aku tidak mampu melakukan tugas-tugasku dengan baik seperti biasanya, hidupku tidak harus kuhentikan.
Aku tidak serta-merta menjadi seseorang yang kehilangan nilai. Sebab aku bukan hanya admin grup yang terlambat menyapa. Aku bukan hanya staf yang belum menempatkan laporan pada tempat yang semestinya. Aku bukan hanya guru yang sedang kesulitan menjalankan pekerjaannya.
Aku adalah manusia yang masih ingin terus menjadi seseorang yang berguna, meskipun di tengah segala perjuangan yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain. Sebuah perjuangan dalam pergolakan batin dan peperangan di dalam kepala yang terkadang aku sendiri tidak tahu kapan akan mereda.
Dari semua itu, aku mencoba menarik satu benang merah. Aku adalah seorang pembelajar. Seseorang yang sedang belajar bahwa tidak semua perang harus dimenangkan dengan cara yang sama. Aku tidak perlu membuktikan kelayakanku untuk hidup dengan terus-menerus menjadi seseorang yang berguna bagi semua orang. Aku juga boleh lelah, boleh kalah, dan boleh mengambil jeda.
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi