Ada satu pertanyaan sederhana yang menurutku terlalu sering dilewatkan saat seseorang mulai belajar menulis. Padahal pertanyaan ini jauh lebih penting daripada teknik menulis, struktur tulisan, atau bahkan cara menemukan ide.
Pertanyaannya adalah: “Kenapa kamu ingin menulis?”
Bukan: “Mulai dari mana?”
Bukan juga: “Harus nulis apa?”
Tapi: “Kenapa?”
Karena menariknya, banyak orang ingin menjadi penulis tanpa pernah benar-benar memikirkan alasan di balik keinginannya itu. Akibatnya, mereka semangat di awal. Rajin beberapa hari dan menulis beberapa tulisan. Lalu berhenti. Kita lihat, ketika motivasi turun, mereka kehilangan arah. Ketika tulisan sepi pembaca, mereka menyerah. Ketika sibuk datang, menulis menjadi hal pertama yang dikorbankan.
Mengapa Kang kok bisa seperti itu? Kayanya gue banget nih.
Ya jawabannya, karena mereka belum menemukan alasan yang cukup kuat untuk bertahan.
Kalau boleh jujur. Eh boleh enggak nih jujur?
Boleh yah. Ya, perjalanan menulisku tidak dimulai dari belajar teknik. Tidak dimulai dari kelas kepenulisan. Tidak dimulai dari belajar membuat kalimat yang indah. Tahu enggak dimulai darimana?
Dari hatimu… eh bukan dimulai dari sebuah pencarian sederhana: “Kenapa aku harus menulis?”
Awalnya aku juga tidak punya jawaban. Aku hanya merasa tertarik dengan dunia menulis. Merasa ada sesuatu yang menarik di sana. Tetapi alasan yang benar-benar kuat belum kutemukan. Sampai suatu hari aku membaca beberapa buku yang mengubah cara pandangku tentang hidup. Dua di antaranya adalah: Man’s Search for Meaning karya Viktor E. Frankl dan Start With Why karya Simon Sinek.
Awalnya aku membaca buku-buku itu bukan untuk belajar menulis. Tetapi justru dari situlah aku menemukan alasan mengapa aku ingin terus menulis.
Pelajaran Viktor Frankl: Manusia Butuh Makna
Bagi yang belum familiar, Viktor Frankl adalah seorang psikiater sekaligus penyintas kamp konsentrasi Nazi. Ia mengalami hal-hal yang mungkin sulit kita bayangkan. Kebebasannya dirampas, keluarganya hilang dan hidup dalam kondisi yang sangat tidak manusiawi.
Jika ada alasan bagi seseorang untuk menyerah pada hidup, mungkin Frankl memiliki semua alasan itu. Namun yang menarik, dari pengalaman yang begitu gelap, ia menemukan satu pelajaran yang sangat terang.
Ia melihat bahwa manusia ternyata mampu bertahan dalam kondisi yang paling buruk sekalipun ketika memiliki alasan untuk bertahan. Ya, ketika memiliki makna.
Makna Kang? Sepenting itu kah?
Penting banget. Bahkan Frankl menyaksikan sendiri bagaimana sebagian orang tetap mampu bertahan meskipun menghadapi penderitaan luar biasa. Bukan karena mereka lebih kuat secara fisik. Bukan karena hidup mereka lebih mudah. Tetapi karena mereka memiliki sesuatu yang masih ingin diperjuangkan. Sesuatu yang memberi arti pada hidup mereka.
Dari situlah lahir salah satu kutipan terkenalnya: “Mereka yang memiliki alasan untuk hidup, dapat menghadapi hampir segala cara untuk hidup.”
Kalimat itu menamparku cukup keras. Karena membuatku bertanya: “Kalau begitu, apa alasan yang membuatku ingin terus berjalan?”
Hidup yang Bermakna Bukan Hidup yang Mudah
Sering kali kita berpikir bahwa kebahagiaan datang ketika semua masalah selesai. Ketika hidup nyaman, semua keinginan tercapai dan tidak ada kesulitan. Namun Frankl menunjukkan sesuatu yang berbeda. Yang membuat hidup kuat ternyata bukan karena hidup itu mudah. Tetapi karena hidup itu bermakna.
Ini perspektif yang sangat berbeda. Karena kalau ukuran hidup adalah kenyamanan, kita akan mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Tetapi jika ukuran hidup adalah makna, maka bahkan penderitaan pun bisa memiliki nilai. Dan di sinilah aku mulai merenungkan kembali aktivitas menulis.
Frankl menjelaskan bahwa makna hidup bisa ditemukan melalui beberapa hal. Salah satunya adalah melalui karya dan kontribusi. Sesuatu yang kita ciptakan. Sesuatu yang kita berikan kepada dunia.
Ketika membaca bagian itu, aku berhenti cukup lama. Karena tiba-tiba muncul pertanyaan lain: “Bukankah menulis juga sebuah bentuk kontribusi?”
Tulisan mungkin terlihat sederhana, hanya kumpulan kata dan beberapa halaman. Hanya sebuah artikel. Tetapi di balik itu, ada pengalaman yang dibagikan.
Ada pelajaran yang diwariskan, inspirasi yang ditularkan. Ada harapan yang mungkin sedang dibutuhkan seseorang. Dan semakin kupikirkan, semakin aku sadar bahwa menulis bukan hanya aktivitas menghasilkan teks. Yang luar biasanya, menulis adalah cara meninggalkan jejak.
Start With Why: Alasan Selalu Datang Sebelum Cara
Pemahaman itu semakin kuat ketika aku membaca buku Start With Why karya Simon Sinek. Dalam buku tersebut, Sinek menjelaskan bahwa banyak orang memulai sesuatu dari “apa” dan “bagaimana”.
Padahal orang-orang yang mampu bertahan dan memberi dampak besar biasanya memulai dari “mengapa”. Mereka tahu alasan mereka, tahu tujuan mereka, tahu makna yang ingin mereka perjuangkan. Karena itu ketika tantangan datang, mereka tidak mudah goyah.
Mereka punya fondasi. Dan tanpa sadar, konsep itu sangat relevan dengan dunia menulis.
Banyak orang bertanya:
- “Bagaimana cara menulis?”
- “Bagaimana mencari ide?”
- “Bagaimana membuat buku?”
Padahal sebelum semua itu, ada pertanyaan yang lebih penting: “Mengapa kamu ingin menulis?”
Karena jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan seberapa jauh kamu bertahan.
Memang ada Kang, seseorang yang menulis karena terlihat hebat?
Eh tahu enggak, saya dulu seperti itu. Tapi sekarang masih ada sih, tapi sudah mulai mengecil. Hehehehe…
Faktanya, ada orang yang menulis karena ingin terkenal, karena ingin terlihat pintar, karena ingin mendapatkan pengakuan. Ya memang tidak ada yang salah. Tetapi masalahnya, motivasi seperti itu sering kali rapuh.
Kok bisa rapuh Kang?
Bisa dipastikan, ketika sumbu motivasinya hanay ini, maka ketika tidak ada yang membaca, semangat hilang. Ketika tidak ada yang memuji, motivasi turun. Ketika buku tidak laku, keinginan menulis ikut memudar. Karena fondasinya ada pada hasil. Bukan pada makna.
Sebaliknya, ketika seseorang menulis karena merasa memiliki sesuatu yang perlu dibagikan, ia akan lebih bertahan. Karena tujuan utamanya bukan sekadar mendapatkan perhatian. Tetapi memberikan manfaat.
Menulis Sebagai Cara Memberi Makna
Semakin lama menulis, aku semakin percaya bahwa tulisan bukan hanya tentang penulis. Tulisan adalah tentang pembaca yang mungkin membutuhkan pesan tersebut. Kita tidak pernah tahu siapa yang akan membaca tulisan kita. Kita tidak pernah tahu siapa yang sedang membutuhkan kalimat yang kita tulis. Kita tidak pernah tahu siapa yang akan mendapatkan harapan dari pengalaman yang kita bagikan.
Dan mungkin di situlah makna menulis yang sesungguhnya. Ini tentang apa? Ya tentang memberi nilai bagi kehidupan orang lain.
Kang kenapa banyak orang yang akhirnya berhenti menulis?
Ya, enggak tahu deh… coba tanya sama orang nya! Hehehehe…
Tapi ini menurut keyakinanku yah. Salah satu alasannya karena mereka terlalu cepat fokus pada teknik. Mereka belajar cara menulis. Belajar membuat judul. Belajar membuat struktur. Belajar membuat konten. Tetapi lupa menemukan alasan. Akibatnya ketika proses menulis terasa berat, mereka kehilangan energi untuk melanjutkan.
Padahal teknik bisa dipelajari, ide bisa dicari dan kemampuan bisa dilatih. Tetapi alasan harus ditemukan sendiri.
So…
Hari ini, kalau ada yang bertanya kepadaku: “Kenapa kamu menulis?”
Jawabannya mungkin masih terus berkembang. Tetapi satu hal yang semakin jelas aku tidak ingin hanya menjalani hidup, aku ingin meninggalkan sesuatu yang bermanfaat dari hidup ini. Dan menulis adalah salah satu caranya. Karena tulisan memungkinkan pengalaman hidup tidak hilang begitu saja.
Tulisan membuat pelajaran tetap hidup. Tulisan membuat gagasan bisa terus berjalan bahkan ketika kita sudah berhenti berbicara.
Jadi sebelum bertanya: “Bagaimana cara menjadi penulis?”
Mungkin ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya: “Kenapa aku ingin menulis?” Karena sering kali, bukan kemampuan yang membuat seseorang bertahan menjadi penulis. Tetapi makna yang ia temukan di balik aktivitas menulis itu sendiri. ✍️📖✨
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi