“A person usually has two reasons for doing a thing: one that sounds good and a real one.”
— J. Pierpont Morgan, dikutip Dale Carnegie dalam How to Win Friends and Influence People
Pernah nggak kamu memperhatikan seseorang yang melakukan sesuatu, lalu dia memberikan alasan yang terdengar sangat baik?
“Gue melakukan ini karena ingin membantu.”
“Aku cuma ingin memberikan yang terbaik.”
“Saya melakukan ini demi keluarga.”
“Gue cuma ingin orang lain berkembang.”
Semua terdengar bagus. Bahkan kadang terlalu bagus sampai kita merasa, “Wah, mulia banget alasannya.”
Tapi coba kita mundur sedikit.
Apakah itu benar-benar satu-satunya alasan?
Menurut gagasan yang dibahas Dale Carnegie dalam How to Win Friends and Influence People, manusia sering kali punya dua alasan ketika melakukan sesuatu. Ada alasan yang terdengar baik, dan ada alasan yang sebenarnya. Gagasan ini sendiri dikutip Carnegie dari J. Pierpont Morgan.
Menariknya, Carnegie tidak mengatakan bahwa kita harus sibuk membongkar atau mempermalukan orang karena motif sebenarnya itu. Justru sebaliknya. Dia menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya ingin melihat dirinya sebagai orang yang baik, terhormat, dan punya alasan yang bisa dibenarkan.
Dan kalau dipikir-pikir, kita pun mungkin seperti itu.
Bayangkan seseorang berkata, “Aku ingin mendapatkan jabatan ini karena ingin membawa perubahan.”
Bisa jadi benar.
Tapi mungkin ada alasan lain yang juga benar: dia ingin gaji lebih besar, ingin diakui, ingin punya status, ingin membuktikan sesuatu kepada orang lain, atau ingin merasa dirinya berhasil.
Apakah salah?
Belum tentu.
Ingin membantu orang dan ingin mendapatkan keuntungan pribadi bisa muncul bersamaan. Dua motif itu tidak selalu saling bertentangan.
Masalahnya muncul ketika kita menganggap manusia hanya punya satu motif yang sepenuhnya bersih.
Kita sering terlalu cepat percaya pada alasan yang diucapkan seseorang. Padahal, manusia punya kemampuan luar biasa untuk memberikan alasan yang terdengar masuk akal bahkan kepada dirinya sendiri.
Seorang pebisnis mungkin berkata, “Saya ingin bisnis ini berkembang supaya bisa membuka lapangan pekerjaan.”
Mungkin memang begitu.
Tapi dia juga ingin kaya.
Seorang influencer mungkin berkata, “Aku membuat konten ini supaya bermanfaat buat banyak orang.”
Mungkin benar.
Tapi dia juga ingin followers bertambah, personal branding semakin kuat, dan pendapatannya meningkat.
Seorang atasan mungkin berkata, “Saya memberikan tugas ini supaya kamu berkembang.”
Mungkin benar.
Tapi mungkin dia juga sedang mengejar target perusahaan dan membutuhkan pekerjaan itu selesai.
Lalu apakah semua orang berarti munafik?
Menurutku, justru di sinilah gagasan Carnegie menjadi menarik.
Tidak selalu.
Manusia tidak sesederhana itu.
Seseorang bisa benar-benar ingin membantu dan sekaligus ingin mendapatkan keuntungan. Seseorang bisa tulus memberikan sesuatu dan tetap berharap mendapatkan pengakuan. Seseorang bisa mencintai pekerjaannya dan tetap bekerja karena membutuhkan uang.
Dua motif bisa hidup berdampingan.
Yang satu adalah alasan yang nyaman untuk diceritakan.
Yang satu lagi adalah alasan yang mungkin hanya kita akui dalam hati.
Dan terkadang, bahkan kita sendiri tidak sepenuhnya sadar bahwa alasan kedua itu ada.
Misalnya kamu berkata, “Aku ingin sukses supaya bisa membahagiakan orang tua.”
Itu bisa menjadi alasan yang sangat tulus.
Tapi mungkin ada lapisan lain di bawahnya.
Kamu juga ingin membuktikan kepada teman-temanmu bahwa kamu bisa.
Kamu ingin dihargai.
Kamu ingin punya kebebasan.
Kamu ingin merasa bahwa hidupmu berhasil.
Kamu ingin tidak lagi diremehkan.
Semua itu manusiawi.
Justru semakin kita jujur melihat motif kita sendiri, semakin mudah kita memahami orang lain.
Karena ternyata, orang lain tidak jauh berbeda dengan kita.
Ketika seseorang mengatakan, “Aku melakukan ini demi kebaikan bersama,” mungkin kita tidak perlu buru-buru menjawab, “Ah, kamu sebenarnya cuma mau untung sendiri.”
Bisa jadi memang ada kepentingan pribadi di baliknya.
Tetapi bisa juga ada niat baik yang benar-benar dia yakini.
Carnegie justru mengingatkan bahwa ketika berhadapan dengan orang lain, kita sebaiknya menghargai motif yang lebih baik, bukan sibuk mengungkit motif yang lebih rendah. Dalam pembahasannya, ia menjelaskan bahwa manusia senang melihat dirinya sebagai pribadi yang baik dan tidak egois. Karena itu, ketika ingin memengaruhi seseorang, pendekatan yang lebih efektif adalah menghubungkan tindakan dengan motif yang lebih mulia.
Ini menarik kalau diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya kamu ingin seseorang membayar utangnya.
Kamu bisa berkata:
“Bayar sekarang karena kamu memang punya utang kepada saya.”
Secara fakta mungkin benar.
Tapi ada cara lain.
“Kamu kan orang yang selalu berusaha menepati janji. Saya yakin kamu juga ingin menyelesaikan kewajiban ini dengan baik.”
Kalimat kedua tidak perlu memaksa orang mengakui bahwa dirinya egois, lalai, atau tidak bertanggung jawab.
Sebaliknya, kamu mengingatkan dia pada versi dirinya yang ingin dia percayai.
Dan inilah salah satu pelajaran menarik dari Carnegie: ketika berurusan dengan manusia, jangan hanya melihat apa yang mereka lakukan. Cobalah memahami alasan yang mereka katakan, alasan yang mungkin tersembunyi, dan terutama bagaimana mereka ingin melihat dirinya sendiri.
Karena manusia bukan hanya ingin mendapatkan sesuatu.
Manusia juga ingin merasa bahwa dirinya adalah orang yang layak mendapatkan sesuatu itu.
Kita ingin merasa baik ketika mengambil keputusan.
Kita ingin percaya bahwa keputusan kita masuk akal.
Kita ingin bisa menceritakan keputusan kita kepada orang lain tanpa merasa menjadi penjahat dalam cerita sendiri.
Maka, mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan, “Apa motif sebenarnya orang ini?”
Tetapi:
“Apa yang sebenarnya ingin dia dapatkan, dan bagaimana dia ingin melihat dirinya sendiri setelah mendapatkannya?”
Pertanyaan ini bisa mengubah cara kita berkomunikasi.
Ketika seseorang marah, mungkin yang dia katakan adalah, “Aku cuma ingin masalah ini selesai.”
Tapi bisa jadi di baliknya ada kebutuhan untuk dihargai.
Ketika seseorang terlalu keras mempertahankan pendapatnya, mungkin yang dia katakan adalah, “Aku cuma ingin yang benar.”
Tapi bisa jadi ada kebutuhan untuk merasa dirinya kompeten.
Ketika seseorang menolak sebuah tawaran, mungkin alasannya adalah, “Aku belum butuh.”
Tapi bisa jadi sebenarnya dia takut mengambil risiko.
Ketika seseorang terlihat terlalu mengejar kesuksesan, mungkin yang terlihat adalah ambisi.
Tapi di baliknya bisa ada keinginan sederhana untuk membuktikan bahwa dirinya berharga.
Kita tidak pernah bisa benar-benar masuk ke kepala orang lain. Jadi, jangan menganggap dugaan kita sebagai kebenaran mutlak.
Tetapi memahami bahwa manusia mungkin punya lebih dari satu motif membuat kita lebih hati-hati dalam menilai.
Dan mungkin yang paling penting, gagasan ini seharusnya tidak hanya dipakai untuk membaca orang lain.
Gunakan juga untuk membaca diri sendiri.
Saat kamu mengatakan, “Aku ingin melakukan ini demi orang lain,” coba tanya sekali lagi:
“Benarkah hanya itu alasanku?”
Mungkin ada keinginan untuk dipuji.
Mungkin ada keinginan untuk mendapatkan uang.
Mungkin ada ketakutan gagal.
Mungkin ada kebutuhan untuk membuktikan sesuatu.
Mungkin ada keinginan untuk merasa penting.
Dan tidak apa-apa.
Menemukan motif yang sebenarnya bukan berarti kamu orang jahat.
Justru itu bisa menjadi bentuk kejujuran kepada diri sendiri.
Sebab semakin kamu mengenali alasan sebenarnya di balik tindakanmu, semakin sadar kamu dalam mengambil keputusan.
Pada akhirnya, mungkin manusia memang tidak sesederhana “baik” atau “buruk”.
Kita bisa melakukan sesuatu karena ingin membantu sekaligus ingin mendapatkan keuntungan.
Kita bisa tulus sekaligus punya kepentingan.
Kita bisa mencintai sesuatu sekaligus membutuhkan sesuatu darinya.
Dan mungkin itulah kenapa memahami manusia tidak cukup hanya dengan mendengarkan apa yang mereka katakan.
Kita juga perlu melihat konteks, tindakan, kebutuhan, dan cara mereka memandang dirinya sendiri.
Seperti gagasan Carnegie, ada alasan yang terdengar baik dan ada alasan yang sebenarnya. Tetapi tugas kita bukan menjadi detektif yang sibuk membongkar motif tersembunyi setiap orang.
Tugas kita adalah menjadi manusia yang lebih peka.
Karena ketika kita mulai memahami bahwa di balik satu tindakan bisa ada beberapa motif, kita jadi lebih sulit menghakimi orang lain secara terburu-buru.
Dan mungkin, tanpa sadar, kita juga jadi lebih jujur ketika melihat diri sendiri.
Karena pada akhirnya, orang yang paling menarik untuk kita pahami bukan cuma orang lain.
Tapi diri kita sendiri.
Gratis dibaca. Kalau kebantu, boleh traktir kopi.
Terima kasih, ya
Dukungan sekecil apa pun bikin tulisan berikutnya lebih cepat terbit.
Setiap rupiah yang kamu donasikan, menjadi bagian dari tumbuhnya program literasi