Bunyi jam dinding di kamar terasa berdetak dua kali lebih nyaring dari biasanya, berpacu dengan denyutan hebat di geraham kanan bawahku. Senut… senut… senut… Rasanya seperti ada sepasang pekerja bangunan miniatur yang sedang menghantam saraf gigiku memakai martil. Sudah dua hari aku mencoba bertahan hidup dengan mengandalkan obat pereda nyeri, tetapi siang ini, obat itu tampaknya sudah menyerah menghadapi penderitaanku.
”Kamu mau nunggu pipi kamu bengkak sebesar bakso beranak baru mau bergerak?” cerceh Maya, sepupuku yang sejak tadi berkacak pinggang di depan pintu kamar.
”Maya, kamu tahu sendiri kan, aku lebih pilih jalan kaki keliling kompleks sepuluh putaran daripada harus duduk di kursi eksekusi dokter gigi,” ratapku sambil memegangi pipi yang makin terasa panas.
Ketakutanku pada dokter gigi bukanlah hal yang dibuat-buat. Bayangan tentang jarum suntik raksasa, bau antiseptik yang menusuk hidung, dan terutama suara bor gigi yang “ngiiiing” melengking itu sudah cukup untuk membuat telapak tanganku berkeringat dingin.
”Gak ada alasan lagi!” Maya merebut ponselku, lalu jemarinya menari lincah di atas layar. “Nih, aku carikan lokasi praktek yang paling dekat dari rumah. Cuma lima menit. Nama praktiknya ‘Praktek Dokter Gigi Dian’. Tuh, dokternya cewek. Dokter cewek biasanya lebih telaten, lembut, dan gak bakal galak sama penakut kayak kamu. Sekarang, ganti baju atau aku seret!”
Mendengar kata “dokterr cewek”, pertahananku sedikit goyah. Dalam benakku, Dokter Dian adalah sosok ibu-ibu ramah berwajah teduh, dengan keibuan yang kental dan jemari yang sangat berhati-hati. Mungkin sosok seperti itu bisa sedikit meredam ketakutan hebatku. Dengan kepasrahan penuh, aku menuruti paksaan Maya.
Jarak lima menit itu terasa seperti perjalanan menuju medan perang. Ketika kami sampai di depan bangunan bernuansa putih bersih dengan plang akrilik bertuliskan drg. Dian, perutku makin melilit. Bau khas klinik medis langsung menyambut saat aku melangkah masuk. Maya memaksaku mendaftar di resepsionis sementara aku berulang kali meneliti jalan keluar terdekat—justru kalau-kalau aku memutuskan untuk kabur.
”Atas nama Mbak Rania,” panggil petugas resepsionis setelah hampir dua puluh menit aku duduk gelisah sambil meremas ujung bajuku.
Jantungku seperti melompat ke tenggorokan. “May… ikut masuk, ya?” bisikku memohon.
”Ih, udah gede juga! Masuk sendiri sana, aku tunggu di sini,” dorong Maya tanpa simpati sedikit pun.
Dengan langkah gemetar dan lutut yang terasa lemas, aku mendorong pintu kaca bertuliskan Ruang Periksa. Begitu melangkah masuk, aroma lavender yang lembut samar-samar tercium, sedikit menutupi bau obat yang kutakuti. Di tengah ruangan, berdiri kursi periksa canggih yang tampak begitu mengintimidasi.
”Selamat siang, silakan duduk di sini,” suara bariton yang berat, dalam, dan sangat tenang menyapa pendengaranku.
Seketika aku membeku di tempat. Suara bariton? Dokter Dian? Ibu-ibu ramah?
Sosok yang baru saja berbalik dari meja kerja dan berjalan mendekat sama sekali bukan sosok ibu-ibu yang kubayangkan. Dia adalah seorang laki-laki berpostur tinggi, mengenakan jas putih dokter yang terpasang sempurna di badannya yang tegap. Wajahnya tertutup masker medis hijau, tetapi dari garis matanya yang tegas, alis tebal, serta tatanan rambutnya yang rapi, siapapun bisa menebak bahwa dia sangat tampan. Ekspresi matanya tenang, sedikit tenang cenderung dingin, memberikan aura cool yang begitu kuat.
”Ekspresi kamu kenapa gitu? Ayo duduk,” ucapnya lagi, matanya menyipit sedikit—mungkin dia sedang tersenyum tipis di balik maskernya.
”E-eh… maaf, Dokter Dian-nya ada?” tanyaku terbata-bata, masih berdiri mematung di dekat pintu.
Dokter muda itu menarik sarung tangan latex-nya hingga berbunyi kletuk. “Saya Dian. Dokter Dian Narendra. Namanya memang agak ambigu, ya?” Dia menurunkan maskernya sebentar untuk memberikan senyuman tipis—senyuman yang seketika membuat rasa nyeri di gigiku seolah berhenti berdenyut selama beberapa detik karena kaget.
Astaga, Maya! Salah sangka! Dian itu ternyata nama cowok!
”Oh… begitu. M-maaf, Dok,” jawabku gugup setengah mati. Pipi yang tadi panas karena sakit gigi kini makin panas karena rasa malu.
”Mari, silakan duduk di kursi. Kita periksa dulu apa yang bikin pipimu cemberut begitu,” ujarnya santai, menunjuk kursi periksa.
Aku melangkah mendekat dengan canggung. Rasa takut pada alat-alat medis tiba-tiba bertabrakan dengan rasa canggung dan gengsi karena berhadapan dengan dokter setampan ini. Aku tidak boleh terlihat konyol atau menangis histeris di depannya!
Begitu aku berbaring di kursi periksa, Dokter Dian memasang kembali maskernya dan menyalakan lampu sorot di atas kepala. Wajahnya kini hanya berjarak beberapa puluh sentimeter dari wajahku. Dari jarak semedekat ini, aku bisa melihat betapa bersih kulitnya dan betapa tajam tatapan matanya saat mulai fokus.
”Buka mulutnya lebar-lebar, ya…” perintahnya dengan nada lembut namun tegas.
Aku membuka mulut dengan ragu-ragu. Ketika alat kaca kecil masuk ke dalam mulutku dan menyentuh bagian yang sakit, aku spontan memejamkan mata erat-erat dan mencengkeram pegangan kursi sampai buku-buku jariku memutih.
”Sakit?” tanyanya pelan.
Aku mengangguk cepat tanpa berani membuka mata.
”Rileks saja. Napas dari hidung, buang perlahan,” gumam Dokter Dian. Suaranya yang tenang entah bagaimana punya efek hipnotis yang lumayan manjur. “Gigi geraham bungsumu mau tumbuh, tapi tempatnya agak sempit. Makanya meradang dan bikin senut-senut. Hari ini kita bersihkan dulu dan saya kasih obat pereda nyeri serta antibiotik. Belum ada tindakan berat, kok.”
Aku perlahan membuka mata, menatapnya ragu. “G-gak dibor, Dok? Gak disuntik?”
Dokter Dian terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar sangat renyah. “Gak ada bor hari ini. Tapi kalau kamu makin tegang begini, otot rahangmu malah makin sakit nanti. Tenang saja, saya pelan-pelan.”
Proses pembersihan berlangsung tak sampai lima belas menit. Sepanjang tindakan, Dokter Dian dengan sangat sabar menjelaskan setiap langkah yang dia lakukan, membuat ketakutanku yang tadinya menggebu-gebu perlahan luntur, berganti dengan rasa kagum. Ternyata, pergi ke dokter gigi tidak semenakutkan bayangan burukku selama ini—apalagi kalau dokternya penuh perhatian seperti ini.
”Sudah selesai,” ucapnya sambil mematikan lampu sorot dan mengembalikan posisi kursi ke keadaan semula.
Aku duduk dan berkumur dengan air yang sudah disediakan. Rasa ganjal dan nyeri di mulutku memang belum hilang sepenuhnya, tetapi sudah jauh lebih mendingan daripada tadi pagi.
Dokter Dian melepas sarung tangannya dan duduk di kursi kerjanya, menuliskan resep obat. “Obatnya diminum teratur, ya. Makanan yang hangat-hangat dulu, jangan makan yang terlalu keras atau terlalu dingin.”
”Baik, Dok. Terima kasih banyak,” jawabku pelan sambil merapikan rambutku yang agak berantakan.
Dia menyerahkan kertas resep itu padaku. Saat jemari kami berpapasan secara tidak sengaja, ada sensasi aneh yang mendesir di dadaku—sensasi yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan sakit gigi.
”Minggu depan jadwal kontrol,” lanjut Dokter Dian, menatapku lurus dengan mata elangnya yang tenang. “Datang tepat waktu, ya. Jangan kabur karena takut.”
Pipi rasanya makin memerah. “I-iya, Dok. Pasti datang.”
Aku berjalan keluar dari ruang periksa dengan perasaan yang berputar balik 180 derajat. Maya yang sudah menunggu di luar langsung menyergapku dengan wajah penasaran.
”Gimana? Dokternya ramah kan? Ibu-ibunya baik?” tanya Maya beruntun.
Aku menatap sepupuku itu, lalu tersenyum tipis membayangkan sosok Dokter Dian yang sedang merapikan alat-alatnya di dalam.
”Dokternya baik banget, May,” jawabku pelan sambil berjalan menuju kasir. “Dan minggu depan, kamu gak perlu repot-repot menyeret aku lagi. Aku bakal berangkat sendiri.”
Maya mengerutkan dahi bingung. “Lho? Tiba-tiba jadi berani?”
Aku hanya terkekeh tanpa menjawab. Terkadang, rasa takut memang butuh sedikit kejutan manis untuk bisa disembuhkan. Dan sepertinya, aku tidak keberatan kalau Symphony nyeri dan Senyum di Balik Masker itu datang lagi.