“Setiap orang meninggalkan sesuatu. Ada yang meninggalkan harta, ada yang meninggalkan nama, ada pula yang meninggalkan karya. Sedangkan aku… aku hanya berharap sempat meninggalkan alasan bagi seseorang untuk tetap bertahan.”
Langit masih terlalu muda ketika aku membuka jendela.
Udara pagi yang hanya sekitar lima belas derajat menyapa pelan, menyelimuti kawasan Bandung Utara dengan kabut tipis yang belum sepenuhnya beranjak. Aroma tanah yang masih basah selepas embun semalam menguar bersama angin, menghadirkan kesejukan yang entah mengapa selalu mampu menenangkan sebagian kecil dari isi kepalaku.
Dari kejauhan, suara anak-anak mulai riuh memenuhi jalan
setapak menuju sekolah.
Sebagian berlari sambil tertawa, seolah dunia tak pernah mengenal duka. Sebagian lagi berjalan perlahan sambil menggenggam erat tangan ibunya, seakan seluruh semesta akan berhenti berputar bila jemari itu terlepas.
Aku memandangi pemandangan itu cukup lama.
Tanpa sadar, senyum tipis tersungging di bibirku.
“Betapa beruntungnya mereka… belum mengenal cara memakai topeng dan berpura-pura baik-baik saja,” batinku.
Di atas meja, secangkir teh hangat mulai kehilangan uapnya.
Di sampingnya tergeletak benda-benda yang nyaris tak pernah jauh dari hidupku: buku-buku yang belum selesai kubaca, tumpukan catatan pelajaran, sebuah buku kecil bersampul batik bunga yang selalu kubawa ke mana-mana, serta telepon genggam yang dipenuhi draf lagu, naskah promosi buku pertamaku, dan puluhan ide yang masih menunggu keberanian untuk diselesaikan.
Beberapa orang menganggapku terlalu sibuk.
Sebagian lagi menyebutku terlalu ambisius.
Mungkin mereka benar.
Namun mereka juga belum tentu salah.
Sebab tak seorang pun tahu bahwa setiap kali aku menulis satu halaman, ada halaman lain dalam diriku yang sedang berusaha kuselamatkan.
Setiap kali kususun sebaris melodi, ada suara-suara lain yang sedang kupelankan. Suara-suara yang tak pernah benar-benar diam di dalam kepalaku.
Dan setiap kali aku tersenyum di hadapan banyak orang, selalu ada doa yang diam-diam kutitipkan kepada langit.
“Ya Allah… hari ini saja dulu. Izinkan aku bertahan hari ini.”
Aku bukan perempuan luar biasa.
Aku tetap lelah.
Tetap kecewa.
Tetap pernah ingin berhenti berjalan.
Namun hidup mengajariku sesuatu yang aneh.
Kadang seseorang tidak bertahan karena ia kuat.
Ia bertahan karena masih ada sepasang tangan kecil yang setiap malam mencari pelukannya sebelum tidur.
Masih ada langkah-langkah yang menghampiri kamarnya hanya untuk memastikan…
“Mi… sudah tidur?”
Suara itu selalu sama.
Lembut.
Polos.
Dan entah mengapa, selalu berhasil mengembalikanku pada kenyataan.
“Belum, Sayang…”
Tak ada percakapan panjang setelahnya.
Pintu kembali tertutup perlahan.
Namun aku tahu…
Sosok remaja itu hanya ingin memastikan ibunya masih terjaga.
Masih ada.
Masih belum kembali tenggelam dalam gelap yang pernah membuatku tertidur selama berhari-hari.
Aku memejamkan mata.
Di dunia ini ternyata ada pelukan-pelukan kecil yang jauh lebih ampuh daripada ribuan kalimat nasihat.
Pelukan yang tak mampu mengusir seluruh gelap.
Namun cukup…
Cukup untuk membuat seseorang memilih membuka mata ketika pagi kembali datang.
Pandanganku beralih pada kalender yang tergantung di dinding.
Masih banyak rencana yang belum selesai.
Masih ada anak-anak yang menungguku di kelas.
Masih ada naskah yang belum menemukan paragraf terakhirnya.
Masih ada lagu-lagu yang belum sempat kubagikan kepada dunia.
Dan masih ada satu mimpi yang diam-diam kusimpan rapat di sudut hati…
Kembali duduk di bangku kuliah.
Meraih gelar lebih tinggi.
Lalu pulang membawa ilmu yang suatu hari nanti mampu menjadi cahaya bagi lebih banyak orang.
Aku tahu…
Barangkali tak semua mimpi sempat kuraih.
Karena sejak lama aku berhenti mengukur hidup dari panjangnya usia.
Aku mulai belajar mengukurnya dari seberapa banyak cinta yang sempat kutinggalkan.
Aku percaya…
Suatu hari nanti mungkin akan ada seseorang membuka buku yang pernah kutulis.
Mendengarkan lagu yang pernah kunyanyikan.
Atau sekadar mengingat satu kalimat sederhana yang pernah kuucapkan.
Lalu…
Memilih untuk tetap hidup.
Dan bila itu benar-benar terjadi…
Mungkin keberadaanku di dunia ini tidak sepenuhnya sia-sia.
Mungkin untuk pertama kalinya…
Aku berhasil membuktikan bahwa aku bukan manusia yang tak berguna, seperti kata-kata yang pernah begitu sering kudengar sejak kecil.
Topeng yang Tak Pernah Terlihat
Setiap pagi aku menyambut murid-muridku dengan senyuman.
Bukan karena aku selalu bahagia.
Melainkan karena sekolah adalah satu-satunya tempat di mana aku belajar melupakan sejenak beban yang memenuhi hatiku.
Aku membuka jendela kelas satu per satu, membiarkan udara pagi masuk membawa aroma dedaunan yang masih basah. Lantai yang dipenuhi beberapa helai daun kusapu perlahan, lalu kutuliskan tanggal di sudut papan tulis dengan kapur putih yang mulai memendek.
Rutinitas sederhana itu selalu memberiku keyakinan bahwa hidup masih memiliki urutan.
Masih ada hal-hal kecil yang bisa kukendalikan.
Meski isi kepalaku sering kali berisik, tak pernah benar-benar mau bekerja sama untuk setenang ruang kelas yang rapi di hadapanku.
Tak lama kemudian lorong sekolah mulai dipenuhi suara langkah-langkah kecil.
“Assalamu’alaikum, Bu…”
Suara mereka datang bersamaan.
Riuh.
Saling mendahului.
Berebut menjadi yang pertama menyapaku.
Aku membalas salam mereka satu per satu sambil mengusap pundak kecil yang lewat di depanku.
Mereka mengenalku sebagai guru yang senang bercerita.
Guru yang lebih sering menyelipkan teka-teki daripada memberi hukuman.
Guru yang lebih banyak memberikan pelukan dan validasi daripada kemarahan.
Tak seorang pun tahu…
Bahwa sering kali senyum itu adalah topeng yang kupakai, sebagaimana seseorang mengenakan seragam sebelum memulai pekerjaannya.
Bukan karena aku ingin membohongi mereka.
Tetapi karena aku ingin anak-anak itu tumbuh dengan keyakinan bahwa sekolah adalah tempat yang aman.
Aku tak ingin mereka ikut memikul langit yang sedang kubawa.
Langit yang sesekali dipenuhi badai, petir, dan awan gelap yang hanya bisa kulihat sendiri.
Suatu pagi, ketika pelajaran baru saja dimulai, seorang murid mengangkat tangannya.
“Bu…”
“Iya?”
“Kenapa ya orang dewasa sering cemberut?”
Seluruh kelas tertawa kecil.
Aku ikut tersenyum.
“Siapa bilang?”
“Soalnya Ayah sama Ibu di rumah sering marah-marah. Mereka juga sering bilang capek.”
Aku terdiam.
Anak itu kembali melanjutkan dengan wajah yang begitu polos.
“Jadinya… aku takut jadi orang dewasa.”
Entah mengapa kalimat sederhana itu terasa begitu berat.
Aku menatap mata bening di hadapanku.
Betapa mudahnya anak-anak mengucapkan sesuatu yang justru sulit dijawab oleh orang dewasa.
Aku menarik napas pelan.
“Menurutmu, orang dewasa nggak boleh capek?”
“Boleh…”
“Nggak boleh marah?”
“Boleh juga…”
“Nah…”
Aku tersenyum.
“Orang dewasa memang kadang lelah. Mereka memikirkan banyak hal sekaligus. Tapi Allah juga memberi mereka hati yang lebih luas dan bahu yang lebih kuat untuk belajar memikul semua itu.”
Anak itu masih mendengarkan.
“Sesekali marah, sesekali menangis, sesekali mengeluh… itu bukan berarti orang dewasa gagal.”
“Lalu kenapa mereka tetap kelihatan sedih?”
“Karena orang dewasa juga manusia.”
Aku mengusap kepalanya pelan.
“Mereka juga masih ingin dipeluk. Masih ingin didengar. Masih ingin dimengerti.”
Ia mengangguk perlahan.
“Lalu… jadi dewasa nggak menyeramkan, Bu?”
Aku tersenyum lebih lebar.
“Tidak.”
“Menjadi dewasa memang melelahkan.”
“Tapi juga indah.”
“Karena semakin dewasa, semakin banyak kesempatan untuk mencintai, belajar, dan menjadi manfaat bagi orang lain.”
Bel masuk kembali berbunyi.
Anak-anak segera berlari menuju bangkunya masing-masing.
“Nanti kita lanjut ngobrol lagi ya, Bu!”
Aku mengangguk sambil melambaikan tangan.
Namun diam-diam, aku berbisik dalam hati.
“Ya Allah… semoga besok aku masih memiliki kesempatan menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini.”
Banyak orang mengira hidupku penuh pencapaian.
Mereka melihat buku-buku yang mulai terbit.
Lagu-lagu yang perlahan menemukan pendengarnya.
Pelatihan yang kuselesaikan satu demi satu.
Sertifikat dan gelar yang membuat namaku semakin panjang.
Mereka melihat hasilnya.
Namun mereka tak pernah melihat malam-malam panjang sebelum semua itu lahir.
Tak ada yang tahu berapa kali aku menutup wajahku dengan bantal agar isak tangisku tak terdengar oleh siapa pun.
Tak ada yang tahu bahwa sering kali aku membutuhkan keberanian hanya untuk menuliskan satu paragraf yang harus kugali dari sudut ingatan yang paling gelap.
Orang-orang menyebutku produktif.
Aku menyebutnya…
bertahan hidup.
Karena setiap kali tanganku berhenti menulis, membaca, belajar, atau berkarya…
Pikiranku kembali dipenuhi suara-suara yang tak pernah benar-benar mampu kujelaskan kepada siapa pun.
Suara-suara yang selalu tahu cara mengajakku memandang hidup dari sisi yang paling gelap.
Karena itulah aku terus mencipta.
Aku menulis.
Aku membaca.
Aku belajar.
Aku menyusun lagu.
Aku membuat media pembelajaran.
Aku mengikuti pelatihan.
Bukan sekadar mengejar pencapaian.
Melainkan agar selalu ada sesuatu yang bisa kupegang ketika pikiranku mulai kehilangan arah.
Menjelang senja, setelah seluruh kesibukan hari itu berakhir, aku kembali ke rumah.
Kulihat anak-anakku sedang larut dalam dunia kecil mereka.
Mereka bermain peran.
Saling bercanda.
Sesekali berebut, lalu tertawa lagi seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Aku memandang mereka cukup lama.
Lalu kusadari sesuatu.
Seperti murid-muridku yang datang ke sekolah bukan hanya membawa tas, anak-anakku pun tumbuh bukan hanya dengan mainan yang mereka miliki.
Mereka tumbuh dari pelukan.
Dari perhatian.
Dari kalimat-kalimat yang setiap hari mereka dengar.
Saat itulah aku berhenti mengejar kesempurnaan.
Aku tak harus menjadi guru terbaik.
Aku juga tak harus menjadi ibu yang selalu mampu memenuhi setiap keinginan mereka.
Aku hanya ingin menjadi seseorang yang membuat mereka merasa diterima.
Merasa dicintai.
Karena aku percaya…
Kadang satu kalimat yang baik mampu menyelamatkan seseorang bertahun-tahun kemudian.
Aku merentangkan tangan.
Sebuah tubuh kecil segera berlari memelukku erat.
Aku membalas pelukan itu sambil menahan hangat yang perlahan memenuhi dadaku.
Lalu diam-diam aku berbisik.
“Kalau suatu hari nanti aku benar-benar harus pergi…”
“Jangan ingat aku sebagai perempuan yang selalu kuat.”
“Ingatlah aku sebagai seseorang yang terus memilih bertahan…”
“Karena mungkin…”
“Warisan paling berharga yang bisa kutinggalkan bukanlah buku, lagu, ataupun namaku…”
“Melainkan keyakinan bahwa seberat apa pun hidup ini…”
“Selalu ada alasan untuk pulang.”
Rumah yang Tak Selalu Menjadi Tempat Pulang
Bagi sebagian orang, rumah adalah tempat paling indah untuk kembali.
Tempat melepas lelah.
Tempat di mana pelukan selalu menunggu.
Namun bagiku…
Rumah tak selalu menjadi tempat yang ingin aku tuju.
Setidaknya, begitulah yang kurasakan semasa kecil.
Barangkali karena itulah, ketika dewasa aku belajar bahwa rumah bukan sekadar dinding, atap, atau alamat yang tertulis di kartu identitas.
Rumah adalah tempat di mana seseorang merasa diterima.
Bahkan ketika ia datang dengan mata sembap, langkah yang gontai, dan hati yang nyaris menyerah.
Aku membuka pintu perlahan.
Suara riuh anak-anakku yang saling bercerita langsung menyambutku.
“Umi…! Umi udah bangun?”
Rupanya aku tertidur lagi tanpa sengaja. Mungkin tubuhku benar-benar sedang meminta jeda setelah hari yang terasa begitu panjang.
Belum sempat aku menarik napas, sepasang kaki mungil berlari menghampiriku.
“Umi…”
Tubuh kecil itu langsung memelukku erat.
Aku tersenyum sambil membelai rambutnya.
“Apa… mau nenen?”
Ia tak menjawab.
Hanya mengangguk pelan, lalu mengulurkan kedua tangannya meminta dipangku.
Aku mengangkatnya perlahan.
Tak lama kemudian terdengar suara tegukan kecil yang begitu akrab di telingaku.
Matanya mulai terpejam.
Tangannya masih menggenggam ujung bajuku.
Seolah dunia akan tetap baik-baik saja selama ia masih berada di pelukanku.
Aku membelai kepalanya dengan lembut.
Entah mengapa, aku sering iri kepada anak-anak.
Mereka begitu jujur terhadap perasaannya.
Saat rindu, mereka memeluk.
Saat sedih, mereka menangis.
Saat bahagia, mereka tertawa sepuasnya.
Saat kecewa, mereka marah tanpa berpura-pura.
Sedangkan orang dewasa…
Sering kali menyembunyikan semuanya di balik satu kalimat yang terdengar sederhana.
“Aku baik-baik saja.”
Padahal…
Belum tentu.
Hari berlalu seperti biasanya.
Ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Seragam sekolah yang harus disiapkan.
Makan malam yang harus dihangatkan.
Dan pelukan yang harus kubagi kepada empat hati kecil yang sama-sama ingin merasa diperhatikan.
Di sela-sela semua kesibukan itu, aku sesekali mencuri waktu membuka telepon genggam.
Melihat draf konten yang belum selesai.
Membaca kembali naskah yang masih membutuhkan satu paragraf lagi.
Atau sekadar menuliskan ide yang tiba-tiba melintas sebelum menghilang begitu saja.
Di situlah aku mulai memahami sesuatu.
Menjadi seorang ibu bukan berarti mengubur mimpi-mimpi yang pernah tumbuh sejak kecil.
Melainkan belajar merawatnya dalam potongan-potongan waktu.
Lima menit ketika anak-anak sedang bermain.
Sepuluh menit sambil menunggu masakan matang.
Beberapa kalimat yang ditulis di antara suara tawa dan tangisan.
Ternyata mimpi tidak selalu membutuhkan waktu yang utuh.
Ia hanya membutuhkan hati yang tidak pernah berhenti mencoba.
Malam perlahan turun.
Rumah kembali sunyi.
Anak-anak tertidur satu per satu.
Aku duduk di sisi tempat tidur mereka, memandangi wajah-wajah kecil yang begitu damai.
Dalam tidur mereka tak ada kecemasan.
Tak ada tuntutan.
Semoga…
Tak ada luka yang diam-diam tumbuh seperti yang pernah kurasakan dahulu.
Aku mengecup ubun-ubun mereka satu per satu.
Lalu keluar kamar dengan langkah pelan agar tak membangunkan siapa pun.
Di ruang tengah, mainan masih berserakan.
Beberapa buku gambar terbuka.
Ada balok-balok kecil yang membentuk rumah sederhana.
Aku tidak langsung membereskannya.
Aku memandanginya cukup lama.
Barangkali beginilah bentuk jejak masa kecil.
Sedikit berantakan.
Namun penuh kehidupan.
Setelah semuanya kembali rapi, aku mengambil buku kecil bersampul batik bunga yang selalu menemaniku.
Buku itu tak pernah benar-benar penuh.
Sebab setiap hari selalu ada sesuatu yang ingin kutitipkan di sana.
Kadang hanya satu kata.
Kadang sebaris doa.
Kadang ucapan syukur yang sangat sederhana.
“Hari ini… aku masih di sini.”
Kutuliskan kalimat itu perlahan.
Lalu aku terdiam.
Mungkin selama ini aku terlalu sibuk mengejar hari esok.
Padahal satu-satunya waktu yang benar-benar kumiliki hanyalah hari ini.
Hari ketika aku masih bisa mendengar tawa anak-anakku.
Hari ketika jantungku masih berdetak.
Hari ketika aku masih bisa berdiri di depan kelas.
Hari ketika aku masih bisa memeluk orang-orang yang kucintai.
Tentang esok…
Aku tak pernah benar-benar tahu.
Apakah ia masih akan menjadi milikku atau tidak.
Maka malam itu aku membuat satu janji kecil kepada diriku sendiri.
Bila besok aku masih diizinkan membuka mata…
Aku ingin lebih banyak bersyukur daripada mengeluh.
Lebih banyak memeluk daripada menjauh.
Lebih banyak mencintai daripada menghakimi.
Karena aku mulai mengerti…
Yang membuat seseorang dikenang bukanlah seberapa lama ia hidup.
Melainkan…
Seberapa dalam ia pernah menghangatkan hati orang lain.
Yang Ingin ku Persembahkan
Malam telah benar-benar sunyi.
Jam dinding berdetak pelan, seolah ikut menjaga agar anak-anakku tak terbangun dari tidurnya. Dari balik pintu kamar terdengar napas mereka yang teratur. Sementara di luar jendela, angin berembus lembut, menggesekkan dedaunan satu sama lain, menghadirkan irama yang hanya bisa didengar oleh mereka yang sedang terjaga.
Aku masih duduk di depan meja.
Sambil menanti kepulangan kekasihku, mataku kembali jatuh pada sebuah judul yang sejak tadi memenuhi pikiranku.
Kalau Esok Tiada.
Aku berhenti.
Kupandangi tiga kata itu cukup lama.
Bukan…
Ini bukan tentang seseorang yang menyerah.
Bukan pula tentang seseorang yang kehilangan harapan.
Aku hanya tiba-tiba berpikir…
Sejatinya tak ada seorang pun yang mengetahui siapa yang akan lebih dahulu mengucapkan selamat tinggal kepada dunia.
Sejak saat itu aku mulai memandang hidup dengan cara yang berbeda.
Bukan lagi tentang seberapa panjang waktu yang masih kumiliki.
Melainkan tentang apa yang ingin kutinggalkan, seandainya waktu itu ternyata tidak sepanjang yang selama ini kubayangkan.
Aku memang tak memiliki rumah yang megah.
Tak memiliki harta yang berlimpah.
Aku pun belum mampu mewariskan nama besar.
Namun mungkin…
Aku masih bisa meninggalkan sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Sebuah kalimat.
Sebuah pelukan.
Sebuah lagu.
Atau sebuah buku yang kelak dipertemukan dengan seseorang pada waktu yang paling ia butuhkan.
Aku membayangkan…
Mungkin suatu hari nanti ada seseorang yang membuka lembar demi lembar tulisanku ketika hidup terasa begitu berat.
Atau seseorang yang tanpa sengaja mendengarkan lagu yang pernah kutitipkan di media sosial.
Lalu ia berhenti sejenak…
Menarik napas panjang…
Dan memilih bertahan satu hari lagi.
Kalau itu benar-benar terjadi…
Barangkali keberadaanku di dunia ini tidak lagi sia-sia.
Barangkali aku memang pernah hidup untuk sesuatu yang lebih besar daripada diriku sendiri.
Pikiranku kembali melayang pada perjalanan yang telah kulewati.
Hari-hari ketika membuka mata terasa begitu sulit.
Malam-malam ketika tidur tak lagi menjadi tempat untuk bersembunyi dari gelisah yang tak kunjung reda.
Namun setiap pagi aku tetap berdiri di depan kelas.
Mengenakan senyum yang bahkan belum sempat kutanyakan kepada diriku sendiri,
“Apakah hari ini aku benar-benar baik-baik saja?”
Saat itulah aku menyadari…
Manusia ternyata sangat pandai menyembunyikan luka.
Ia bisa tampak tertawa.
Bisa bercakap seperti biasa.
Bahkan mampu menghibur orang lain.
Padahal di dalam dirinya sedang berlangsung peperangan yang tak terlihat oleh siapa pun.
Ada badai yang sewaktu-waktu mampu menenggelamkan seluruh harapannya.
Ada ombak yang diam-diam mengikis kekuatannya sedikit demi sedikit.
Aku tersenyum kecil.
Barangkali itulah sebabnya aku belajar memperlakukan setiap orang dengan lebih lembut.
Karena aku tak pernah tahu beban apa yang sedang mereka pikul.
Badai seperti apa yang sedang mereka hadapi.
Dan seberapa keras mereka sedang berusaha agar tetap terlihat baik-baik saja.
Di tengah lamunanku, terdengar langkah-langkah kecil mendekat.
“Umi…”
Aku menoleh.
Sosok mungil yang perlahan mulai meninggalkan masa bayinya berdiri di ambang pintu sambil mengucek mata.
Rambutnya berantakan.
Wajahnya masih dipenuhi kantuk.
Ia tak mengatakan apa-apa lagi.
Hanya berjalan menghampiriku.
Lalu memelukku erat.
Aku membalas pelukannya.
Kubiarkan ia menyandarkan kepalanya di dadaku.
Tak sampai beberapa saat kemudian, napasnya kembali teratur.
Anak sekecil itu bahkan belum memahami arti kehilangan.
Namun entah bagaimana…
Ia selalu tahu kapan ibunya sedang membutuhkan pelukan.
Aku mengecup ubun-ubunnya perlahan.
Lalu kembali memandang halaman kosong di hadapanku.
Judul Kalau Esok Tiada masih berdiri tenang di bagian atas.
Kini aku benar-benar mengerti…
Yang ingin kutulis ternyata bukan tentang kematian.
Bukan tentang keputusasaan.
Melainkan tentang kehidupan.
Tentang seseorang yang tetap memilih mencintai meski berkali-kali terluka.
Tetap berharap meski berkali-kali kecewa.
Tetap menyalakan lilin-lilin kecil di dalam jiwanya meski angin berkali-kali berusaha memadamkannya.
Malam semakin larut.
Kubuka halaman berikutnya.
Lalu kutulis sebuah kalimat yang tanpa kusadari membuatku tersenyum.
“Bila esok masih menjadi milikku, aku ingin hidup sedikit lebih bermakna daripada hari ini.”
“Dan bila ternyata esok bukan lagi milikku…”
“Aku berharap orang-orang yang pernah singgah dalam hidupku tidak mengingat saat-saat ketika aku berada di titik paling rapuh.”
“Melainkan mengingat bagaimana aku terus berusaha bangkit…”
“Meski berkali-kali jatuh.”
“Karena mungkin, pada akhirnya, warisan terbesar seseorang bukanlah berapa lama ia hidup… melainkan berapa banyak hati yang tetap memilih bertahan setelah mengenalnya.”.
Jejak yang Tertinggal
Pagi kembali datang.
Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan, sementara mentari perlahan menyibak langit Bandung yang menghadirkan hawa dingin khas pegunungan. Dari kejauhan kembali terdengar langkah-langkah kecil anak-anak yang berlari menuju sekolah, saling tertawa sambil memanggil nama temannya. Sesekali terdengar pula suara para ibu yang tak pernah bosan mengingatkan,
“Kotak bekalnya jangan lupa…”
“Botol minumnya dibawa, ya…”
Dunia rupanya memang tetap berjalan.
Seperti hari-hari sebelumnya.
Dan mungkin…
Akan terus berjalan, bahkan ketika suatu hari nanti namaku tak lagi disebut.
Aku tersenyum kecil.
Dulu aku pernah berpikir bahwa hidup harus meninggalkan sesuatu yang besar.
Sebuah nama.
Sebuah jabatan.
Sebuah pencapaian.
Atau deretan prestasi yang membuat orang lain mengingatku.
Namun kini aku mulai mengerti.
Sejatinya hidup tak pernah meminta semua itu.
Mungkin…
Hidup hanya meminta kita menjadi alasan mengapa seseorang memilih bertahan satu hari lagi.
Pandanganku jatuh pada rak kecil di sudut kamar.
Di sana tersusun beberapa buku hasil karyaku.
Beberapa catatan.
Lembar-lembar penuh coretan.
Dan lirik-lirik lagu yang pernah kutitipkan kepada dunia.
Tak ada yang benar-benar sempurna.
Sebagian lahir dari malam-malam yang panjang.
Sebagian lagi tumbuh dari air mata yang selama ini kusembunyikan rapat-rapat.
Namun hari ini aku tak lagi malu pada semuanya.
Karena setiap luka yang pernah singgah ternyata mengajarkanku satu hal…
Tentang cinta.
Setiap kehilangan mengajarkanku arti menghargai.
Setiap kegagalan mengajarkanku kerendahan hati.
Dan setiap kali aku merasa berada di ujung tanduk, ketika rasanya ingin menyerah…
Selalu ada alasan kecil yang diam-diam memanggilku pulang.
Mungkin wajah murid-muridku yang memenuhi ingatan, memanggil, “Bu Guru…”
Mungkin jemari mungil yang menggenggam bajuku, lalu mengangkat kedua tangan kecilnya, meminta dipeluk.
Mungkin sahabat-sahabatku yang tanpa sadar menguatkanku hanya dengan bertanya,
“Hari ini bagaimana kabarmu?”
Atau mungkin…
Doa-doa lirih yang tak pernah kudengar, namun diam-diam menembus langit.
Saat itulah aku sadar.
Tak semua orang akan mengingat namaku.
Tak semua orang akan membaca buku-bukuku.
Tak semua orang akan mendengarkan lagu-laguku.
Namun…
Bila suatu hari nanti ada satu saja orang yang berkata,
“Aku memilih bertahan karena pernah membaca tulisan itu.”
“Aku memilih bangkit karena pernah mendengar lagu itu.”
“Aku memilih memaafkan diriku sendiri karena pernah bertemu dengannya.”
Maka…
Itu telah lebih dari cukup.
Aku menutup buku kecil bersampul batik bunga itu perlahan.
Kali ini tanpa menulis apa pun.
Aku hanya terdiam.
Menikmati segala rasa yang bergemuruh di dalam dada.
Karena aku tahu…
Semua yang ingin kusampaikan telah tertinggal di setiap halaman yang pernah kutulis.
Aku berdiri.
Kubuka jendela lebar-lebar.
Udara pagi menyentuh wajahku.
Dingin.
Membuat seluruh tubuhku menggigil.
Namun entah mengapa…
Kali ini hawa itu terasa begitu menenangkan.
Dari kejauhan terdengar kicau burung bersahutan.
Jalanan mulai ramai.
Dan kehidupan kembali memulai babak yang baru.
Aku tersenyum.
Bukan karena hidupku akhirnya menjadi mudah.
Melainkan karena kini aku mengerti…
Aku tak harus menjadi manusia yang sempurna untuk menjadi berarti.
Aku hanya pelu menjadi seseorang yang terus memilih berjalan.
Selangkah demi selangkah.
Meski perlahan.
Meski tertatih.
Karena harapan tak pernah lahir dari kehidupan yang tanpa luka.
Ia tumbuh…
Dari hati yang berkali-kali retak.
Namun tetap memilih menjadi rumah…
Tempat cahaya pulang.
Epilog
Jika suatu hari nanti kau menemukan tulisan ini…
Atau tanpa sengaja mendengarkan lagu yang pernah kutinggalkan…
Jangan mencariku.
Carilah dirimu sendiri.
Karena mungkin…
Aku menulis semua ini bukan agar kau mengenalku.
Melainkan agar ketika hidup terasa begitu berat…
Kau teringat bahwa pernah ada seseorang yang juga berjalan tertatih.
Yang berkali-kali jatuh hingga mencapai titik nadir.
Yang berkali-kali berusaha mencoba berhenti.
Namun Tuhan masih berkenan menggenggam tangannya…
Dan memberinya kesempatan untuk bangkit sekali lagi.
Jika kisah sederhana ini akhirnya mampu membuatmu bertahan satu hari lagi…
Maka seluruh perjalanan panjangku…
Tak pernah sia-sia.
Tamat.