Perempuan yang Selalu Mengikutiku
Sejak kecil aku selalu merasa ada seseorang yang diam-diam menjadi bayanganku. Ia selalu mengikutiku.
Namun, dia bukan sosok yang bisa dilihat orang lain. Mungkin memang tak pernah muncul di hadapan banyak orang. Tapi setiap kali aku sedang sendirian, dia selalu datang menghampiriku.
Saat aku berhasil melakukan sesuatu, ia akan berbisik,
“Ah… itu hanya kebetulan.”
Saat seseorang memujiku, ia tersenyum sinis.
“Kalau mereka benar-benar mengenalmu, mereka pasti akan pergi.”
Dan ketika aku melakukan satu kesalahan kecil, ia tertawa panjang.
“Lihat? Kamu memang tidak pernah becus melakukan apa pun.”
Aneh, ya?
Aku tak pernah benar-benar melihat rupanya. Namun aku selalu bisa merasakan kehadirannya.
Ia seperti bayangan.
Tak bisa kusentuh.
Namun selalu ada.
Semakin aku dewasa, semakin pandai ia bersembunyi.
Di depan orang lain aku tertawa.
Aku bekerja.
Aku mengajar.
Aku menulis.
Aku berbicara seolah-olah semua baik-baik saja.
Namun setiap malam…
Ia kembali duduk di sampingku, di sudut kamar yang sebenarnya tak benar-benar bisa kulihat.
Ia kembali berbisik.
Hanya berbisik.
Bukan berkata keras.
Tetapi anehnya, bisikan pelan itu selalu lebih kuat daripada ribuan kalimat penyemangat yang mungkin telah kusugestikan kepada diriku sendiri sepanjang hari.
“Lelah, ya?”
“Sudahlah…”
“Tak usah mencoba lagi.”
Aku sering bertanya dalam hati,
“Sebenarnya siapa dia?”
Namun tak pernah ada jawaban.
Yang ada hanyalah sesak yang perlahan memenuhi dada.
Banyak orang mengira hidupku baik-baik saja.
Mereka melihat karya-karya yang kutulis.
Mereka melihat senyumku di depan murid-muridku.
Mereka melihat sertifikat dan gelar yang membuat namaku menjadi semakin panjang.
Mereka menilaiku sebagai seseorang yang produktif.
Namun tak seorang pun melihat bahwa setiap keberhasilan yang kudapatkan selalu harus melewati satu pertarungan yang tak terlihat.
Pertarungan dengan seseorang…
…yang hampir selalu berhasil menemukan cara untuk membuatku begitu membenci diriku sendiri.
Kadang aku membayangkan…
Seandainya suatu hari nanti aku benar-benar bertemu dengannya.
Aku hanya ingin bertanya satu hal.
“Apa sebenarnya salahku, sampai kau tak pernah membiarkanku hidup dengan tenang?”
Aku benar-benar belum tahu…
Bahwa pertanyaan itu…
…suatu hari nanti…
…akan kujawab sendiri.
Langkah yang Selalu Tertinggal
Hari demi hari berlalu.
Aku mulai terbiasa hidup bersamanya.
Bukan karena aku sudah menerimanya, melainkan karena selama bertahun-tahun aku tak pernah benar-benar berhasil membuatnya pergi.
Ia selalu datang pada saat yang paling tidak kuharapkan.
Ketika aku berdiri di depan kelas dan murid-muridku tertawa karena cerita yang kusampaikan, ia berdiri jauh di sudut ruangan sambil memandangku dengan senyum tipis.
“Mereka tertawa bukan karena menghargaimu. Mereka juga bukan menyukaimu. Bagimu, kamu hanyalah sebuah lelucon.”
Aku menarik napas panjang, lalu kembali melanjutkan pelajaran seolah tak terjadi apa-apa.
Aku tak ingin murid-muridku mengetahui bahwa di balik senyum yang mereka lihat, ada seseorang yang terus-menerus berusaha meruntuhkanku.
Aneh…
Semakin aku mencoba mengabaikannya, justru suaranya semakin jelas memenuhi telingaku.
Saat aku berhasil menyelesaikan sebuah tulisan, ia kembali datang.
“Tulisanmu memang lumayan. Tapi masih banyak penulis yang jauh lebih hebat darimu. Lagi pula, tulisanmu sudah terlalu biasa… terlalu klise.”
Ketika seseorang mengucapkan terima kasih karena tulisanku berhasil menguatkannya, ia hanya tertawa pelan.
“Haha… mungkin dia hanya sedang bersikap sopan. Jangan terlalu percaya.”
Tak ada satu pun keberhasilan yang benar-benar berhasil kurayakan.
Sosok itu selalu menemukan cara mengubah bunga yang sedang mekar menjadi duri yang melukai tanganku sendiri.
Ia mengubah tepuk tangan menjadi keraguan.
Ia mengubah harapan menjadi ketakutan.
Dan yang paling menyakitkan…
Aku selalu mempercayainya.
Aku mulai bertanya-tanya.
Mengapa ia begitu mengenalku?
Mengapa ia mengetahui semua kelemahanku?
Mengapa ia selalu tahu kalimat mana yang paling mampu menjatuhkanku ke jurang yang paling dalam?
Ia bahkan mengetahui luka-luka yang selama ini kusimpan rapat-rapat.
Seolah-olah…
Ia pernah hidup bersamaku.
Kadang aku mencoba mencarinya.
Aku menoleh ke belakang saat berjalan sendirian.
Aku memandangi pantulan kaca setiap kali melewati sisi jalan mini market.
Aku memperhatikan setiap perempuan yang wajahnya terasa samar namun anehnya begitu akrab.
Namun…
Tak pernah sekali pun kutemukan dia.
Yang kutemukan…
Hanyalah diriku sendiri.
Dan entah mengapa, setiap kali itu terjadi, dadaku justru terasa semakin sesak.
Hingga pada suatu malam, aku kembali membuka buku kecil tempat aku biasa menuliskan apa pun yang memenuhi kepalaku.
Di bagian paling bawah halaman itu, tanpa kusadari tanganku menulis sebuah pertanyaan.
“Mengapa aku selalu mempercayaimu… lalu hancur oleh setiap perkataanmu? Padahal aku bahkan tidak pernah benar-benar mengenalmu.”
Aku memandang kalimat itu cukup lama.
Lalu kututup buku tersebut perlahan.
Aku tidak menyadari bahwa malam itu…
Untuk pertama kalinya…
Aku tidak lagi bertanya siapa dirinya.
Melainkan mulai mempertanyakan…
Mengapa aku selalu mempercayai semua yang ia katakan.
Bayangan yang Tak Pernah Pergi
Setelah melewati malam itu, satu pertanyaan terus mengikuti langkahku.
Mengapa aku selalu mempercayainya?
Aku mulai mencoba mengingat, sebenarnya sejak kapan ia hadir dalam hidupku.
Apakah sejak aku dewasa?
Atau justru jauh sebelum aku mengenal arti kehilangan?
Aku memejamkan mata, membiarkan ingatanku berjalan mundur perlahan ke masa silam.
Aku melihat seorang anak perempuan kecil yang sedang duduk di sudut rumah dengan sebuah buku cerita di pangkuannya. Matanya berbinar. Ia tersenyum bangga karena berhasil menghafalkan isi cerita itu, lalu menceritakannya kembali kepada teman-temannya. Mereka tertawa, terpukau, dan mendengarkannya dengan penuh antusias.
Namun senyum itu tiba-tiba memudar.
“Apa-apaan itu? Memangnya kamu mau jadi tukang dongeng?”
“Kenapa kamu tidak fokus belajar saja? Matematika, IPA… itu yang penting. Bukan menghafal cerita-cerita yang tidak ada gunanya.”
Aku membuka mata.
Entah mengapa kalimat-kalimat itu terasa begitu akrab.
Aku kembali mengingat hari-hari ketika aku gagal.
Saat aku melakukan kesalahan.
Saat aku menangis diam-diam karena merasa tidak pernah cukup baik.
Dan setiap kali kenangan itu datang…
Sosok perempuan itu selalu hadir.
Ia berdiri tak jauh dariku, seolah menikmati setiap luka yang kembali terbuka.
Aku mulai merasa kesal.
Untuk pertama kalinya aku memberanikan diri bertanya.
“Sebenarnya apa maumu?”
Ia hanya tersenyum.
Senyum yang sulit kuartikan.
Bukan senyum bahagia.
Bukan pula senyum yang mengejek.
Melainkan senyum seseorang yang seolah telah mengetahui sesuatu yang belum kuketahui.
Aku kembali bertanya.
“Kenapa kamu terus-menerus mengikutiku?”
Ia tetap diam.
Tak satu kata pun keluar dari bibirnya.
Seperti biasanya.
Namun anehnya…
Meski ia tak mengucapkan sepatah kata pun, aku seperti mendengar sebuah jawaban.
“Karena kau tak pernah benar-benar meninggalkanku.”
Aku menggeleng cepat sambil menutup kedua telingaku.
“Tidak…”
“Semua ini tidak benar.”
“Ini tidak masuk akal.”
Bagaimana mungkin aku yang tidak pernah meninggalkannya?
Bukankah selama ini justru dia yang selalu mengejarku?
Hari-hari berikutnya pertanyaan itu terus berputar di dalam kepalaku.
Semakin kupikirkan, semakin banyak hal yang terasa ganjil.
Mengapa hanya aku yang bisa melihatnya?
Mengapa setiap kali aku mencoba menceritakannya kepada orang lain, tak seorang pun pernah benar-benar menyadari kehadirannya?
Mengapa ia mengetahui isi pikiranku, bahkan sebelum aku sendiri menyadarinya?
Dan…
Mengapa wajahnya…
Semakin lama…
Terasa semakin tidak asing?
Hingga suatu sore aku berdiri di depan sebuah minimarket.
Tanpa sengaja aku melihat pantulan diriku pada kaca besar di depannya.
Di balik pantulan itu…
Sekilas…
Aku melihat seseorang berdiri tepat di belakangku.
Aku menoleh secepat mungkin.
Tak ada siapa-siapa.
Ketika kembali memandang kaca itu…
Aku hanya terdiam.
Karena yang kulihat…
Hanyalah diriku sendiri.
Dan untuk pertama kalinya…
Aku merasa takut…
Pada bayanganku sendiri.
Wajah yang Sama
Hari mulai beranjak sore.
Sejak kejadian yang kualami barusan, aku tak lagi berani memandangi cermin terlalu lama.
Bukan sekadar karena aku takut pada bayanganku sendiri.
Tetapi karena setiap kali melihat pantulannya, aku merasa ada sesuatu yang selama ini luput dari kesadaranku.
Aku mencoba mengingat sosok itu lebih saksama.
Cara ia menatapku.
Cara ia tersenyum.
Cara ia memiringkan kepalanya setiap kali aku melakukan kesalahan sambil memandangku dengan tatapan penuh jijik dan ejekan.
Entah sejak kapan…
Semuanya terasa begitu akrab.
Malam itu aku kembali duduk di depan buku kecil yang selalu menemaniku.
Kubuka halaman demi halaman.
Ada doa-doa di sana.
Ada daftar mimpi.
Ada kumpulan rasa syukur.
Dan ada juga halaman-halaman yang dipenuhi air mata.
Di sela-sela semua tulisan itu, aku menemukan sebuah kenyataan yang membuatku membeku.
Kalimat-kalimat yang selama ini diucapkan oleh sosok itu…
Ternyata pernah kutulis dengan tanganku sendiri.
“Aku tidak cukup baik.”
“Aku hanya menjadi beban.”
“Orang lain pasti lebih baik dariku.”
“Aku tidak pantas dicintai.”
Dan masih banyak kalimat lain…
Kalimat-kalimat yang begitu kejam untuk diucapkan kepada diri sendiri.
Tanganku mulai gemetar.
Aku membalik halaman-halaman berikutnya.
Kalimatnya berbeda.
Namun maknanya tetap sama.
Aku kembali mengingat masa kecilku.
Kalimat-kalimat yang pernah kudengar.
Tatapan-tatapan yang pernah kuterima.
Kekecewaan-kecewaan yang tak pernah sempat kupahami.
Dan tanpa kusadari…
Aku telah memungut semua luka itu.
Lalu membawanya tumbuh bersamaku.
Aku kembali berdiri di depan cermin.
Kali ini aku mencoba untuk tidak mengalihkan pandangan.
Kutatap sosok di dalam cermin itu lama sekali.
Untuk pertama kalinya…
Aku benar-benar memperhatikan wajahnya.
Matanya…
Sama seperti mataku.
Senyumnya…
Sama seperti senyumku.
Dan air matanya…
Ternyata juga air mataku.
Aku tersenyum pahit.
“Jadi…”
“Selama ini…”
“…bukan kamu yang mengejarku.”
Bayangan itu ikut tersenyum.
Gerakannya persis mengikutiku.
Lalu, untuk pertama kalinya, ia berbicara.
“Aku memang tidak pernah mengejarmu.”
“Aku hanyalah semua kalimat yang selama ini kau percaya tentang dirimu sendiri.”
Dunia terasa begitu sunyi.
Tak ada yang benar-benar berubah.
Namun saat itu…
Ada sesuatu yang runtuh di dalam diriku.
Selama ini aku sibuk mencari siapa yang harus kusalahkan.
Aku marah kepada begitu banyak orang.
Aku marah kepada keadaan.
Aku bahkan marah kepada kehidupan.
Padahal…
Musuh yang paling sering menjatuhkanku bukanlah seseorang yang berdiri di luar sana.
Melainkan luka-luka yang terus kuberi tempat.
Luka-luka yang kubiarkan berbicara lebih keras daripada kasih sayang terhadap diriku sendiri.
Aku mengangkat tangan.
Perlahan kusentuh permukaan cermin.
Bayangan itu melakukan hal yang sama.
Untuk pertama kalinya…
Aku tak lagi ingin mengusirnya.
Memang aku tak mungkin mengusirnya.
Karena ia adalah bagian dari perjalanan hidupku.
Aku hanya berbisik pelan,
“Aku tahu kamu ada.”
“Tapi mulai hari ini… aku akan belajar untuk tidak lagi mempercayai semua yang kamu katakan.”
Untuk pertama kalinya…
Perempuan itu tidak menjawab.
Ia hanya tersenyum.
Senyum yang kini tak lagi terasa mengancam.
Lalu perlahan ia menghilang. Bukan karena benar-benar pergi, melainkan karena akhirnya aku menyadari… selama ini ia tak pernah berada di luar cermin.
Epilog
Yang Kupercayai Hari Ini
Hari-hari setelah peristiwa itu ternyata tidak berubah menjadi jauh lebih mudah.
Sosok yang selalu mengikutiku itu pun tidak benar-benar menghilang.
Sesekali ia masih datang.
Ketika aku melakukan kesalahan.
Ketika seseorang mengkritik hasil kerjaku.
Saat aku merasa lelah.
Dan ketika hidup terasa terlalu berat untuk kupikul sendirian.
Ia masih membisikkan kalimat-kalimat yang sama.
“Kamu tidak pernah cukup baik.”
“Lihat… mereka mulai meninggalkanmu.”
“Semua yang kamu lakukan tidak ada gunanya.”
“Sudahlah… semuanya sia-sia.”
Namun kini…
Ada satu hal yang berbeda.
Aku tak lagi menganggap setiap bisikannya sebagai kebenaran yang harus kupercayai.
Aku mulai belajar bahwa tidak semua yang terdengar di dalam kepalaku harus dipercaya.
Luka memang bisa berbicara.
Tetapi bukan berarti luka selalu berkata jujur.
Aku mulai belajar memeluk diriku sendiri.
Bukan karena aku telah sembuh.
Melainkan karena pada akhirnya aku memahami bahwa tak seorang pun yang lebih lama hidup bersamaku selain diriku sendiri.
Dan bila aku terus membencinya…
Lalu siapa yang akan memberinya cinta?
Kini setiap kali berdiri di depan cermin, aku tak lagi mencari sosok itu.
Aku hanya melihat seseorang…
Yang sedang belajar memaafkan dirinya sendiri.
Mungkin perjalanan ini masih panjang.
Bahkan mungkin sangat panjang.
Akan ada hari ketika aku kembali terjatuh.
Kembali menangis.
Kembali meragukan diriku sendiri.
Namun setidaknya kini aku tahu…
Musuh terbesarku bukanlah sosok yang kulihat di dalam cermin.
Melainkan keyakinan bahwa aku tidak layak dicintai.
Dan selama aku masih berani menentang bisikan itu…
Selama aku masih memilih untuk berdiri setiap kali terjatuh…
Barangkali aku masih memiliki harapan untuk memenangkan pertarungan yang selama ini tak pernah dilihat siapa pun.
Pertarungan yang hanya diketahui oleh diriku sendiri.
Aku tersenyum kecil.
Lalu meninggalkan cermin itu.
Bukan karena bayanganku telah hilang.
Ia akan tetap berada di sana.
Mungkin esok.
Mungkin lusa.
Atau bahkan seumur hidupku.
Namun kini aku mengerti…
Aku tak harus selalu menoleh ke belakang untuk bisa terus berjalan ke depan.
Karena setiap orang mungkin memiliki seseorang yang diam-diam mengikutinya.
Sebagian bertemu dalam wujud manusia.
Sebagian lagi…
Menemukannya di dalam bayangannya sendiri.
Dan keberanian yang sesungguhnya bukanlah mengalahkan bayangan itu.
Melainkan berhenti mempercayai setiap kebohongan yang ia bisikkan.
Karena sering kali, luka yang paling dalam bukan berasal dari apa yang orang lain katakan tentang kita. Melainkan dari apa yang akhirnya kita percayai tentang diri kita sendiri.
Tamat